25 February 2009 - 16:45KK, Bukan Hanya Pengamat Blogger


Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

 

Sudahkah Anda mengunjungi Blog KK?

Klik gambar di atas untuk mengunjungi Blog KK.

 

  • Dari situs Harian Kompas,  22 Februari 2009. Lihat artikelnya di laman sumber.

Komunitas Kompasiana

Penulis “Indie” di Dunia Nyata

Oleh: Pepih Nugraha

Inti setiap interaksi dan sosialisasi dari blog serta situs pertemanan di dunia maya adalah gaul. Setiap sosialisasi, jika diperas dan diperas lagi, tetap gaul itulah yang menetes. Maka, seorang Menristek Kusmayanto Kadiman pun sampai pada kesimpulan bahwa dia harus gaul ketika secara sadar menyatakan diri sebagai bagian dari dunia maya.

Yang terjadi, sepadat apa pun acaranya, seusai mengantarkan PM Thailand Abhisit Vejjajiva, dari Bandara Internasional Cengkareng Kusmayanto langsung menuju Bentara Budaya Jakarta (BBJ) dengan kawalan polisi. ”Ini agar tidak terlambat sampai di BBJ meski harus sedikit berbuat salah,” katanya saat di daulat menyampaikan kesannya tentang Kompasiana.

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > 02/09 - Februari 2009, > Blog Anda, > Hankam, Informasi & Komunikasi, Kesehatan, > KK on Video, 3. Anda dan KK:, 4. Catatan Opini, 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 7. Laporan Kegiatan:, 8. Kliping, 9. Testimoni Tentang KK:

24 February 2009 - 12:44Indonesia Ber-renaissance


Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

Kusmayanto Kadiman Muda

Pemuda dan transformasi Indonesia, mengapa sekarang makin penting relasinya?

Claes H. de Vreese dari Universitas Amsterdam menulis “Digital Renaissance: Young Consumer and Citizen?“. Di tulisan itu, de Vresse menemukan bahwa berkat teknologi internet, para pemuda sekarang semakin aktif mengutarakan pendapatnya.

Euisry (21 tahun) dalam blognya “Hamparan Kata”, mengelola sebuah tulisan “Menemukan Renaissance di Indonesia“. Tulisan ini, menggambarkan bagaimana generasi muda Indonesia juga telah semakin cepat mengutarakan pendapatnya lewat media internet.

Pokok pikiran Eusry, diambil dari pidato KK dalam judul yang sama disampaikan pada acara Dies Natalis ITS ke-47, tahun 2007.

Gambar di atas merupakan reka ulang dari foto KK yang diambil ketika masih kuliah di ITB. Klik gambar tersebut untuk melihat versi aslinya di situs Ikatan Alumni Teknik Fisika - ITB.

 

  • Dari blog “Twinkle Eusry” milik Eusry (dengan proses edit). Dipublikaskan pada 06 Februari 2009 . Lihat artikelnya di laman sumber.

Makna Indonesia dalam Iptek

Menemukan Renaissance di Indonesia

Oleh: Eusry.

Klik untuk melihat blog tersebutSemalam saya menonton debat parpol PDIP vs partai Demokrat di TV-One. D iantara hal yang ramai sekali diperdebatkan yaitu soal kenyataan pencapaian program perekonomian yang diusung masing-masing partai.

Soal iklan partai yang mengusung program ekonomi juga menjadi perdebatan seru. Ya, itu memang hal yang sudah biasa. Selama ini program-program ekonomi, juga politik, pendidikan, bahkan jender sudah kerap menjadi ‘iklan’ yang dilirik partai-partai politik saat kampanye untuk menggaet hati masyarakat.

Kalau aspek agama tak usah ditanya lagi, beberapa partai bahkan sudah menjadikannya sebagai identitas partai itu sendiri. Pertanyaannya, mengapa iptek belum mendapat tempat? Padahal, bukannya iptek diyakini sebagai aspek yang sangat penting bagi kemajuan bangsa? Nah, lho…

So, saya bukannya mau mereview seputar perdebatan semalam, tapi justru mereviu sebuah wacana yang lahir dari pertanyaan di atas. Ya, iklan-iklan partai yang kini kerap bermunculan di televisi itu mengingatkan saya pada opini Bpk. Kusmayanto Kadiman (KK), Menegristek Indonesia (yang juga adalah mantan rektor ITB yang saya kagumi ^^).

Dalam makalah opini KK yang disampaikan dalam pidatonya pada sidang Senat Perguruan Tinggi ITS, diulas berbagai pertanyaan menarik seputar apa dan bagaimana arti penting iptek bagi kemajuan bangsa Indonesia.

KK mengawali dengan mempertanyakan posisi iptek itu sendiri di ‘hati’ mayarakat Indonesia.

Menurut KK, jawaban atas pertanyaan di atas adalah karena iptek belum mendapat tempat di hati masyarakat, artinya masyarakat belum menghargai iptek.

Terdapat perbedaan cara pandang antara masyarakat dengan masyarakat akademisi terhadap iptek. Masyarakat umum memandang iptek dari segi kemanfaatannya dalam konteks kehidupan mereka, sementara masyarakat akademik cenderung memandang iptek dari segi pengembangannya, yakni prestisi kemajuan iptek sendiri.

Ini berarti bahwa iptek akan mendapat tempat di hati masyarakat jika mereka telah melihat kemanfaatan iptek tersebut. Pada situasi itu barulah iptek akan mendapat dukungan politis sehingga berdampak pada alokasi sumber daya bagi kemajuan iptek.

Arti penting iptek sendiri telah dapat dilihat dari sejarah, bahwa iptek dapat membawa perubahan-perubahan yang radikal, misalnya seperti terjadinya Revolusi Industri di Eropa, atau transportasi yang memungkinkan mobilitas melintasi berbagai negara. Hal ini yang kemudian berdampak besar terhadap peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa.

Persoalannya adalah ketika masyarakat belum melihat kemanfaatan iptek, argumen-argumen yang menyatakan pentingnya iptek akan sulit diterima masyarakat.

Untuk itu ada 2 pendekatan yang dapat ditempuh agar tercipta kesatuan yang selaras antara kemajuan dan kemanfaatan iptek.

Pertama, aktivitas pengembangan dan pemanfaatan iptek diletakkan dalam jalur terpisah.

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > Blog Anda, > Menginspirasi, 3. Anda dan KK:, 9. Testimoni Tentang KK:

23 February 2009 - 16:39Politik Gajah Putih


Gambar ini diedit dengan GIMP, aplikasi OSS. Kunjungi situs IGOS (www.igos.web.id) untuk mengetahui tentang OSS.

Gajah - Parpol

Apa Hubungan Partai Politik dan Cara Memandang Gajah?

Setiap partai politik memiliki cara pandangnya sendiri. Ibarat saat memandang gajah, kita bisa mengatakan ciri hewan ini sebagai berbelalai, bergading, berbadan sangat besar, berkuping raksaksa, atau sekedar memiliki buntut.

Dalam tiap Pemilu, tugas rakyat adalah memeriksa apakah pandangan partai politik dapat diterima. Dari proses penilaian cara pandang ini, keindahan demokrasi bisa terwujud seperti pada ilustrasi di atas. Tanpa suara Anda, keindahan demokrasi sukar untuk diwujudkan.

Pada 21-22 Februari 2009 lalu, KK mendapat tugas untuk menjadi Menteri Pendamping (Minister-In-Attandance) dalam kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Negeri Gajah Putih, Thailand, Abhisit Vejjajiva. Di sini, KK menuliskan pengalamannya berinteraksi dengan PM Abhisit.

Klik gambar di atas untuk melihat versi aslinya di situs Wikipedia.

 

Teknologi Menjadi Trend di Dunia Politik

Mr. Abhisit Vejjajiva – Perdana Menteri Thailand

Pemimpin Muda, Pintar, Sederhana dan Imut-imut *)

*) Artikel ini ditulis berdasarkan kesempatan menjadi pendamping PM Thailand selama kunjungannya ke Indonesia, yaitu Jumat dan Sabtu 20- 21 Februari 2009.

Presiden SBY dan PM  Abhisit VejjajivaEmpat kata dalam judul artikel yaitu muda, pintar, sederhana dan imut-imut sepertinya kombinasi yang diidamkan kebanyakan peserta Pemilu 2009 Indonesia. Namun keempat kata tersebut adalah fakta yang melekat pada sosok Mr Abhisit Vejjajiva (Catatan: baca selayaknya nama Indonesia maka akan benar menurut kuping yang paham Bahasa Thai).

Muda karena sebagai Perdana Menteri yang terpilih secara demokratis dalam Pemilu Thailand dan dilantik pada bulan Desember 2008, Abhisit baru memasuki usia 44 tahun.

Pintar dapat disimpulkan dari latar belakang pendidikan dengan prestasi gemilang, misal: lulus S1 Program Studi Ploitik dan Ekonomi dari universitas papan atas yaitu Universitas Oxford, Inggris, dengan predikat First Class Honour yang dalam istilah yang lazim kita kenal adalah “Cum Laude“.

Malang melintang tidak kurang dari 17 tahun di dunia politik dan juga menjadi dosen luarbiasa di sekolah bergengsi di Thailand dan Inggris.

Sederhana yang merupakan keseharian baik ditinjau dari gaya penampilan dan busana serta tidak memerangkap diri dalam protokoler yang tradisional. Imut-imut ini dapat dilihat dari penampilannya yang tidak banyak berbeda dengan tampilan-tampilan di layar kaca atau foto di koran dan majalah.

Bahkan, seperti dilaporkan beberapa media cetak dan elektronik, Abhisit layak menyandang predikat favorit ibu-ibu (housewife’s favourite). Terbukti juga saat Abhisit menjadi rebutan kaum wanita untuk berkenalan, salaman dan berfoto di pertemuan dengan pers Indonesia dan komunitas Thai di Hotel Grand Hyatt dan kaum perempuan di Sekretariat ASEAN Jakarta.

Wartawan Gideon Rachman menulis di http://www.ft.com bahwa Abhisit ini bagaikan Barrack Obama-nya Thailand. Bukan dari perspektif sebagai kulit hitam pertama menduduki The White House melainkan dari ukuran popularitas, muda, techie dan pembaharu.

(Baca selanjutnya…)

No Comments | Tags: > 01/09 - Januari 2009, 4. Catatan Opini, 7. Laporan Kegiatan: