14 October 2009 - 9:08The Oasis
Artikel Menegristek di Kompasiana - 11 Oktober 2009
Seperti tercantum dalam kolom asal-usul Kompasiana, kita pahami bagaimana nama Kompasiana dilestarikan sejak awal digagas oleh insan legendaries dalam dunia jurnalistik Indonesia, PK Ojong sampai adopsi nama untuk the journalist-blog Kompasiana.
Kontribusi artikel, penyampaian komentar, masukan sampai kritik terus mengalir dan memperkaya Kompasiana, mulai dari berita plus foto a la raporteur sampai pada penyampaian pemikiran-pemikiran yang provokatif (thought provoking). Tentu yang dimaksud dengan pemikiran provokatif adalah yang bernuansa posistif mengingat tanpa kesengajaan dalam tata bahasa Indonesia dan kebiasaan keseharian kita, provokasi lebih sering berkonotasi negatif ketimbang ditengok sebagai ide pembakar semangat dan pemompa adrenalin.
Walaupun belum lagi berumur satu tahun Kompasiana yang memiliki spektrum luas –Dari Berita Sampai Thought Provoking telah mulai memposisikan diri sebagai komplemen dari Kompas.com Dalam tumbuh kembangnya, deras mengalir ide segar, masukan penyempurna sampai kritik. Salah satu kritik adalah tudingan diskriminasi, yaitu sejumlah penulis internal Kompas, selebriti dan tamu undangan dapat melenggang bebas menyampaikan tulisannya tanpa memerlukan moderasi. Sementara itu banyak penulis yang musti antri agar tulisannya dinyatakan laik untuk dimuat (posted).
Artikel ini mengupas Kompasiana dari dua sudut pandang. Pertama, mengulas tatakrama komunikasi tulis baik dalam menyampaikan naskah tulisan, memberi komentar sampai menyampaikan kritik, apapun jenis kritik itu baik yang bernuansa membangun sampai sekedar kritik pelampiasan uneg-uneg. Bagian yang kedua adalah menengok sosok Kompasiana dan potensinya tumbuh sebagai “koran” komunitas bahkan sebagai oasis pengetahuan. Sengaja koran dikurung oleh dua tanda petik untuk memberikan perbedaan dengan definisi koran klasik yang kita kenal dimana selalu terdapat berbagai keterbatasan, seperti ruang, nilai luhur dan misi perjuangan koran tersebut.
Tatakrama Komunikasi Tulis
Dari pengalaman mengikuti berbagai daftar surat elektronik (email list) atau milis kita menyebutnya secara popular, banyak hal yang bikin kesal karena ketidak acuhan pengirim milis, diantaranya:
a. Tidak mengindahkan kaitan subyek milis dengan isi. Setiap pembaca milis pasti membuka dan membaca milis karena tertarik dengan subyeknya. Begitu menemukan bahwa isi milis berbeda dengan subyek maka sering muncul rasa kecewa bahkan bisa berakhir dengan umpatan sebagai luapan perasaan kesal.
b. Tidak rajin dan disiplin membuang bagian dari isi milis yang tidak lagi diperlukan dan tidak lagi sesuai dengan tema yang sedang dibahas dan didiskusikan. Akibatnya ukuran elektronik (eg. byte) menggelembung dan tentu berdampak negatif pada laju pengiriman perangkat internet dan pengurasan kemampuan, khususnya daya simpan (memory) komputer — server dan penerima. Kecil barangkali artinya bagi perorangan namun bagi organisasi yang mengedepankan efisiensi, tingkat nasional dan world-wide ini pemborosan yang musti dihindari.
c. Tidak mementingkan tata-krama, sopan santun dan nilai luhur serta budi pekerti dalam berkomunikasi di milis. Memang adalah fakta bahwa protokol komunikasi yang digunakan di masing-masing generasi berbeda satu dengan yang lain. Gen-Y/Millenial atau ABG sering menggunakan kalimat-kalimat yang tidak mengikuti tata bahasa baku, menyingkat kata dan tidak sungkan melakukan adopsi kata-kata dari bahasa asing walaupun terdengar janggal di kuping. Di ekstrim yang lain, Generasi Uban (Silver Generation) sangat patuh pada kaidah berkomunikasi tulis. Dua generasi yang usianya diatara Generasi Uban dan ABG, yaitu Baby Boomers dan Gen-X berada diantara kedua ekstrim dalam berkomunikasi. Namun demikian fakta perbedaan protokol ini tidak harus menghalalkan terjadinya dekadensi kesantunan bersilaturahmi.
Faktor-faktor yang berpotensi merugikan diatas yang kemudian menjadikan beberapa milis tetap memerlukan moderasi - manual ataupun moderator elektronik. Bukan hanya untuk meloloskan tema-tema yang sejalan dengan semangat milis, juga untuk filtrasi ketidaksenonohan dalam bersilaturahmi. Walaupun secara umum moderasi ini belum sepenuhnya sejalan dengan spirit kebebasan mengungkapkan pendapat.
Kejadian-kejadian di milis ini yang saya percaya menjadi alasan Pengelola Kompasiana melakukan pengelompokan yang juga dituding sebagai aksi diskriminasi pada para penulis. Ada yang tanpa moderasi bisa langsung kirim dan pampangkan tulisan dan komentar serta kritiknya dan ada pula yang musti melalui proses filtrasi. Pahit tapi ini realitas dengan dalih demi kebaikan dan kesinambungan.
Pendidikan formal dan ekskul adalah cara efektif namun ini langkah panjang dan berliku untuk sampai pada tujuan, yaitu berkomunikasi tulis dengan santun. Cara lain yang efisien adalah menerapkan kiat praktis, yaitu :
Mari baca ulang dan pikir lagi manfaat dan risikonya sebelum mengirim !
Oasis Pengetahuan dan Pembelajaran Publik
Oasis dikenal sebagai tempat yang memiliki sumber air baik berupa sumur maupun telaga bahkan karena keberadaan sumber air akan menjadi juga sumber kehidupan bagi flora dan fauna disekitar oasis. Di padang pasir, oasis menjadi tempat pertemuan kaum pengembara baik untuk sekedar istirahat dari perjalanan jauh, melepas dahaga serta mengisi perut sampai pada transaksi perdagangan. Keberadaan oasis sangat strategis bagi flora, fauna dan kehidupan manusia.
Bila kita tilik Kompasiana sejak kemunculannya hampir setahun lalu, maka banyak kemiripan Kompasiana dengan oasis. Tentu dalam dimensi yang berbeda. Data, informasi sampai pengetahuan yang tersedia terus bertambah. Dalam era informasi sekarang ini kita percaya bahwa pengetahuan (knowledge) walau berwujud tak-benda telah menjadi kekuatan utama dalam upaya mewujudkan cita-cita Proklamator RI yaitu kesejahteraan rakyat. Tulisan-tulisan di Kompasiana menjadi oasis pelepas dahaga pengetahuan dan wujud pembelajaran publik yang efektif.
Kompasiana berpotensi menjadi sumber kehidupan khususnya jika dilihat dari mulai bermunculannya iklan prmosi baik yang kasad mata maupun terselubung. Ini pertumbuhan positif sebagai komplemen dari sumber-sumber lain yang menghidupi dan menjadi penjamin keberlanjutan Kelompok Usaha Kompas. Walaupun terlalu dini untuk loncat pada kesimpulan bahwa Kompasiana dan Kompas.com menjadi kereta kembar penghela pertumbuhan yang berkesinambungan. Waktu akan membuktikannya.
Selain isi dari tulisan, liputan, komentar, masukan dan kritik yang termuat dalam Kompasiana, banyak kiat berkomunikasi tulis yang terkandung disitu. Kompasiana berpotensi menjadi agen efektif dalam pembelajaran publik. Misalnya:
a. Untuk menengok contoh realisasi penggunaan kata-kata dan menyusun kalimat sesuai tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.
b. Tata cara menyitir dan mengacu pada sumber tulisan lain yang menghindarkan kita dari tudingan plagiat.
c. Mengungkapkan luapan emosi secara santun dalam tulisan yang enak dibaca.
d. Cara elegan melakukan promosi dan penyampaian ide sampai pemikiran provokatif.
e. Melakukan perjuangan moral dan menyampaikan kritik sosial (softpower).
Sebagai penutup, mari kita simak pepatah kuno dalam Bahasa latin:
Vox audita perit, littera scripta manent.
Kata yang diucapkan mudah hilang terbawa angin, kata tertulis akan langgeng.
Diambil dari http://kusmayantokadiman.kompasiana.com - 11 Oktober 2009
No Comments | Tags: 7. Laporan Kegiatan: