29 July 2009 - 15:18Menristek : Perlu Intensifikasi dan Diversifikasi Pangan

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Republik Indonesia Kusmayanto Kadiman mengatakan bahwa intensifikasi dan diversifikasi pangan perlu dilakukan, khususnya pengembangan teknologi pangan berbasis non beras.

“Salah satu riset yang dilakukan di Kupang, yakni cara memasak makanan tradisional yang ada di Nusa Tenggara Timur, yang terkenal dengan nama bubur `bose` tanpa harus membutuhkan waktu yang lama,” ujarnya di Jepara, Jateng.

Pasalnya, kata dia, proses pembuatan bubur “bose” yang berisi jagung, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang merah membutuhkan waktu antara empat jam hingga delapan jam.

Untuk itu, kata dia, pemerintah memberikan sentuhan teknologi baru untuk membuat bubur “bose” secara instan. “Nantinya, cukup dengan membuka plastik dan memasukan air panas, dan menunggu beberapa menit bubur langsung jadi,” ujarnya.

Sentuhan teknologi tersebut, katanya, menjadi salah satu wujud untuk melakukan intensifikasi dan diversifikasi pangan.

“Hanya saja, penjualan produknya menjadi kendala tersendiri ketika teknologi tersedia,” ujarnya.

Sementara upaya untuk memasarkan produk tersebut ke pasar, kata dia, membutuhkan waktu yang cukup lama setelah dilakukan riset dan pengembangan.

“Pemerintah setempat diharapkan ikut membantu pemasarannya seperti halnya produk kain batik khas daerah dengan mewajibkan PNS menggunakan seragam dengan kain batik setiap hari tertentu. Kami juga bertekad tradisi dan teknologi juga memiliki kontribusi pada ekonomi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga sudah melakukan riset diversifikasi pangan lain, seperti pembuatan tepung dari bahan sukun dan ubi yang memiliki rasa, bentuk, dan harga menyerupai dari bahan gandum.

“Kami juga menginginkan makanan cepat saji, seperti `burger` memiliki bentuk, rasa, dan harga serupa jika dibuat dari bahan gandum,” ujarnya.(*)

Dari : antaranews.com - 24 Juli 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

29 July 2009 - 15:16Menristek : Pembangunan PLTN Tetap Jalan

Menristek : Pembangunan PLTN Tetap Jalan
Kusmayanto Kadiman (ANTARA/Ismar Patrizki)

Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman mengatakan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia tetap berjalan.

“Saat ini masih melakukan sosialisasi, mengingat pada 2016 Indonesia harus sudah mengoperasikan PLTN secara komersial,” ujarnya usai membuka pameran research innovation and technology (Ritech) atau Ritech Ekspo yang berlangsung 23-25 Juli 2009 di Gedung Wanita Jepara, Kamis.

Target pengoperasian PLTN pada 2016, katanya, sesuai dengan amanat UU Nomor 17 tahun 2007 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJN), yang salah satu paragrafnya menyebutkan bahwa pada 2016 Indonesia harus sudah mengoperasikan PLTN.

“Artinya secara politik rencana pembangunan PLTN ini harus disetujui segera. Kami juga sudah menemukan lokasi yang bagus di Jepara,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, pembangunan PLTN membutuhkan waktu yang cukup lama, yakni dari penetapan lokasi sampai dapat beroperasi membutuhkan waktu hingga delapan tahun. “Kalaupun dipaksakan maka waktu paling cepat untuk menyelesaikan pembangunan PLTN kurang lebih enam tahun,” ujarnya.

Ia mengakui persoalan politik merupakan pekerjaan yang paling berat karena tidak sama dengan perhitungan secara matematis.

Selain itu, kata dia, isu sosial juga perlu disikapi dengan seksama apabila muncul penolakan keras. “Tidak mungkin memaksakan kehendak. Bahkan, pemerintah sekalipun tidak boleh memaksakan suatu kegiatan di mana terjadi penolakan yang keras,” ujarnya.

Apabila muncul penolakan, katanya, perlu dilihat faktor yang melatarbelakangi penolakan tersebut dan diupayakan penghilangan faktor yang dianggap menghalangi tersebut.

“Paling tidak pemerintah harus mendengarkan apa yang disarankan oleh masyarakat. Apabila rencana pembangunan di Jepara masih menghadapi kendala, terpaksa cari lokasi yang lain. Bahkan, daerah Banten mempersilakannya,” ujarnya.

Hanya saja, kesediaan daerah Banten bukan menjadi jaminan bahwa rencana pembangunan PLTN di daerah tersebut dapat berjalan mulus. “Setiap kegiatan besar pasti ada pro dan kontra dan ini kejadian yang alami,” ujarnya.

Dalam membangun PLTN di Indonesia, katanya, pemerintah akan berupaya memaksimalkan kandungan lokal. “Kami tidak ingin PLTN dibangun, dioperasikan, dan dipelihara oleh orang lain, tetapi kami ingin membuat pabrik dengan kandungan lokal yang maksimal,” katanya.(*)

 Dari : antaranews.com - 23 Juli 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

21 July 2009 - 8:18Kampanye digital jurus pamungkas pemasaran

Artikel Menegristek di Bisnis Indonesia online Selasa, 21 Juli 2009

Diadopsi untuk mempromosikan produk dan layanan

“The aim of marketing is to know and understand the customer so well the product or service fits him and sells itself.” Peter Drucker

Petuah sang guru pemasaran di atas jelas menyampaikan pesan bagaimana pentingnya mengenali perilaku pelanggan agar produk dan jasa yang dipasarkan tepat mengena dan kemudian akan mampu menjadi swajual yaitu produk dan jasa yang dipasarkan itu sendiri yang menjual dirinya.

Telepon genggam (handphone) adalah contoh yang paling sukses dari produk yang swajual. Keberhasilan ini bukan hanya terjadi pada kalangan ABG (anak baru gede) yang notabene adalah generasi yang sangat identik dengan telepon genggam. Juga kita saksikan sukses pada generasi-generasi pendahulu ABG sampai pada generasi Pejuang-45.

Generasi Rambut Putih (Silver Generation) yang lahir pada akhir abad ke-18 sampai periode 1945 dikenal sebagai generasi yang memulai revolusi industri di mana teknologi dijadikan pemain utama dalam pertumbuhan sosio ekonomi masyarakat.

Mesin uap menjadi penggerak utama dalam revolusi industri ini. Teknologi pada masa ini dikenal sebagai besar dan masif. Sederhana juga menjadi keunikan generasi ini. Besar dan sederhana adalah ciri generasi ini.

Generasi berikut yang lahir pada masa pasca-Perang Dunia II yaitu pada periode 1946 - 1962 dikenal sebagai masa ledakan kelahiran bayi atau baby boomer. Generasi yang menandai ledakan populasi dunia. Sifat masal menjadi penting agar kebutuhan semua orang dapat dipenuhi. Generasi ini yang juga menuntut agar kreasi teknologi berupa produk dan layanan mulai memenuhi selera mereka. Massal dan memenuhi selera menjadi perilaku khusus bagai generasi ini.

Penerus dari generasi Baby Boomer ini dikenal dengan generasi yang mendorong akselerasi pertumbuhan teknologi. Generasi ini lahir dan hidup pada periode 1963-1980 dan karena ada upaya akselerasi, maka dikenal dengan Generasi X yang sering dipopulerkan dengan Gen-X. Komputer adalah inovasi teknologi yang dilahirkan pada masa Gen-X. Remote Control dan teknologi nirkabel (wireless) adalah wujud nyata bagaimana interaksi antara pengguna dan teknologi mengalami perubahan besar.

Selain teknologi nirkabel, ragam dan kualitas warna juga mengalami akselerasi pesat. Cepat dan akurat adalah dua nilai yang mesti dipenuhi dalam setiap inovasi teknologi dituntut generasi ini. Teknologi digital adalah jawaban atas tuntutan generasi ini.

Generasi yang lahir dan hidup pada periode 1981-2000 semula akan dipopulerkan sebagai Gen-Y karena merupakan penerus dari Gen-X, tetapi mengalami resistensi. Mengingat generasi ini menandai datangnya milenium baru yaitu milenia 21, maka penyebutan Generasi Milenia lebih diterima dan lebih populer ketimbang Gen-Y.

Kelahiran telepon genggam (handphone HP) menjadi ciri khas dari generasi ini. Interaksi yang interaktif antara pengguna dan teknologi dinilai tinggi oleh generasi ini. Mouse, trackball dan joystick sampai pada virtual reality adalah inovasi yang mencoba menjawab tantangan generasi ini. Ciri khas utama dari generasi ini adalah menjadikan teknologi sebagai gaya hidup (lifestyle).

Keempat generasi yang diuraikan di atas kini hidup bersama di abad ke-21 ini. Masing-masing memiliki perilaku dan tuntutan masing-masing. Ini menjadikan pemasaran menjadi tantangan yang kompleks.

Kampanye digital

Sukses Obama menuju Gedung Putih tidak pelak ditentukan oleh peran kampanye digital (digital campaign) yang lazim pula dikenal sebagai on-line campaign. Melalui kampanye digital ini tim sukses Obama berhasil mejadikan Obama swajual pada para peserta pemilu di Negeri Paman Sam itu.

Kampanye digital telah menjadi tren dalam pemasaran modern. Telah banyak diadopsi untuk mempromosikan dan memasarkan mulai dari produk dan layanan eksklusif sampai pada produk dan layanan massal.

Kampanye digital adalah metode pemasaran yang memanfaatkan secara maksimal teknologi digital dalam mempromosikan produk dan layanan. Ini adalah sebuah revolusi dalam pemasaran.

Kampanye digital ini adalah fusi teknologi digital yang merupakan realisasi konvergensi radio, telepon, TV, komputer dan film layar lebar dengan metode pemasaran modern. Dengan kepesatan tumbuh-kembang teknologi, khususnya telekomunikasi dan Internet, kampanye digital dipandang sebagai jurus pamungkas dalam merealisasikan petuah Peter Drucker di atas yaitu menjadikan produk dan layanan yang dipromosikan memiliki sifat swajual.

Dengan demikian kompleksitas akibat ragam perilaku konsumen potensial di semua generasi dapat dijangkau. Strategi pemasaran klasik mesti menerapkan kiat segmentasi karena hanya akan mampu menggapai satu atau dua dari empat generasi.

Lima cita yang lazim ingin digapai melalui pemasaran akan dapat menjadi kenyataan dengan menggunakan metode kampanye digital. Pertama, kebutuhan melakukan personifikasi atas produk dan layanan yang dipasarkan serta tepat sasaran. Kedua, menjadikan keunggulan produk dan layanan yang ditawarkan mudah dipahami dan informasinya tersedia setiap saat diperlukan atau tangible portable.

Ketiga, kampanye digital membuat media elektronik khususnya radio, TV, HP dan komputer memiliki kemampuan lebih yaitu sebagai penyaji informasi tentang produk dan layanan yang diperlukan kini dan kapan saja. Kampanye digital menjadi pemersatu media, mulai dari koran digital sampai HP.

Keempat, memberi pada konsumen berbagai informasi dan pilihan akan kebutuhan produk dan layanan. Cerita menarik, kartun dan animasi kreatif dan humor dapat dijadikan bagian dari kampaye digital. Misalnya, infotaintment yang merupakan paduan dari penyampaian informasi dengan hiburan.

Dan, yang terakhir, seperti dituntut dalam setiap strategi dan kegiatan pemasaran, kemampuan mengukur efektivitas dari upaya dan belanja pemasaran. Kelima cita-cita ini bisa digapai karena hanya kampanye digital yang mampu menawarkan interaksi aktif antara penjual dan konsumen.

Meningkatnya penetrasi komputer dan Internet di masyarakat Indonesia membuka peluang bagi kampanye digital. Jejaring sosial melalui Internet menambah marak dan bukti keefektifan jurus kampanye digital. Pemilu-2009 tak pelak banyak memanfaatkan kampanye digital. Demikian pula dalam memasarkan produk dan layanan baik yang impor maupun domestik.

Oleh Kusmayanto Kadiman
Menteri Negara Riset dan Teknologi

Dari : bisnis.com - 21 Juli 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan: