Banyak cara bisa dilakukan untuk membantu masyarakat menjadi melek teknologi.Selain pemberian penghargaan atas temuan inovatif,juga dengan mendorong munculnya technopreneur.
Munculnya 10 nama yang mendapat penghargaan sebagai tokoh teknologi 2009 versi majalah Tech- Life Indonesiapatut diapresiasi.Sebab masih banyak hal yang harus diupayakan oleh semua pihak untuk mengatasi kesenjangan digital (digital gap) di Indonesia.Apalagi guna mendorong masyarakat lebih melek teknologi.Tidak mudah untuk mewujudkannya.Memang,harus diakui, hingga kini budaya inovasi di dalam negeri belum seperti di negara-negara lain yang sudah maju teknologinya.
Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemeneg Ristek) Idwan Suhardi menyambut positif adanya penghargaan terhadap 10 tokoh teknologi di dalam negeri.Menurut dia, penghargaan kepada 10 orang yang berjasa di bidang teknologi tersebut bisa menjadi salah satu upaya mendorong semakin maraknya budaya teknologi di masyarakat.
“Namun saya melihat penghargaan ini hanya lebih menitikberatkan sisi enterpreneurship-nya. Sementara sisi inovasi bidang teknologi belum benar-benar tersentuh,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia(SI). Menurut Idwan, selain dari sisi enterpreneurship (kewirausahaan), masih perlu didorong upaya-upaya untuk mengapresiasi bidang inovasi produk teknologi. Baik itu berbentuk peranti lunak (software) maupun perangkat keras (hard-ware).
Dengan mempertimbangkan sisi kewirausahaan dan invention (penemuan), hal itu akan mendorong munculnya banyak technopreneur di dalam negeri. Sayangnya, menurut pandangannya, hingga saat ini belum ada tokoh di dalam negeri yang sudah layak mendapat predikat technopreneur. “Figur ideal seorang technopreneur adalah seperti Bill Gates. Selain inovator, dia juga seorang enterpreneur,” ungkapnya.
Upaya untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia masih panjang. Untuk mewujudkannya, tidak hanya diperlukan dari kalangan pebisnis, pemerintah, tapi juga dari semua pihak.Pemerintah melalui Kemeneg Ristek sudah membentuk Business Innovation Center (BIC) yang memiliki tujuan di antaranya untuk membudayakan inovasi di Indonesia.Terutama untuk mempertemukan antara kebutuhan bisnis dengan akademisi dan mediasi dari pemerintah.
Salah satunya dengan cara memilih produk-produk inovatif yang dianggap paling prospektif tiap tahunnya. Pada 2009 ini, terpilih 101 produk yang dianggap paling prospektif berdasar hasil penilaian 36 anggota dewan juri. Karena itu,jika Tech-Lifememberi penghargaan kepada pelaku bisnis dalam bidang teknologi, BIC mengapresiasi produk inovatif yang dihasilkan para inovator.
Menurut Idwan, saat ini sedang diupayakan agar di Indonesia bisa muncul para technopreneur.Jadi seseorang tidak hanya mampumenghasilkantemuan sebuahprodukinovatif,tapijugabisa memasarkannya.Namun,tentu saja, para penemu yang biasanya dari kalangan akademisi biasanya tidak memiliki keterampilan pemasaran sehingga perlu peran banyak pihak untuk mempertemukan semua elemen agar budaya teknologi bisa terwujud di Indonesia.
Sebagaimana diungkapkan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, iptek nasional memang belum memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.Tidak sebagaimana di banyak negara tetangga seperti Korea Selatan, China, India,Brasil,atau Malaysia yang telah memosisikan iptek sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak harmonisnya hubungan antara industri, dunia akademis,dan pemerintah.
“Ketiga komponen itu perlu mengalami transformasi pola pikir agar saling bersinergi dengan lebih mulus sebagaimana terjadi di negara- negara lain,”ujarnya. Bagaimanapun tidak sedikit produk inovatif karya anak negeri yang sebenarnya layak jual. Mulai dari produk games Nusantara Online hingga teknologi batik fraktal. Nusantara Online adalah sebuah program games online karya anak negeri yang tokoh-tokohnya merupakan tokoh zaman Majapahit yang dikemas dalam massively multiplayer online role-playing game (MMORPG).
Karena itu,selain bermain games,hal itu juga menjadi kegiatan belajar sejarah Indonesia. Sementara batik fraktal merupakan teknologi yang bisa digunakan kalangan industri untuk menciptakan pola-pola baru dalam memproduksi kain batik. Selain games Nusantara Online dan batik fraktal, masih banyak lagi produk inovatif lainnya. Terkait masalah kesenjangan digital,Menristek Kusmayanto Kadiman menilai hal tersebut merupakan masalah yang dialami oleh banyak negara di dunia.
Selain itu, menurutnya, hal tersebut juga merupakan hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu hari, tetapi memerlukan langkah-langkah jangka panjang. Intinya, kesenjangan digital bukan masalah sederhana. Hal ini terjadi bisa karena kurangnya kesadaran atau aplikasi, infrastruktur atau akses, pendidikan, kesejahteraan, atau secara sederhana dikarenakan berbedanya gaya hidup dan budaya. “Itulah yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk benar-benar memahami seperti apa kesenjangan itu serta bagaimana mempersempit kesenjangan,”ujarnya.
Dalam konteks ini,kata dia,merupakan hal yang sangat penting untuk mengampanyekan peningkatan penggunaan produk teknologi informasi guna meningkatkan daya saing nasional. Selain itu, dibutuhkan upaya untuk membantu komunitas masyarakat di perdesaan agar tidak ketinggalan dalam bidang teknologi.
Dari: situs www.seputar-indonesia.com - 22 Agustus 2009