28 May 2009 - 14:07Sikap berhati-hati dalam berjejaring sosial “The Facebook Era”

“The Facebook Era” : dunia kini tengah memasukinya. Indonesia pun sekarang seakan tengah tersihir oleh jerat jejaring aplikasi sosial on-line Facebook yang kini menjadi nomor satu menyingkirkan Friendster, Multiply.com, MySpace yang terlebih dulu muncul dan popular sebelumnya.
Tanpa dinyana siapa sangka apabila publikasi Alexa.com terkini mengungkap bahwa Indonesia yang sesungguhnya terbilang masih cukup terpuruk kondisi konektivitas maupun amat rendah tingkat prosentase pengguna akses Internet on-line —0.5% dari 235 juta penduduk yang memiliki koneksi Internet aktif— nyatanya menjadi salah satu negeri yang tertinggi di kawasan ASEAN dalam pertumbuhan pengguna Facebook yakni : 645% selama tahun 2008 yl. Diperkirakan sekarang ada sekitar 3 juta pengguna Facebook dari Indonesia. Akses pengguna Facebook asal Indonesia mencatatkan angka 4% hingga dalam lingkup global dapat duduk pada peringkat ke-5 dibawah pengguna asal AS, Inggris, Perancis, dan Italia.
Sebagai bandingan data akses Internet pengguna browser Opera Mini publikasi April yl, mengungkap bahwa pengguna Internet on-line dengan perangkat ponsel Indonesia tercatat sebagai peringkat kedua lingkup global yang hanya diungguli oleh pengguna dari Rusia. Dan pengguna Opera Mini dari Indonesia menjadikan urutan situs Internet yang tertinggi diakses yakni 3 (tiga) besar teratas : Friendster — Google— Facebook.com.

Dalam menghadapi era Facebook masa kini kalangan pengguna Facebook serta umumnya pengguna situs jejaring sosial umum lainnya atau khususnya pengguna sharing file on-line amat patut untuk bersikap ekstra hati-hati. Dan wanti-wanti ini sama sekali tentu tidak berkaitan dengan pemikiran sebagian kalangan tertentu yang dengan serba naif mewartakan ancaman bahaya situs jejaring sosial Facebook yang serba memudahkan dalam menggugah pengguna untuk berperilaku negatif khususnya, termasuk didalamnya pergaulan amoral : ekstra-marital affairs.
Yang pantas diperhatikan khalayak kebanyakan pengguna Facebook adalah dalam aktivitas berbagi foto yang bersifat amat pribadi. Sekali Anda mengunggah foto ke situs jejaring on-line namun apabila kemudian menyesalinya berhubung foto tersebut mengandung muatan yang sensitif lantas Anda kemudian langsung bertindak menghapus foto tersebut maka seketika itukah foto hilang terhapus…?
Kenyataannya ternyata tidak sedemikian gampang dalam realitanya !
Pada sebagian besar situs jejaring sosial termasuk diantaranya Facebook, ternyata foto tersebut masih tersimpan dalam server hingga waktu yang cukup panjang yang lamanya bahkan sekitar sebulan atau malah lebih.

Dalam pengujian dari sejumlah Peneliti pimpinan Joseph Bonneau dari Universitas Cambridge, UK melangsungkan test atas 16 (enam belas) situs popular situs jejaring sosial, blogging dan layanan foto/file sharing a.l: Facebook, MySpace, hi5, Orkut, Bebo serta Flickr, Photobucket, dan Windows Live Spaces.
Penggugahan foto dilakukan cukup menuruti aturan standard privasi default permission pada masing-masing situs untuk mana para Peneliti mencatatkan lengkap alamat halaman situs yang memuat foto tersebut. Kemudian dilakukan test yakni menghapus foto uji pada masing-masing situs.
Langkah pengujian yakni mulai sehari kemudian esoknya dan selama 30 hari berturut-turut yakni dengan jalan mencoba test akses langsung untuk mengetahui apakah foto yang dihapus semestinya benar-benar telah hilang tidak lagi tersimpan dalam server on-line.
Ternyata hasilnya terbilang cukup mengejutkan bahwa hanya 7 diantara 16 situs layanan yang foto yang dihapus benar-benar telah dimusnahkan, sementara selebihnya ternyata foto tersebut masih bisa diakses dengan cara mengakses langsung sesuai alamat lengkapnya.
Situs yang ternyata kurang responsif dalam pengujian ini diantaranya situs jejaring sosial popular yakni; Facebok, MySpace, Bebo, hi5 ! Selain beberapa situs blogging
Para penguji mencatatkan kredit positip tersendiri bagi situs: Orkut, Flickr dan Photobucket karena uji hapus foto benar-benar berlangsung dengan cukup seketika. Situs Windows Live Spaces pun mendapatkan penilaian positip tersendiri selaku satu-satunya situs yang menjalankan proteksi privasi keamanan yang terjaga maksimum, yakni dengan sama sekali tidak memperkenankan akses halaman situs langsung ke alamat “URL”. Windows Live Space menjalankan server penyimpanan foto yang dalam operasinya mengeluarkan “session cookies”.

Sumber: Up-dates situs newspedia-dot-com. / Rizal Aachtung.

Dari situs iptek.net - 23 Mei 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

22 May 2009 - 14:04BATAN Sudah Bisa Mengolah Limbah Nuklir

/

 

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Semenajung Muria Jawa Tengah tahun 2016 menimbulkan kekwatiran banyak pihak. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah soal dampak limbah yang dihasilkan dari reaktor nuklir.

Persoalan ini ternyata telah ditangani oleh Sigit, peneliti Badan Peneliti Tenaga Nuklir (BATAN), Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBN) Serpong yang hari ini (20/4) dikukuhkan sebagai profesor riset di Gedung BATAN, Jakarta. Proses daur ulang limbah tersebut dibacakan sebagai orasi ilmiah dengan judul Proses Kering Daur Ulang Bahan Bakar Nuklir dan Prospeknya di Indonesia.

“Daur ulang bahan bakar nuklir adalah suatu proses menggunakan kembali bahan bakar nuklir uranium dan plutonium yang diperoleh dari recovery bahan bakar bekas ke dalam reaktor sebagai tambahan produksi energi,” kata Sigit.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa daur ulang yang dilakukan pada kondisi kering, diartikan tidak menggunakan pelarut organik dan fase cair. Sedangkan olah bahan bakar nuklir itu sendiri adalah proses pemungutan kembali uranium dan plutonium dari bahan bakar bekas di mana kelongsong, hasil fisi, transuranium dan bahan terkontaminasi lainnya menjadi limbah radiaktif aktifitas tinggi.

Pemisahan uranium dan plutonium sangat sensitif karena plutonium merupakan bahan untuk membuat sengaja nuklir. “Indonesia tidak melakukan hal ini karena telah menandatangani perjanjian non proliferasi, di mana iptek digunakan hanya untuk maksud damai, bukan untuk persenjataan,” ungkap Sigit.

Dengan pengukuhan ini Sigit yang menjadi orang 262 dalam Komunitas Peneliti Nasional dan Professor Peneliti ke-40 di BATAN. Dua peneliti BATAN lain yang juga dikukuhkan sebagai Profesor Riset adalah Sugiarto untuk Bidang Polimerisasi Radiasi sebagai orang ke-260 dan 38 dan Surian Pinem pada Bidang Fisika Reaktor Nuklir sebagai orang ke-261 dan 39. Mereka dikukuhkan oleh Kepala LIPI selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset Umar Anggoro Jeni.

Dari situs Kompas.com - 20 April 2009

-->

Getty Images/Mark Renders

Pusat tenaga nuklir Tihange sebagai pemasok kebutuhan listrik Belgia, 17 Juni 2006.

