PENANGGULANGAN AFLATOKSIN MULAI DARI TINGKAT PETANI HINGGA MASAKAN SIAP SAJI
Kamis 26 Juni 2008
Iklim tropis mengakibatkan komoditas pangan di Indonesia rentan terhadap kontaminasi kapang dan toksin metabolitnya, seperti aflatoksin, metabolit sekunder dari Aspergilus sp. Aflatoksin dapat mencemari kacang tanah, jagung, dan hasil olahannya, serta pakan ternak. Hewan ternak yang mengkonsumsi pakan tercemar aflatoksin akan meninggalkan residu aflatoksin dan metabolitnya pada produk ternak seperti daging, telur, dan susu. Hal tersebut menjadi salah satu sumber paparan aflatoksin pada manusia. Racun aflatoksin tidak bisa dieliminasi dengan teknologi pengolahan makanan secara umum, sehingga penanganan aflatoxin harus dimulai dari tingkat petani.

Aflatoksin dapat mengakibatkan penyakit dalam jangka pendek (akut), maupun jangka panjang (kronis). Namun, keracunan akut jarang terjadi sehingga tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap pencemaran aflatoksin pada pangan dan pakan relatif rendah.

Pada hari Rabu 27 Juni 2008 telah diadakan seminar internasional Managing Aflatoxin Form Farm to Table di IPB International Convention Center Bogor. Seminar tersebut diprakarsai oleh SELAMAT (Safety Enhancement of Edible Products, Legislation, Analysis and Management with ASEM countries, by mutual training and reseach) yang bekerjasama dengan Badan POM, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, International Life Science Institute, IPB dan SEAFAST Center. Seminar tersebut dihadiri sekitar 200 peserta yang berasal instansi pemerintah terkait, akademisi dan industri makanan dari dalam dan luar negeri serta anggota SELAMAT. Negara-negara yang tegabung dalam SELAMAT adalah China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Portugal, Singapura Thailand, Belanda, Inggris dan Vietnam. SELAMAT merupakan jejaring kerjasama internasional untuk isu-isu keamanan pangan antara negara Eropa dan negara ASEM (Asia Europe Meeting). Saat ini SELAMAT diketuai oleh Dr. Hans Marvin.

Seminar tersebut bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan para pengambil kebijakan terhadap masalah-masalah yang disebabkan oleh aflatoksin . Dalam seminar tersebut dipaparkan berbagai hasil penelitian mengenai aflatoksin baik di tingkat nasional maupun internasional serta didiskusikan manajemen risiko aflatoksin yang tepat mulai dari tingkat petani hingga makanan siap saji.

Seminar tersebut dibuka oleh Prof. Dedy Fardiaz yang mewakili kepala Badan POM. Deputi Bidang Perkembangan Riset Iptek, Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Dr. Ir. Bambang Sapto Pratomosunu, M.Sc) memberikan keynote speech dalam acara tersebut. Asisten Deputi Urusan Ilmu Kedokteran dan Kesehatan (Dr. Roy Sparringa) menjadi salah satu pembicara dengan membawakan makalah berjudul Risk Based Aproach for Aflatoxin Control.(ADKDK/humasristek)