27 August 2009 - 14:23Upaya Atasi Kesenjangan Digital

Banyak cara bisa dilakukan untuk membantu masyarakat menjadi melek teknologi.Selain pemberian penghargaan atas temuan inovatif,juga dengan mendorong munculnya technopreneur.

Munculnya 10 nama yang mendapat penghargaan sebagai tokoh teknologi 2009 versi majalah Tech- Life Indonesiapatut diapresiasi.Sebab masih banyak hal yang harus diupayakan oleh semua pihak untuk mengatasi kesenjangan digital (digital gap) di Indonesia.Apalagi guna mendorong masyarakat lebih melek teknologi.Tidak mudah untuk mewujudkannya.Memang,harus diakui, hingga kini budaya inovasi di dalam negeri belum seperti di negara-negara lain yang sudah maju teknologinya.

Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemeneg Ristek) Idwan Suhardi menyambut positif adanya penghargaan terhadap 10 tokoh teknologi di dalam negeri.Menurut dia, penghargaan kepada 10 orang yang berjasa di bidang teknologi tersebut bisa menjadi salah satu upaya mendorong semakin maraknya budaya teknologi di masyarakat.

“Namun saya melihat penghargaan ini hanya lebih menitikberatkan sisi enterpreneurship-nya. Sementara sisi inovasi bidang teknologi belum benar-benar tersentuh,” ujarnya kepada harian Seputar Indonesia(SI). Menurut Idwan, selain dari sisi enterpreneurship (kewirausahaan), masih perlu didorong upaya-upaya untuk mengapresiasi bidang inovasi produk teknologi. Baik itu berbentuk peranti lunak (software) maupun perangkat keras (hard-ware).

Dengan mempertimbangkan sisi kewirausahaan dan invention (penemuan), hal itu akan mendorong munculnya banyak technopreneur di dalam negeri. Sayangnya, menurut pandangannya, hingga saat ini belum ada tokoh di dalam negeri yang sudah layak mendapat predikat technopreneur. “Figur ideal seorang technopreneur adalah seperti Bill Gates. Selain inovator, dia juga seorang enterpreneur,” ungkapnya.

Upaya untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia masih panjang. Untuk mewujudkannya, tidak hanya diperlukan dari kalangan pebisnis, pemerintah, tapi juga dari semua pihak.Pemerintah melalui Kemeneg Ristek sudah membentuk Business Innovation Center (BIC) yang memiliki tujuan di antaranya untuk membudayakan inovasi di Indonesia.Terutama untuk mempertemukan antara kebutuhan bisnis dengan akademisi dan mediasi dari pemerintah.

Salah satunya dengan cara memilih produk-produk inovatif yang dianggap paling prospektif tiap tahunnya. Pada 2009 ini, terpilih 101 produk yang dianggap paling prospektif berdasar hasil penilaian 36 anggota dewan juri. Karena itu,jika Tech-Lifememberi penghargaan kepada pelaku bisnis dalam bidang teknologi, BIC mengapresiasi produk inovatif yang dihasilkan para inovator.

Menurut Idwan, saat ini sedang diupayakan agar di Indonesia bisa muncul para technopreneur.Jadi seseorang tidak hanya mampumenghasilkantemuan sebuahprodukinovatif,tapijugabisa memasarkannya.Namun,tentu saja, para penemu yang biasanya dari kalangan akademisi biasanya tidak memiliki keterampilan pemasaran sehingga perlu peran banyak pihak untuk mempertemukan semua elemen agar budaya teknologi bisa terwujud di Indonesia.

Sebagaimana diungkapkan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, iptek nasional memang belum memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.Tidak sebagaimana di banyak negara tetangga seperti Korea Selatan, China, India,Brasil,atau Malaysia yang telah memosisikan iptek sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak harmonisnya hubungan antara industri, dunia akademis,dan pemerintah.

“Ketiga komponen itu perlu mengalami transformasi pola pikir agar saling bersinergi dengan lebih mulus sebagaimana terjadi di negara- negara lain,”ujarnya. Bagaimanapun tidak sedikit produk inovatif karya anak negeri yang sebenarnya layak jual. Mulai dari produk games Nusantara Online hingga teknologi batik fraktal. Nusantara Online adalah sebuah program games online karya anak negeri yang tokoh-tokohnya merupakan tokoh zaman Majapahit yang dikemas dalam massively multiplayer online role-playing game (MMORPG).

Karena itu,selain bermain games,hal itu juga menjadi kegiatan belajar sejarah Indonesia. Sementara batik fraktal merupakan teknologi yang bisa digunakan kalangan industri untuk menciptakan pola-pola baru dalam memproduksi kain batik. Selain games Nusantara Online dan batik fraktal, masih banyak lagi produk inovatif lainnya. Terkait masalah kesenjangan digital,Menristek Kusmayanto Kadiman menilai hal tersebut merupakan masalah yang dialami oleh banyak negara di dunia.

Selain itu, menurutnya, hal tersebut juga merupakan hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu hari, tetapi memerlukan langkah-langkah jangka panjang. Intinya, kesenjangan digital bukan masalah sederhana. Hal ini terjadi bisa karena kurangnya kesadaran atau aplikasi, infrastruktur atau akses, pendidikan, kesejahteraan, atau secara sederhana dikarenakan berbedanya gaya hidup dan budaya. “Itulah yang menjadi tanggung jawab kita bersama untuk benar-benar memahami seperti apa kesenjangan itu serta bagaimana mempersempit kesenjangan,”ujarnya.

Dalam konteks ini,kata dia,merupakan hal yang sangat penting untuk mengampanyekan peningkatan penggunaan produk teknologi informasi guna meningkatkan daya saing nasional. Selain itu, dibutuhkan upaya untuk membantu komunitas masyarakat di perdesaan agar tidak ketinggalan dalam bidang teknologi.

Dari: situs www.seputar-indonesia.com - 22 Agustus 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

19 August 2009 - 7:13Puasa — Sebuah Jembatan Emas

Puasa — Sebuah Jembatan Emas

 


Saudara saudara ! Apakah yang dinamakan merdeka?” tanya Soekarno berapi-api di hadapan 30 orang lebih anggota Badan Pemeriksa Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Lalu Seokarno menjawabnya sendiri “tak lain tak bukan, ialah suatu jembatan, satu jembatan emas — di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat — di seberang jembatan emas inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.”

Dalam salah satu khutbahnya, Rasulullah SAW yang diceritakan Salman Al-Farisi: Dan ia (Ramadhan) adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya sebagai pembebas dari api neraka”

HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah.

Dari cuplikan pidato yang membakar semangat dari Presiden Soekarno dan hadits Rasulullah SAW yang menyejukkan diatas marilah kita petik maknanya. Bukan hanya yang tersurat kita cermati, kita sibak yang tersurat untuk memahami apa yang tersirat. Kita kaitkan semangat yang dibakar Presiden Soekarno dengan hikmah serta pahala yang akan kita raih dari ibadah suci di bulan Ramadhan ini.

Pidato Soekarno jelas menggelorakan pentingnya status merdeka bagi masyarakat Indonesia, merdeka dari penjajahan yang mengungkung. Kemerdekaan adalah jembatan emas bagi kita untuk bebas menentukan keinginan kita sebagai bangsa yang selama masa penjajahan Belanda dan Jepang tidak ada ditangan kita. Enam puluh empat tahun kemudian sejak Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kita telah menyeberangi jembatas emas yang kita impikan itu. Kini kita sudah berada diseberang, sudah bebas merdeka. Kini pasti sering kita mendengar suara dengan nada bertanya yang mengiang dikuping dan dihati kita – Sudahkah mimpi para pejuang kemerdekaan itu menjadi kenyataan ? Aku yang telah melintas di jembatan emas itu, apa yang sudah aku lakukan di tanah impian ini? Sejauh mana cita gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi yang dikumandangkan Presiden Soekarno itu telah kita gapai?

Walau pertanyaan-pertanyaan tersebut terkesan hanya relevan untuk mengisi perayaan Hari Kemerdekaan RI, di bulan suci ini mari kita cari relevansinya dengan ibadah puasa yang diamanahkan-Nya pada kita di Ramadhan. Bulan yang begitu didambakan ketibaannya oleh seluruh ummat Islam sedunia. Jika dalam menunaikan ibadah haji, ummat Islam begitu berbahagia karena wujud Ka’bah menjadi semacam media untuk kita menemui Allah Sang Pencipta, bahkan tak jarang isak tangis spontan menyertai kebahagiaan tersebut. Kita juga bahagia dapat peluang mengunjungi berbagai situs dan artefak yang menggambarkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan syiar Islam. Di bulan Ramadhan ini akan ada dua jenis kebahagian yang akan kita temui – kegembiraan menyambut ketibaan saat berbuka puasa dan saat kegembiraan menjumpai Sang Maha Pengasih kala melaksanakan sholat wajib, sholat sunnah serta taraweh berjamaah yang dilengkapi dzikir dan wirid memuji Allah Sang Khaliq serta memanjatkan salam dan shalawat bagi Jungjungan kita Rasulullah. Berbagai harapan digantungkan untuk diraih di bulan yang dijanjikan Tuhan Maha Penyayang dalam AlQuran, khususnya Surat AlQadr yang menggambarkan sebagai bulan yang begitu ditinggikan derajatnya dan disebutkan untuk setiap ibadah kita yang mendapat ridho-Nya dibulan ini maka ibadah tersebut bernilai 1000 kali lebih baik dibandingkan jika dilakukan pada bulan-bulan lain. Bahkan dalam bulan Sya’ban yang mendahului bulan Ramadhan ini kita dalam sujud dan sesudah sholat berdoa supaya diberi-Nya kita kemudahan, kelancaran ibadah, kekuatan dan panjang umur agar saat kita diberi-Nya peluang memasuki gerbang Ramadhan kita siap melaksanakan amanah-Nya sepenuh jiwa dan raga. Syawwal yang menjanjikan kemurnian dan kesucian kita sebagai makluk ciptaan-Nya tidak akan sukses kita dapatkan jika tidak mampu kita melintas sebulan penuh di Ramadhan ini. Salah satu tafsir dari Syawwal adalah peningkatan (to lift atau to carry dalam bahasa Inggris). Ramadhan adalah jembatan emas yang mengantarkan kita ke gerbang kemenangan — Syawwal.

 

Penilaian kualitas puasa di bulan suci Ramadhan dijadikan-Nya begitu istimewa seperti yang dapat kita simak dalam sebuah hadits yang diacu sesuai ujar Rasulullah SAW yaitu “Segala amal ibadah anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya” HR Bukhari. Nabi Muhammad SAW juga pernah bertutur bahwa semua catatan perbuatan umat di bulan shaum ini langsung dicatat oleh Allah SWT. Dalam bahasa Arab pencatatan perbuatan ini disebut Shab-i-Barat atau The Night of Records. Bukankah sangat istimewa, rekam jejak kita langsung ditorehkan dalam media abadi oleh Sang Maha Pencipta.

Mari sekali lagi kita simak hadits HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah diatas. Dari yang tersurat saja kita langsung dapat menyimpulkan bahwa jembatan emas Ramadhan ini terdiri atas tiga ruas: sepertiga adalah ruas yang penuh dengan pahala rahmat saat kita melintasinya, sepertiga kedua adalah ruas yang menyirami kita dengan berkah ampunan atas kesalahan dan dosa, kala kita menapak diatasnya, dan sepertiga yang terakhir adalah ruas dengan imbalan terbebas dari azab neraka ketika kita melenggang melaluinya. Apalagi jika dalam ruas terakhir dari jembatan emas itu kita lalui dengan tulus ikhlas mencari ridho Allah SWT, bekerja keras dan cerdas menjalankan amanah-Nya menggapai kemenangan di kehidupan yang fana serta senantiasa ingat bahwa semua ibadah dan amanah itu kita laksanakan demi mengakumulasi bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Ingat juga bahwa lompatan kuantum terbuka untuk kita lakukan, yaitu jika Allah SWT memberikan ridho-Nya untuk kita mendapatkan the night of honour and dignity — Lailatul Qadr. Gerbang kemenangan yang berada di ujung jembatan emas menanti untuk kita lewati. Namun tentu seperti juga jembatan emas kemerdekaan RI, Syawwal bukanlah akhir dari pengabdian dan perjuangan kita sebagai Khalifatullah di bumi ini. Kemenangan yang kita raih adalah untuk kita isi, seperti kobaran semangat Presiden Soekarno, maka tanah kemenangan yang kita rebut musti kita isi dengan sungguh-sungguh agar kita menjadi ciptaan-Nya yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi. Insan-insan juara ini yang akan mampu mewujudkan mimpi Proklamator kita yaitu menjadikan Indonesia yang merdeka dengan nilai-nilai luhur: aman, adil, damai, demokratis dan sejahtera.

Subahanallah walhamdulillah wala ilahailallah huwalluakbar.

Ya Allah, jadikanlah kami umat-Mu yang disiplin menjalankan ibadah puasa di Ramadhan yang suci ini. Limpahkan pada kami Ya Rabb rahmat, ampunan

dan kami terbebas dari api neraka. Amin”

 

Kusmayanto Kadiman

Menteri Negara Riset dan Teknologi

-->

Artikel Menegristek di Republika Selasa, 18 Agustus 2009

Puasa — Sebuah Jembatan Emas

 


Saudara saudara ! Apakah yang dinamakan merdeka?” tanya Soekarno berapi-api di hadapan 30 orang lebih anggota Badan Pemeriksa Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Lalu Seokarno menjawabnya sendiri “tak lain tak bukan, ialah suatu jembatan, satu jembatan emas — di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat — di seberang jembatan emas inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi.”

Dalam salah satu khutbahnya, Rasulullah SAW yang diceritakan Salman Al-Farisi: Dan ia (Ramadhan) adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya sebagai pembebas dari api neraka”

HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah.

Dari cuplikan pidato yang membakar semangat dari Presiden Soekarno dan hadits Rasulullah SAW yang menyejukkan diatas marilah kita petik maknanya. Bukan hanya yang tersurat kita cermati, kita sibak yang tersurat untuk memahami apa yang tersirat. Kita kaitkan semangat yang dibakar Presiden Soekarno dengan hikmah serta pahala yang akan kita raih dari ibadah suci di bulan Ramadhan ini.

Pidato Soekarno jelas menggelorakan pentingnya status merdeka bagi masyarakat Indonesia, merdeka dari penjajahan yang mengungkung. Kemerdekaan adalah jembatan emas bagi kita untuk bebas menentukan keinginan kita sebagai bangsa yang selama masa penjajahan Belanda dan Jepang tidak ada ditangan kita. Enam puluh empat tahun kemudian sejak Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 kita telah menyeberangi jembatas emas yang kita impikan itu. Kini kita sudah berada diseberang, sudah bebas merdeka. Kini pasti sering kita mendengar suara dengan nada bertanya yang mengiang dikuping dan dihati kita – Sudahkah mimpi para pejuang kemerdekaan itu menjadi kenyataan ? Aku yang telah melintas di jembatan emas itu, apa yang sudah aku lakukan di tanah impian ini? Sejauh mana cita gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi yang dikumandangkan Presiden Soekarno itu telah kita gapai?

Walau pertanyaan-pertanyaan tersebut terkesan hanya relevan untuk mengisi perayaan Hari Kemerdekaan RI, di bulan suci ini mari kita cari relevansinya dengan ibadah puasa yang diamanahkan-Nya pada kita di Ramadhan. Bulan yang begitu didambakan ketibaannya oleh seluruh ummat Islam sedunia. Jika dalam menunaikan ibadah haji, ummat Islam begitu berbahagia karena wujud Ka’bah menjadi semacam media untuk kita menemui Allah Sang Pencipta, bahkan tak jarang isak tangis spontan menyertai kebahagiaan tersebut. Kita juga bahagia dapat peluang mengunjungi berbagai situs dan artefak yang menggambarkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan syiar Islam. Di bulan Ramadhan ini akan ada dua jenis kebahagian yang akan kita temui – kegembiraan menyambut ketibaan saat berbuka puasa dan saat kegembiraan menjumpai Sang Maha Pengasih kala melaksanakan sholat wajib, sholat sunnah serta taraweh berjamaah yang dilengkapi dzikir dan wirid memuji Allah Sang Khaliq serta memanjatkan salam dan shalawat bagi Jungjungan kita Rasulullah. Berbagai harapan digantungkan untuk diraih di bulan yang dijanjikan Tuhan Maha Penyayang dalam AlQuran, khususnya Surat AlQadr yang menggambarkan sebagai bulan yang begitu ditinggikan derajatnya dan disebutkan untuk setiap ibadah kita yang mendapat ridho-Nya dibulan ini maka ibadah tersebut bernilai 1000 kali lebih baik dibandingkan jika dilakukan pada bulan-bulan lain. Bahkan dalam bulan Sya’ban yang mendahului bulan Ramadhan ini kita dalam sujud dan sesudah sholat berdoa supaya diberi-Nya kita kemudahan, kelancaran ibadah, kekuatan dan panjang umur agar saat kita diberi-Nya peluang memasuki gerbang Ramadhan kita siap melaksanakan amanah-Nya sepenuh jiwa dan raga. Syawwal yang menjanjikan kemurnian dan kesucian kita sebagai makluk ciptaan-Nya tidak akan sukses kita dapatkan jika tidak mampu kita melintas sebulan penuh di Ramadhan ini. Salah satu tafsir dari Syawwal adalah peningkatan (to lift atau to carry dalam bahasa Inggris). Ramadhan adalah jembatan emas yang mengantarkan kita ke gerbang kemenangan — Syawwal.

 

Penilaian kualitas puasa di bulan suci Ramadhan dijadikan-Nya begitu istimewa seperti yang dapat kita simak dalam sebuah hadits yang diacu sesuai ujar Rasulullah SAW yaitu “Segala amal ibadah anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya” HR Bukhari. Nabi Muhammad SAW juga pernah bertutur bahwa semua catatan perbuatan umat di bulan shaum ini langsung dicatat oleh Allah SWT. Dalam bahasa Arab pencatatan perbuatan ini disebut Shab-i-Barat atau The Night of Records. Bukankah sangat istimewa, rekam jejak kita langsung ditorehkan dalam media abadi oleh Sang Maha Pencipta.

Mari sekali lagi kita simak hadits HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah diatas. Dari yang tersurat saja kita langsung dapat menyimpulkan bahwa jembatan emas Ramadhan ini terdiri atas tiga ruas: sepertiga adalah ruas yang penuh dengan pahala rahmat saat kita melintasinya, sepertiga kedua adalah ruas yang menyirami kita dengan berkah ampunan atas kesalahan dan dosa, kala kita menapak diatasnya, dan sepertiga yang terakhir adalah ruas dengan imbalan terbebas dari azab neraka ketika kita melenggang melaluinya. Apalagi jika dalam ruas terakhir dari jembatan emas itu kita lalui dengan tulus ikhlas mencari ridho Allah SWT, bekerja keras dan cerdas menjalankan amanah-Nya menggapai kemenangan di kehidupan yang fana serta senantiasa ingat bahwa semua ibadah dan amanah itu kita laksanakan demi mengakumulasi bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat nanti. Ingat juga bahwa lompatan kuantum terbuka untuk kita lakukan, yaitu jika Allah SWT memberikan ridho-Nya untuk kita mendapatkan the night of honour and dignity — Lailatul Qadr. Gerbang kemenangan yang berada di ujung jembatan emas menanti untuk kita lewati. Namun tentu seperti juga jembatan emas kemerdekaan RI, Syawwal bukanlah akhir dari pengabdian dan perjuangan kita sebagai Khalifatullah di bumi ini. Kemenangan yang kita raih adalah untuk kita isi, seperti kobaran semangat Presiden Soekarno, maka tanah kemenangan yang kita rebut musti kita isi dengan sungguh-sungguh agar kita menjadi ciptaan-Nya yang gagah, kuat, sehat, kekal dan abadi. Insan-insan juara ini yang akan mampu mewujudkan mimpi Proklamator kita yaitu menjadikan Indonesia yang merdeka dengan nilai-nilai luhur: aman, adil, damai, demokratis dan sejahtera.

Subahanallah walhamdulillah wala ilahailallah huwalluakbar.

Ya Allah, jadikanlah kami umat-Mu yang disiplin menjalankan ibadah puasa di Ramadhan yang suci ini. Limpahkan pada kami Ya Rabb rahmat, ampunan

dan kami terbebas dari api neraka. Amin”

 

Kusmayanto Kadiman

Menteri Negara Riset dan Teknologi

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

12 August 2009 - 14:31Puncak Peringatan Hakteknas Ke-14 Tahun 2009

Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) adalah salah satu wahana pemasyarakatan teknologi untuk menanamkan kesadaran dalam diri bangsa Indonesia. Acara Puncak Peringatan Hakteknas Ke-14 Tahun 2009 diselenggarakan di Ruang Auditorium BPPT, 10 Agustus 2009.

Dalam kesempatan tersebut Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman menyampaikan bahwa peringatan Hakteknas yang mengusung tema “Kreativitas dan Teknologi : Indonesia Bisa!” ini diharapkan dapat membangkitkan kesadaran akan pentingnya suatu kreativitas dalam penguasaan dan pemanfaatan iptek guna mendorong kualitas pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Bahwa inovasi dan teknologi dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan bangsa dan memberi pengaruh positif dalam ranah ekonomi.

Puncak Peringatan Hakteknas Ke-14 Tahun 2009 juga dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Muhammad Nuh serta Menteri Perindustrian, Fahmi Idris. Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Dr. Bambang Setiadi juga turut hadir bersama istri.

Yang paling menarik pada Puncak Peringatan Hakteknas kali ini adalah Karya Cipta Batik Fraktal yang didemonstrasikan sendiri oleh Mennegristek, Kusmayanto Kadiman. Batik Fraktal adalah seni batik melalui pola yang dimodelkan dalam rumus matematika dengan menggunakan teknologi komputer. Kusmayanto Kadiman mendemonstrasikan batik fraktal dengan pola Batik Pacitan. Batik Pacitan dikembangkan oleh pengrajin batik, Ibu Sumiati asal Pacitan, sementara konsep batik fraktal sendiri dikembangkan oleh tim batik fraktal dari Bandung.

Pada Puncak Peringatan Hakteknas Ke-14, dilakukan penyerahan buku 101 Inovasi Indonesia dari Business Innovation Center serta penyerahan Atlas Indonesia dari Kepala Bakosurtanal kepada Preiden Republik Indonesia melalui Mennegristek, Kusmayanto Kadiman.

Selain itu juga dilaksanakan penyerahan Anugerah Riset dan Teknologi oleh Mennegristek. Anugerah Riset dan Teknologi ini terbagi dalam beberapa kategori yaitu Anugerah untuk Pemerintah Kabupaten dan Kota yang telah mendorong pembangunan iptek; Anugerah Kreativitas Inovasi Masyarakat; Peneliti Skema Insentif Ristek; Lomba Penulisan Iptek untuk Wartawan dan Penulis 2009; serta Lomba Penulisan Pemanfaatan Perangkat Lunak Sistem Terbuka oleh Wartawan di Media Cetak dan Elektronik.

Dari: situs bsn.or.id - 10 Agustus 2009

 

 

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan: