20 February 2009 - 17:30Indonesia Tidak Kalah: (Realistis atau Optimis?)


Download Wallpaper “Indonesia Tidak Kalah” berukuran 640×480 (159 Kb), 800×600 (283 Kb), 1024×768 (429 Kb), 1152×864 (506 Kb), 1280×960 (620 Kb), atau 1600×1200 piksel (830 Kb).

Indonesia Tidak Kalah

Optimis atau Realistis?

Karena kita tahu realitas, maka kita tahu bagaimana membangun rasa optimis.

Bilamana kita mendengar suatu hal buruk terjadi di Indonesia, jangan pernah sekali-kali mengandaikannya sebagai takdir. Tugas setiap warga negara adalah mewujudkan fungsi konstruktifnya, menyumbangkan tenaga, dan pikiran bagi kemajuan bersama.

Gagal bukan hal buruk. Yang buruk adalah menolak berjuang karena pernah gagal, tanda takut akan keberhasilan. Lihat contoh bagaimana di suatu milist, KK pernah mendapat pertentangan dari kalimat optimisnya.

Pada artikel berikut ditampilkan salah satu contoh bagaimana bertindak sebagai warga terdidik, yang melihat “kegagalan” secara analitik untuk mencari jalan keluar.

Klik gambar di atas untuk melihat wallpaper Indonesia Tidak Kalah” berukuran 1024×768 piksel (429 Kb).

 

  • Dari Harian Media Indonesia, 19 Februari 2009. Lihat artikel ini di situs Ristek.

Kita Harus Berinovasi 

Negara Gagal Tanpa Inovasi

Oleh: Sakti Nasution (Kepala Bidang Sistem Legislasi Pemanfaatan Iptek, Kementerian Negara Riset dan Teknologi)

Dari tahun ke tahun peringkat daya saing global (global competitiveness index) Indonesia terus menurun dan memprihatinkan. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) yang dipublikasikan belum lama ini, disebutkan peringkat Indonesia pada 2008 berada di urutan ke-55 dari 134 negara responden.

Posisi Indonesia ini berada di bawah negara-negara serumpun ASEAN, seperti Singapura (5), Malaysia. (21), Thailand (34), bahkan Brunei Darussalam (39).

WEP menghitung juga gross domestic product (GDP) 2007 134 negara sebagai indikator dasar (basic indicator) Dalam hal ini, posisi Indonesia berada di urutan ke-20, dengan jumlah uang sekitar US2,994 juta. Jumlah ini lebih besar jika dibandingkan dengan Swiss (21), Taiwan (24), Thailand (32), Malaysia (38) dan Singapura (45). Namun, jika jumlah tersebut dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia, saat ini sekitar 22S juta jiwa (terbesar ke-4 di dunia), perhitungan GDP per kapita In­donesia hanya berada di urutan 93 yaitu sebesar USS1.925/tahun atau sekitar Rpl,6 juta/bulan.

Berdasarkan GDP per kapita ini, posisi Indonesia berada jauh di bawah Singapura (21), dengan rata-rata per kapita Rp32 juta/bulan, Malaysia (59) atau Thailand (75). Peringkat Indonesia ini tidak jauh berbeda dari Filipina (97), kemudian Sri Lanka (98), dan Vietnam (113).

Metodologi pemeringkatan WEP ini dilakukan berdasarkan penilaian dan perhitungan terhadap 12 pilar daya saing, yang diasumsikan sebagai faktor penggerak dan efisiensi iklim ekonomi usaha suatu negara. Dengan menggunakan skor skala nilai antara 1-7, kemudian menghasilkan peringkat double five bagi Indonesia.

Pilar-pitar daya saing yang dinilai meliputi kondisi-kondisi dari: (1) kelembagaan/institusi; (2) infrastruktur; (3) stabilitas makroekonomi; (4) kesehatan dan pendidikan dasar; (5) pendidikan tinggi dan intensitas pelatihan-pelatihan; (6) efisiensi dalam usaha perdagangan; (7) pasar tenaga kerja; (8) keunggulan dalam pasar ke-uangan, (9) ketersediaan teknologi; (10) keter-jangkauan pasar; (11) kecanggihan dalam berbisnis; dan (12) kemampuan inovasi.

Weak state

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Download: e-book dan Wallpaper, > Terekomendasi untuk dibaca, 3. Anda dan KK:

12 January 2009 - 16:13Jangan Pilih Caleg Gaptek


 

  • Dari situs NetSains.com, 28 November 2007. Lihat artikelnya di halaman sumber.

Menegristek Kusmayanto Kadiman:

Sains dan Teknologi Kurang “Sexy” bagi Parpol Indonesia

Oleh Kusmayanto Kadiman

Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang OSS.

Jangan Pilih Caleg Gaptek. Sebentar lagi kita akan memasuki tahap Pemilu. Di saat inilah para pemilih bisa menentukan siapa yang akan menjadi wakilnya di badan legislatif maupun eksekutif. KK sudah lama melihat pentingnya keterlibatan komitmen politik, yaitu agar manajemen ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi “state politics“.

 

Silahkan unduh foto KK di atas sebagai wallpaper layar komputer berukuran 1024×768 piksel

Agaknya isu sains dan teknologi kurang sexy bagi partai politik Indonesia, sampai tak dilirik sama sekali. Atmosfer kampanye menjelang Pemilu 2009 mulai terendus. Dari sekian lama kita menonton kampanye politik, adakah partai yang memberi tempat bagi sains dan teknologi? Nyaris tidak sama sekali. Perlukah kita menghadirkan era Renaissance di Indonesia?

Ketika partai-partai itu berlomba-lomba menawarkan program-program, sektor ekonomi, politik, dan hukum menjadi primadona. Mengenai posisi agama, ini sudah lama menjadi identitas bagi sebagian partai politik.

Program-program pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah, sudah ditawarkan sebagai bagian dari persaingan antar partai. Belakangan ini, isu lingkungan dan jender juga sudah masuk ke mimbar-mimbar kampanye. Tetapi sains dan teknologi tetap belum. Apa yang sebenarnya terjadi?

Belum Dihargai

Sebuah jawaban yang mungkin kita lontarkan adalah: ini persoalan sikap, bahwa masyarakat kita jelas belum menghargai sains dan teknologi. Tentu persoalan menghargai atau tidak menghargai, ini persoalan pilihan dan aspirasi, yang perlu kita hormati.

Kalau masyarakat kita memang tidak beraspirasi atas sains dan teknolog , tidak menginginkan penguasaan sains dan teknologi, ini pilihan yang kita perlu hormati.Yang menjadi pertanyaan, apa yang membuat mereka tidak melihat arti penting sains dan teknologi sementara kita meyakini bahwa sains dan teknologi itu sumber kemajuan bangsa? Apakah kita, masyarakat akademik, sudah mampu melihat dengan jelas apa yang masyarakat awam tidak bisa lihat? Ataukah lensa yang kita kenakan untuk melihat sains dan teknologi berbeda dari lensa yang mereka kenakan?

Kalau kita coba berbincang-bincang dengan saudara-saudara kita, mulai dari pengusaha sampai buruh tani, dari pejabat di daerah sampai para tokoh agama kita akan dapati bahwa lensa mereka memang berbeda. Mereka melihat dan menilai sains dan teknologi dari sisi kemanfaatannya, dalam konteks kehidupan mereka. Sementara kita, masyarakat akademik, cenderung melihat sains dan teknologi dari sisi prestisi kemajuan sains dan teknologi itu sendiri. Kita puas kalau kita menjadi bagian dari kemajuan sains dan teknologi lewat penelitian yang kita geluti.

Dari argumen ini saya ingin mengatakan bahwa sains dan teknologi akan segera menjadi bagian dari kampanye-kampanye partai politik bila masyarakat telah melihat faktor manfaat sains dan teknologi sendiri. Ketika masyarakat melihat kemanfaatan sains dan teknologi, pastilah mereka mulai menghargai dan beraspirasi atas sains dan teknologi; partai-partai politik akan berusaha ‘membeli’ hati masyarakat dengan menawarkan program-program sains dan teknologi dalam kampanye mereka. Implikasi dari ini dukungan politik atas sains dan teknologi seperti ini adalah alokasi sumber-sumber daya bagi pengembangan sains dan teknologi.

Dan dalam situasi politik sains dan teknologi seperti inilah―situasi di mana sains dan teknologi menjadi aspirasi politis, saya yakin sains dan teknologi di negara kita akan maju pesat, tidak terlalu dipengaruhi siapa pun yang menjabat menteri negara riset dan teknologi.

Pendekatan
Ada dua pendekatan yang mungkin ditempuh untuk mencapai ini. Pendekatan pertama adalah kita meletakkan aktivitas pengembangan dan aktivitas pemanfaatan sains dan teknologi dalam dua jalur yang terpisah. Aktivitas pengembangan sains dan teknologi dilaksanakan oleh para akademisi di perguruan perguruan tinggi dan peneliti di lembaga-lembaga non-pendidikan. Aktivitas pemanfaatan sains dan teknologi dilaksanakan oleh segenap praktisi di area pemerintahan, di lingkungan bisnis, dan di arena-arena lain. Yang menjadi persoalan di sini adalah pemanfaatan sains dan teknologi dalam situasi-situasi yang spesifik sering kali membutuhkan sains dan teknologi spesifik juga, yang dikembangkan dengan cara yang khusus.

Di kampus, ketika seorang peneliti merumuskan masalah kontrol, biasanya dimulai dari model-model: matematis, diagramatis dan miniatur berskala laboratorium. Pemodelan, apa pun bentuknya, memerlukan abstraksi. Setiap abstraksi melibatkan penyederhanaan: informasi yang tidak dianggap esensial dibuang, yang esensial dipertahankan. Kemudian aturan-aturan kontrol disusun berdasarkan model tersebut, dan diujicoba menggunakan simulator. Tetapi langkah-langkah seperti ini sering kali tidak efektif. Para insinyur di industri tidak teryakinkan dengan apa-apa yang kita lakukan di kampus. Kita pun mengalami kesulitan mengukur apakah yang kita usulkan sudah sesuai dengan konteks industri, karena kita tidak berpeluang untuk mengujicobanya dalam lingkungan operasional di industri.

Bukan hanya kita yang mengalami kesenjangan pengetahuan demikian. Di negara-negara berindustri maju pun mereka mengalami kesulitan membawa rancangan sistem kontrol dari kampus ke industri. Masyarakat kontrol pun terbelah ke dalam masyarakat kontrol akademik dan masyarakat kontrol industrial.

Pengetahuan akademik yang dikembangkan di kampus cenderung general, mengandung abstraksi-abstraksi, kurang mengandung informasi spesifik yang kontekstual. Ini perlu interface. Pendekatan link-and-match tidak akan efektif bila didasarkan interaksi di ujung. Jadi, membawa sains dan teknologi ke area pemanfaatan memerlukan banyak pekerjaan dan biaya, yang bisa lebih besar dari upaya untuk mengembangkan sains dan teknologi itu sendiri.

Pendekatan ke dua adalah tidak memisahkan aktivitas pengembangan sains dan teknologi dan aktivitas pemanfaatan sains dan teknologi  Tidak dipisahkan, tetapi juga tidak dipertukarkan: perguruan tinggi tidak menjadi industri, sebaliknya juga tidak, Keduanya bersandingan, interaktif, dan kolaboratif.

Dalam pendekatan yang ke dua ini, pada prinsipnya dua pola pembelajaran dikoordinasikan: learning by making dan learning from using. Apakah pendekatan interaktif ini akan efektif? Mereka yang pernah mencoba berkolaborasi dengan industri mengenali persoalan yang timbul dari pendekatan ini. Bagaimana pun para pelaku industri tidak mengutamakan sains dan teknologi yang lebih maju, apa lagi sains dan teknologi garda depan.

Dalam sistem ekonomi yang sepenuhnya dikendalikan pemerintah, pengelolaan industriindustri ditentukan melalui keputusan-keputusan politik. Cina dalam era 1970-an mengadopsi sistem ekonomi seperti ini. Pemerintah menentukan sektor industri yang dipandang strategis untuk misi negara, dan menentukan integrasi pengembangan sains dan teknologi ke dalam industri dan ekonomi. Ini menghasilkan kemajuan sains dan teknologi dan kemanfaatan sains dan teknologi , tetapi dalam percepatan yang terbatas. Persoalannya adalah tidak ada kompetisi. Tidak ada variasi-variasi dan seleksi-seleksi atas sains dan teknologi. Sains dan teknologi tertentu yang dipilih pemerintah akan berkembang, sains dan teknologi yang lain tidak. Selain itu, pelaku sains dan teknologi menjadi terbatas pada mereka yang bekerja di lingkungan pemerintahan. Partisipasi masyarakat minimal.

Dalam ekonomi yang dihela melalui mekanisme pasar, perkembangan industri dipengaruhi oleh keputusan-keputusan para pelaku pasar. Interaksi antara para pelaku pasar akan menentukan topik sains dan teknologi mana yang dikembangkan dan yang tidak. Dalam situasi persaingan pasar yang fair, variasi-variasi sains dan teknologi akan timbul, dan konsumen akan terlibat dalam menetapkan mana yang lebih baik. Tetapi pasar tidak bisa efisien dalam mempromosikan sains dan teknologi. Para investor tidak akan mengalokasikan modal pada aktivitas yang tidak meningkatkan efisiensi. Di sini intervensi pemerintah menjadi perlu. Salah satu peran penting adalah mendorong interaksi industri dan perguruan tinggi, membiayai pengembangan sains dan teknologi di fasa pra-kompetitif, dan memberikan insentif fiskal. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menjadi pusat perhatian para penggagas konsep.

Renaissance di Indonesia

Dengan penalaran sederhana, izinkan saya mengatakan bahwa bukan sains dan teknologi yang menjadi katalisator perubahan yang revolusioner di Eropa Renaissance. Argumennya sederhana. sains dan teknologi bukan bagian kebudayaan Eropa di Zaman Kegelapan. Tidak mungkin sains dan teknologi menjadi faktor perubahan kalau ia sendiri belum ada. Menurut apa yang saya bisa pahami, katalisator perubahan itu terletak pada apa-apa yang berada dalam Renaissance.

Melalui Renaissance, posisi manusia naik peringkat dari mahluk berdosa yang dibuang dari surga, menjadi Second Creator. Sains dari awal berkembangnya sudah berwatak teknologis, karena ini berkenaan dengan hak manusia untuk menguasai dan mengendalikan alam. Teknologi juga berwatak saintifik untuk alasan yang sama, untuk menunjukkan daya kreasi manusia sebagai Second Creator.

Faktor yang menarik ditengok dari Renaissance adalah bagaimana sains dan teknologi diintegrasikan ke dalam ideologi dan kebudayaan bangsa Eropa. Ketika ini terjadi dan stabil, sains dan teknologi menjadi bagian dari ‘keimanan’ mereka, menjadi bagian penting dari world view dari para skolar dan filosof, politisi, penguasa, pengusaha, dan juga masyarakat awam. Dengan kata lain, melalui Renaissance sains dan teknologi sudah menyatu dengan ‘darah dan daging’ kebudayaan Eropa, mengganti kebudayaan yang lama. Ketika sains dan teknologi dalam wujud ideologi menjadi kebudayaan, barulah sains dan teknologi itu sendiri berkembang ke dalam wujud yang material, melalui industrialisasi.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang relijius. Pancasila dan UUD 1945 menegaskan hal ini. Posisi agama bagi kita berbeda dengan posisi agama bagi Eropa Modern. ertanyaannya, bagaimana kita memposisikan sains dan teknologi? Selama sains dan teknologi masih bermakna nstrumental―sebagai faktor produksi, atau bermakna simbolis―sebagai lambang kemajuan, maka kemajuan dan kemanfaatan sains dan teknologi tidak akan berjalan kontinu dan intensif. sains dan teknologi tidak akan terintegrasikan ke dalam upaya memajukan bangsa. Tantangan kita, karenanya, adalah mereposisi sains dan teknologi , sehingga menjadi bagian dari kebudayaan dan perubahan kebudayaan kita. Bagaimana ini bisa dilakukan?

Pertama, kita―masyarakat akademik―perlu bersama-sama dengan masyarakat, terlibat dalam polemik dan perdebatan untuk membangun makna tentang alam, tentang masyarakat dan manusia, dan hubungan ini semua dengan agama dan Tuhan. Ini dilakukan supaya kita mendapatkan pemahaman yang harmonis akan masyarakat, manusia, pengetahuan, teknologi, dan Agama. Kita pernah memulai ini dengan penyandingan sains dan teknologi dan keimanan dan ketqwaan. Tetapi kita perlu berupaya lebih dari itu. Kita sebiknya tidak memulai dengan menekankan doktrin, tetapi menekankan pencarian, eksplorasi, dan penghayatan. Dialog sains dan agama bisa penting, tetapi bukan untuk menyatukan modernism dan agama. Yang kita perlukan mungkin semacam modernitas relijus. Ini menjadi ‘pekerjaan rumah’ para skolar Indonesia, memerlukan upaya jangka panjang dan visioner.

Dalam konteks isu-isu yang saya kemukakan terdahulu, saya melihat perguruan tinggi berpotensi untuk berperan secara fundamental. Kalau langkah-langkah perubahan kebudayaan itu ingin kita tempuh, perguruan tinggilah yang menjadi agen penghela, meski juga perlu didukung oleh berbagai pihak. Tetapi di sini perguruan tinggi perlu berperan lebih dari yang konvensional, lebih dari sebatas penjaga disiplin-disiplin ilmu. Perguruan tinggi perlu menjadi agen pengetahuan itu sendiri. Agen pengetahuan berperan bukan hanya pada transfer sains dan teknologi ke mahasiswa dan pengembangan sains dan teknologi secara konvensional, tetapi menjadi penghela perubahan kebudayaan bangsa Indonesia menjadi kebudayaan yang intensif akan pengetahuan.

Agen pengetahuan bertugas bukan untuk menjaga ‘kotak-kotak’ disiplin ilmu, melainkan menanamkan kecintaan akan pengetahuan dan kebenaran ke dalam kebudayaan kita. ‘Kotak-kotak’ disiplin ilmu kadang-kadang memerangkap kita sehingga kehilangan esensi dari academic freedom. Pengembangan sains dan teknologi secara lintas dan trans-disiplin memberikan kita ruang-ruang untuk maneuver, memberikan kita daya adaptasi, dan akhirnya membawa pada sintesis pengetahuan yang baru, sains dan teknologi yang baru.

  Ringkasan Berita;

===

Kusmayanto Kadiman dalam Makalah-Menteri

Bersimpati dengan usaha KK untuk menjadikan iptek sebagai pengungkit pembangunan ekonomi?

Cut” dan “paste” kode di bawah ini ke blog/halaman web untuk mendapatkan gambar di atas:

1 Comment | Tags: > Download: e-book dan Wallpaper, 3. Anda dan KK:, 4. Catatan Opini, 5. Nasional/Daerah

8 January 2009 - 15:27Akademisi - Bisnis - Pemerintah yang Saling Menjaga


 

Wawancara Menegristek Kusmayanto Kadiman

Tak Mungkin Kami Lakukan Semua

Oleh Redaksi Majalah Gatra

Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang OSS.

Kebebasan akademik yang paling dipuji adalah usaha para akademisi untuk mewujudkan: “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. (Petikan Pembukaan UUD 1945, alinea II)”

Silahkan unduh foto KK di atas sebagai wallpaper layar komputer berukuran 1024×768 piksel

 

Bagaimana kinerja Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) sejauh ini, dan apa yang menjadi prioritas pembangunan iptek setahun ke depan? Berikut perbincangan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman dengan Wartawan GATRA, Nur Hidayat, Dwitri Waluyo, dan Cavin R. Manuputty di lantai 24, Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin pekan lalu.

Dari sekian banyak tugas Kementerian Ristek di masa depan, apa yang menjadi prioritas?

Kami mempunyai sejumlah misi dan tugas yang harus dilaksanakan.Tapi jika harus memilih memang ada beberapa bidang yang harus diprioritaskan. Bagi saya, suatu hal disebut prioritas adalah jika hal itu tidak dilaksanakan, maka kita akan bangkrut. Karena itu, Kementerian Ristek akan menitikberatkan pada pembangunan ketahanan pangan dan energi terbarukan. Jika hal-hal ini diabaikan, maka kita bisa bangkrut.

Selama ini apa saja sumbangan Kementerian Ristek yang menonjol untuk masyarakat?

Dalam empat tahun terakhir, kami umumnya telah melaksanakan sejumlah pedoman yang telah digariskan pada periode-periode sebelumnya. Saya ingin menjamin bahwa program-program strategis itu bergulir terus. Karena kami sudah membuang jauh-jauh fenomena “ganti walikota ganti alun-alun”. Saya ambil contoh dari enam fokus yang telah digariskan Kebijakan Ristek 2005-2009, adalah apa yang digariskan oleh Pak Hatta Radjasa (mantan Menristek) dulu. Dan saya yakin, Pak Hatta pun meneruskan sebagian dari apa-apa yang dilakukan oleh pendahulunya.

Namun, kami pun melakukan sejumlah pembaruan, misalnya bagaimana menangani bencana sejak kita dihantam tsunami pada Desember 2004. Selama empat tahun ke depan, kami fokuskan pada pembangunan sistem peringatan dini untuk gempa bumi dan tsunami. Sistem ini pun terus kami perbarui sehingga menjadi multihazard system. Peringatan dini ini mencakup longsor, banjir, letusan gunung berapi, dan bencana lainnya.

Tapi masih banyak yang menuding jika ristek belum banyak berperan. Benar. Awalnya memang berupa pertanyaan, kemudian bergeser menjadi tudingan, bahkan mengeras jadi kritik. Hasil-hasil riset pengembangan iptek itu belum sampai ke masyarakat. Saya, bukan membela diri, mengatakan, “Tidak mungkin kami melakukannya semua “Jadi yang penting adalah menggunakan kesatuan dan persatuan seperti kabinet saat ini, Kabinet Indonesia Bersatu.

Konsep bersatu itu juga yang Anda kemukakan Iewat konsep ABG?

ABG itu mewakili academic (akademisi), businessman (pengusaha), dan government (pemerintah). Peran pemerintah adalah bagaimana agar hasil-hasil riset para akademisi bisa masuk pasar melalui komersialisasi. Siapa yang bisa melakukan komersialisasi? Tentu saja pihak pebisnis atau swasta. Karena itulah, ini mirip sebuah segi tiga yang saling mendukung. Atau jika meniru konsep DNA dikenal dengan double helix, maka untuk ABG kami perkenalkan dengan konsep triple helix.

Apakah sejauh ini konsep ABG sudah menunjukkan hasil?

Konsep ini akan berhasil jika satu sama lain mendukung dan tidak saling tumpang tindih. Yang satu harus memberikan dorongan terhadap dua lainnya, dan demikian sebaliknya. Pemerintah, misalnya, dapat mendorong akademikus dalam bentuk pemberian insentif, menyediakan dana riset, memperbaiki nasibnya, atau menyediakan sarana-prasarana. Para akademikus tentu harus berusaha memberikan sumbangan terbaiknya dan benar-benar memanfaatkan apa yang ada. Mereka juga harus memperhatikan bagaimana kebutuhan masyarakat. Maka para pebisnis juga akan tertarik melakukan komersialisasi atas hasil-hasil riset dan turut mengembangkan iptek. (GATRA, 7 Januari 2009/ humasristek)

 

  Ringkasan Berita;

===

Kusmayanto Kadiman dalam Makalah-Menteri

Bersimpati dengan usaha KK untuk menjadikan iptek sebagai pengungkit pembangunan ekonomi?

Cut” dan “paste” kode di bawah ini ke blog/halaman web untuk mendapatkan gambar di atas:

No Comments | Tags: > Download: e-book dan Wallpaper, > Energi, Pertanian/Pangan, Transportasi, > Hankam, Informasi & Komunikasi, Kesehatan, 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 3. Anda dan KK:, 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 8. Kliping