22 November 2008 - 13:38Melepaskan Peneliti dari Apresiasi Tunjangan yang Buruk

  • Dari Harian Kompas, 22 November 2008

    Insentif Penelitian - Tunjangan Professor Riset diusulkan naik 10 kali lipat

    Jakarta, Kompas - Tunjangan peneliti berdasarkan usulan yang diajukan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kepada Menteri Keuangan naik 10 kali lebih.

    Untuk Peneliti Pertama dari Rp 350.000 akan naik menjadi Rp 5 juta. Adapun Peneliti Muda dan Madya masing-masing menjadi Rp 8,5 juta dan Rp 12 juta. Peneliti Utama atau Profesor Riset dari yang semula Rp 1,4 juta diusulkan naik menjadi Rp 14 juta atau naik 10 kali lipat.

    Dijelaskan Wakil Kepala LIPI Lukman Hakim, Jumat (21/11), kenaikan tunjangan peneliti ini diajukan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2007 yang mulai berlaku per 1 Januari 2009.

    Ditegaskan Presiden

    Kepedulian pemerintah pada kesejahteraan peneliti, ujar Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, dikemukakan Presiden RI pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Agustus lalu di Istana Negara. Ketika itu Presiden mengatakan telah memerintahkan Menkeu, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Negara Riset dan Teknologi, serta Menteri Pendidikan Nasional untuk merealisasikannya. Selain itu, pada pidato di Sidang Paripurna DPR, Jumat (15/8), Presiden juga menyebutkan pentingnya menaikkan kesejahteraan peneliti.

    Lukman mengatakan, pada tahun 1983 tunjangan Ahli Peneliti Utama (APU) sebesar Rp 900.000, dua kali lipat tunjangan pejabat Eselon I. Namun kini, tunjangan APU hanya naik jadi Rp 1,4 juta, sedangkan Eselon I telah menjadi Rp 5,5 juta. Kondisi ini mendorong peneliti menjalani pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan tidak sedikit yang keluar atau bekerja di perusahaan swasta.

    Dorongan peneliti untuk bekerja di luar negeri juga kian besar, terutama di Malaysia dan Singapura, yang menjanjikan fasilitas riset dan gaji yang besar. Di Malaysia, tunjangan peneliti pertama senilai Rp 8 juta per bulan. Di Pakistan, gaji peneliti beberapa kali lipat gaji menteri. (YUN)

    No Comments | Tags: > 08/08 - Agustus 2008, > Menginspirasi, 1. Bersama RI1, 5. Nasional/Daerah, 7. Laporan Kegiatan:, 8. Kliping, 9. Testimoni Tentang KK:

    24 September 2008 - 15:26KK: Pesantren Lokomotif Kemajuan

  • Dari harian Jawa Pos, 28 Agustus 2008. Lihat berita terkait di Makalah Menteri di sini

    Menristek: Madura Lumbung Santri dan Intelektual - Madura Lumbung Santri dan Intelektual

    Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Dr Kusmayanto Kadiman mengimbau pesantren bisa menjadi sumbu bagi perkembangan teknologi di Madura. Sebab, dilihat dari sejarahnya, sejak berdiri pesantren dikenal sebagai lembaga keagamaan yang juga punya semangat memerjuangkan persoalan kemanusiaan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    “Identitas tersebut harus selalu dikembangkan. Sehingga, upaya menjadi pulau (Madura) yang maju, baik dalam persoalan ilmu pengetahuan, pertumbuhan ekonomi, dan sosial kemasyarakatan, segera terwujud,” kata Kusmayanto di hadapan sekitar seribu undangan dalam Sarasehan Teknologi untuk Kemanusiaan di Aula Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, kemarin.

    Menurut Menristek, selama ini Madura dikenal sebagai lumbung para santri dan intelektual. Jika dibanding dengan daerah yang lain di Jawa Timur, Madura sebagai pulau yang mempunyai pesantren terbanyak.

    Nah, dengan jumlah pesantren yang banyak tersebut, Madura menjadi pulau yang terus menarik simpati banyak kalangan. Apalagi, keberadaan pesantren dari hari ke hari terus mewarnai perkembangan Madura.

    Dikatakan, semangat perjuangan pesantren dalam memajukan Madura bisa dilihat dari kiprah kalangan pesantren sendiri. Sehingga, tak berlebihan jika komponen masyarakat luar Madura menilai pesantren menjadi lokomotif bagi kemajuan komunitas Madura.

    Kondisi inilah yang memicu kementerian ristek untuk merangkul pesantren dalam mengampanyekan pentingnya memaknai teknologi. Alasannya, majunya teknologi di Madura juga akan menjadi bukti bahwa sumber daya manusia (SDM) Madura patut perhitungkan.

    (Baca selanjutnya…)

    No Comments | Tags: > 08/08 - Agustus 2008, > Hankam, Informasi & Komunikasi, Kesehatan, 5. Nasional/Daerah, 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 7. Laporan Kegiatan:, 8. Kliping

    3 September 2008 - 10:42Antara Agama dan Iptek, Tidak Ada Dikotomi

  • Dari situs Ristek, 03 September 2008. Berita terkait di “Makalah-Menteri”, bisa dilihat di sini.

    Kegiatan KK di Kabupaten Sumenep, Madura

    KK didampingi oleh Sri Setiawati (Asdep Urusan Etika dan Harmonisasi Iptek) dan Kemal Prihatman (Asdep Urusan Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi, Ristek), pada tanggal 26 dan 27 Agustus 2008, mengadakan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumenep - Madura.

    Puncak acara kunjungan kerja KK adalah memberikan ceramah umum pada Sarasehan dengan tema “Teknologi untuk Kemanusiaan” di Pondok Pesantren Annuqayah Desa Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep. Sarasehan dihadiri oleh para Kyai serta santri dari pondok pesantren Annuqayah dan pondok pesantren sekitar Kabupaten Sumenep, Bupati Kabupaten Sampang, Wakil Bupati Kabupaten Sumenep, Muspida Kabupaten Sumenep serta Kepala Dinas sekabupaten Sumenep.

    Sarasehan didahului oleh kata sambutan dari Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah KH. A. Warits Ilyas dan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep oleh Wakil Bupati Kabupaten Sumenep.

    Sebelum KK menyampaikan ceramah, Budayawan Kyai Zawawi Imron memberikan pengantar yang intinya bahwa dalam pengembangan teknologi di Indonesia maka teknologi itu harus teknologi yang “Rahmatan Lil Alamin”. Kyai Zawawi juga menegaskan perlunya teknologi masuk ke pesantren, sehingga pesantren masa depan tidak hanya berkiprah pada daerah sekitar tetapi lebih luas lagi dapat mengambil peran dalam pembangunan Indonesia secara keseluruhan. Menurut Kyai Zawawi, pada akhirnya teknologi “Ramatan Lil Alamin” ini hanya akan didapatkan kalau Indonesia mampu mensinergikan gagasan-gagasan teknologi dengan nilai-nilai pesantren.

    Teknologi untuk Kemaslahatan Manusia
    Dalam ceramah umumnya, KK kembali menegaskan peran teknologi adalah memenuhi kebutuhan dan memberikan kemudahan bagi umat manusia. Teknologi harus ditujukan untuk kemaslahatan manusia, demikian KK menegaskan. Oleh karena itu KK secara spesifik memberikan defenisi teknologi sebagai paduan sempurna dari ilmu, rekayasa, seni dan ekonomi.

    Dalam ceramahnya, KK juga menegaskan tidak ada dikotomi antara ilmu dengan agama, tidak ada pertentangan antara ilmu dengan budaya, dan tidak ada pertentangan antara agama dan budaya. Ilmu, agama dan budaya asal muasalnya adalah sama, walaupun ada perbedaan, tetapi perbedaan itu seharusnya membuat ketiga pilar itu secara harmonis saling mengisi, saling melengkapi sehingga menjadi lebih kaya dan lebih kuat.
    (Baca selanjutnya…)

    No Comments | Tags: > 08/08 - Agustus 2008, 5. Nasional/Daerah, 7. Laporan Kegiatan: