Siaran Pers Kemenristekdikti
No: 69/SP/HM/BKKP/IV/2019

Jember – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mendorong pemuda dan pemudi Indonesia dari keluarga kurang mampu, untuk berkuliah melalui program beasiswa Bidikmisi. Menteri Nasir menyatakan program beasiswa ini dipastikan dapat memutus rantai kemiskinan di keluarga mereka serta mengurangi angka pengangguran di masa depan.

“Kalau seseorang semakin pintar, pasti dia akan mampu menggerakkan ekonomi. ‘Economic capacity and analysis’-nya pasti akan lebih baik. Sumber daya manusia (SDM) yang punya pendidikan lebih baik, dia akan menerima tantangan global dan beradaptasi dengan lebih mudah. Seseorang yang mempunyai latar belakang pendidikan yang semakin tinggi, akan dipastikan mampu berinovasi lebih baik,” ungkap Menristekdikti di hadapan media setelah memberikan kuliah umum “Peningkatan ‘Softskill’ Mahasiswa Program Bidikmisi dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Jember (UNEJ) pada Minggu (7/4).

Nasir menyatakan saat ini Pemerintah RI sudah meningkatkan jumlah beasiswa Bidikmisi untuk mahasiswa dan mahasiswi baru dari 90 ribu pada tahun 2018, menjadi 130 ribu mahasiswa dan mahasiswi baru di tahun 2019. Menteri Nasir menyatakan Pemerintah RI puas dengan kinerja akademik dari para mahasiswa dan mahasiswi Bidikmisi dan juga pencapaian profesional para lulusan Bidikmisi yang banyak menjadi orang sukses.

“Yang gagal (lulus) hanya 1 persen dari program Bidikmisi. Sembilan puluh sembilan persennya (99%) berhasil lulus. Sebagai contoh di Universitas Jember ini, ada anak-anak Bidikmisi yang IPK-nya 3,95. Anak Teknik Sipil yang IPK-nya 3,98. Hal ini tidak mudah, untuk mendapatkan IPK di atas 3.0. Di rumpun sosial tadi ada IPK yang 4.0. Bagaimana mereka belajar itu, sangat luar biasa dan benar-benar memberikan inspirasi bagi mahasiswa mahasiswi lainnya. Sungguh saya sangat mengapresiasi mereka,” ungkap Menristekdikti setelah memberikan laptop baru untuk mendukung kuliahnya, kepada enam mahasiswa dan mahasiswi peserta kuliah umum, dengan IPK tertinggi.

Menteri Nasir menyatakan kunci keberhasilan mahasiswa dan mahasiswi Bidikmisi, terletak pada daya tahan mereka dalam menghadapi tantangan di perguruan tinggi dan dunia kerja.

“Mahasiswa mahasiswi Bidikmisi itu memang berasal dari keluarga kurang mampu, tapi Negara selalu hadir untuk mereka, sehingga mereka seperti mendapatkan angin segar dan percaya diri, melalui program beasiswa Bidikmisi. Dengan adanya program beasiswa ini, daya tahan mereka sangat tinggi. Walaupun mereka biasa hidup kurang mampu, tetapi hal ini memberikan nilai positif karena otomatis membangun ‘karakter daya juang yang tangguh dan keras. Sehingga jika mendapatkan umpan sedikit, mereka bisa berlari dengan cepat,” ungkap Nasir.

Menteri Nasir menyatakan Pemerintah RI mengalokasikan program beasiswa Bidikmisi bagi mahasiswa dan mahasiswi yang kurang mampu, untuk menekan angka kemiskinan dan angka pengangguran di Indonesia, terutama dalam empat tahun terakhir.

“Jangan sampai pada saat Indonesia mendapat bonus demografi, sumber daya manusia (SDM)-nya tidak berkualitas, karena jika hal itu terjadi malah akan menjadi malapetaka di Indonesia. Bukan kemiskinan semakin mengecil, tapi akan melebar. Oleh sebab itu Negara selalu hadir, melalui pemberian program beasiswa,” ungkap Menteri Nasir.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Jember Mohammad Hasan, juga turut mengapresiasi mahasiswa dan mahasiswi Bidikmisi yang rata-rata berhasil lulus dengan baik dan mudah diterima di lapangan kerja.

“Bidikmisi yang memang sudah dimulai oleh Pemerintah RI sejak beberapa tahun lalu, di Universitas Jember ini sendiri, bahkan sudah meluluskan 2.200 sarjana. Beberapa profil lulusan kami alhamdulillah sudah menyebar, termasuk sudah banyak diterima di pekerjaan di masyarakat, baik di sektor Pemerintah maupun Non-Pemerintah (swasta), di semua bidang, termasuk lulusan yang jadi dokter sudah ada,” ungkap Rektor Universitas Jember Mohammad Hasan.

Motivasi Menristekdikti bagi Mahasiswa Bidikmisi

Dalam kuliah umum “Peningkatan Softskill Mahasiswa Program Bidikmisi dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Gedung Soetardjo Universitas Jember, Menristekdikti mencontohkan kepada mahasiswa dan mahasiswi Bidikmisi, bahwa dirinya dulu turut berjuang saat berkuliah di Universitas Diponegoro.

“Saya sendiri anak petani. Orang tua saya tidak mampu membiayai saya kuliah di Perguruan Tinggi di Universitas Diponegoro saat itu. Saya kerja sambil kuliah. Saya tidak pernah bermimpi dari anak petani sampai sekarang bisa menjadi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi di Indonesia. Untuk itu, anda sekalian juga harus bisa,” ungkap Nasir menyemangati para mahasiswa dan mahasiswi yang hadir.

Selanjutnya, Menristekdikti juga memberikan saran kepada para mahasiswa dan mahasiswi Bidikmisi agar dapat melampaui mahasiswa dan mahasiswi lainnya.

“Kalau Anda ingin sukses, ada kunci yang Anda perlu pahami, yaitu pintar, kendel , dan benar. Anak Bidikmisi biasanya sudah pintar, tapi kendelnya harus ditambah. Kendel itu bahasa Indonesianya berani. Pintar tapi tidak kendel , bisa jadi pengangguran. Kendel tapi ga pintar, jadi ngawur . Jangan sampai seperti itu ya. Kita juga harus selalu benar,” arahan Menteri Nasir di hadapan sekitar 500 mahasiswa dan mahasiswi Bidikmisi dari Universitas Jember dan Politeknik Negeri Jember.

Turut hadir dalam kuliah umum ini Direktur Kemahasiswaan Kemenristekdikti Didin Wahidin, Rektor Universitas Jember Mohammad Hasan, Direktur Politeknik Negeri Jember Nanang Dwi Wahyono, Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka (UPBJJ-UT) Jember Mohammad Imam Farisi, para pejabat di perguruan tinggi negeri di Jember, serta mahasiswa dari Universitas Jember, Universitas Terbuka di Jember, Politeknik Negeri Jember, serta Universitas Islam Jember.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kemenristekdikti

Instagram: @Ristekdikti
Twitter: @Kemristekdikti
Facebook: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
YouTube: Ristekdikti TV
Website : https://ristekdikti.go.id
Goole Play: G-Magz