24 December 2008 - 13:21Sewaktu Muda, Tiga Bulan Pernah Tidak Diacuhkan Senior/Atasan…
Catatan Editor:
KK, sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi, terkenal memiliki perhatian tinggi terhadap kaum muda. Di setiap kesempatan yang muncul, KK kerap mengingatkan tentang pentingnya memberikan kesempatan berkembang bagi kaum muda. Rupanya, karakter ini muncul dari sejarah yang cukup panjang, dan diwariskan dari sikap seniornya di ITB. Berikut cukilan “Bentang Ego, Alunkan Simfoni”, buku semi-biografi KK yang dapat diunduh gratis di Makalah-Menteri.
Dari halaman 26 (versi cetak) atau halaman 6, versi elektronis:
Kalau Semasa Mahasiswa, Siapa Dosen yang Pak Kus Senangi?
Sejak di tingkat ketiga, saya sering berbicara dengan almarhum Liem Han Gie. Dan beliau ini salah seorang figur yang turut membentuk saya. Jadi, guru saya sejati di kampus hanya dua: Liem Han Gie dan Sasinadi Sasmojo.
Tetapi, saya bertemu Pak Sas baru belakangan. Ketika masih mahasiswa, saya banyak berdiskusi dengan Pak Liem Han Gie. Pada waktu itu, beliau bukan orang instrumentasi. Dia mengambilalih tugas pengembangan bidang instrumen ketika Pak Arifin Wardiman berangkat sekolah ke luar negeri.
Jadi sesudah lulus, saya bekerja di laboratorium di bawah arahan Pak Rachmad Mohamad. Tetapi saya merasa kurang sejalan dengan orientasi penelitan yang dikembangkan oleh Pak Rachmad. Saya cenderung berfokus pada permasalahan instrumentasi di dunia industri. Waktu itu saya sempat mengembangkan instrumentasi untuk penelitian geofisika. Di sini terdapat persoalan dalam menuntukan sensor, dan parameter-parameter ukur di geologi. Pada waktu itu, saya berkonsentrasi pada instrumentasi untuk mengukur kualitas batu bara. Jadi, setelah pemboran dilakukan, kita perlu tahu kondisi batu bara di bawah tanah.
Saya mulai mengenai Pak Saswinadi beberapa tahun setelah lulus, yaitu di 1982. Ketika itu, saya didatangi Pak Waluyo Lukmanto, yang merupakan stafnya Pak Saswinadi. Pak Saswinadi menjabat sebagai ketua Bapen ITB. Bapen itu Badan Perencanaan, dan sekarang disebut Direktorat Perencanaan.
Pak Waluyo bilang pada saya, “Pak Kus, saya perlu orang nih, untuk mengurusi data di ITB, supaya lebih benar.” Pak Waluyo merekrut saya untuk melakukan pengolahan data pendukung perencanaan. Saya diberitahu bahwa bos di situ adalah Saswinadi. Ruangannya terpisah. Selama tiga bulan saya bekerja di situ, Pak Sas beberapa kali lewat di depan kamar, tapi tidak pernah berkata apa-apa, sama sekali.
Suatu ketika, saya ditugaskan untuk menyusun model populasi mahasiswa ITB. Hasil kerjaan ini kemudian saya tuliskan, dan diserahkan ke Pak Sas. Lalu Pak Sas mendatangi kami dan bertanya, “Siapa yang membuat ini?” “Itu, anak belakang,” jawab seorang rekan kerja saya. “Panggil!” kata Pak Sas. Dan saya langsung didebat di situ oleh oleh Pak Sas. Di situlah awal perkenalan saya dengan Pak Sas.
Sejak itu, saya setiap hari dipanggil Pak Sas. Kemudian saya mulai diajari cara-cara melakukan perencanaan, dan arti penting perencanaan. Saya masuk ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan orang-orang dari disiplin-disiplin ilmu yang beragam. Dan dari sini, pemikiran saya mulai benar-benar terbuka lebar.
Saya makin menyadari bahwa yang menjadi persoalan bukan sekedar angka-angka dan bilangan-bilangan, tetapi juga ada “the social“, “the people“.
1 Comment | Tags: 9. Testimoni Tentang KK:
Deputi Bidang Wahana Teknologi Dirgantara, Agus Nuryanto dalam laporannya memaparkan produk dan program pengembangan roket Lapan. Agus Nuryanto juga mengatakan, Rancangan Pengorbit Satelit (RPS) yang diharapkan dapat diterbangkan pada 2014 terdiri dari 4 tingkat, salah satunya Roket RX-420.