6 January 2009 - 12:53Kesadaran Teknologi: Mengobati Budaya Vandalisme


 

  • Dari situs Kompas, 31 Desember 2008. Lihat artikelnya di halaman sumber.

Pemantauan Tsunami

Vandalisme, Bencana Sebelum Terjadi Bencana

Oleh Yuni Ikawati dan Gesit Ariyanto

Pukul 6 pagi, 30 Oktober 2008 lalu, operator di Indonesia Data Buoy Center Jakarta dikejutkan oleh hilangnya satu data di layar monitornya. Pada jajaran grafik tinggi muka laut di beberapa lokasi di Indonesia yang tampak di layar, tak muncul grafik untuk perairan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Mestinya data pantauan itu dikirim secara otomatis setiap jam oleh sistem telemetri di pelampung (buoy) yang tertambat di laut ke pusat data, yang berada di tengah laut ke Gedung I BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

Namun, ternyata data yang blank bukan itu saja. Data posisi buoy yang harusnya ditunjukkan oleh sistem GPS (global positioning system) juga tak muncul di layar komputer. Itu artinya “Komodo”—nama buoy di laut utara Pulau Sumbawa itu—tak berfungsi sama sekali.

Ridwan Djamaluddin, Kepala Program Buoy Tsunami Indonesia yang menerima laporan itu, meragukan Komodo kembali bermasalah. Karena buoy itu— setelah berhasil diamankan dari aksi pencurian pertama—baru diperbaiki dan ditempatkan kembali di lokasinya dua minggu sebelumnya.

Pada kasus pencurian pertama, berdasarkan antena GPS yang terpasang pada pelampung, dapat terdeteksi adanya tarikan, sedangkan arah pergerakannya melawan arus laut.

Berdasarkan itu, tim dari BPPT yang bergerak ke lokasi menemukan buoy telah terapung-apung terbawa arus. Rupanya alat itu setelah ditarik kemudian dilepas pelakunya. ”Alat itu kami perbaiki di Bima, sebelum dipasang lagi,” kata Wahyu Pandoe, Koordinator Desain, Pemeliharaan, dan Operasi Sistem Peringatan Dini Tsunami dari BPPT.

Penyelidikan tim pada kasus vandalisme kedua pada buoy yang telah diperbaiki dan dipasang di tempat yang sama menunjukkan semua komponen pada buoy itu telah habis dipreteli. ”Kali ini, tim menjumpai antena patah dan lampu sinyal hilang,” lapor Wahyu.

Kenyataan ini membuat Ridwan tak habis pikir mengapa hal itu masih terjadi. Padahal, BPPT telah melakukan sosialisasi tentang pentingnya pelampung itu pada masyarakat di daerah-daerah dekat lokasi pelampung itu ditambatkan.

Bukan itu saja, upaya teknis untuk mencegah hilangnya pelampung itu pun dilakukan. Hilangnya buoy generasi kedua buatan BPPT itu sebenarnya sudah diantisipasi dengan pilihan warna senada birunya laut. Bentuk pun minimalis, menyerupai limas tanpa satu pun pengait. Namun, antisipasi kehilangan seperti tiada berguna. ”Memang harus dipikirkan solusi lain agar lebih aman,” kata Ridwan.

Karena aksi vandalisme ini belum ditemukan cara yang efektif menangkalnya, lanjut Ridwan, pihaknya memutuskan menghentikan sementara program tersebut. Padahal, pengembangan jejaring pelampung itu merupakan bagian penting dari sistem Indonesia Tsunami Early Warning System.

Tingkatkan sosialisasi

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Wawancara, 8. Kliping

6 January 2009 - 9:36Intensifkan Kelapa Jadi Bahan Baku Solar

 

  • Dari situs Antara, 30 Desember 2008. Lihat artikelnya di halaman sumber.

(KK Siap Mendukung dalam Hal Teknologi)

Kelapa Bisa Dioptimalkan Menjadi Solar

Oleh Redaksi Antara

Manado (ANTARA News) - Menteri Negara Riset dan teknologi (Ristek), Kusmayanto Kadiman, mengatakan, tanaman kelapa bisa dioptimalkan menjadi bahan bakar jenis solar.

Asalkan ada kemauan masyarakat untuk mengoptimalkan tanaman kelapa menjadi solar, sepenuhnya akan didukung pemerintah, baik pendanaan maupun teknologinya, kata Menristek, ketika melakukan kunjungan kerja ke Manado, Sulawesi Utara (Sulut), 25-28 Desember 2008.

Sulut merupakan daerah potensial tanaman kelapa, karena sebagian besar masyarakat bergantung dengan hasil perkebunan tersebut.

Pengelolaan tanaman kelapa menjadi solar dinilai sangat membantu masyarakat, terutama nelayan yang bergantung dengan jenis bahan bakar itu, karena masyarakat miskin sulit mendapatkan solar dengan harga murah.

Walaupun pemerintah sudah menurunkan harga BBM, tidak berarti warga miskin sudah bisa menikmatinya, sehingga pengelolaan kelapa menjadi solar sangat potensial, katanya, disela-sela pelaksanaan Tsunami Drill lalu.

Sebelumnya, Balai Latihan Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) Sulut, mampu mengoptimalkan fungsi lain dari tanaman kelapa itu, menjadi bahan bakar diesel (cocodiesel), melalui riset yang cukup panjang.

Cocodiesel merupakan bahan bakar mesin diesel yang diolah dari minyak kelapa murni, kata Kepala Balitka Sulut, Hengky Novrianto.

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > 12/08 - Desember 2008, > Energi, Pertanian/Pangan, Transportasi, > Wawancara, 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 7. Laporan Kegiatan:, 8. Kliping

3 January 2009 - 11:33LIPI Melanjutkan Program Community Preparedness (Compress)

 

Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang OSS.

Pernah Melihat situs Komunitas Siaga Bencana di Indonesia? Website Komunitas Siaga Bencana di Indonesia bertujuan menyebarkan informasi hasil penelitian tentang kesigaaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Dibangun oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerjasama dengan UNESCO dan UNISDR, website ini juga menyediakan dokumen-dokumen dan petunjuk pelaksanaan untuk melakukan proses assessment terhadap tingkat kesiagaan berbagai komponen masyarakat dalam menghadapi bencana.

Kilik pada gambar di atas atau di sini untuk mengunjungi situsnya.

 

  • Dari situs Kompas, 03 Januari 2009. Lihat artikelnya di halaman sumber.
  • Lihat catatan kegiatan KK berkaitan dengan penanganan bencana di Makalah-Menteri.

Mendidik masyarakat

Program Compress LIPI Dilanjutkan

Oleh Yuni Ikawati (YUN)

Jakarta, Kompas - Program Community Preparedness, yang dilaksanakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2007, mulai tahun ini akan dilanjutkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan departemen teknis terkait serta pemerintah daerah. Dalam hal ini LIPI akan berperan dalam pelatihan tenaga pelatih dan memberikan materi ajar atau model kesiagaan bencana.

Hal ini dikemukakan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman di Jakarta, Jumat (2/1). ”Presiden memerintahkan agar pembelajaran publik, pelatihan, dan drill mesti terus dilakukan. Bahkan, Menko Kesra diperintah untuk memasukkannya di kurikulum sekolah,” kata Kusmayanto.

Jika Community Preparedness (Compress) masuk di kurikulum sekolah lewat Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, menurut dia, LIPI yang mengembangkan dan menguji coba materinya bisa jadi mitra dalam penyempurnaan, penyesuaian materi, dan melaksanakan training of trainer. ”Ini merupakan langkah penting. Tanpa kesiapan masyarakat, upaya penanggulangan bencana tidak akan efektif,” ujarnya.

Mendidik masyarakat

Compress bertujuan mendidik masyarakat yang berada di daerah rawan bencana, terutama gempa dan tsunami, untuk bersiaga menghadapi bencana. Program yang dimulai sejak tahun 2007 hingga 2009 memfasilitasi perubahan pola pikir masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, countesy call, pengembangan materi, alat peraga, dan buku, kata Haryadi Permana, Koordinator Compress LIPI.

Sejak dua tahun terakhir ini kegiatan LIPI dalam aspek praktis adalah untuk mengisi kekosongan akibat tidak berfungsinya lembaga atau instansi terkait dalam penanggulangan bencana.

Terbitnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 yang melahirkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah, maka dana Compress penanggulangan bencana akan ada di instansi tersebut.

Setengah-setengah

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Wawancara, 1. Bersama RI1, 8. Kliping