Ristek Headline |
Sabtu 20 September 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 16 September 2014
Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Eselon I

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


ARTIKEL IPTEK
Senin 23 Maret 2009
Air Untuk Pertanian
Print PDF Facebook Twitter Email
Oleh Benyamin Lakitan
Sekretaris Menteri Negara Riset dan Teknologi

Sementara dunia, sedang menggelar perhelatan akbar  The  Fifth World Water Forum di Istanbul, Turki, sejak 16 Maret 2009 dan berakhir tepat pada Hari Air Dunia tanggal 22 Maret 2009, yang membahas berbagai isu dunia tentang air, pencemaran sungai dan degradasi daerah aliran sungai (DAS) merupakan masalah lingkungan yang serius dan nyata di depan mata kita.

Menurut Menteri Kehutanan, 282 dari 458 daerah aliran sungai (DAS) saat ini berada dalam kondisi kritis. Survei yang dilakukan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup terhadap 33 sungai di 30 provinsi juga menunjukkan bahwa sebagian besar sungai telah mengalami pencemaran pada tingkat sedang sampai berat.
Profesor Emil Salim menyatakan bahwa   masalah   lingkungan ini terjadi antara lain karena kurangnya koordinasi antar kementerian/lembaga pemerintah dalam melaksanakan kegiatannya. Selain itu, tentu merupakan akibat dari pengawasan yang tidak efektif.

Penurunan kualitas dan volume air sungai yang tersedia akan sangat berpengaruh pada produksi tanaman karena sumber air utama sistem irigasi adalah sungai. Dari total air permukaan (sungai, danau, rawa) yang dipakai untuk aktivitas manusia, air yang digunakan untuk irigasi mencapai sekitar 70 persen, selebihnya dimanfaatkan untuk industri dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Sistem irigasi pada awalnya sangat efektif dan memberi kontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi pangan, terutama beras. Keberhasilan mencapai swasembada beras pada era 80-an merupakan kontribusi nyata dari berfungsinya sistem irigasi pada waktu itu.

Tetapi saat ini, akibat laju sedimentasi yang tak terkendali, beberapa bendungan telah jauh berkurang keefektifannya. Hal ini merupakan akibat dari degradasi fungsi DAS. Nilai investasi yang besar untuk membangun infrastruktur irigasi ini menjadi terancam kemanfaatannya.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur irigasi baru sudah semakin sulit direalisasikan, baik karena kendala ekonomi maupun ekologi. Salah satu indikasinya, pinjaman Bank Dunia untuk membangun   infrastruktur irigasi secara konsisten menurun sejak pertengahan tahun 1970-an.

Selain isu ekologi, kendala sosial terkait dengan relokasi pemukiman penduduk dapat menjadi kendala serius untuk membangun infrastruktur irigasi, apalagi jika ditumpangi dengan kepentingan politik. Kekurang tersediaan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian pada dasarnya dapat terjadi karena, pertama, volume air yang tersedia kurang dari volume yang dibutuhkan (physical scarcity) atau kedua tidak tersedia in-frastruktur untuk mendistribusikan air atau tersedia infrastrukturnya tetapi tidak mampu dikelola dengan baik (economic scarcity).

Kecuali untuk wilayah Nusa Tenggara Timur dan sebagian kecil wilayah Nusantara lainnya, kelangkaan air di wilayah Indonesia dengan iklim tropika basah lebih disebabkan oleh economic scarcity.

Kelangkaan air, baik karena kendala fisik maupun karena keterbatasan kemampuan ekonomi, mengharuskan dilakukannya upaya meningkatkan efisiensi air. Saat ini, upaya peningkatan efisiensi penggunaan air untuk kegiatan pertanian akan lebih banyak bertumpu pada perbaikan infrastruktur irigasi yang rusak, pembenahan kelembagaan pengelola sumber daya air, dan penggunaan jenis tanaman dan/atau varietas yang toleran terhadap ketersediaan air yang terbatas.

Pengurangan volume air yang terpakai untuk pertanian melalui upaya peningkatan efisiensi pengelolaannya akan secara langsung mengurangi tekanan terhadap ekosistem.

Cara kelembagaan tradisional petani pengguna air yang terbukti andal seharusnya dapat dijadikan referensi. Misalnya sistem Subak di Bali. Kearifan lokal merupakan buah dari pengalaman jangka panjang dan telah teruji keandalannya secara ekologis. Tentu perlu penyesuaian untuk kondisi agroekosistem dan sosiokulturalyang berbeda.

Mudah-mudahan kita dapat mengelola sumber daya air secara bijak agar mampu mendukung peningkatan produksi pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi tidak menurunkan fungsi ekologis sumber daya air.

Agar harapan ini menjadi kenyataan, selain melakukan pengembangan teknologi yang tepat, perlu didukung dengan upaya koordinasi dan sinkronisasi kegiatan antar kelembagaan teknis yang mengimplementasikannya. Semoga kita tidak mengabaikan permasalahan nyata yang ada di depan mata ini. (Koran Jakarta, 23 Maret 2009 / Humasristek)


Kamis 11 September 2014
Kaji Ulang Pengendalian BBM Bersubsidi
Kamis 11 September 2014
Pikir Matang Penggabungan Kementerian Perdagangan
Selasa 19 Agustus 2014
Dampak Pencabutan Subsidi Listrik
Jumat 18 Juli 2014
Masyarakat Ekonomi ASEAN : Sedikit-sedikit Disulitin
Rabu 02 Juli 2014
Iptek, Politik, dan Capres
Jumat 11 April 2014
Revisi atas Garis Kemiskinan
Kamis 10 April 2014
Investasi untuk Riset
Senin 17 Februari 2014
Pacu Kemandirian Energi, Membangun Pembangkit Skala Besar
Kamis 13 Februari 2014
Birokrasi Hambat Kemajuan Ekonomi dan Peneliti
Sabtu 01 Februari 2014
Manajemen Bencana dalam Pembangunan
[ Berita lainnya ]