Ristek Headline |
Jumat 19 Desember 2014
 
 

CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Senin 15 Desember 2014
Peringatan Hari Nusantara 2014

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 10 September 2008
RAPAT PEMBAHASAN KEBIJAKAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN OBAT HERBAL
Print PDF Facebook Twitter Email
Pengembangan obat tradisional dalam negeri telah memberikan harapan baru dalam penyediaan obat. Saat ini pengembangan obat herbal di dunia sudah cukup berkembang pesat, pasar herbal dunia tahun 2000 mencapai 43 milyar dolar AS, namun kontribusi Indonesia masih kurang, yaitu masih sekitar 100 juta dolas AS atau sekitar 0.23% saja. Penyediaan obat dalam negeri  yang memanfaatkan sumber daya alam Indonesia ini belum sepenuhnya mendapatkan dukungan beberapa pihak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  dalam acara Gelar kebangkitan Jamu Indonesia yang diadakan tanggal 27 Mei 2008 turut memberikan dukungan dalam menegaskan jamu milik bangsa Indonesia (Jamu Brand Indonesia). Dengan dilatarbelakangi oleh hal tersebut, pada tanggal 9 September 2008 bertempat di Gedung II BPPT lantai 23, telah diadakan Rapat Pembahasan Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Obat Herbal yang diselenggarakan oleh Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.  Salah satu tujuan pertemuan ini adalah menyikapi Kebijakan Pemerintah tentang Obat Tradisional Nasional terhadap program penelitian dan pengembangan.

Hadir dalam acara ini, DR. Roy Sparringa (Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan) selaku pembicara, Prof. Dr. Amin Soebandrio, SpMK, PhD (Deputi Bidang Pengembangan Sipteknas), perwalikan dari berbagai instansi terkait, antara lain para peneliti dari LIPI, BPPT, BATAN, Balitro, Badan POM, dan Universitas Indonesia.

Pertemuan ini juga bertujuan untuk berbagi informasi mengenai pelaksanaan litbang obat herbal, mempersiapkan formulasi kebijakan riset obat herbal yang holistik dan operasional, meningkatkan sinergi antara peneliti, regulator dan industri, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu menghimpun masukan dan harapan peneliti terhadap regulator serta memberikan masukan untuk persiapan penyusunan Agenda Riset Nasional 2010-2014.
   
Dari rapat tersebut terangkum beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam litbang iptek obat herbal, yaitu (1) Penelitian yang dilakukan oleh institusi penelitian masih terfragmentasi, hal ini disebabkan karena kurangnya koordinasi antar lembaga penelitian yang melakukan penelitian obat herbal sehingga terjadi tumpang tindih penelitian. (2) Dokter harus berpegang pada prinsip evidence base  sehingga belum meresepkan obat herbal (kecuali fitofarmaka) kepada pasien. (3) Masih lemahnya regulasi dan pengawasan, dan (4) kurangnya ketersediaan standard dan metode sebagai instrument evaluasi mutu

Dari beberapa permasalahan diatas diharapkan (1) Regulator hendaknya dapat memberikan kontribusi yang signifikan dengan memberikan pemetaan permasalahan yang ada mulai dari hulu sampai dengan hilir, dengan demikian  kebijakan riset memprioritaskan bidang yang berdaya ungkit tingi, (2) Regulator juga diharapkan mampu mempunyai inisiasi untuk melakukan sinergi dengan pihak akademisi dan pebisnis (3)  Diperlukannya standarisasi untuk pelaksanaan litbang iptek obat herbal. (4) Pihak peneliti perlu melakukan konsultasi dengan Badan POM sebelum melakukan uji preklikis dan klinis terhadap obat herbal, (5) Diperlukannya validasi informasi ilmiah tanaman dan obat herbal untuk mengidentifikasi prioritas riset dan pengembangannya di Indonesia, (6) diperlukan koordinasi antara peneliti obat herbal dan industri untuk menentukan prioritas riset berdasarkan kebutuhan teknologi dan pasar.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Amin Soebandrio menjelaskan bahwa program insentif yang dikelola KNRT akan diubah dari sistem bottom up menjadi semi top down. Proposal riset yang akan dibiayai adalah program unggulan sesuai dengan target produk/ keluaran yang telah ditetapkan. Diharapkan forum peneliti-regulator-industri dapat memberi masukan kepada Komisi Teknis Kesehatan dan Obat, Dewan Riset Nasional.

KNRT mendukung Program riset dalam pengembangan obat herbal di Indonesia sehingga muncul tanaman obat yang menjadi ikon Indonesia sesuai dengan progran yang dikoordinir oleh Menteri Koordinaror Perekonomian. (ad-pkk/ humasristek)
 


Kamis 18 Desember 2014
Menristekdikti Hadiri Musrenbangnas
Rabu 17 Desember 2014
Penjajagan Kerjasama Interoperabilitas Hasil-Hasil Penelitian antara Kemenristekdikti dengan Universitas Airlangga
Rabu 17 Desember 2014
Teknologi Spasial Open Platform untuk Kota Pekalongan
Selasa 16 Desember 2014
Menristekdikti Serahkan Penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2014
Selasa 16 Desember 2014
Penganugerahan Pusat Unggulan Iptek 2014
Senin 15 Desember 2014
Presiden RI Joko Widodo Hadiri Puncak Peringatan Hari Nusantara 2014
Senin 15 Desember 2014
Menristekdikti Resmikan Desa Inovasi Nelayan
Jumat 12 Desember 2014
Usulan Perubahan Keempat pada Perpres 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Kamis 11 Desember 2014
Sarasehan Nasional ĎPeran Teknologi Nuklir di Bidang Pangan dan Energi untuk Kesejahteraan Masyarakatí
Rabu 10 Desember 2014
Dialog Nasional: Kontribusi Strategis Iptek untuk Poros Maritim Dunia
[ Berita lainnya ]