31 July 2008 - 9:30Era Renaissance Indonesia, Solusi Riil Jati Diri Kita

  • Opini Kusmayanto KadimanCatatan Editor:

    Di tengah dekonstruksi peta kekuatan dunia, saat ini Indonesia masih sibuk mencari jatidiri. Dalam diskusi sosial politik, tempat untuk Iptek boleh dikatakan muskil disebut sebagai solusi pembentukan karakter negara yang punya cita-cita muara amat besar ini.

    Padahal, Iptek bukan sekedar produk yang dibeli di toko, atau sekedar dikagumi di televisi. Iptek bukan konsep mengawang, milik para akademikus yang sering dirupakan sebagai titisan Albert Einstein.

    Iptek adalah lambang keterpaduan logika suatu bangsa untuk bisa selamat, melewati dinamika zaman. Iptek perlu kekuatan sosial, kepercayaan pada kesamaan hak dan kedudukan. Tidak ada bangsa yang kuat secara ekonomi, tanpa memiliki sektor Iptek yang kuat pula. Mengherankan memang, mengapa ekonom kita jarang bicara tentang pentingnya Iptek.

    Tentu saja, KK tidak mempercayai seluruh konsep pengaruh Iptek dan masyarakat dari pergumulan teoritis saja. Pengalaman beliau sebagai Akademisi di Institut Teknologi Bandung, telah  mengantarkannya untuk berpikir di luar dinding sempit kampus. Berangkat dari pengalaman riilnya, KK percaya bahwa Era Renaissance Indonesia, yang bercirikan kepercayaan kepada jatidiri lengkap setiap individu warga negara, bisa hadir di Indonesia nan lebih dewasa.

    Berikut disampaikan ide beliau tentang Era Renaissance di Indonesia, yang pernah dituturkan dalam sidang Senat Perguruan Tinggi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya (lihat beritanya di sini; versi pdf naskah “Menemukan Renaissance di Indonesia” pula dapat didownload di sini):

    ===

    Menemukan Renaissance di Indonesia

    Yang saya muliakan, segenap civitas akademika, Ibu dan Bapak anggota Senat Akademik Institut Teknologi Surabaya,

    Assalamualaikum Wr. Wb.,

    Sungguh merupakan kehormatan bagi saya mendapatkan kesempatan berada di tengah- tengah Ibu dan Bapak sekalian, dalam momen yang bersejarah ini. Hari ini, institusi
    teknologi yang Ibu/Bapak tegakkan dan kembangkan telah mendekati setengah abad usia perjuangannya. Saya bersyukur ke Hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, bahwa bangsa kita masih memiliki institusi terhormat seperti ini, yang merupakan tumpuan harapan bangsa untuk mampu memilih dan menentukan masa depan.

    Hadirin yang saya muliakan,

    Dalam kesempatan yang berbahagia ini, izinkan saya, untuk tidak mengangkat konsep-konsep atau metoda-metoda. Izinkan saya untuk berbagi kepedulian dan harapan.
    Kita, sesama insan-insan Iptek, percaya dan meyakini bahwa Iptek itu bernilai tinggi,
    bahwa ilmu pengetahuan itu luhur, dan teknologi itu lambang kemajuan. Kita meyakini bahwa Iptek berperanan sangat penting dalam memajukan kehidupan bangsa, di berbagai aspeknya. Tetapi, kalau kita tengok mimbar-mimbar kampanye tempat perjuangan saudara-saudara kita dari partai-partai politik, kita akan temukan bahwa di sana Iptek tidak mendapat tempat. Ketika partai-partai itu berlomba-lomba menawarkan program-program, sektor ekonomi, politik, dan hukum menjadi primadona.

    Mengenai posisi Agama, ini sudah lama menjadi identitas bagi sebagian partai politik. Program-program pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah, sudah ditawarkan sebagai bagian dari persaingan antar partai. Belakangan ini, isu lingkungan dan jender juga sudah masuk ke mimbar-mimbar kampanye. Tetapi Iptek tetap belum. Apa yang sebenarnya terjadi?
    (Baca selanjutnya…)

    No Comments | Tags: 4. Catatan Opini

    30 July 2008 - 6:30Indonesia’s Own Technology Promoted by BIC!

  • Dari Harian The Jakarta Post, Jakarta March 14, 2008

    Center to boost enterpreneurship

    A new government-funded center that will tailor state research to the business community for free was opened by State Minister for Research and Technology Kusmayanto Kadiman on Thursday.

    The Business Innovation Centre (BIC) will link researchers with the business community, Kusmayanto said.

    “The BIC will promote research to the business community,” he said.

    “Retrieving the research is free because it is funded by the government, and it is only deemed useful if the results have commercial potential,” he said, adding his ministry was also open to businesspeople interested in accessing the research.

    Kusmayanto also expects the BIC to foster cooperation between academics, entrepreneurs and the government.

    A main aim of the BIC will be to provide a supply and demand map for state research centers, in order to help researchers meet the needs of the business community.

    Analysts said research projects conducted by government agencies often ended up in their internal libraries instead of in the hands of entrepreneurs.

    The lack of promotion of research papers and bureacratic difficulties in retrieving them are to blame, they said.

    The deputy state minister for the utilization and dissemination of science and technology, Idwan Suhardi, said the government had been prioritizing research and innovation in energy, transportation, defense, health and information technology.

    Indian innovation expert TVG Krishnamurthy suggested local innovators think globally and widen their view.

    “Act locally, but do not limit your view. We should figure out what the company can do globally. Today, capital chases innovation. Customers are the key. Products should be modified to meet their demands,” he said. (uwi)

    No Comments | Tags: > Dalam Bahasa Inggris (In English), 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 8. Kliping

    29 July 2008 - 16:00Kesiapan “Bisnis” IPB

  • Bogor, 29 Juli 2008

    Dalam rangka meninjau dan meluncurkan produk unggulan Institut Pertanian Bogor (IPB), KK hari ini melakukan kunjungan kerja ke kampus IPB.

    Dalam diskusinya dengan para peneliti dan mitra terkait, KK antara lain menyampaikan bahwa sebuah riset akan dinilai berhasil bila dapat memenuhi 3 indikator keberhasilan, yaitu makala hasilriset yang dilakukan dapat:

    1. Berkontribusi kepada sektor akademik;

    2. Mendukung dan berkontribusi pada sektor ekonomi;

    3. Berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat.

    Pada acara kunjungan kerja ini KK didampingi oleh Rektor IPB Herry Suhardiyanto antara lain mengunjungi Kebun Percobaan Pusat Kajian Buah-buahan Tropika (PKBT) untuk melihat berbagai hasil dan produk yang telah dicapai dan juga mengunjungi Laboratorium Kultur Jaringan (BRMC) meninjau berbagai kultivar yang sedang dibuat melalui teknik kultur jaringan.

    Dihadapan KK, peneliti IPB mempresentasikan hasil riset unggulan yang berasal dari kegiatan penelitian yang dihasilkan oleh Riset Unggulan Nasional Buah, Pangan dan Kelapa sawit, serta hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti IPB. (Humasristek)

    No Comments | Tags: > 07/08 - Juli 2008, > Energi, Pertanian/Pangan, Transportasi, 2. Ide dalam ABG (Akademisi-Bisnis-Govt/Pemerintah), 6. Topik - 6 (Enam) Bidang Fokus:, 7. Laporan Kegiatan: