20 February 2009 - 17:30Indonesia Tidak Kalah: (Realistis atau Optimis?)
|
Download Wallpaper “Indonesia Tidak Kalah” berukuran 640×480 (159 Kb), 800×600 (283 Kb), 1024×768 (429 Kb), 1152×864 (506 Kb), 1280×960 (620 Kb), atau 1600×1200 piksel (830 Kb). Optimis atau Realistis? Karena kita tahu realitas, maka kita tahu bagaimana membangun rasa optimis. Bilamana kita mendengar suatu hal buruk terjadi di Indonesia, jangan pernah sekali-kali mengandaikannya sebagai takdir. Tugas setiap warga negara adalah mewujudkan fungsi konstruktifnya, menyumbangkan tenaga, dan pikiran bagi kemajuan bersama. Gagal bukan hal buruk. Yang buruk adalah menolak berjuang karena pernah gagal, tanda takut akan keberhasilan. Lihat contoh bagaimana di suatu milist, KK pernah mendapat pertentangan dari kalimat optimisnya. Pada artikel berikut ditampilkan salah satu contoh bagaimana bertindak sebagai warga terdidik, yang melihat “kegagalan” secara analitik untuk mencari jalan keluar. Klik gambar di atas untuk melihat wallpaper “Indonesia Tidak Kalah” berukuran 1024×768 piksel (429 Kb). |
- Dari Harian Media Indonesia, 19 Februari 2009. Lihat artikel ini di situs Ristek.
Kita Harus Berinovasi
Negara Gagal Tanpa Inovasi
Oleh: Sakti Nasution (Kepala Bidang Sistem Legislasi Pemanfaatan Iptek, Kementerian Negara Riset dan Teknologi)
Dari tahun ke tahun peringkat daya saing global (global competitiveness index) Indonesia terus menurun dan memprihatinkan. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) yang dipublikasikan belum lama ini, disebutkan peringkat Indonesia pada 2008 berada di urutan ke-55 dari 134 negara responden.
Posisi Indonesia ini berada di bawah negara-negara serumpun ASEAN, seperti Singapura (5), Malaysia. (21), Thailand (34), bahkan Brunei Darussalam (39).
WEP menghitung juga gross domestic product (GDP) 2007 134 negara sebagai indikator dasar (basic indicator) Dalam hal ini, posisi Indonesia berada di urutan ke-20, dengan jumlah uang sekitar US2,994 juta. Jumlah ini lebih besar jika dibandingkan dengan Swiss (21), Taiwan (24), Thailand (32), Malaysia (38) dan Singapura (45). Namun, jika jumlah tersebut dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia, saat ini sekitar 22S juta jiwa (terbesar ke-4 di dunia), perhitungan GDP per kapita Indonesia hanya berada di urutan 93 yaitu sebesar USS1.925/tahun atau sekitar Rpl,6 juta/bulan.
Berdasarkan GDP per kapita ini, posisi Indonesia berada jauh di bawah Singapura (21), dengan rata-rata per kapita Rp32 juta/bulan, Malaysia (59) atau Thailand (75). Peringkat Indonesia ini tidak jauh berbeda dari Filipina (97), kemudian Sri Lanka (98), dan Vietnam (113).
Metodologi pemeringkatan WEP ini dilakukan berdasarkan penilaian dan perhitungan terhadap 12 pilar daya saing, yang diasumsikan sebagai faktor penggerak dan efisiensi iklim ekonomi usaha suatu negara. Dengan menggunakan skor skala nilai antara 1-7, kemudian menghasilkan peringkat double five bagi Indonesia.
Pilar-pitar daya saing yang dinilai meliputi kondisi-kondisi dari: (1) kelembagaan/institusi; (2) infrastruktur; (3) stabilitas makroekonomi; (4) kesehatan dan pendidikan dasar; (5) pendidikan tinggi dan intensitas pelatihan-pelatihan; (6) efisiensi dalam usaha perdagangan; (7) pasar tenaga kerja; (8) keunggulan dalam pasar ke-uangan, (9) ketersediaan teknologi; (10) keter-jangkauan pasar; (11) kecanggihan dalam berbisnis; dan (12) kemampuan inovasi.
Weak state
No Comments | Tags: > Download: e-book dan Wallpaper, > Terekomendasi untuk dibaca, 3. Anda dan KK:


Hampir sepanjang jalanan baik di Jakarta maupun daerah lain dipenuhi foto-foto politisi dan calon politisi yang akan ikut bertarung merebut suara konstituen pada pemilu mendatang. Sayang, sepertinya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) belum mendapat tempat dalam kampanye politisi. Tidak mengherankan bila Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengkritik para politisi dan calon politisi yang menganggap iptek kurang “seksi” sebagai bahan kampanye.
Aplikasi teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu mengelola kegiatan informasi pemerintahan memberi peluang baru untuk melayani masyarakat dengan cepat, akurat, relevan dan tepat waktu. Selain masyarakat diuntungkan dengan layanan cepat dan terbuka, pemerintah juga diuntungkan dengan naiknya pendapatan asli daerah.
Perangkat keras yang meliputi perangkat komputer, sistem jaringan dan sistem telekomunikasi. Komputer yang digunakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan apakah akan memakai
Perangkat lunak meliputi sistem operasi, bahasa pemrograman dan aplikasi komputer yang digunakan. Untuk menentukan sistem operasi yang digunakan perlu diperhatikan bahwa sistem tersebut sudah lengkap dan sesuai dengan kebutuhan. Bisa berbasis open source seperti
Data meliputi data tekstual, suara, gambar, video, dan data spatial. Kebutuhan pengolahan, penyimpanan dan penyebarluasan data untuk e-goverment sangat bervariasi hal ini ditentukan dengan jenis data dan jumlah data yang diolah. Dalam pelaksanaannya jenis data tersebut dolah bersamaan dan disesuaikan dengan kebutuhan sistem informasi yang dibangun. Untuk sistem informasi yang berbasis perta biasanya menggunakan data spatial dilengkapi dengan gambar, suara, tekstual bahkan video. Hal ini merupakan e-government yang sangat ideal namun membutuhkan penyimpan data yang besar begitu juga sewaktu menginformasikan kepada masyarakat membutuhkan bandwidth yang cukup besar sehingga sistem dapat berjalan lancar, bila hal ini tidak dilakukan dengan cermat sistem yang dibangun akan sering hang, karena tidak ada sinkronisasi antara data yang diolah, perangkat lunak dan perangkat keras yang digunakan. Semua e-government memerlukan database. Database yang dibangun bisa terpusat (centralized database) atau tersebar (decentralized database), hal ini tergantung dari kebutuhan e-government yang dibuat dan harus ditentukan sewaktu tahapan desain sistem.
Prosedur meliputi cara menginstal perangkat lunak yang dibangun artinya harus ada dokumen pendukung untuk membantu para pengguna dalam melaksanakan pekerjaannya; cara memperbaiki sistem bila muncul masalah yang sederhana dan dapat diatasi oleh pengguna artinya harus ada dokumen “trouble shooting” (pemecahan masalah) yang mudah dimengerti oleh pengguna; cara menjalankan sistem atau dikenal dengan nama “system operating procedure” atau prosedur untuk mengoperasikan sistem, hal ini perlu ada dokumennya yang jelas dan mudah dimengerti, sehingga siapapun yang akan menjalankan sistem ini tidak akan mengalami kesulitan yang berarti.
Sumber daya manusia meliputi “system analyst” yang mempunyai keahlian dalam menganalisa sistem, diperlukan kalau akan membuat sistem informasi yang baru, sebelumnya harus dianalisis sistem yang sedanng berjalan, lalu ditentukan perbaikan apa yang harus dilakukan, programmer yang punya keahlian membuat dan mengembangkan program komputer terutama yang berbasis OSS sehingga akan dengan mudah dan cepat dalam membuat perangkat lunak yang diperlukan; administrator jaringan diperlukan karena e-government yang dibangun merupakan gabungan dari berbagai sistem informasi, seprti sistem informasi keuangan, kepegawaian, pajak, kependudukan, sekolah, rumah sakit, pendidikan tinggi, industri, pengusaha, perdagangan, dll.