10 November 2008 - 14:15Entrepreneurship Sains

  • Di harian Kompas, 07 November 2008, terdapat artikel”Industri Lokal Mulai Melirik Riset BPPT” yang memperlihatkan concern Ir. Ciputra terhadap produk iptek lokal. Pada 25 September 2008, KK bertemu dengan Pak Ci (panggilan akrab Ir. Ciputra) di kantor KNRT. Berikut catatan Ibu Betti Alisjahbana, yang kebetulan turut serta dalam pertemuan tersebut, tentang inspirasi yang diterimanya dari Pak Ci:

    Entrepreneurship, Sangat Penting bagi Indonesia
    Oleh:Betti Alisjahbana

    Pada tanggal 25 September 2008, atas undangan Menristek, saya mendapat kesempatan emas untuk bertemu dan berdialog dengan Bapak Dr (HC) Ir. Ciputra yang pada saat itu mengunjungi Bapak Kusmayanto Kadiman. Saya belajar banyak dari diskusi selama dua jam yang saya lanjutkan dengan membaca buku yang saya peroleh dari beliau berjudul “The Ciputra’s Way, Praktik Terbaik Menjadi Entrepreneur Sejati”. Melalui tulisan ini saya ingin berbagi apa yang saya pelajari dari beliau.

    Ciputra, Inovator yang Mampu Mengubah Barang Rongsokan Menjadi Emas

    Ir. Ciputra, atau biasa dipanggil Pak Ci, adalah seorang entrepreneur yang sangat sukses. Ia adalah tokoh di belakang pendirian tiga group bisnis bidang properti terkemuka di Indonesia; group Jaya, group Metropolitan dan group Ciputra. Bersama ketiga kelompok bisnis di atas, Pak Ci terlibat dalam pembangunan lebih dari 20 pengembangan skala kota, 10 pusat belanja, 10 hotel berbintang, 5 padang golf dan pusat rekreasi terbesar di Indonesia (Ancol). Pak Ci adalah seorang yang sangat inovatif. Ia mampu mengubah sebuah padang ilalang menjadi kota baru, mengubah tempat pembuangan sampah menjadi resor yang indah dan kawasan kumuh menjadi wilayah pencakar langit tempat ribuan orang bekerja dan beraktifitas. Pak Ci pun aktif mengembangkan bisnisnya di manca negara di antaranya di Singapura, Vietnam dan India dan sedang mempersiapkan untuk masuk ke China dan Timur Tengah.

    Sebagian buah keberhasilan bisnisnya ia bagikan pada masyarakat dalam bentuk sumbangan dan dukungan untuk kegiatan pendidikan, seni dan olah raga. Pak Ci terlibat di lebih 10 lembaga pendidikan, mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi. Dalam bidang olah raga Ia memimpin yayasan Jaya Raya yang menghasilkan juara-juara dunia di bidang bulu tangkis termasuk peraih medali emas dalam Olimpiade.

    Melalui profesinya ribuan orang mendapat kesempatan kerja dan ratusan ribu anggota keluarga mendapatkan nafkah dan masa depannya. Di usia 75 tahun ia masih aktif mengembangkan bisnisnya dan dengan penuh semangat mendorong tumbuhnya entrepreneur-entrepreneur tangguh Indonesia, baik melalui Universtias Ciputra, The School of Entrepreneurs maupun melalui pendekatan-pendekatan ke berbagai pihak agar dibentuk Entrepreneurship Center di kampus-kampus terkemuka, dan pengintegrasian pembelajaran entrepreneurship dalam kurikulum nasional mulai dari TK sampai dengan Perguruan Tinggi.

    Meskipun prestasinya sungguh luar biasa, Pak Ci tetap tampil sederhana dan rendah hati. Ia sangat menghargai orang-orang yang ditemuinya, suka memberikan pujian dan memberikan semangat. Bertemu dengannya saya jadi ingat ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.

    Indonesia Butuh 4 juta Entrepreneur Baru

    Menurut David McClelland, untuk menjadi makmur suatu negara butuh entrepreneur paling tidak 2% dari warganya. Pada tahun 2007 di Indonesia diperkirakan ada 400.000 entrepreneur atau 0.18 % , seharusnya kita punya 4.4 juta entrepreneur. Sebagai bahan perbandingan, Singapura di tahun 2005 punya 7.2 % entrepreneur dan Amerika Serikat di tahun 2007 punya 11.5 %.

    Mengapa entrepreneurship sangat dibutuhkan di Indonesia? Tanpa entrepreneurship penganguran terdidik akan semakin banyak jumlahnya. Berdasarkan data Februari 2007 ada 740.206 penganggur lulusan perguruan tinggi. Dalam waktu enam bulan ( Agustus 2006 – Februari 2007) jumlah penganggur lulusan perguruan tinggi naik sebesar 66.578 atau 9.88 %. Tanpa entrepreneurship sumber energi, komoditi dan mineral yang melimpah di Indonesia tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan rakyat, negarapun tidak akan mendapatkan kutipan pajak, retribusi dan fasilitas publik swadaya.

    Orientasi pendidikan kita saat ini umumnya memang membangun manusia pencari kerja dan bukan membangun manusia pencipta kerja, itu sebabnya generasi muda kita umumnya tidak memiliki kecakapan untuk menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Pertanyaan yang mungkin timbul adalah apakah entrepreneur-entrepreneur baru bisa dibentuk melalui pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, Peter Drucker berkata :”The entrepreneurial mystique? It’s not magic, it’s not mysterious, and it has nothing to do with the genes. It’s a discipline. And, like any discipline, it can be learned.”

    (Baca selanjutnya…)

    1 Comment | Tags: > 09/08 - September 2008, 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 7. Laporan Kegiatan:

    26 September 2008 - 10:47KK Buka Puasa Bersama AOSI dan FPK

  • Dari Situs KabarIndonesia.com , 25 September 2008, lihat berita berkaitan di situs Ristek, “Buka Bersama Menegristek dengan Berbagai Komunitas

    Menristek Kusmayanto Kadiman Buka Puasa Bersama AOSI dan FPK

    Oleh : Ruslan Andy Chandra

    KabarIndonesia - Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Kusmayanto Kadiman mengundang pengurus dan anggota Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) dan Forum Pembaca Kompas (FPK) untuk mendapat siraman rohani bersama dari Kiyai Haji Aceng yang dilanjutkan dengan berbuka puasa.

    Kusmayanto Kadiman dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas segala dukungan dari teman-teman yang menyiapkan makanan berbuka puasa “makanan yang tersedia itu dari teman kita yang menyumbang, jadi bukan dari kantor saya,” seraya menambahkan bahwa Kusmayanto adalah pecinta Open Source. Menyinggung kasus yang menimpa Moderator FPK yang berstatus saksi, di Poda Metro Jaya, Kusmayanto berharap masalah tersebut bisa terselesaikan dengan baik. “Kalaupun ditahan, bisa dapat uang seperti di Arab Saudi” ujar Kusmayanto bercanda.

    Beberapa komentar dari milis FPK yakni Herwin Mopangga menyatakan ucapan terima kasihnya dalam buka bersamanya. Berikut komentanya yang bersumber dari Milis FPK:

    “Assalamu alaikum Wr.Wb & Salam sejahtera. Syukur Alhamdulillah, bertambah lagi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Untuk pertama kalinya ikut Gathering FPK dalam momen buka puasa bersama, Rabu 24 September kemarin di Gedung BPPT, Jl. Thamrin Jakarta, dimana Pak Kusmayanto Kadiman (Menristek) bertindak selaku tuan rumah.

    Saya senang banyak yang hadir. Ini menunjukkan antusiasme para member untuk konsisten menjalin silaturahmi. Tausiyah yang disampaikan Kiai Aceng dari Pondok Pesantren Garut sangat menarik, mencerahkan dan menyegarkan suasana. Menu makanannya juga luar biasa lezat. Saya harap ini bisa menjadi awal yang positif bagi saya, juga kawan-kawan yang belum lama bergabung dengan komunitas ini untuk lebih intens membangun networking. Rasanya kurang lengkap jika kita sering sharing informasi dan pendapat tapi belum pernah bertemu muka dan bertegur sapa.

    Terima kasih kepada “Kepala Sekolah” kita, meminjam istilah Pak KK (Kusmayanto Kadiman) Bang Agus Hamonangan (atas obrolan saat makan malamnya). Melihat acara yang sangat menarik ini, saya kira usulan agar buka puasa bersama di penghujung Ramadhan ini dengan Wapres sepertinya bisa diwujudkan. Semoga bisa direspon baik oleh pihak Istana. Terima kasih banyak juga disampaikan kepada Pak KK atas jamuannya. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya. Mohon maaf sekiranya ada yang salah.”

    Sementara yang lain menyatakan:

    (Baca selanjutnya…)

    No Comments | Tags: > 09/08 - September 2008, 7. Laporan Kegiatan:, 9. Testimoni Tentang KK:

    24 September 2008 - 16:46KK Bicara Teknologi untuk UMKM

  • Dari situs Ristek, 24 September 2008

    Oxford Business Group (OBG) adalah salah satu konsultan riset dan publikasi terkemuka dari Inggris yang memfokuskan diri pada perekonomian negara berkembang. OBG berkerjasama dengan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) telah menerbitkan laporan tentang Indonesia (Country Report on Indonesia) pada Juni 2007, yang secara resmi diluncurkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Distribusi Country Report ini mencapai 65.000 pembaca tetap dan sirkulasi sebanyak 21.000 eksemplar di seluruh dunia.

    Sebagai bagian dari penyusunan The Report Indonesia 2009, Oxford Business Group berkesempatan mewawancarai KK di kantor kerja Gedung BPPT II lantai 24, hari ini (24 September 2008).

    Di kesempatan tersebut KK antara lain mengungkapkan bahwa saat ini usaha mikro, kecil dan menengah (Micro, Small, and Medium Enterprises/MSME) melibatkan hingga 70 juta masyarakat secara statistik berkontribusi 91.26 persen dari keseluruhan aktivitas bisnis di Indonesia.

    (Baca selanjutnya…)

    No Comments | Tags: > 09/08 - September 2008, 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 7. Laporan Kegiatan: