|
Download Wallpaper “Indonesia Tidak Kalah” berukuran 640×480 (159 Kb), 800×600 (283 Kb), 1024×768 (429 Kb), 1152×864 (506 Kb), 1280×960 (620 Kb), atau 1600×1200 piksel (830 Kb).

Optimis atau Realistis?
Karena kita tahu realitas, maka kita tahu bagaimana membangun rasa optimis.
Bilamana kita mendengar suatu hal buruk terjadi di Indonesia, jangan pernah sekali-kali mengandaikannya sebagai takdir. Tugas setiap warga negara adalah mewujudkan fungsi konstruktifnya, menyumbangkan tenaga, dan pikiran bagi kemajuan bersama.
Gagal bukan hal buruk. Yang buruk adalah menolak berjuang karena pernah gagal, tanda takut akan keberhasilan. Lihat contoh bagaimana di suatu milist, KK pernah mendapat pertentangan dari kalimat optimisnya.
Pada artikel berikut ditampilkan salah satu contoh bagaimana bertindak sebagai warga terdidik, yang melihat “kegagalan” secara analitik untuk mencari jalan keluar.
Klik gambar di atas untuk melihat wallpaper “Indonesia Tidak Kalah” berukuran 1024×768 piksel (429 Kb).
|
- Dari Harian Media Indonesia, 19 Februari 2009. Lihat artikel ini di situs Ristek.
Kita Harus Berinovasi
Negara Gagal Tanpa Inovasi
Oleh: Sakti Nasution (Kepala Bidang Sistem Legislasi Pemanfaatan Iptek, Kementerian Negara Riset dan Teknologi)
Dari tahun ke tahun peringkat daya saing global (global competitiveness index) Indonesia terus menurun dan memprihatinkan. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) yang dipublikasikan belum lama ini, disebutkan peringkat Indonesia pada 2008 berada di urutan ke-55 dari 134 negara responden.
Posisi Indonesia ini berada di bawah negara-negara serumpun ASEAN, seperti Singapura (5), Malaysia. (21), Thailand (34), bahkan Brunei Darussalam (39).
WEP menghitung juga gross domestic product (GDP) 2007 134 negara sebagai indikator dasar (basic indicator) Dalam hal ini, posisi Indonesia berada di urutan ke-20, dengan jumlah uang sekitar US2,994 juta. Jumlah ini lebih besar jika dibandingkan dengan Swiss (21), Taiwan (24), Thailand (32), Malaysia (38) dan Singapura (45). Namun, jika jumlah tersebut dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia, saat ini sekitar 22S juta jiwa (terbesar ke-4 di dunia), perhitungan GDP per kapita Indonesia hanya berada di urutan 93 yaitu sebesar USS1.925/tahun atau sekitar Rpl,6 juta/bulan.
Berdasarkan GDP per kapita ini, posisi Indonesia berada jauh di bawah Singapura (21), dengan rata-rata per kapita Rp32 juta/bulan, Malaysia (59) atau Thailand (75). Peringkat Indonesia ini tidak jauh berbeda dari Filipina (97), kemudian Sri Lanka (98), dan Vietnam (113).
Metodologi pemeringkatan WEP ini dilakukan berdasarkan penilaian dan perhitungan terhadap 12 pilar daya saing, yang diasumsikan sebagai faktor penggerak dan efisiensi iklim ekonomi usaha suatu negara. Dengan menggunakan skor skala nilai antara 1-7, kemudian menghasilkan peringkat double five bagi Indonesia.
Pilar-pitar daya saing yang dinilai meliputi kondisi-kondisi dari: (1) kelembagaan/institusi; (2) infrastruktur; (3) stabilitas makroekonomi; (4) kesehatan dan pendidikan dasar; (5) pendidikan tinggi dan intensitas pelatihan-pelatihan; (6) efisiensi dalam usaha perdagangan; (7) pasar tenaga kerja; (8) keunggulan dalam pasar ke-uangan, (9) ketersediaan teknologi; (10) keter-jangkauan pasar; (11) kecanggihan dalam berbisnis; dan (12) kemampuan inovasi.
Weak state
(Baca selanjutnya…)