 Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan yang penting bagi perekonomian Indonesia. Saat ini Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produksi CPO tahun 2008 mencapai 19.20 juta ton dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 7 juta hektar (Dirjen Bun, 2009). Devisa yang diperoleh dari ekspor minyak kelapa sawit dan turunannya pada tahun 2008 mencapai US$ 12.4 milyar.
Untuk lebih meningkatkan peran Mayarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia (MAKSI) ke depan, MAKSI telah melakukan kerja sama dengan beberapa instansi pemerintah seperti Kementerian Negara Riset dan Teknologi (KNRT), Departemen Pertanian dan Departemen Pendidikan Nasional. Hal tersebut disampaikan Ketua MAKSI, Tien R Muchtadi pada audiensi Pengurus MAKSI dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Mennegristek) Suharna Surapranata, di Ruang Rapat KNRT Lantai 23, pada 16 November 2009. Hadir mendampingi Mennegristek, Staf ahli Menteri Bidang Pangan dan Kesehatan Liestyani Wjayanti, Amin Soebandrio Deputi Bidang Pengembangan Sipteknas dan jajarannya.
Menurut Tien R Muchtadi, kerja sama MAKSI dengan KNRT melalui Program Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) telah menghasilkan beberapa hasil riset yaitu: 1) Tanaman sawit tahan ganoderma, 2) Deteksi dini abnormalitas tanaman sawit dan 3) Kendali asam lemak tidak jenuh tunggal (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak tidak jenuh ganda (PUFA = Poly Unsaturated Fatty Acid). Sedangkan dengan Departemen Pertanian telah dilakukan pemetaan perkelapa-sawitan nasional agar kerja sama interdep dapat berjalan.
Tien R Muchtadi juga menjelaskan bahwa tantangan ke depan MAKSI antara lain adalah menjawab isue bahwa pembukaan lahan kelapa sawit baru ikut mempengaruhi global warming dan tersisihnya habitat orang utan; meningkatkan potensi dan prospektif tanaman sawit karoten tinggi; dan mendirikan lembaga nasional sertifikasi kelapa sawit.
Pada kesempatan yang sama, Tien R Muchtadi juga menyampaikan bahwa MAKSI akan menyelenggarakan Seminar Tahunan yang bertema “Dukungan Penelitian dan Pengembangan dalam Peningkatan Daya Saing Industri Sawit Indonesia”. Seminar ini akan diselenggarakan pada 24 dan 25 November 2009 di IPB International Convention Center, Bogor. Di dalam seminar ini akan dibahas mengenai penelitian dan pengembangan baik di sektor hulu, hilir, kesehatan dan lingkungan.
Seminar ini akan menggelar insentif publikasi sebesar 5 juta rupiah per paper bagi 32 paper yang dinilai layak oleh reviewer untuk publikasi baik di tingkat regional maupun internasional. Insentif ditujukan sebagai bantuan persiapan manuskrip ke dalam bahasa Inggris. Seminar ini direncanakan akan dibuka secara resmi oleh Dirjen Dikti dan dilanjutkan dengan keynote speech dari Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata dan Menteri Pertanian pun direncanakan akan memberi sambutan kunci pada hari ke dua. Akan hadir pula pada acara ini, pejabat dan pegiat sawit yang akan menjadi pembicara dalam sidang pleno dari UPM Malaysia, DMSI, GAPKI dan CIFOR. Sedangkan Dalam sidang paralel akan digelar paparan hasil kegiatan Rusnas Industri Kelapa Sawit KNRT.
Dalam arahannya Mennegristek mengharapkan agar MAKSI dapat memikirkan pula pemanfaatan limbah padat kelapa sawit untuk penunjang energi alternatif. “masalah utama adalah perlunya intermediasi antara peneliti dan industri sehingga hasil penelitian yang ada dapat terserap oleh industri dengan baik”. Ujar Mennegristek mengakhiri arahannya. (humasristek)
[Galeri Foto] |