Membangun Bangsa Berbasis Pengetahuan
Selasa 30 November 2010

Deni Shidqi Khaerudini
Peneliti muda di Puslit Fisika LIPI

Pembangunan bertujuan meningkatkan kemajuan bangsa melalui peningkatan kualitas hidup masyarakat. Penelitian dilakukan untuk mendapat kebenaran tentang sesuatu yang belum diketahui dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Kedua konsep tersebut dapat saling berhubungan. Pembangunan berjalan sesuai dengan apa yang dicita-citakan jika ditunjang dengan penelitian yang bermutu. Hanya saja, komitmen bangsa dan dunia industri terhadap hasil penelitian (peneliti) masih sangat rendah.

Dukungan industri
Untuk mencapai hasil maksimal di bidang riset, penataan lembaga riset juga perlu dilakukan dengan melibatkan sektor swasta. Industri dapat berperan dalam mendorong peningkatan riset aplikatif. Hal tersebut berpengaruh dalam pembangunan ekonomi agar tidak hanya berfokus pada sumber daya alam mentah, tapi juga diarahkan ke pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan melalui sentuhan perekayasaan/ teknologi. Bahkan bila perlu, pemerintah memberikan tindakan tegas kepada pihak industri yang hanya mengekspor produk mentah, sebagai bukti langkah mendorong proses pertambahan nilai dan motor penggerak dalam demand teknologi, khususnya teknologi karya anak bangsa.

Kalau kita simak berbagai indikator kemampuan inovasi suatu negara, daya serap teknologi di level industri di Indonesia (dengan indeks 4,5) lebih rendah daripada beberapa negara tetangga seperti Thailand (5,3), Malaysia (5,8), dan Singapura (6). Begitu juga kolaborasi litbang dan industri pada 2006 di Indonesia (dengan indeks 2,8) lebih rendah jika dibandingkan dengan China (3,9), Thailand (4,2), dan Malaysia (4,9) (sumber: World Bank). Memang banyak kendala dihadapi untuk membangun kolaborasi antara lembaga riset dan industri.

Salah satunya perbedaan kepentingan/sudut pandang antara pelaku riset dan pelaku usaha. Produk riset lahir dari lingkungan/budaya yang lebih fleksibel dan masih memungkinkan adanya toleransi. Sementara sektor produksi lebih mengedepankan pentingnya nilai tambah. Selain itu, kecilnya daya serap industri yaitu lamanya waktu riset sehingga layak diterapkan, antara 5 dan 20 tahun. Lamanya waktu dan besarnya biaya riset membuat industri memilih membeli lisensi produk asing. Riset sampai saat ini masih dianggap sebagai temuan ilmiah. Padahal bangsa kita memiliki potensi sumber daya alam melimpah, berpotensi untuk tumbuh dan mengembangkan inovasi. Dengan jumlah populasi yang lebih dari 220 juta, negara ini merupakan pasar yang besar bagi produk-produk inovasi.

Dalam kegiatan peningkatan kemampuan inovasi, kemitraan dunia industri-lembaga riset berdasarkan PP 35/2007 yaitu (1) lisensi (paten), berdasarkan perjanjian dalam jangka waktu/ syarat tertentu; (2) kerja sama, mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan sinergis; dan (3) pelayanan jasa iptek. Meskipun telah ada payung hukum kemitraan dunia industri-lembaga riset, bahkan adanya reward berupa insentif fiskal dan nonfiskal, tetap saja kenyataannya sampai saat ini tingkat keengganan atau keterlibatan dunia industri di Indonesia terhadap hasil riset dipandang masih sangat rendah. Padahal penggunaan teknologi lokal juga merupakan bagian dari nation branding atau pembentukan citra Indonesia di mata dunia internasional.

Dukungan pemerintah
Salah satu pilar pokok menuju bangsa yang mandiri adalah riset. Kemajuan yang dicapai sejumlah negara di Asia seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang tak lepas dari peran pemerintah memajukan dunia riset. Anggaran riset di sejumlah departemen, kementerian, dan lembaga riset negara masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan perkembangan problem kehidupan dan tuntutan inovasi teknologi. Pada 2008, anggaran riset Indonesia hanya 0,07% dari produk domestik bruto (PDB). Anggaran riset Thailand mencapai empat kali, dan Jepang 45 kali, lebih banyak daripada Indonesia.

Sementara itu dana riset ideal di Indonesia seharusnya minimal 0,7%-1% dari PDB. Data yang ada menunjukkan anggaran riset di KNRT dan LPND pada 2009 hanya sebesar 0,3% dari APBN atau 0,04% dari PDB.

Tolok ukur pembangunan bangsa juga dapat dilihat dari berapa jumlah peneliti di negara tersebut. Para peneliti merupakan kelompok elite masyarakat dalam segi pendidikan dan intelektualitas, umumnya berpendidikan sarjana sampai doktor, berjumlah kurang dari 5% total penduduk Indonesia. Komunitas peneliti memberikan kontribusi melalui beragam terobosan baru kaya akan inovasi dan nilai-nilai intelektual.

Keberadaan peneliti di Indonesia sampai saat ini dianggap masih belum menjadi sumber daya manusia penting untuk memajukan bangsa. Ditandai dengan tingkat kesejahteraan peneliti yang masih sangat rendah bahkan bila dibandingkan dengan koleganya, guru dan dosen.

Secara relatif, tunjangan fungsional peneliti di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan tanggung jawab dan beban tugasnya sebagai tenaga ahli di bidangnya.

Melihat ke negeri jiran
Belakangan ini dengan banyaknya pemberitaan di media tentang hubungan yang kurang harmonis dengan Malaysia, profesi peneliti pun 'terbawa-bawa' terhadap permasalahan dalam negeri peneliti di Indonesia. Seperti pemaparan dalam koran ini sebelumnya, 'Nasib Peneliti di Ujung Tanduk' yang menyinggung perbandingan gaji profesor riset yang sudah mengabdi 38 tahun dengan profesor di universitas yang perbedaannya hampir lebih dari separuh. Bahkan akan lebih jauh lagi bila  dibandingkan dengan gaji periset di negeri jiran, hanya kurang dari sepersepuluh dari gaji periset Malaysia.

Sebagai indikasi produktivitas di bidang riset, jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional hasil karya ilmuwan Indonesia selama 10 tahun dari 1992 sampai 2002 adalah sebanyak 2.948 paper. Jumlah ini jauh di bawah Malaysia yang mencapai 10.674, dan hanya terpaut sedikit dengan satu, Universitas Malaya (UM), Malaysia.

Rekomendasi
Penghargaan kepada peneliti diharapkan dapat memotivasi peneliti untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah hasil riset yang inovatif. Sehingga menjadi penyeimbang antara upaya peningkatan kesejahteraan peneliti dan menjaga agar riset yang dilakukan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat/industri. Peneliti ideal tentunya adalah peneliti yang sejahtera dan berprestasi.

Selain itu, peranan anggaran riset yang ideal juga sangat krusial dalam memacu para peneliti untuk lebih menghasilkan karya ilmiah yang berguna. Salah satu tolok ukur kemajuan bangsa yakni banyaknya penemuan/inovasi yang dihasilkan. Minimnya dana riset di Indonesia memang sangat memprihatinkan.

Namun, di luar persoalan kurangnya anggaran, untuk mencapai hasil maksimal di bidang riset, penataan lembaga riset juga perlu dilakukan dengan melibatkan sektor swasta agar riset dapat lebih dimanfaatkan. Dengan tumbuh budaya inovatif dan inventif, kita berharap dan bercita-cita akan menjadi bangsa yang makmur, bermartabat, serta diperhitungkan bangsa-bangsa lain. Tidak lagi menjadi kuli bangsa-bangsa di antara bangsa-bangsa. Tidak lagi menjadi bangsa pencari upah belaka dan juga tidak lagi sebagai bangsa pemakan upah di antara bangsa-bangsa. Semoga riset anak bangsa akan mampu mengangkat harkat bangsa ke arah yang lebih baik dalam membangun bangsa berbasis pengetahuan. (Media Indonesia, 30 November 2010/ humasristek)