Ristek Headline |
Minggu 31 Agustus 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014

ASTW 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Jumat 22 Agustus 2014
Menristek Buka Pertemuan Komite Iptek ASEAN ke-68

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 10 September 2008
RAPAT PEMBAHASAN KEBIJAKAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN OBAT HERBAL
Print PDF Facebook Twitter Email
Pengembangan obat tradisional dalam negeri telah memberikan harapan baru dalam penyediaan obat. Saat ini pengembangan obat herbal di dunia sudah cukup berkembang pesat, pasar herbal dunia tahun 2000 mencapai 43 milyar dolar AS, namun kontribusi Indonesia masih kurang, yaitu masih sekitar 100 juta dolas AS atau sekitar 0.23% saja. Penyediaan obat dalam negeri  yang memanfaatkan sumber daya alam Indonesia ini belum sepenuhnya mendapatkan dukungan beberapa pihak. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  dalam acara Gelar kebangkitan Jamu Indonesia yang diadakan tanggal 27 Mei 2008 turut memberikan dukungan dalam menegaskan jamu milik bangsa Indonesia (Jamu Brand Indonesia). Dengan dilatarbelakangi oleh hal tersebut, pada tanggal 9 September 2008 bertempat di Gedung II BPPT lantai 23, telah diadakan Rapat Pembahasan Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Obat Herbal yang diselenggarakan oleh Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan.  Salah satu tujuan pertemuan ini adalah menyikapi Kebijakan Pemerintah tentang Obat Tradisional Nasional terhadap program penelitian dan pengembangan.

Hadir dalam acara ini, DR. Roy Sparringa (Asisten Deputi Urusan Perkembangan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan) selaku pembicara, Prof. Dr. Amin Soebandrio, SpMK, PhD (Deputi Bidang Pengembangan Sipteknas), perwalikan dari berbagai instansi terkait, antara lain para peneliti dari LIPI, BPPT, BATAN, Balitro, Badan POM, dan Universitas Indonesia.

Pertemuan ini juga bertujuan untuk berbagi informasi mengenai pelaksanaan litbang obat herbal, mempersiapkan formulasi kebijakan riset obat herbal yang holistik dan operasional, meningkatkan sinergi antara peneliti, regulator dan industri, dan yang tidak kalah pentingnya yaitu menghimpun masukan dan harapan peneliti terhadap regulator serta memberikan masukan untuk persiapan penyusunan Agenda Riset Nasional 2010-2014.
   
Dari rapat tersebut terangkum beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam litbang iptek obat herbal, yaitu (1) Penelitian yang dilakukan oleh institusi penelitian masih terfragmentasi, hal ini disebabkan karena kurangnya koordinasi antar lembaga penelitian yang melakukan penelitian obat herbal sehingga terjadi tumpang tindih penelitian. (2) Dokter harus berpegang pada prinsip evidence base  sehingga belum meresepkan obat herbal (kecuali fitofarmaka) kepada pasien. (3) Masih lemahnya regulasi dan pengawasan, dan (4) kurangnya ketersediaan standard dan metode sebagai instrument evaluasi mutu

Dari beberapa permasalahan diatas diharapkan (1) Regulator hendaknya dapat memberikan kontribusi yang signifikan dengan memberikan pemetaan permasalahan yang ada mulai dari hulu sampai dengan hilir, dengan demikian  kebijakan riset memprioritaskan bidang yang berdaya ungkit tingi, (2) Regulator juga diharapkan mampu mempunyai inisiasi untuk melakukan sinergi dengan pihak akademisi dan pebisnis (3)  Diperlukannya standarisasi untuk pelaksanaan litbang iptek obat herbal. (4) Pihak peneliti perlu melakukan konsultasi dengan Badan POM sebelum melakukan uji preklikis dan klinis terhadap obat herbal, (5) Diperlukannya validasi informasi ilmiah tanaman dan obat herbal untuk mengidentifikasi prioritas riset dan pengembangannya di Indonesia, (6) diperlukan koordinasi antara peneliti obat herbal dan industri untuk menentukan prioritas riset berdasarkan kebutuhan teknologi dan pasar.

Dalam kesempatan tersebut Prof. Amin Soebandrio menjelaskan bahwa program insentif yang dikelola KNRT akan diubah dari sistem bottom up menjadi semi top down. Proposal riset yang akan dibiayai adalah program unggulan sesuai dengan target produk/ keluaran yang telah ditetapkan. Diharapkan forum peneliti-regulator-industri dapat memberi masukan kepada Komisi Teknis Kesehatan dan Obat, Dewan Riset Nasional.

KNRT mendukung Program riset dalam pengembangan obat herbal di Indonesia sehingga muncul tanaman obat yang menjadi ikon Indonesia sesuai dengan progran yang dikoordinir oleh Menteri Koordinaror Perekonomian. (ad-pkk/ humasristek)
 


Senin 25 Agustus 2014
ASEAN Berikan Penghargaan pada Pegiat Iptek
Senin 25 Agustus 2014
Menteri Iptek ASEAN Bahas Kebijakan Iptek Tingkat Regional
Jumat 22 Agustus 2014
Kementerian Riset dan Teknologi Hadir di Kalsel Expo 2014
Jumat 22 Agustus 2014
Menristek Buka Pertemuan Komite Iptek ASEAN ke-68
Kamis 21 Agustus 2014
Penaganugerahan Gelar Perekaya Utama Kehormatan
Selasa 19 Agustus 2014
Simposium Nasional Implementasi Hasil Riset Vaksin
Senin 18 Agustus 2014
Inovasi untuk Komunitas ASEAN yang Lebih Baik
Minggu 17 Agustus 2014
Iptek Bagi Pembangunan Nasional
Rabu 13 Agustus 2014
Seminar Sejarah dan Peradaban MedangĖAspek Perkembangan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Nusantara
Rabu 13 Agustus 2014
Menristek Dapat Pengahargaan Bintang Mahaputra Adipradana
[ Berita lainnya ]