3 January 2009 - 11:33LIPI Melanjutkan Program Community Preparedness (Compress)

 

Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang OSS.

Pernah Melihat situs Komunitas Siaga Bencana di Indonesia? Website Komunitas Siaga Bencana di Indonesia bertujuan menyebarkan informasi hasil penelitian tentang kesigaaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Dibangun oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bekerjasama dengan UNESCO dan UNISDR, website ini juga menyediakan dokumen-dokumen dan petunjuk pelaksanaan untuk melakukan proses assessment terhadap tingkat kesiagaan berbagai komponen masyarakat dalam menghadapi bencana.

Kilik pada gambar di atas atau di sini untuk mengunjungi situsnya.

 

  • Dari situs Kompas, 03 Januari 2009. Lihat artikelnya di halaman sumber.
  • Lihat catatan kegiatan KK berkaitan dengan penanganan bencana di Makalah-Menteri.

Mendidik masyarakat

Program Compress LIPI Dilanjutkan

Oleh Yuni Ikawati (YUN)

Jakarta, Kompas - Program Community Preparedness, yang dilaksanakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2007, mulai tahun ini akan dilanjutkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan departemen teknis terkait serta pemerintah daerah. Dalam hal ini LIPI akan berperan dalam pelatihan tenaga pelatih dan memberikan materi ajar atau model kesiagaan bencana.

Hal ini dikemukakan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman di Jakarta, Jumat (2/1). ”Presiden memerintahkan agar pembelajaran publik, pelatihan, dan drill mesti terus dilakukan. Bahkan, Menko Kesra diperintah untuk memasukkannya di kurikulum sekolah,” kata Kusmayanto.

Jika Community Preparedness (Compress) masuk di kurikulum sekolah lewat Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama, menurut dia, LIPI yang mengembangkan dan menguji coba materinya bisa jadi mitra dalam penyempurnaan, penyesuaian materi, dan melaksanakan training of trainer. ”Ini merupakan langkah penting. Tanpa kesiapan masyarakat, upaya penanggulangan bencana tidak akan efektif,” ujarnya.

Mendidik masyarakat

Compress bertujuan mendidik masyarakat yang berada di daerah rawan bencana, terutama gempa dan tsunami, untuk bersiaga menghadapi bencana. Program yang dimulai sejak tahun 2007 hingga 2009 memfasilitasi perubahan pola pikir masyarakat melalui pendidikan, pelatihan, countesy call, pengembangan materi, alat peraga, dan buku, kata Haryadi Permana, Koordinator Compress LIPI.

Sejak dua tahun terakhir ini kegiatan LIPI dalam aspek praktis adalah untuk mengisi kekosongan akibat tidak berfungsinya lembaga atau instansi terkait dalam penanggulangan bencana.

Terbitnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 yang melahirkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah, maka dana Compress penanggulangan bencana akan ada di instansi tersebut.

Setengah-setengah

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Wawancara, 1. Bersama RI1, 8. Kliping

19 December 2008 - 16:23Dari Komunitas, Keterlibatan Bisnis Bertambah

Catatan Editor:

KK memang suka berolahraga. Beberapa kali, KK memperlihatkan hobinya tersebut dalam kegiatan bersepeda. Tidak heran bila KK mendukung gerakan komunitas profesional/pekerja pengguna sepeda, Bike2Work.

Dari komunitas beraktivitas semacam spesifik ini, tentu lahir pelbagai kebutuhan teknologis. Bike2Work telah mengantarkan masyarakat kita untuk berpikir tentang pentingnya penggunaan sepeda buatan Indonesia.

Berikut ditampilkan artikel dari Nurur Bintari yang ditampilkan di situs “mix” (Marketing Extra) - Media yang dikelola oleh Swa Media Inc..

Sihir Moral Komunitas Independen

Penulis dan Peliput: Nurur R Bintari

Ruas Fatmawati pada suatu sore yang macet. Wajah-wajah tampak suntuk dan bosan dalam kotak besi bermesin yang hanya bisa merayap.Tak ada kecuali, bahkan yang berada dalam mobil pribadi termewah sekalipun. Saat itu tiba-tiba melintas dua pesepeda dari sisi kiri jalan. Meluncur lancar tanpa suara. Moment yang hanya beberapa menit itu mampu memprovokasi benak para penderita kemacetan tentang enaknya berjalan tanpa hambatan.

“Biasanya (anggota) kita memang mengambil rute yang macet. Dengan begitu masyarakat bisa melihat bahwa sepeda bisa menjadi moda transportasi alternatif yang ramah lingkungan,” jelas Toto Sugito, Ketua Umum Komunitas “Bike to Work” (B2W) tentang misi mereka.

Komunitas pekerja yang gemar bersepeda ini resmi berdiri sejak Agustus 2005. Hari kelahirannya diambil dari event deklarasi sekitar 600 pesepeda di Balaikota Pemerintah Daerah Jakarta yang dihadiri oleh Fauzi Bowo saat masih menjabat sebagai Wakil Gubernur. Sejak itu mereka mulai diliput berbagai media sehingga keberadaannya makin dikenal.

Namun kalau dirunut dari sejarahnya, komunitas ini sebenarnya mulai menggumpal sekitar lima tahun silam. Embrio awalnya adalah komunitas penggemar sepeda gunung (Mountain Bike Indonesia-MBI) dan Jelopage (Jalur Pipa Gas) di mana Toto ikut aktif. Biasanya setiap akhir pekan kedua komunitas tersebut rutin bersepeda ke tempat-tempat sejuk seperti daerah Puncak. “Lalu timbul pemikiran, mengapa kita tidak sekalian memakainya untuk bekerja. Concern kita karena kemacetan di Jakarta sudah luar biasa,” kisah Totok.

Sejak itulah kelompok ini mulai melakukan kampanye bersepeda di kalangan pekerja. Kampanye pertama dilakukan pada bulan Agustus 2004 yang diikuti sekitar 150 orang peserta. Mereka mengambil rute dari Plaza Danamon ke arah Semanggi sampai SCBD, lalu kembali lagi ke Bundaran Hotel Indonesia. Sejak itu pula kampanye menjadi agenda rutin setiap bulan.

Sembilan bulan berselang, pada Mei 2005 dicapai kesepakatan untuk membentuk organisasi yang lebih baik guna mewujudkan cita-cita luhur mereka: Memiliki Jalur Sepeda sendiri di ibukota. Kepengurusan ini diketuai oleh Taufik, dengan bendahara Totok dan humas. Tekad yang sering disebut sebagai 3T. Namun dalam perjalanannya Taufik akhirnya mengundurkan diri karena pindah domisili sehingga Toto menggantikan posisi sebagai pucuk pimpinan.

Akhir 2005 terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dianggap sebagai kado akhir tahun yang menyakitkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun bagi B2W, kabar buruk itu justru merupakan peluang mereka untuk mensosialisasikan sepeda sebagai alternatif transportasi yang hemat dan bisa menjadi solusi dalam krisis energi.

Maka tidak mengherankan jika pada ulangtahun pertama komunitas anggota yang bergabung sudah mencapai 1400-an orang. Jumlah ini terus berkembang hingga sekarang menurut data kasar diperkirakan ada sekitar 10 ribu orang yang tergabung dalam chapter-chapter komunitas di seluruh Indonesia.

Perkembangan terpesat, menurut Toto, berlangsung pada tahun 2007. Kondisi ini tidak lepas dari peran serta Fauzi Bowo yang kemudian menjabat menjadi Gubernur DKI. Selain Fauzi, mantan orang Jakarta nomor 1 (Sutiyoso) juga suka rela bergabung.

Mungkin lantaran misinya yang lebih condong sebagai gerakan moral yang independen, tidak sukar bagi B2W untuk mendapatkan simpati dari para pemangku kekuasaan. Awal 2007 mereka sudah berhasil mengajak Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menristek Kusmayanto Kadiman dan Juru Bicara Kepresidenan Andi Malarangeng.

November tahun yang sama mereka bahkan dipercaya oleh Menristek dan Meneg LH untuk menyukseskan konvensi internasional mengenai pemanasan global yang diadakan di Bali melalui kampanye bersepeda Jakarta-Bali. Dalam event ini Presiden Susilo Bambang Yudoyono melepas rombongan dengan ikut bersepeda dari Monas sampai ke Bundaran HI dan kembali menyambut kedatangan mereka di Pulau Dewata. “Kami bangga karena berhasil menunjukkan bahwa kita tidak Cuma bicara tapi juga bertindak dalam menyelamatkan dunia dari global warming,” tambah Toto. Dari situ, menurut pria yang sehari-hari berprofesi sebagai konsultan arsitektur ini, nama B2W mulai menasional dan keberadaannya menyebar ke seluruh Indonesia.

Maka ulang tahun ketiga komunitas bisa dilakukan secara serempak di 24 kota seluruh Indonesia dalam bentuk –lagi-lagi- kampanye bersepeda. Event yang menyasar kalangan pekerja di seluruh kota besar ini sengaja mereka gelar pada hari Jumat dengan tujuan agar bisa dipraktikkan oleh target pada hari Sabtunya. Tak dinyana bukan hanya pada kelompok pekerja, tujuan itu ternyata bergaung sampai kalangan pekerja. 3 buah SMA mendatangi Toto untuk minta bantuannya dalam pembentukan Bike to School.

Sejatinya kekuatan B2W bukan hanya sifatnya yang mudah menarik simpati masyarakat dan para pemangku kekuasaan. Kenggotaan komunitas ini sangat cair dan tidak membedakan strata sosial. “Saya memang selalu menekankan bahwa B2W tidak boleh menjadi organisasi ekslusif. Siapapun orangnya dan apapun sepedanya, wellcome. Makanya orang yang sehari-harinya adalah OB (office boy) bisa bergaul bebas dengan CEO. Saat berkumpul semuanya bisa nyatu,” tegas Toto lagi.

Kondisi ini, menurut Toto lagi, sebenarnya bisa bisa dimanfaatkan oleh perusahaan yang jeli. Paling gampang memang melalui jalur corporate social responsibility (CSR). Namun selain itu masih banyak peluang untuk masuk melalui ‘needs’ anggota komunitas.

Salah satu yang sudah masuk melalui jalur needs ini adalah Polygon. Khusus untuk keperluan B2W-er produsen sepeda ini mengeluarkan produk spesial yang desainnya dirancang agar cocok dengan keperluan komunitas. 200 item produk keluaran tahun 2007 langsung tandas diserbu konsumen.

(Baca selanjutnya…)

1 Comment | Tags: > Menginspirasi, 1. Bersama RI1, 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 9. Testimoni Tentang KK:

17 December 2008 - 13:28Menyiapkan Akademisi Agar Lebih Dekat dengan Industri

    • Dari situs Kompas, 17 Desember 2008. Artikel bernada serupa, “Hasil Inovasi Harus Bisa Diaplikasikan” yang berisikan seruan Presiden SBY bagi para ilmuwan juga dipublikasikan oleh Media Indonesia pada 08 Agustus 2008. Lihat artikel berkaitan di Makalah-Menteri tentang hubungan akademisi dan bidang keindustrian di sini.
      Iptek - Industri Kini Menantang Riset Aplikatif

      Jakarta, Kompas - Dalam Sidang Paripurna Dewan Riset Nasional, Selasa (16/12), Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menuntut lembaga pengarah riset nasional ini supaya lebih berperan aktif. Ini disebabkan sektor industri sekarang makin menantang adanya hasil-hasil riset yang aplikatif.

      ”Jawablah tantangan dari dunia industri ini,” kata Kusmayanto. Dia mengemukakan, mulai 2009 makin tampak keberpihakan pendanaan pemerintah untuk pengembangan riset. Dunia riset akan digelontor dana Rp 2,3 triliun dari penetapan alokasi dana pendidikan 20 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

      Besar dana itu bisa berubah. Namun, Kusmayanto menegaskan, sudah diputuskan alokasi dana riset secara pukul rata untuk sekitar 8.000 periset dan perekayasa yang ada di bawah lembaga penelitian departemen maupun lembaga penelitian nondepartemen.

      ”Dana sudah ditetapkan sebesar Rp 50 juta dihitung untuk setiap periset atau perekayasa dalam setahun. Aplikasinya, bisa satu proposal dikerjakan lebih dari satu periset sehingga jumlah dana bisa disesuaikan jumlah periset,” kata Kusmayanto.

      Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Andrianto Handojo mengatakan, fungsi DRN adalah menjembatani kepentingan dunia industri dengan riset. Koordinasi serta komunikasi menjadi hambatan yang masih sulit ditangani sampai sekarang.

      ”Upaya yang sedang ditempuh sekarang membentuk jaringan komunikasi kegiatan riset melalui internet. Namun, masih terbatas pada lingkup enam provinsi,” kata Andrianto.

      Keenam provinsi yang menjalin interaksi kegiatan riset meliputi Provinsi Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Barat. Upaya ini sekaligus menghindari adanya duplikasi riset serta mengupayakan kolaborasi riset.

  • (Baca selanjutnya…)

    No Comments | Tags: > 12/08 - Desember 2008, > Wawancara, 1. Bersama RI1, 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 7. Laporan Kegiatan:, 8. Kliping