Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantargebang, hari ini resmi dioperasikan. Ditandai dengan penekanan tombol sirine secara bersama oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, bersama Kepala BPPT.

Dikatakan Kepala BPPT Hammam Riza usai peresmian tersebut bahwa pilot project PLTSa Merah putih ini dibangun dengan kapasitas pengolahan sampah mencapai 100 ton per hari, dan akan menghasilkan listrik sebagai bonus sebanyak 700 kilowatt hour.

“Jadi konsep kita itu adalah waste to energy, dari sampah bisa hasilkan energi listrik. Sampah yang diolah dalam PLTSa ini adalah sampah dari sumber yang sudah yang sudah tidak termanfaatkan lagi,” ungkap Hammam.

Pilot Project PLTSa Merah-Putih ini lanjut Kepala BPPT,  ditujukan untuk menjadi percontohan secara nasional, khususnya sebagai solusi mengatasi timbunan sampah di kota besar. “Kita harus sadar, ini perlu teknologi dalam mengolah sampah Indonesia yang kita tahu kondisinya tercampur. Selain juga mengandung bahan organik tinggi, kelembaban tinggi, dan dengan nilai kalori yang rendah. Untuk itu BPPT memakai teknologi pengolah sampah proses thermal,” paparnya.

Hammam juga mengutarakan bahwa Pilot Project PLTSa ini menjadi sarana riset dalam pengelolaan sampah, khususnya secara thermal. Hal ini dibutuhkan guna  pengembangan desain peralatan yang tepat dengan komponen lokal yang tinggi, mempelajari sistim operasional yang tepat, dan juga dapat menghitung tipping fee, biaya operasional dan biaya lain yang lebih tepat.

Diungkap oleh Hammam bahwa pembangunan Pilot project ini berlangsung dalam waktu cepat yakni satu tahun, dan merupakan PLTSa pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi termal yang sudah proven.

“Pilot  Project ini merupakan hasil kajian desain Tim BPPT, Saat ini plant masih dalam kondisi commissioning, yang tentunya masih ada beberapa komponen atau proses yang perlu disempurnakan untuk PLTSa ini berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Lebih lanjut Hammam mengharapkan dengan beroperasinya PLTSa ini, dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang PLTSa, baik dalam hal teknologi maupun kebijakan.

“PLTSa ini kami hadirkan tentunya dengan keinginan tinggi nilai TKDN nya. Tim BPPT memiliki desain teknologi PLTSa, yang dibangun bekerjama dengan mitra lokal. Sebagian besar peralatan merupakan produksi dalam negeri. Oleh karenanya kami menamakan dengan PLTSa merah putih,” tegasnya.

Perlu diketahui bahwa PLTSa termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), sesuai Perpres No. 58/2017 tentang Proyek Infrastruktur Strategis Nasional. Dalam implementasinya, diatur dalam Perpres No. 35/2018, tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, yang akan di prioritaskan penerapannya di 12 kota besar di Indonesia, dan salah satunya di DKI Jakarta. Dalam Perpres 35/2018 dibentuk tim koordinasi yang diketuai oleh Kemenkomaritim, dimana BPPT adalah salah satu anggotanya. Selanjutnya, Pada Perpres No. 97/2017 Kebijakan Strategi Nasional – Jakstranas BPPT ditugaskan melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi penanganan sampah.

Untuk mempersiapkan implementasi teknologi PLTSa skala besar dan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang PLTSa yang dapat menyelesaikan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan, BPPT bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta dalam membangun Pilot Project PLTSa Merah-Putih di lokasi TPST Bantargebang ini, melalui MoU yang telah ditandatangani oleh Kepala BPPT dan Gubernur DKI Jakarta pada tanggal 20 Desember 2017.



Teknologi PLTSa

Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals sebagai sebuah kesepakatan pembangunan global. SDGs merupakan ambisi pembangunan bersama  hingga tahun 2030 yang memiliki 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan periode waktu yang telah ditentukan.


Pembangunan berkelanjutan bertumpu pada tiga pilar atau dimensi, yaitu dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Pembangunan berkelanjutan juga menekankan pentingnya penguatan peran teknologi. Inovasi teknologi PLTSa dalam pengelolaan sampah khususnya di perkotaan merupakan wujud nyata peran BPPT dalam rangka mendukung  pencapaian target pembangunan berkelanjutan.

Pilot Project PLTSa dipilih menggunakan teknologi termal dengan tipe insinerasi menggunakan tungku jenis reciprocating grate. Teknologi tersebut dipilih karena merupakan teknologi yang sudah proven, banyak dipakai untuk Waste to Energy (WtE) di dunia, ramah lingkungan (dilengkapi dengan alat pengendali polusi), ekonomis, dan bisa  digunakan untuk kondisi sampah di Indonesia, serta mempunyai potensi TKDN yang tinggi.

Peralatan utama dari PLTSa terdiri dari 4 (empat) peralatan utama yaitu bunker sebagai penampung sampah yang  dilengkapi platform dan grab crane dan ruang bakar sistem reciprocating grate yang didisain dapat membakar sampah dengan suhu diatas 850oC sehingga pembentukan dioxin dan furan dapat diminimalisir. Panas yang terbawa pada gas buang hasil pembakaran sampah, digunakan untuk mengkonversi air dalam boiler menjadi steam untuk memutar turbin menghasilkan tenaga listrik.

Unit PLTSa juga dilengkapi dengan unit Pengendali Pencemaran Udara untuk membersihkan bahan berbahaya yang terbawa dalam gas buang, sehingga gas buang yang keluar memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Pilot Project PLTSa ini juga dilengkapi dengan unit pre-treatment, untuk memilah sampah tertentu yang tidak diijinkan  masuk PLTSa, seperti logam, kaca, batu, Limbah B3 dan juga sampah sampah yang berukuran besar.

Pembangunan Pilot project ini berlangsung dalam waktu cepat yakni satu tahun, sejak groundbreaking pada tanggal 21  Maret 2018 sampai hari ini peresmian tanggal 25 Maret 2019.

PLTSa ini merupakan yang pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi termal yang sudah proven. Saat ini plant masih dalam kondisi commissioning, yang tentunya masih ada beberapa komponen atau proses yang perlu disempurnakan oleh BPPT juga Pemprov DKI Jakarta agar PLTSa  ini berjalan dengan lancar.

Diharapkan kerjasama BPPT dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun dan mengoperasikan Pilot Project PLTSa ini dapat berhasil baik dan bermanfaat bagi penerapan PLTSa secara nasional. (Humas/HMP)