11 September 2009 - 13:03Kembangkan Pembibitan Udang Satang

Potensi udang satang asal Sumsel akan dikembangkan di Balai Alih Teknologi Pertanian Kementerian Negara Ristek dan Teknologi di Desa Bakung Kecamatan Inderalaya Utara, Ogan Ilir.  ‘’Selain itu, juga akan dikembangkan tanaman jagung dan kedelai,” kata Menristek Kusmayanto Kadiman saat berkunjung di Balai Alih Teknologi Pertanian Desa Bakung, kemarin (08/09/09).

Langkah pemerintah untuk  merealisasikan hal tersebut, pihaknya sudah memberikan bantuan ke Balai Alih Teknologi Pertanian Desa Bakung. Lahan 400 hektare akan dijadikan penelitian pembibitan dan benih udang satang, jagung, dan kedelai. ‘’Seluruh peneliti yang berhimpun di bawah naungan Menristek diminta meneliti di Balai Alih Teknologi Pertanian Desa Bakung,” cetusnya.

Diakui Menristek, di Indonesia baru 3 provinsi yang memiliki Balai Alih Teknologi Pertanian. Salah satunya Desa Bakung. Dua daerah lainnya Cianjur, Jawa Barat dan Jembrana, Bali. ‘’Balai ini hendaknya menjadi pusat penelitian dan pengembangan pertanian dalam arti luas. Karena makna pertanian mencakup tiga hal. Yakni bertanam, beternak, dan bertambak. Tiga jenis itu harus dikembangkan di Balai Alih Teknologi Pertanian,” pungkasnya.

 

Dari situs www.sumeks.co.id - 09 September 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

11 September 2009 - 12:59Menristek meresmikan taman kumbang dan kupu-kupu serta hutan tropis mini di areal Puspiptek Serpong.

Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meresmikan pusat taman kumbang dan kupu-kupu serta hutan tropis mini, Rabu (2/9) sore. Taman kumbang dan kupu-kupu menempati lahan seluas 4 hektar, sedangkan hutan tropis menempati lahan seluas 15 hektar. Taman ini diresmikan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman.

Menristek mengatakan dalam rilisnya,”Taman ini akan diisi berbagai jenis kupu-kupu dan kumbang sebanyak 91 jenis tumbuhan berbunga yang sering dihinggapi kumbang dan kupu-kupu.” Pendirian taman kumbang dan kupu-kupu untuk memberikan pengetahuan ilmu biologi kepada seluruh masyarakat untuk melihat langsung berbagai jenis kumbang dan kupu-kupu asli dari seluruh Indonesia. Di dalam taman kumbang dan kupu-kupu terdapat 91 jenis tumbuhan berbunga untuk menarik perhatian kupu-kupu, diantaranya nusa indah, soka dan jangger ayam.

Sementara hutan tropis mini merupakan hutan tropik basah yang terbesar yang hanya dimiliki oleh tiga negara yaitu Brazil, Zaire dan Indonesia. Hutan tropis ini akan dipenuhi jenis-jenis kayu ekonomis, diantaranya meranti, keruing, damar, dan kayu besi.  ”Jenis tanaman ini sudah mulai langka di hutan alami indonesia,” jelasnya . Kelangkaan jenis-jenis tanaman tersebut disebabkan adanya kerusakkan hutan Indonesia yang terjadi selama 20 tahun terakhir.

Hutan tersebut digambarkan sebagai dataran rendah dengan tapak pelestarian jenis kayu serta jenis tanaman yang sudah ditanam sebanyak 87 jenis tanaman. Hutan buatan ini merupakan salah satu area hutan tropis terkecil pertama di Indonesia dan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi pemanasan global (global warming).

Dalam rangkaian acara peresmian ini diadakan diskusi tentang pentingnya mengembalikan ruang terbuka hijau, serta mengoptimalkan para peneliti yang ada kawasan Puspitek. Sekaligus ajang silaturahmi komunitas Iptek Di Indonesia.

Dari situs Serpongkita.com - 04 September 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

27 August 2009 - 14:23Upaya Atasi Kesenjangan Digital

Banyak cara bisa dilakukan untuk membantu masyarakat menjadi melek teknologi.Selain pemberian penghargaan atas temuan inovatif,juga dengan mendorong munculnya technopreneur.

Munculnya 10 nama yang mendapat penghargaan sebagai tokoh teknologi 2009 versi majalah Tech- Life Indonesiapatut diapresiasi.Sebab masih banyak hal yang harus diupayakan oleh semua pihak untuk mengatasi kesenjangan digital (digital gap) di Indonesia.Apalagi guna mendorong masyarakat lebih melek teknologi.Tidak mudah untuk mewujudkannya.Memang,harus diakui, hingga kini budaya inovasi di dalam negeri belum seperti di negara-negara lain yang sudah maju teknologinya.

Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemeneg Ristek) Idwan Suhardi menyambut positif adanya penghargaan terhadap 10 tokoh teknologi di dalam negeri.Menurut dia, penghargaan kepada 10 orang yang berjasa di bidang teknologi tersebut bisa menjadi salah satu upaya mendorong semakin maraknya budaya teknologi di masyarakat.

“Namun saya melihat penghargaan ini hanya lebih menitikberatkan sisi enterpreneurship-nya. Sementara sisi inovasi bidang teknologi belum benar-benar tersentuh,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia(SI). Menurut Idwan, selain dari sisi enterpreneurship (kewirausahaan), masih perlu didorong upaya-upaya untuk mengapresiasi bidang inovasi produk teknologi. Baik itu berbentuk peranti lunak (software) maupun perangkat keras (hard-ware).

Dengan mempertimbangkan sisi kewirausahaan dan invention (penemuan), hal itu akan mendorong munculnya banyak technopreneur di dalam negeri. Sayangnya, menurut pandangannya, hingga saat ini belum ada tokoh di dalam negeri yang sudah layak mendapat predikat technopreneur. “Figur ideal seorang technopreneur adalah seperti Bill Gates. Selain inovator, dia juga seorang enterpreneur,” ungkapnya.

Upaya untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia masih panjang. Untuk mewujudkannya, tidak hanya diperlukan dari kalangan pebisnis, pemerintah, tapi juga dari semua pihak.Pemerintah melalui Kemeneg Ristek sudah membentuk Business Innovation Center (BIC) yang memiliki tujuan di antaranya untuk membudayakan inovasi di Indonesia.Terutama untuk mempertemukan antara kebutuhan bisnis dengan akademisi dan mediasi dari pemerintah.

Salah satunya dengan cara memilih produk-produk inovatif yang dianggap paling prospektif tiap tahunnya. Pada 2009 ini, terpilih 101 produk yang dianggap paling prospektif berdasar hasil penilaian 36 anggota dewan juri. Karena itu,jika Tech-Lifememberi penghargaan kepada pelaku bisnis dalam bidang teknologi, BIC mengapresiasi produk inovatif yang dihasilkan para inovator.

Menurut Idwan, saat ini sedang diupayakan agar di Indonesia bisa muncul para technopreneur.Jadi seseorang tidak hanya mampumenghasilkantemuan sebuahprodukinovatif,tapijugabisa memasarkannya.Namun,tentu saja, para penemu yang biasanya dari kalangan akademisi biasanya tidak memiliki keterampilan pemasaran sehingga perlu peran banyak pihak untuk mempertemukan semua elemen agar budaya teknologi bisa terwujud di Indonesia.

Sebagaimana diungkapkan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, iptek nasional memang belum memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.Tidak sebagaimana di banyak negara tetangga seperti Korea Selatan, China, India,Brasil,atau Malaysia yang telah memosisikan iptek sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak harmonisnya hubungan antara industri, dunia akademis,dan pemerintah.

“Ketiga komponen itu perlu mengalami transformasi pola pikir agar saling bersinergi dengan lebih mulus sebagaimana terjadi di negara- negara lain,”ujarnya. Bagaimanapun tidak sedikit produk inovatif karya anak negeri yang sebenarnya layak jual. Mulai dari produk games Nusantara Online hingga teknologi batik fraktal. Nusantara Online adalah sebuah program games online karya anak negeri yang tokoh-tokohnya merupakan tokoh zaman Majapahit yang dikemas dalam massively multiplayer online role-playing game (MMORPG).

Karena itu,selain bermain games,hal itu juga menjadi kegiatan belajar sejarah Indonesia. Sementara batik fraktal merupakan teknologi yang bisa digunakan kalangan industri untuk menciptakan pola-pola baru dalam memproduksi kain batik. Selain games Nusantara Online dan batik fraktal, masih banyak lagi produk inovatif lainnya. Terkait masalah kesenjangan digital,Menristek Kusmayanto Kadiman menilai hal tersebut merupakan masalah yang dialami oleh banyak negara di dunia.

Selain itu, menurutnya, hal tersebut juga merupakan hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu hari, tetapi memerlukan langkah-langkah jangka panjang. Intinya, kesenjangan digital bukan masalah sederhana. Hal ini terjadi bisa karena kurangnya kesadaran atau aplikasi, infrastruktur atau akses, pendidikan, kesejahteraan, atau secara sederhana dikarenakan berbedanya gaya hidup dan budaya. “Itulah yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk benar-benar memahami seperti apa kesenjangan itu serta bagaimana mempersempit kesenjangan,”ujarnya.

Dalam konteks ini,kata dia,merupakan hal yang sangat penting untuk mengampanyekan peningkatan penggunaan produk teknologi informasi guna meningkatkan daya saing nasional. Selain itu, dibutuhkan upaya untuk membantu komunitas masyarakat di perdesaan agar tidak ketinggalan dalam bidang teknologi.

Dari: situs www.seputar-indonesia.com - 22 Agustus 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan: