(Jakarta, 02/01/2019). Ekonomi kerakyatan menjadi prinsipnya dalam menjalankan usaha. Neken Jamin Sembiring, pria paruh baya pemilik UD. Gerak Tani ini memanfaatkan teknologi nuklir pada produk bumbu dan cabai gilingnya.

“Saya beli cabai dengan harga lebih tinggi dari petani, tetapi saya jual dengan harga yang lebih murah dari pasaran ke konsumen. Petani untung, pedagang untung, rakyat untung, semua untung. Itu prinsip saya,” kata Sembiring, panggilan akrabnya saat diwawancara di sela-sela pameran Indonesia pada Konferensi Tingkat Menteri Badan Tenaga Atom International (International Atomic Energy Agency/ IAEA), Vienna, Austria, akhir November tahun lalu.

Harga cabai yang cenderung fluktuatif justru menjadi strategi dalam penjualan poduknya. Ia membeli cabai ke petani dengan harga yang lebih mahal, namun menjual ke konsumen dengan harga yang lebih murah.

“Misalnya saat membeli ke petani, harga cabai 5 ribu per kilogram, saya beli 15 ribu. Tapi saya simpan dulu di gudang. Ketika harga cabai tinggi, misalnya 60 ribu, barulah saya jual seharga 30 ribu. Maka itulah yang dinamakan ekonomi kerakyatan,” tuturnya.

Perkenalannya dengan pemanfaatan teknologi nuklir untuk pangan berawal ketika ia menghadiri salah satu pameran di daerah Semanggi, Jakarta. Ia kemudian tertarik melihat stan pameran BATAN. Dari situ, ia mulai mengenal pemanfaatan teknologi nuklir yang dapat memperpanjang masa simpan produk.

Sebelum mengenal teknologi nuklir, Sembiring yang dulu juga berprofesi sebagai dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta ini menggunakan bahan kimia pada produknya.

Ia dan mahasiswanya pernah melakukan penelitian tentang jajanan di Ibukota, dan hasilnya mencengangkan! 80 persen jajanan di Ibukota tidak layak untuk dikonsumsi karena menggunakan bahan kimia berbahaya seperti formalin.

“Akhirnya saya mencoba melakukan penelitian dengan menggunakan sodium benzoat pada produk saya. Hasilnya, produk saya dapat lebih awet dalam waktu 6 bulan. Tapi saya belum puas sampai disitu, karena sodium benzoat juga termasuk bahan kimia,” lanjutnya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Usai melihat pameran BATAN, Sembiring lalu berkesempatan bertemu dengan Prof (R).Dr. Zubaidah Irawati, peneliti Pangan Radiasi BATAN. Ia mendapat penjelasan bagaimana radiasi dapat memperpanjang masa simpan produk, tidak berbahaya, dan tanpa menggunakan bahan kimia.

“Saya termasuk orang pertama yang memanfaatkan radiasi untuk pengawetan makanan. Takut sih nggak, karena latar belakang saya dari Farmasi, jadi saya tahu sedikitlah. Setelah mendapat penjelasan dari BATAN, saya tambah yakin,” tambahnya.

Setelah produknya diteliti di BATAN, ia pun melanjutkan pengawetan produknya di PT. Rel-ion Sterilization Services, Cibitung, Bekasi.

“Alasan saya kenapa tertarik menggunakan radiasi karena tidak meninggalkan bahan kimia dan dapat memperpanjang masa simpan produk hingga 1 tahun,” katanya.

Ia mengaku telah memanfaatkan radiasi untuk pengawetan produknya sejak tahun 2005. Karena sukses menjalankan bisnisnya dengan prinsip ekonomi kerakyatan, pada tahun 2011, ia mendapat gelar Kanjeng Raden Tumenggung dari Keraton Solo.

“Saya jelaskan ke mereka, cabai yang dipilih berasal dari Jawa Tengah dengan kualitas terbaik, kalau sudah busuk duluan, mau diradiasi seperti apa ya nggak akan berhasil,” tambahnya.

Produknya hingga kini telah meluas hingga kawasan Jabodetabek, serta sudah banyak diperoleh di berbagai pasar tradisional maupun pasar – pasar swalayan, bahkan pernah digunakan untuk mensuplai makanan di maskapai penerbangan Garuda.

“Pemasaran ke luar negeri juga ada, tapi belum masif, masih dari mulut ke mulut, konsumen saya yang jual lagi ke luar negeri,” katanya.

Kepala Bidang Proses Radiasi, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Tita Puspitasari menjelaskan, setidaknya 3 alasan mengapa radiasi pada pangan diperlukan. “Pertama sebagai alternatif dari berbagai macam jenis pengawetan. Makanan steril tanpa menggunakan bahan kimia sangat dibutuhkan untuk pasien dengan kondisi imunitas tubuh yang rendah,” jelas Tita.

Kedua, lanjutnya, pegawetan makanan sangat diperlukan untuk pengiriman pangan dengan transportasi jauh dan tidak ada sistem pendingin. Misalnya, BATAN pernah memberikan bantuan korban bencana alam di Nepal, Lombok dan Donggala beberapa waktu lalu.

“Yang ketiga, ya seperti yang dilakukan UD. Gerak Tani, untuk memperpanjang masa simpan pada produknya,” jelas Tita.

Fasilitas pengawetan makanan ini disebut iradiator. Saat ini hanya ada 3 Iradiator Gamma di Indonesia. Satu iradiator gamma komersial yang dioperasikan oleh PT. Rel-ion Sterilization Services, dan dua lainnya milik BATAN, yakni 1 iradiator gamma yang berlokasi di Kawasan Nuklir Pasar Jumat Jakarta, digunakan untuk penelitian, dan 1 iradiator lainnya yang diberi nama Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP) berlokasi di Kawasan Puspiptek Serpong, digunakan untuk tujuan melayani jasa radiasi melalui penerimaan negara bukan pajak.

Saat ini menurut Tita, sudah ada 49 perusahaan yang rutin memanfaatkan jasa iradiator gamma milik BATAN. Ke – 49 perusahaan tersebut antara lain memanfaatkan iradiator untuk untuk pengawetan bahan makanan, obat, kosmetik, maupun sterilisasi alat kesehatan (tnt).

Please follow and like us:
18