24 February 2009 - 12:44Indonesia Ber-renaissance


Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

Kusmayanto Kadiman Muda

Pemuda dan transformasi Indonesia, mengapa sekarang makin penting relasinya?

Claes H. de Vreese dari Universitas Amsterdam menulis “Digital Renaissance: Young Consumer and Citizen?“. Di tulisan itu, de Vresse menemukan bahwa berkat teknologi internet, para pemuda sekarang semakin aktif mengutarakan pendapatnya.

Euisry (21 tahun) dalam blognya “Hamparan Kata”, mengelola sebuah tulisan “Menemukan Renaissance di Indonesia“. Tulisan ini, menggambarkan bagaimana generasi muda Indonesia juga telah semakin cepat mengutarakan pendapatnya lewat media internet.

Pokok pikiran Eusry, diambil dari pidato KK dalam judul yang sama disampaikan pada acara Dies Natalis ITS ke-47, tahun 2007.

Gambar di atas merupakan reka ulang dari foto KK yang diambil ketika masih kuliah di ITB. Klik gambar tersebut untuk melihat versi aslinya di situs Ikatan Alumni Teknik Fisika - ITB.

 

  • Dari blog “Twinkle Eusry” milik Eusry (dengan proses edit). Dipublikaskan pada 06 Februari 2009 . Lihat artikelnya di laman sumber.

Makna Indonesia dalam Iptek

Menemukan Renaissance di Indonesia

Oleh: Eusry.

Klik untuk melihat blog tersebutSemalam saya menonton debat parpol PDIP vs partai Demokrat di TV-One. D iantara hal yang ramai sekali diperdebatkan yaitu soal kenyataan pencapaian program perekonomian yang diusung masing-masing partai.

Soal iklan partai yang mengusung program ekonomi juga menjadi perdebatan seru. Ya, itu memang hal yang sudah biasa. Selama ini program-program ekonomi, juga politik, pendidikan, bahkan jender sudah kerap menjadi ‘iklan’ yang dilirik partai-partai politik saat kampanye untuk menggaet hati masyarakat.

Kalau aspek agama tak usah ditanya lagi, beberapa partai bahkan sudah menjadikannya sebagai identitas partai itu sendiri. Pertanyaannya, mengapa iptek belum mendapat tempat? Padahal, bukannya iptek diyakini sebagai aspek yang sangat penting bagi kemajuan bangsa? Nah, lho…

So, saya bukannya mau mereview seputar perdebatan semalam, tapi justru mereviu sebuah wacana yang lahir dari pertanyaan di atas. Ya, iklan-iklan partai yang kini kerap bermunculan di televisi itu mengingatkan saya pada opini Bpk. Kusmayanto Kadiman (KK), Menegristek Indonesia (yang juga adalah mantan rektor ITB yang saya kagumi ^^).

Dalam makalah opini KK yang disampaikan dalam pidatonya pada sidang Senat Perguruan Tinggi ITS, diulas berbagai pertanyaan menarik seputar apa dan bagaimana arti penting iptek bagi kemajuan bangsa Indonesia.

KK mengawali dengan mempertanyakan posisi iptek itu sendiri di ‘hati’ mayarakat Indonesia.

Menurut KK, jawaban atas pertanyaan di atas adalah karena iptek belum mendapat tempat di hati masyarakat, artinya masyarakat belum menghargai iptek.

Terdapat perbedaan cara pandang antara masyarakat dengan masyarakat akademisi terhadap iptek. Masyarakat umum memandang iptek dari segi kemanfaatannya dalam konteks kehidupan mereka, sementara masyarakat akademik cenderung memandang iptek dari segi pengembangannya, yakni prestisi kemajuan iptek sendiri.

Ini berarti bahwa iptek akan mendapat tempat di hati masyarakat jika mereka telah melihat kemanfaatan iptek tersebut. Pada situasi itu barulah iptek akan mendapat dukungan politis sehingga berdampak pada alokasi sumber daya bagi kemajuan iptek.

Arti penting iptek sendiri telah dapat dilihat dari sejarah, bahwa iptek dapat membawa perubahan-perubahan yang radikal, misalnya seperti terjadinya Revolusi Industri di Eropa, atau transportasi yang memungkinkan mobilitas melintasi berbagai negara. Hal ini yang kemudian berdampak besar terhadap peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa.

Persoalannya adalah ketika masyarakat belum melihat kemanfaatan iptek, argumen-argumen yang menyatakan pentingnya iptek akan sulit diterima masyarakat.

Untuk itu ada 2 pendekatan yang dapat ditempuh agar tercipta kesatuan yang selaras antara kemajuan dan kemanfaatan iptek.

Pertama, aktivitas pengembangan dan pemanfaatan iptek diletakkan dalam jalur terpisah.

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Blog Anda, > Menginspirasi, 3. Anda dan KK:, 9. Testimoni Tentang KK:

19 February 2009 - 14:59Belajar dari Hillary Clinton & Barack Obama, ‘Menjual’ Iptek Pada Pemilu


Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

Kunjungan Kerja

Apakah yang perlu dipelajari dari Amerika Serikat?

Jawaban: Komitmen mereka terhadap teknologi, yang dipakai untuk meningkatkan daya komptensi negara. Bahkan, Gedung Putih sekarang dalam situsnya menerbitkan agenda khusus untuk memperhatikan topik tersebut.

Dalam kunjungan ke Jakarta, Situs Yahoo-Liputan6 (19/02/09) Hillary menyampaikan salah satu tujuan penting makna kedatangannya. Yaitu kedua negara, Indonesia - Amerika Serikat, sedang merancang kerja sama di bidang teknologi.

KK yang mengkampanyekan kebiasaan menulis, juga telah mengantarkan staf Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk menggambarkan bagaimana negara-negara dunia menjual iptek sebagai komoditas politik. Berikut ditampilkan contoh aritkelnya.

Klik gambar di atas untuk melihat versi aslinya berikut artikel wadahnya di situs Presiden SBY.

 

  • Dari Harian Media Indonesia, 15 Mei 2008. Lihat artikel ini di laman sumber.

Belajar Dari Perjuangan Negara-Negara di Dunia

‘Menjual’ Iptek Pada Pemilu 2009

Oleh: Wawan Bayu PWS (Humas Ristek), Amir F. Manurung (Analis Hub. Internasional, Ristek).

SATU tahun menjelang Pemilu 2009, pengalaman demokrasi diperkaya dengan berbagai ingar-bingar pesta demokrasi tingkat daerah.

Menarik untuk dilihat, wacana teknologi ternyata tidak pernah dijadikan sebagai ‘bahan jualan’ oleh para kandidat dalam berbagai putaran pilkada.

Kasus yang seharusnya meletakkan teknologi sebagai cerita utama misalnya perbaikan layanan transportasi dan energi melalui iptek. Hal itu belum diangkat menjadi topik hangat.

Sungguhkah politik tidak bisa merangkul masalah iptek?
Tengoklah jelang pemilu Amerika Serikat. Media nasional kita banyak menyadur berita kampanye calon kandidat presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton dan Barack Obama.

Di sana ceritanya berbeda. Kedua kandidat berusaha menyampaikan visi mengubah lukisan wajah AS, yang dituding dunia internasional sebagai negara rakus minyak bumi sehingga tega mencaplok Irak. ‘Kuas’ yang dipakai untuk mengubah lukisan tersebut adalah teknologi dan inovasi.

Hillary sering kali menggencarkan ide bahwa AS mampu untuk menghilangkan kecanduan terhadap minyak bumi dengan modal kekuatan budaya inovasi mereka.

Harian Media Indonesia mencatat Hillary menginginkan kejayaan AS di era perlombaan antariksa harus diulang dalam kasus pengembangan energi alternatif (Media Indonesia, 15/3). Bagi AS, iptek dan inovasi adalah masalah harga diri.

Sementara itu, pada kegiatan pilkada dan pemilu, kita baru bisa mendengar topik iptek dibicarakan dalam keperluan komputerisasi pengolahan basis data hasil penghitungan suara.

Barangkali, kelompok skeptis akan mengatakan kasus para pemimpin di Amerika gencar menjual topik teknologi semata karena rakyatnya sudah memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan iptek. Sedangkan di Indonesia, orang masih bicara perut.

Dapatkah topik iptek bisa menjadi magnet kuat kampanye pilkada/pemilu untuk warga yang masih memikirkan masalah perut?

Iptek dan masalah perut
Pada saat menjadi pembicara utama pada Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (Kipnas) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, di Jakarta, 20 November 2007, mantan presiden India periode 2002-2007 Abdul Kalam pernah berbagi pola pikir dengan audiensi Indonesia tentang pengalaman negaranya mengawinkan logika politik dan iptek.

Seluruh dunia tahu reputasi pengaruh kekuatan ekonomi India saat ini sudah semakin diperhitungkan. Di acara Kipnas 2007 tersebut, Abdul Kalam mengatakan bahwa obsesi besar India untuk menggenjot pertumbuhan perekonomian adalah demi mengatrol derajat hidup 220 juta penduduknya yang berkemampuan ekonomi paling lemah dan tinggal di daerah terpencil.

Untuk bisa meningkatkan kemampuan 22% populasi tersebut, mereka membutuhkan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 10% selama lebih dari 10 tahun berturut-turut. Modal motivasi ini telah memampukan para penguasa politik India untuk membuka iptek sebagai instrumen utama pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.

Sekarang, Indonesia pun bisa menyaksikan bahwa ekonomi India telah menanjak sekitar 9% per tahun. Para ahli memperkirakan bahwa kalangan ekonomi menengah negeri itu akan membengkak jumlahnya dari 50 juta ke 500 juta orang dalam periode 20 tahun menjelang.

Iptek bisa lebih murah
Paling tidak tercatat tiga mitos besar yang menghalangi kita untuk bisa percaya bahwa Indonesia layak menjadi pemain dunia dalam iptek dan inovasi.

Mitos pertama, inisiatif peningkatan iptek dan pengembangan inovasi harus selalu menjadi urusan pemerintah. Kedua, Indonesia cenderung meyakini mitos bahwa litbang iptek dan inovasi hanya bisa dilakukan di luar negeri. Ketiga, harga Litbang mahal dan cenderung membuat bangkrut saja.

Bila dirangkum, ketiga mitos tersebut mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki cukup dana untuk membangun iptek dan inovasi. Namun dalam situs semi-blog-nya, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menampik hal tersebut.

Dalam tulisannya bertajuk ‘Mitos Inovasi di Indonesia‘, ide besar yang dituangkan oleh Menristek adalah bagaimana kelompok akademisi, bisnis, government/pemerintah (populer disingkat ABG) bisa saling berpegangan tangan. Boleh dibilang, ketidakmauan saling kerja sama antara akademisi - bisnis - pemerintah, adalah akar muasal keyakinan palsu akan mahalnya harga pengembangan iptek.

Di dalam relasi ABG, golongan akademisi bertindak sebagai penyedia modal inovasi teknologi. Grup bisnis sebagai produsen dan pemasar produk akhir. Sedangkan pemerintah adalah regulator relasi yang bertugas menjamin hubungan kerja sama berlangsung adil dan dinamis. Oleh sebab itu, proses akumulasi dapat meningkatkan nilai fungsi teknologi melalui jalan inovasi yang dibangun dalam jejaring kerja sama ABG agar bisa berjalan dengan lebih efektif.

Sayang sekali, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketiga komponen tersebut masih saling menjauhkan diri, mengotak-ngotakkan fungsi diri mereka.

Kelompok akademisi belum peka terhadap prospek yang bisa diraih dari pengembangan relasi dengan industri. Kelompok industri masih terperangkap pada pokok masalah untung-rugi jangka pendek. Pemerintah pun belum memiliki daya adaptasi tinggi dalam mengakomodasi kebutuhan proses akumulasi peningkatan nilai produk dari relasi akademisi-bisnis tersebut.

Dalam sejarah pengembangannya, iptek selalu dimotivasi untuk membantu manusia bertahan hidup. Pengetahuan modern pun bisa memahami bahwa iptek adalah bagian rumus untuk usaha melipatgandakan nilai efisiensi modal manusia dan uang yang ditanamkan (total factor productivity/TFP).

Dalam menyadari pentingnya iptek, Jepang, Korea Selatan, China, dan India pun mengambil langkah fortifikasi (penambahan nilai) teknologi demi bisa menguasainya. Mereka berusaha memberikan nilai tambah dari berbagai produk iptek di negara-negara yang sudah lebih maju sebelumnya.

Era globalisasi yang semakin meningkatkan tempo persaingan telah mengurangi alasan kita tidak membicarakan iptek dalam berbagai kesempatan politik.

Jika kita ingin selamat, tidak tergilas oleh kemajuan negara-negara lain, satu-satunya cara adalah memperjuangkan agar iptek nasional kita memiliki kedudukan setara dengan iptek negara pesaing kita. Tidak ada jalan lain, Indonesia harus bersikap lebih positif terhadap pengembangan dan aplikasi ipteknya sendiri.

Pola ABG, yang menitikberatkan pada diferensiasi tanggung jawab, adaptasi antar kelompok, sikap inklusif, dan value generalization, menjadi solusi untuk memasukkan Indonesia sebagai kelompok negara yang produktif, mampu mengeksplorasi fungsi kerja setiap golongannya.

Mudah-mudahan para kandidat pemimpin negara nantinya bisa memetik ide tulus dari para petinggi di negara lain yang telah mau menunjuk iptek sebagai pintu yang bernilai tinggi dalam meningkatkan daya kohesivitas golongan rakyatnya masing-masing.

Tanpa berjuang mematangkan sikap positif kepada sistem pengembangan iptek dan inovasi, rasanya tidak mungkin Indonesia bisa berjaya.

Ikuti Juga Artikel Berkaitan di Makalah Menteri

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Menginspirasi, 9. Testimoni Tentang KK:

17 February 2009 - 17:02Terbuka Itu Menyenangkan Semua Orang…



Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

Kunjungan Kerja

Bagaimanakah caranya agar iptek adalah kebijakan realistis? Untuk menjaga perspektif yang realistis, KK kerap melakukan perjalanan dinas ke berbagai daerah di Indonesia, untuk melihat secara langsung kondisi di lapangan.

Klik di sini, untuk melihat artikel yang memperlihatkan contoh sikap yang sama dari para staf Kementerian Negara Riset dan Teknologi, seperti diperlihatkan gambar kegiatannya pada boks ini.

Teknologi Informasi pun bisa dipergunakan sebagai opsi untuk menajamkan perspektif publik. Antara lain dengan memantau isi blog masyarakat atau mengikuti mailing lists, KK bisa melihat pendapat riil masyarakat luas. Keterbukaan, memang harus digalakkan dalam dunia pemerintahan.

Klik gambar di atas untuk melihat gambar aslinya.

 

  • Dari blog “Eshape” milik Eko Sutrisno Hadi Purnomo, Februari 12, 2009 (dengan proses edit). Lihat artikelnya di laman sumber.
  • Terima kasih kepada Eko Sutrisno Hadi Purnomo yang telah mengizinkan agar blog-nya dimuat di Makalah Menteri.

Tadinya, Tak Nyaman Di-”dukung”

Menteri Indonesia Go Blog, Bravo !!!

Oleh: Eko “Eshape” Sutrisno Hadi Purnomo.

Pada Pesta Blogger 2008, saat menunggu pintu masuk dibuka, aku ngobrol dengan seorang blogger dari negeri JIRAN.

“Luar biasa Indonesia. Saat para blogger kami ditangkap pemerintah, di sini malah para blogger mengadakan pesta dengan sokongan dari 3 menteri”, ucapnya berapi-api.

Aku menanggapinya dengan senyum, karena di sisi lain ada kawan sesama blogger Indonesia yang merasa nggak nyaman dengan “support” dari beberapa menteri ini.

“Kapan blogger Indonesia mau dewasa. Untuk acara seperti ini, yang mestinya bebas dari para birokrat, malah penuh nuansa birokrasi?”, ujar kawan blogger Indonesia ini bersungut-sungut.

Aku juga menanggapinya dengan senyum. Ya begitulah, kata pak Amril, apapun kejadiannya, resep menghadapinya sebaiknya dengan senyum saja.

Rumus senyumnya? Betul !

Rumusnya: 2-2-7, tarik bibir 2 cm ke kanan, 2 cm ke kiri, dan pertahankan selama 7 detik.

Kurasa, komentar dua blogger yang bertentangan itu ada juga sisi benarnya. Bagaimana tidak bangga punya 3 menteri yang tertarik untuk menyokong kegiatan para blogger, dan bagaimana tidak bosen melihat acara yang nggak mulai-mulai gara-gara acara terlalu protokoler?

Hari ini, akhirnya aku melihat bahwa komentar dari blogger negeri Jiran itu benar adanya.

Sebuah imil dari seorang kawan [bukan blogger tapi seorang pejabat tinggi BUMN yang super lucu] mampir ke kotak suratku, lengkap dengan alamat blog seorang menteri.

Langsung saja aku menuju ke TKP [blognya pak Menteri].

Ternyata kawan-kawan sudah lebih dahulu ada disana. Ada pak Aris, ada pak ATG, dll, sudah lebih dahulu memberi komentar.

Sungguh nyaman membaca blog pak Menteri ini. Bahasa tulisnya seenak bahasa pidatonya. Lancar dan belum mau berhenti sebelum selesai di paragraf akhir.

Aku jadi inget ketika diudang beliau dalam suatu acara di Gedung BPPT. Itulah kali pertama aku mendengar ceramah seorang menteri, karena biasanya saat seorang menteri bicara di panggung, kami biasanya juga berbicara di kelompok kami [nggak sopan ya..?].

Penguasaan materi ceramah dan model orasi yang nyaman, membuat aku merasa terganggu kalau ada yang mengajakku bicara.

Kayaknya pak Menteri ini terkena guna-guna dari mas Enda, sehingga ikut Go Blog, seperti yang selalu dikampanyekan oleh mas Enda.

Seandainya semua pejabat tinggi punya blog, wah enak bener tuh. Suara rakyat akan langsung masuk ke blog sang pejabat. Kalau komunikasi sudah transparan dan didasari semangat berbaik sangka, maka kemakmuran Indonesia tinggal menunggu waktu saja [tidak akan perlu waktu yang lama].

Tekad beberapa teman-teman di ESQ tentang Indonesia Emas 2020 mungkin akan tercapai sebelum tahun itu. Bahasa Indonesia juga sudah menjadi bahasa nomor 1 dunia dan bukan hanya menjadi bahasa nomor 3 dunia.

Memang mungkin ini hanya mimpiku saja, tapi kalau anda setuju, maka bukan tidak mungkin ini akan menjadi tekad seluruh bangsa Indonesia.

Indonesia, mari kita Maju Dengan Karya Bermutu!

Artikel Berkaitan di Makalah Menteri

(Baca selanjutnya…)

1 Comment | Tags: > Blog Anda, > Menginspirasi, 3. Anda dan KK:, 9. Testimoni Tentang KK: