Memanen Listrik dari Gunung Api
Friday, October 14, 2011

Pipa-pipa raksasa berjalinan. Sebagian menghunjam dalam perut Gunung Sibayak, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Asap putih mengepul bersamaan dengan listrik yang terpompa keluar tanpa henti.

Jika gunung api di Indonesia identik letusan dan bencana, Sibayak merupakan pengecualian. Gunung berketinggian 2.172 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan sedikit dari gunung api di Indonesia yang telah menjadi ladang listrik bersumber energi panas bumi.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sibayak di Desa Semangat Gunung dan Desa Doulu itu telah menghasilkan listrik berkapasitas 10 megawatt (MW) dan masih berpotensi dimaksimalkan hingga 40 MW.

Sumur panas bumi tersebut dikelola PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). ”Kami bertanggung jawab mengusahakan panas bumi hingga permukaan, sedangkan PT Dizamatra Powerindo yang membangkitkannya menjadi listrik dan menjualnya ke PLN,” kata Sapto Trianggo Nurseto, ahli geosains dari PT Pertamina Geothermal Energy AG Sibayak, saat ditemui di PLTP Sibayak.

Menurut Sapto, prinsip kerja panas bumi mirip dengan memasak air dalam ceret. Dibutuhkan kompor untuk memanaskan ceret agar air di dalamnya mendidih dan memproduksi uap. Uap itulah, dengan suhu dan tekanan tertentu, akan menembus lubang kecil penutup ceret. Dalam perumpamaan ini, kompor adalah batuan panas, lapisan air merupakan reservoir air di bawah batuan, tutup ceret adalah batuan penudung yang menjebak uap air, sedangkan lubang tutup ceret adalah sumur yang harus dibor.

Salah satu isyarat di daerah tersebut memiliki potensi panas bumi adalah keberadaan semburan uap panas (fumarol) dan sumber mata air panas. Tak semua jalur gunung api bisa dibor untuk panas bumi. ”Harus ada syarat batuan panas, reservoir air, dan batuan penudung,” kata Sapto. Dan Gunung Sibayak memiliki semua syarat itu.

Proses pembentukan

Dibelit Cincin Api Pasifik dan diimpit tumbukan tiga lempeng benua yang hiperaktif (Pasifik, Eruro-Asia, dan Indo-Australia), Indonesia memiliki 129 gunung api atau sekitar 30 persen dari total gunung api dunia. Tumbukan lempeng juga membentuk zona subduksi yang panjang, mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, sampai ke Kepulauan Maluku. Di Sumatera, fenomena itu mengakibatkan terbentuknya suatu patahan geser besar (transform fault) yang disebut Zona Patahan Besar Sumatera.

Selama ini, gunung-gunung api dan zona patahan ini lebih merupakan sumber bencana. Padahal, selain limpahan abu vulkanik yang menyuburkan tanah, gunung api dan zona patahan juga menjadi ladang bagi energi panas bumi. ”Zona patahan berpotensi bagi terbentuknya tungku pemanas alami di dalam bumi,” papar Sapto.

Indonesia memiliki potensi panas bumi 40 persen dari cadangan dunia atau mencapai 28.000 MW. Potensi ini merupakan yang terbesar di dunia. Perkiraan itu dari perhitungan setelah mengebor sekitar 244 sumur energi panas bumi dari Aceh sampai Irian Jaya. Namun, potensi itu baru dimanfaatkan sekitar 1.332 MW (4,7 persen dari potensi yang ada), yang menempatkan Indonesia di bawah Filipina (2.000 MW) dan Amerika Serikat (2.700 MW).

Padahal, jika dioptimalkan, Indonesia bisa menjadi negara superpower energi. Tak kurang dari penerima Nobel Perdamian 2007, Al Gore yang mengemukakan hal itu. ”Indonesia bisa menjadi negara superpower energi listrik panas bumi yang memberi manfaat ekonomi bagi Indonesia,” kata Al Gore, dalam pembukaan ”The Climate Project Asia Pacific Summit”, di Balai Sidang Senayan, Jakarta, awal tahun lalu.

Menanggapi pernyataan Al Gore, mantan Kepala Direktorat Vulkanologi dan Geotermal Dirjen Geologi Sumber Daya Mineral Subroto Modjo bersemangat, tetapi kemudian tertawa. ”Betul, enggak salah. Tetapi sepanjang menyangkut potensi yang kita miliki. Kalau menyangkut yang dimanfaatkan, kita jadi malu ha-ha,” katanya.

Subroto adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas pengembangan energi panas bumi pertama kali di Indonesia, yang aktif pada rentang 1974-1988. PLTP pertama kali diresmikan pada tahun 1983 di Kamojang dengan kapasitas terpasang 30 MW.

Indonesia termasuk telat menseriusi energi panas bumi. ”Kita baru merasa perlu mengembangkan panas bumi setelah terinspirasi Selandia Baru yang berhasil dengan panas bumi mereka,” katanya.

Dengan potensi yang ada, ungkapan Al Gore sebenarnya bukanlah isapan jempol. Namun, hingga kini, komentar itu hanya menjadi sindiran, dari kebijakan Indonesia yang lebih memilih mengeruk energi hitam batubara yang masih menjadi primadona.

Volume batubara yang dibakar pada semester I-2011 naik 12 persen dibandingkan dengan semester I-2010. Kini, bauran energi PT PLN pada semester I-2011 adalah batubara (43 persen), bahan bakar minyak (24 persen), gas (21 persen), air (7 persen), dan panas bumi hanya 5 persen.

Belakangan, energi nuklir malah kian dilirik. Ketika Jepang, negara terbaik dalam pengelolaan nuklir, ”menyerah” dengan nuklir dan mematok target agar tahun 2030 semua rumah tangga memanen energi matahari, Indonesia justru mematok target pembangkit tenaga nuklir.

Energi bersih

Berbeda dengan pembangkit lain, PLTP relatif bersih dari emisi dan bisa diperbarui. Gas- gas beracun tetap ada, tetapi dengan konsentrasi yang aman.

Sumber daya untuk mempertahankan PLTP yakni batuan panas dan cadangan air relatif terbarui. Untuk batuan panas, tak diragukan lagi ketersediaannya sepanjang tahun oleh alam. Adapun cadangan air terpelihara karena uap air yang telah dimanfaatkan menggerakkan turbin, kembali menjadi air dan dapat diinjeksi kembali ke dalam bumi.

”Jadi ini sebuah siklus,” kata Sapto. Ketika sudah berhasil memanen, seterusnya bisa dimanfaatkan tanpa harus membeli bahan bakar lagi karena bahan bakar disediakan alam.

Sapto menambahkan, secara keteknikan tidak ada kendala dalam mengeksplorasi potensi panas bumi di Indonesia. Nilai investasinya, yaitu sekitar 7 juta dollar AS, juga masih dinilai menguntungkan. ”Berbeda dengan minyak yang cadangannya terbatas dan bisa habis. Untuk panas bumi cadangannya nyaris tak terbatas,” kata dia.

Sejauh ini, menurut Sapto, banyak investor asing yang tertarik untuk mengeksplorasi energi panas bumi di Indonesia, utamanya Jepang. ”Yang menjadi kendala adalah perizinan. Pasalnya, sebagian besar potensi panas bumi kita tumpang-tindih dengan kawasan hutan,” kata dia.

Butuh keberpihakan untuk mengoptimalkan energi panas bumi Indonesia agar gejolak geologi yang hiperaktif di bawah bumi kita tidak hanya mengirim petaka, tetapi juga kemakmuran kepada rakyatnya. (Kompas, 14 Oktober 2011/ humasristek)