1 August 2008 - 9:00Majukan Biofarmaka, Tindaklanjut KK ke IPB
Dari Harian Media Indonesia, 01 Agustus 2008
Lihat berita sebelumnya di Makalah-Menteri, sidang liputan pihak IPB mengenai kunjungan KK, dapat dilihat di sini.
Biofarmaka belum Berkembang
BOGOR (MI): Biofarmaka belum menjadi riset unggulan nasional. Padahal sektor biofarmaka memiliki potensi untuk menjadi industri yang berbasis kreativitas dan identitas bangsa Indonesia.
“Dari segi riset, biofarmaka belum termasuk unggulan riset nasional, buktinya belum ada riset unggulan strategis nasional (rusnas) bidang biofarmaka,” kata Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto di Bogor, Jawa Barat, Rabu (30/7).
Saat ini, Pusat Studi Biofarmaka IPB masih memfokuskan risetnya pada penyediaan bahan baku obat bahan alam yang berkualitas dan terstandar.
Selain itu, pusat studi itu juga menginventarisasi kekayaan etnofarmasi dan mengeksplorasi potensi sumber daya hayati di Indonesia.
Herry mengatakan kegiatan yang secara konsisten terus dilakukan adalah bioregionalisasi tanaman obat Indonesia yang meliputi pemetaan, kesesuaian lahan, kajian sosial budaya, serta kajian pasar.
Terkait hal itu, Pusat Studi Biofarmaka IPB juga menjalin kerja sama penelitian dengan institusi di luar negeri seperti Oxford Natural Product (ONP) Inggris, International Tropical Timber Organization (ITTO) yang berpusat di Jepang, Universitas Putra Malaysia (UPM), Universitas Yonsei, Korea Selatan, Universitas Gifu, Jepang, serta Universitas Cheng Du, Beijing University for Chinese Medicine dari China.
Pendampingan
Selain kegiatan kajian, Herry menjelaskan Pusat Studi Biofarmaka yang dibentuk pada 1998 tersebut juga melakukan pembinaan dan pendampingan kepada masyarakat.
Ia mencontohkan pendampingan petani temulawak di Kecamatan Tembalang dan Banyumanik, Semarang, Jawa Tengah sehingga produk mereka dapat memenuhi kualitas untuk diekspor ke Korea Selatan.
Di Kalimantan Timur, pembinaan dilakukan bagi petani sekitar hutan lindung Bukit Bangkiray dalam pemanfaatan hasil hutan nonkayu untuk obat dan makanan kesehatan secara berkesinambungan.
Dalam kunjungan kerja Menteri Riset dan Teknologi Kusyamanto Kadiman di kebun Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology (Seameo Biotrop), Selasa (29/7), Herry Suhardiyanto telah meminta kepada Menristek untuk segera merealisasikan Rusnas biofarmaka dan jamu.
“Apalagi mengingat arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Gelar Kebangkitan Jamu beberapa waktu lalu, bahwa jamu harus terus dikembangkan karena memiliki potensi menjadi industri berbasis kreativitas dan menjadi identitas bangsa,” katanya.
Tetapi ia menambahkan bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan riset dan promosi yang terarah dan berkesinambungan.
Sebelumnya, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menargetkan pada 2010, seluruh herbal Indonesia telah berstandar. Pada tahun itu, penyediaan bahan, proses, formulasi, hingga menjadi produk herbal sudah harus dipatenkan.
Hal itu dikatakan Bambang Srijanto Kepala Bidang Teknologi Bahan Baku Farmasi Kedeputian Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, kemarin. “Herbal berstandar itu artinya herbal itu sudah melalui uji pada binatang. Kami sudah melakukan uji herbal berstandar sejak 2007, dan nantinya pada 2010 seluruh herbal sudah berstandar,” jelasnya di Serpong, Tangerang, beberapa bulan lalu.
BPPT optimistis target itu akan tercapai. Alasannya, BPPT telah memiliki laboratorium pengembangan teknologi industri agro dan biomedika, dan telah mendapatkan akreditasi nasional.(Ant/Nda/H-2)
No Comments | Tags: > 07/08 - Juli 2008, > Energi, Pertanian/Pangan, Transportasi, > Hankam, Informasi & Komunikasi, Kesehatan, 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 8. Kliping