Ristek Headline |
Selasa 29 Juli 2014
 
 

ASTW 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Rabu 16 Juli 2014
Buka Puasa Bersama Keluarga Besar Asdep Jaringan Penyedia Dengan Pengguna dan Menristek

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 10 September 2008
RAPAT PEMBAHASAN KEBIJAKAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN OBAT HERBAL
Print PDF Facebook Twitter Email
Pengembangan obat tradisional dalam negeri telah memberikan harapan baru dalam penyediaan obat. Saat ini pengembangan obat herbal di dunia sudah cukup berkembang pesat, pasar herbal dunia tahun 2000 mencapai 43 milyar dolar AS, namun kontribusi Indonesia masih kurang, yaitu masih sekitar 100 juta dolas AS atau sekitar 0.23% saja. Penyediaan obat dalam negeri  yang memanfaatkan sumber daya alam Indonesia ini belum sepenuhnya mendapatkan dukungan beberapa pihak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  dalam acara Gelar kebangkitan Jamu Indonesia yang diadakan tanggal 27 Mei 2008 turut memberikan dukungan dalam menegaskan jamu milik bangsa Indonesia (Jamu Brand Indonesia). Dengan dilatarbelakangi oleh hal tersebut, pada tanggal 9 September 2008 bertempat di Gedung II BPPT lantai 23, telah diadakan Rapat Pembahasan Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Obat Herbal yang diselenggarakan oleh Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.  Salah satu tujuan pertemuan ini adalah menyikapi Kebijakan Pemerintah tentang Obat Tradisional Nasional terhadap program penelitian dan pengembangan.

Hadir dalam acara ini, DR. Roy Sparringa (Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan) selaku pembicara, Prof. Dr. Amin Soebandrio, SpMK, PhD (Deputi Bidang Pengembangan Sipteknas), perwalikan dari berbagai instansi terkait, antara lain para peneliti dari LIPI, BPPT, BATAN, Balitro, Badan POM, dan Universitas Indonesia.

Pertemuan ini juga bertujuan untuk berbagi informasi mengenai pelaksanaan litbang obat herbal, mempersiapkan formulasi kebijakan riset obat herbal yang holistik dan operasional, meningkatkan sinergi antara peneliti, regulator dan industri, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu menghimpun masukan dan harapan peneliti terhadap regulator serta memberikan masukan untuk persiapan penyusunan Agenda Riset Nasional 2010-2014.
   
Dari rapat tersebut terangkum beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam litbang iptek obat herbal, yaitu (1) Penelitian yang dilakukan oleh institusi penelitian masih terfragmentasi, hal ini disebabkan karena kurangnya koordinasi antar lembaga penelitian yang melakukan penelitian obat herbal sehingga terjadi tumpang tindih penelitian. (2) Dokter harus berpegang pada prinsip evidence base  sehingga belum meresepkan obat herbal (kecuali fitofarmaka) kepada pasien. (3) Masih lemahnya regulasi dan pengawasan, dan (4) kurangnya ketersediaan standard dan metode sebagai instrument evaluasi mutu

Dari beberapa permasalahan diatas diharapkan (1) Regulator hendaknya dapat memberikan kontribusi yang signifikan dengan memberikan pemetaan permasalahan yang ada mulai dari hulu sampai dengan hilir, dengan demikian  kebijakan riset memprioritaskan bidang yang berdaya ungkit tingi, (2) Regulator juga diharapkan mampu mempunyai inisiasi untuk melakukan sinergi dengan pihak akademisi dan pebisnis (3)  Diperlukannya standarisasi untuk pelaksanaan litbang iptek obat herbal. (4) Pihak peneliti perlu melakukan konsultasi dengan Badan POM sebelum melakukan uji preklikis dan klinis terhadap obat herbal, (5) Diperlukannya validasi informasi ilmiah tanaman dan obat herbal untuk mengidentifikasi prioritas riset dan pengembangannya di Indonesia, (6) diperlukan koordinasi antara peneliti obat herbal dan industri untuk menentukan prioritas riset berdasarkan kebutuhan teknologi dan pasar.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Amin Soebandrio menjelaskan bahwa program insentif yang dikelola KNRT akan diubah dari sistem bottom up menjadi semi top down. Proposal riset yang akan dibiayai adalah program unggulan sesuai dengan target produk/ keluaran yang telah ditetapkan. Diharapkan forum peneliti-regulator-industri dapat memberi masukan kepada Komisi Teknis Kesehatan dan Obat, Dewan Riset Nasional.

KNRT mendukung Program riset dalam pengembangan obat herbal di Indonesia sehingga muncul tanaman obat yang menjadi ikon Indonesia sesuai dengan progran yang dikoordinir oleh Menteri Koordinaror Perekonomian. (ad-pkk/ humasristek)
 


Kamis 17 Juli 2014
Menristek Resmikan Workshop Fasilitas Pilot Plant Riset Baterai Lithium
Senin 14 Juli 2014
Menristek Hadiri Peresmian RS Pusat Otak Nasional
Selasa 08 Juli 2014
Sinkronisasi Kebijakan, Program dan Pendanaan Iptek 2015-2019
Senin 07 Juli 2014
Buka Puasa Bersama : Mari Kita Tingkatkan Keimanan dan Pengabdian Kita
Senin 07 Juli 2014
DWP Kemenristek Serahkan Santunan Pendidikan
Jumat 04 Juli 2014
Pengembangan Teknologi Transportasi Multiguna Pedesaan Hasil Konsorsium Riset
Jumat 04 Juli 2014
Peresmian Bio Center Plant dan Ground Breaking Unit Produksi Enzim PT Petrosida Gresik
Kamis 03 Juli 2014
Pengembangan Industri Perdesaan Berbasis Sumber Daya dan Produk Lokal Ternak Ruminansia Kecil dalam Wadah Konsorsium
Selasa 01 Juli 2014
Kemenristek Dorong Penguatan Jaringan Riset dalam Pengembangan Energi Alternatif di Kota Surakarta
Selasa 01 Juli 2014
Indonesia - Iran: Dua Negara Islam Bersahabat yang Berkomitmen untuk Melaksanakan Penelitian dan Produksi Iptek Bersama
[ Berita lainnya ]