|
Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

Pemuda dan transformasi Indonesia, mengapa sekarang makin penting relasinya?
Claes H. de Vreese dari Universitas Amsterdam menulis “Digital Renaissance: Young Consumer and Citizen?“. Di tulisan itu, de Vresse menemukan bahwa berkat teknologi internet, para pemuda sekarang semakin aktif mengutarakan pendapatnya.
Euisry (21 tahun) dalam blognya “Hamparan Kata”, mengelola sebuah tulisan “Menemukan Renaissance di Indonesia“. Tulisan ini, menggambarkan bagaimana generasi muda Indonesia juga telah semakin cepat mengutarakan pendapatnya lewat media internet.
Pokok pikiran Eusry, diambil dari pidato KK dalam judul yang sama disampaikan pada acara Dies Natalis ITS ke-47, tahun 2007.
Gambar di atas merupakan reka ulang dari foto KK yang diambil ketika masih kuliah di ITB. Klik gambar tersebut untuk melihat versi aslinya di situs Ikatan Alumni Teknik Fisika - ITB.
|
- Dari blog “Twinkle Eusry” milik Eusry (dengan proses edit). Dipublikaskan pada 06 Februari 2009 . Lihat artikelnya di laman sumber.
Makna Indonesia dalam Iptek
Menemukan Renaissance di Indonesia
Oleh: Eusry.
Semalam saya menonton debat parpol PDIP vs partai Demokrat di TV-One. D iantara hal yang ramai sekali diperdebatkan yaitu soal kenyataan pencapaian program perekonomian yang diusung masing-masing partai.
Soal iklan partai yang mengusung program ekonomi juga menjadi perdebatan seru. Ya, itu memang hal yang sudah biasa. Selama ini program-program ekonomi, juga politik, pendidikan, bahkan jender sudah kerap menjadi ‘iklan’ yang dilirik partai-partai politik saat kampanye untuk menggaet hati masyarakat.
Kalau aspek agama tak usah ditanya lagi, beberapa partai bahkan sudah menjadikannya sebagai identitas partai itu sendiri. Pertanyaannya, mengapa iptek belum mendapat tempat? Padahal, bukannya iptek diyakini sebagai aspek yang sangat penting bagi kemajuan bangsa? Nah, lho…
So, saya bukannya mau mereview seputar perdebatan semalam, tapi justru mereviu sebuah wacana yang lahir dari pertanyaan di atas. Ya, iklan-iklan partai yang kini kerap bermunculan di televisi itu mengingatkan saya pada opini Bpk. Kusmayanto Kadiman (KK), Menegristek Indonesia (yang juga adalah mantan rektor ITB yang saya kagumi ^^).
Dalam makalah opini KK yang disampaikan dalam pidatonya pada sidang Senat Perguruan Tinggi ITS, diulas berbagai pertanyaan menarik seputar apa dan bagaimana arti penting iptek bagi kemajuan bangsa Indonesia.
KK mengawali dengan mempertanyakan posisi iptek itu sendiri di ‘hati’ mayarakat Indonesia.
Menurut KK, jawaban atas pertanyaan di atas adalah karena iptek belum mendapat tempat di hati masyarakat, artinya masyarakat belum menghargai iptek.
Terdapat perbedaan cara pandang antara masyarakat dengan masyarakat akademisi terhadap iptek. Masyarakat umum memandang iptek dari segi kemanfaatannya dalam konteks kehidupan mereka, sementara masyarakat akademik cenderung memandang iptek dari segi pengembangannya, yakni prestisi kemajuan iptek sendiri.
Ini berarti bahwa iptek akan mendapat tempat di hati masyarakat jika mereka telah melihat kemanfaatan iptek tersebut. Pada situasi itu barulah iptek akan mendapat dukungan politis sehingga berdampak pada alokasi sumber daya bagi kemajuan iptek.
Arti penting iptek sendiri telah dapat dilihat dari sejarah, bahwa iptek dapat membawa perubahan-perubahan yang radikal, misalnya seperti terjadinya Revolusi Industri di Eropa, atau transportasi yang memungkinkan mobilitas melintasi berbagai negara. Hal ini yang kemudian berdampak besar terhadap peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa.
Persoalannya adalah ketika masyarakat belum melihat kemanfaatan iptek, argumen-argumen yang menyatakan pentingnya iptek akan sulit diterima masyarakat.
Untuk itu ada 2 pendekatan yang dapat ditempuh agar tercipta kesatuan yang selaras antara kemajuan dan kemanfaatan iptek.
Pertama, aktivitas pengembangan dan pemanfaatan iptek diletakkan dalam jalur terpisah.
(Baca selanjutnya…)