/

 

Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Semenajung Muria Jawa Tengah tahun 2016 menimbulkan kekwatiran banyak pihak. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah soal dampak limbah yang dihasilkan dari reaktor nuklir.

Persoalan ini ternyata telah ditangani oleh Sigit, peneliti Badan Peneliti Tenaga Nuklir (BATAN), Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir (PTBN) Serpong yang hari ini (20/4) dikukuhkan sebagai profesor riset di Gedung BATAN, Jakarta. Proses daur ulang limbah tersebut dibacakan sebagai orasi ilmiah dengan judul Proses Kering Daur Ulang Bahan Bakar Nuklir dan Prospeknya di Indonesia.

“Daur ulang bahan bakar nuklir adalah suatu proses menggunakan kembali bahan bakar nuklir uranium dan plutonium yang diperoleh dari recovery bahan bakar bekas ke dalam reaktor sebagai tambahan produksi energi,” kata Sigit.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa daur ulang yang dilakukan pada kondisi kering, diartikan tidak menggunakan pelarut organik dan fase cair. Sedangkan olah bahan bakar nuklir itu sendiri adalah proses pemungutan kembali uranium dan plutonium dari bahan bakar bekas di mana kelongsong, hasil fisi, transuranium dan bahan terkontaminasi lainnya menjadi limbah radiaktif aktifitas tinggi.

Pemisahan uranium dan plutonium sangat sensitif karena plutonium merupakan bahan untuk membuat sengaja nuklir. “Indonesia tidak melakukan hal ini karena telah menandatangani perjanjian non proliferasi, di mana iptek digunakan hanya untuk maksud damai, bukan untuk persenjataan,” ungkap Sigit.

Dengan pengukuhan ini Sigit yang menjadi orang 262 dalam Komunitas Peneliti Nasional dan Professor Peneliti ke-40 di BATAN. Dua peneliti BATAN lain yang juga dikukuhkan sebagai Profesor Riset adalah Sugiarto untuk Bidang Polimerisasi Radiasi sebagai orang ke-260 dan 38 dan Surian Pinem pada Bidang Fisika Reaktor Nuklir sebagai orang ke-261 dan 39. Mereka dikukuhkan oleh Kepala LIPI selaku Ketua Majelis Pengukuhan Profesor Riset Umar Anggoro Jeni.

Dari situs Kompas.com - 20 April 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan:

15 May 2009 - 13:15Menristek Canangkan Gerakan Cinta Bahari

World Ocean Conference

Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, mencanangkan Gerakan Cinta Bahari di Kapal Baruna Jaya IV, di Teluk Manado, Rabu 13 Mei 2009.

Dalam pencanangan itu, Menristek meminta masyarakat Indonesia mencintai laut, sehingga harus menjaga dan melestarikannya.

Laut merupakan bagian dari kehidupan manusia yang selalu menyerap karbon akibat pemanasan global, katanya.

Di sela-sela pelayaran dengan Kapal Baruna Jaya berkeliling Teluk Manado hingga Taman Nasional Laut Bunaken, menteri mengatakan, kondisi laut semakin terdegradasi akibat perubahan iklim serta aktivitas di laut yang tidak ramah lingkungan.

Menristek yang hadir dalam kapasitas memfungsikan kapal Baruna Jaya IV itu, turut menyaksikan pameran terapung di kapal itu saat berlayar ke Pantai Manado.

Turut hadir pada pelayaran tersebut sebanyak 200 pramuka se Indonesia yang mengikuti pelayaran Gerakan Cinta Bahari.

Beberapa peserta yang ikut dalam pelayaran Baruna Jaya IV itu mengaku miris menyaksikan kondisi Taman Nasional Laut Bunaken yang penuh sampah.

Pemerintah harus mengantisipasi dampak negatif pada pengelolaan Taman Nasional Bunaken dengan membersihkan tumpukan sampah, kata Waldi, salah satu peserta pelayaran cinta bahari itu. (*)

Dari situs Antara - 14 Mei 2009

No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan: