20 January 2009 - 8:53Harapan Bagi Penduduk Pulau-Pulau Indonesia
|
Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang OSS. Hak Generasi Sekarang: Menjadikan Indonesia Negara Kepulauan yang kuat. Indonesia memiliki berbagai faktor pembentuk untuk menjadikan dirinya salah satu negara terkuat di dunia. Tidak mengherankan bila kita sudah memiliki visi agar tahun 2030 kelak Indonesia menjadi salah satu terunggul di dunia. Faktor geografis dan demografis yang dominan adalah posisi strategis, luasnya wilayah, serta jumlah penduduk yang besar. Namun ada faktor imateriil lain yang tidak kalah pentingnya yang sedang menunggu untuk dikembangkan lebih lanjut: strategi dan semangat membangun. Bagi negara-negara maju dan new emerging markets (seperti India dan China), teknologi merupakan bagian penting logika pembangunan. Syukurlah Indonesia punya putra-putri, pemimpin yang tahu makna pentingnya teknologi dalam mewujudkan mimpi menjadikan rakyatnya unggul. Seperti Bupati Rote Ndao, Chris N Dillak, dan Bupati Jembrana I Gede Winasa (berpose bersama KK di atas di acara IGOS Summit II, Mei 2008) Bupati I Gede Winasa, sangat berjasa menjadikan Jembrana, di Provinsi Bali, salah satu kabupaten di Indonesia yang diakui Presiden RI SBY, menjadikan sebagai daerah terbaik dalam hal Inovasi Pelayanan Prima. KK sering berkata: Indonesia Bisa! Kita bisa memilih Caleg yang tidak Gaptek. |
- Dari harian Kompas, 16 Januari 2009. Lihat artikelnya di halaman sumber.
- Lihat laporan perjalanan dinas KK di Rote Ndao akhir tahun lalu (17 - 20 Desember 2008) di sini.
- Lihat tentang catatan kegiatan SBY pada Januari 2009, berkaitan dengan pengembangan teknologi BBN di sini.
Energi Listrik
Terang dari Pulau Kecil
Oleh Yuni Ikawati
Pulau kecil selama ini dialiri listrik oleh pembangkit listrik tenaga diesel yang menggunakan bahan bakar solar. Ketergantungan pada BBM itu belakangan memunculkan masalah karena harganya kian mahal, pasokan tersendat, dan emisi karbonnya tinggi.
Masalah itu bukan hanya menghambat keberlanjutan pengoperasian PLTD, tetapi juga program nasional elektrifikasi di pulau-pulau kecil selanjutnya.
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah itu adalah mengembangkan penerapan pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH). Hal ini ditempuh Kementerian Negara Riset dan Teknologi dengan mengoordinasi lembaga riset dan industri nasional.
>>
Keterangan: Klik di sini untuk melihat skema PLTH (211 Kb).
Beberapa sistem PLTH yang diresmikan pengoperasiannya oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman Desember lalu ada di Nusa Tenggara Timur, yaitu di Nemberala, Kabupaten Rote Ndao, dan di Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara. ”PLTH merupakan realisasi dari rencana besar kebijakan bauran energi nasional yang berimbang dan menaikkan porsi sumber energi baru dan terbarukan,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, PLTH memang mengandalkan potensi energi lokal yang bersifat terbarukan untuk mengurangi penggunaan diesel. Dalam hal ini, PLTH memadukan PLTD dengan minimal dua jenis sumber energi lain, misalnya angin dan sinar matahari (surya). Listrik dari tiga pembangkit ini digabung dalam sistem PLTH lalu memasok listrik ke jaringan di pulau.
Ada beberapa manfaat dari penerapan PLTH, yaitu mengurangi penggunaan minyak solar secara signifikan. Kebutuhan solar dapat lebih ditekan dengan mengintroduksi minyak bahan bakar nabati (BBN) yang bersumber dari tanaman lokal yang melimpah seperti jarak, kesambi, nyamplung, dan kelapa. ”Dengan demikian, tidak menambah kompleks sistem logistik sumber energi tradisional atau BBM,” ujar Kusmayanto.
Penggunaan energi bayu dan surya pada PLTH akan menekan polusi udara dari pembakaran solar. Dampak positif lain adalah terbukanya lapangan kerja bukan hanya dalam pengoperasiannya, tapi juga budidaya dan pengolahan BBN. Ini bisa mengurangi jumlah orang miskin di pulau kecil. ”Pembangkit ini juga mengandung mayoritas teknologi hasil rancang bangun anak negeri,” ujarnya.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang menguntungkan itu, PLTH menjadi solusi kompetitif daripada pembangkit listrik konvensional, terutama di daerah yang tidak terhubung ke jaringan listrik nasional dan memiliki sumber daya energi lokal yang melimpah.
Namun, mengingat harga listrik per kWh masih di atas harga listrik pembangkit konvensional, maka PLTH perlu mendapat dukungan biaya APBN atau APBD agar rakyat pengguna listrik tidak terbebani. ”Ini adalah bagian dari misi pemerintah meningkatkan rasio elektrifikasi nasional,” ujar Kusmayanto.
Potensi energi
No Comments | Tags: > 12/08 - Desember 2008, > Energi, Pertanian/Pangan, Transportasi, 5. Nasional/Daerah, 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 7. Laporan Kegiatan:, 8. Kliping




