Ristek Headline |
Senin 22 September 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 16 September 2014
Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan Pejabat Eselon I

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


PIDATO MENTERI
Sabtu 07 Juli 2012
Sambutan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kuliah Umum di Universitas Andalas, Padang, 7 Juli 2012
Print PDF Facebook Twitter Email
Padang, 7 Juli 2012

 

 

SAMBUTAN
MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI

KULIAH UMUM
SINERGI RISET PERGURUAN TINGGI, PEMERINTAH DAN INDUSTRI DALAM MEWUJUDKAN MASTERPLAN PERCEPATAN DAN PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI)

UNIVERSITAS ANDALAS

Padang, 7 Juli 2012





Bismillahirrahmaanirrahim,

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan karuniaNYA kita dapat berkumpul bersama di tempat ini dalam keadaan sehat wal afiat. Selanjutnya saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rektor Universitas Andalas beserta segenap keluarga besar civitas akademika Universitas Andalas karena telah memberikan kehormatan kepada saya untuk menyampaikan kuliah umum yang berjudul “Sinergi Riset Perguruan Tinggi, Pemerintah dan Industri dalam mewujudkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)”.

Kesempatan ini sungguh merupakan kesempatan yang amat baik bagi kita semua  yang saat ini mengemban amanat mengelola lembaga pendidikan tinggi untuk bertukar pengalaman dan pemikiran mengenai dunia yang kita geluti bersama. Terlebih lagi bahwa Perguruan Tinggi mempunyai tugas mendidik para putera bangsa agar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang termutahir sebagai modal untuk memimpin bangsa dikemudian hari. Tugas lainnya adalah mengembangkan riset dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan menjawab tantangan pembangunan yang berkisenambungan dan berwawasan lingkungan, serta memberikan pelayanan masyarakat agar masyarakat dapat menjadi subjek bukan objek dari pembangunan ekonomi dan mendorong budaya masyarakat berbasis iptek.

Hadirin yang saya muliakan,

Indonesia adalah negara yang dikaruniai hampir semua prasyarat untuk mampu menjadi kekuatan besar dalam perekonomian dunia. Kekayaan sumberdaya alam yang beragam dan melimpah, jumlah penduduk yang besar dan keragaman budaya, serta akses yang strategis ke jaringan mobilitas global. Namun demikian, struktur ekonomi Indonesia saat ini masih terfokus pada pertanian dan industri yang mengekstraksi dan mengumpulkan hasil alam. Industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk, proses produksi dan distribusi di dalam negeri masih terbatas.

Kebijakan MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) yang dikeluarkan Pemerintah KIB II pertengahan tahun 2011 adalah bentuk upaya Pemerintah untuk mempercepat dan meningkatkan target dan sasaran pembangunan seperti yang diamanahkan UUD tahun 45. Melalui MP3EI, percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi akan menempatkan Indonesia sebagai negara maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kapita yang berkisar antara USD 14.250 – USD 15.500 dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USD 4,0 – 4,5 Triliun. Untuk mewujudkannya diperlukan pertumbuhan ekonomi riil sebesar 6,4 – 7,5 persen pada periode 2011 – 2014, dan sekitar 8,0 – 9,0 persen pada periode 2015 – 2025.

Angka-angka tersebut kurang berarti maknanya dan juga akan sulit dicapai bila pembangunan tersebut hanya terpusat disuatu pulau dan tidak terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi pada pulau-pulau lainnya di Indonesia. Oleh karena itu MP3EI ditujukan untuk mendorong terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berimbang, berkeadilan dan berkelanjutan, melalui 8 (delapan) program dan 22 (dua puluh dua) komoditas kegiatan ekonomi utama dalam 6 (enam) koridor ekonomi.

Salah satu dari 3 (tiga) strategi utama pelaksanaan MP3EI adalah Peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK Nasional. Hal ini dikarenakan pada era ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy), mesin pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kapitalisasi hasil penemuan menjadi produk inovasi. Dalam konteks ini, peran sumber daya manusia yang berpendidikan menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Hadirin yang saya muliakan,

Baru-baru ini salah satu media nasional memuat berita tentang gugatan Amerika terhadap Cina terkait dengan kebijakan Pemerintah Cina terhadap ekspor mineral langka. Gugatan Amerika ini disampaikan melalui jalur Organisasi Perdagangan Dunia. Kelangkaan bahan baku mineral membuat perusahaan Amerika kehilangan daya saing. Disisi lain, negara Cina mengukuhkan dominasi di berbagai sektor industri karena memiliki pasokan bahan baku berlimpah. Pemerintah Cina menegaskan bahwa kebijakan ini dikeluarkan untuk menanggulangi kerusakan lingkungan serta melestarikan sumberdaya langka.

Pemerintah Indonesia juga akan melakukan kebijakan yang sama dimasa yang akan datang secara bertahap. Negara kita punya kekayaan hayati yang sangat besar untuk mendorong keunggulan Iptek dan daya saing industri di semua bidang. Disinilah peluang dan tantangan bagi para peneliti untuk menggali dan mengoptimalkan sumberdaya alam yang kita miliki. Jangan lagi kita hanya mengekspor bahan mentah dengan nilai tambah dan harga yang murah, dan mengimpor bahan jadi dengan nilai tambah dan harga yang tinggi.

Pemerintah Indonesia saat ini telah mengeluarkan regulasi yang melarang ekspor bahan mentah untuk produk-produk mineral dan mendorong ekspor produk-produk olahan dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Kebijakan ini ditujukan agar kita benar-benar dapat meningkatkan ”jam kerja SDM nasional” dalam menghasilkan produk-produk bernilai tambah tinggi dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru serta kesejahteraan masyarakat. Kebijakan ini tentunya akan mendapat banyak gangguan dari negara-negara tujuan ekspor kita selama ini, karena akan mempengaruhi industri dan tenaga kerja di negara tersebut. Dalam pengertian yang lebih umum, bila kita mengekspor bahan mentah dan mengimpor produk jadi maka dapat dikatakan kita mendorong hidupnya industri di negara lain dan membayar jam kerja atau keringat tenaga kerja negara tersebut. Oleh karena itu, Pemerintah melalui kebijakan MP3EI mendorong terutama berdirinya industri-industri produk hilir yang mempunyai nilai tambah tinggi. Untuk itu peran komunitas Iptek dalam mempersiapkan SDM dan Iptek yang dibutuhkan sangat signifikan.

Di level internasional, Pemerintah Indonesia saat ini juga sedang memperjuangkan agar kekayaan sumberdaya hayati dan pengetahuan tradisional (Genetic Resources and Traditional Knowledge/GRTK) masuk dalam ketentuan-ketentuan yang diatur oleh WIPO (World Intellectual Property Organization). Perjuangan untuk melindungi dan mendapatkan kesamaan hak atas sumberdaya hayati dan pengetahuan tradisional ini tidak mudah dan banyak ditentang oleh negara-negara maju. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini saya ingin mengajak semua aktivitas akademik dan komunitas litbang agar dapat benar-benar menjaga dan memberdayakan kekayaan hayati yang kita punyai secara berkesinambungan untuk kemakmuran bangsa. Tantangan yang lebih berat yang harus mulai kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah merubah paradigma cara berpikir dan prilaku terkait dengan sumberdaya alam/hayati yaitu kita prioritaskan untuk mengolah dan memanfaatkan sumberdaya alam/hayati kualitas rendah, sedangkan kualitas tinggi kita simpan untuk generasi anak-cucu bangsa Indonesia yang akan datang.

Hadirin yang saya muliakan,

Pembangunan koridor ekonomi di Indonesia sebagaimana yang termaktub dalam buku besar MP3EI dilakukan berdasarkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai negara yang terdiri atas ribuan pulau dan terletak di antara dua benua dan dua samudera, wilayah kepulauan Indonesia memiliki sebuah konstelasi yang unik, dan tiap kepulauan besarnya memiliki peran strategis masing-masing yang ke depannya akan menjadi pilar utama untuk mencapai visi Indonesia tahun 2025. Dengan memperhitungkan berbagai potensi dan peran strategis masing-masing pulau besar (sesuai dengan letak dan kedudukan geografis masing-masing pulau), telah ditetapkan 6 (enam) koridor ekonomi. Salah satu koridor ekonomi yang terdapat di sini adalah Koridor Ekonomi (KE) Sumatera. Koridor Ekonomi Sumatera memiliki tema pembangunan sebagai Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional.

Kementerian Riset dan Teknologi sebagai salah satu pengemban amanat MP3EI, tentu memiliki tugas untuk mensinergikan kegiatan dan program-program kementerian dengan MP3EI. Selaku penanggung jawab Koridor Sumatera khususnya Provinsi Sumatera Barat, Asisten Deputi Budaya dan Etika telah melaksanakan kegiatan secara terintegrasi antar kegiatan dan unit kerja. Fokus kegiatannya adalah koordinasi pelaksanaan program nasional MP3EI Koridor I Sumatera. Implementasi MP3EI dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan Pilar utama MP3EI dan kegiatan ekonomi utama antara lain:  Kelapa Sawit, Karet dan Batubara.

Kegiatan yang disinergikan dalam pelaksanaan MP3EI antara lain: Insentif Riset PKPP (Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa) yang di sinergikan dengan kebutuhan daerah. Selain itu dilaksanakan juga penguatan Sistem Inovasi Daerah Sumatera Barat sebagai Instrumen dalam mencapai MP3EI, serta penguatan SDM Iptek dalam hal ini para peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengembangan

Kegiatan ini juga diselaraskan dengan kegiatan di Asisten Deputi Jaringan Iptek Pusat dan Daerah dalam membangun jejaring dengan beberapa stakeholder seperti pelaksanaan FGD pemanfaatan bahan baku lokal untuk pembuatan pakan ikan dan ternak di Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat dan Kabupaten Agam. Dalam program ini Kementerian Perindustrian juga telah memberikan mesin-mesin peralatan, dengan ketiga kabupaten tersebut sebagai pilot project-nya, dibantu oleh beberapa pihak dalam pelaksanaannya antara lain:  Batan dalam pengembangan pakan ternak dan ikan berbahan baku tongkol jagung sampai pada pembuatan formulasinya; LIPI akan menganalisa untuk bahan pakan ternak atau ikan berbahan baku limbah kulit cocoa; LIPI Subang bertanggung jawab terhadap peralatan mesin pengolahan bahan baku; BPPT dalam hal pemanfaatan ikan yang mati untuk tepung dan penanganan produksi ikan; Universitas Andalas akan melibatkan mahasiswa KKN dan para peneliti untuk pengembangan dan pelaksanaan Lokakarya; Pemda setempat menyediakan bahan baku dan program serta SDM yang akan dilibatkan di lapangan

Dalam konteks ketahanan pangan, Asdep Jaringan IPTEK Pusat dan daerah Kementerian Riset dan Teknologi telah membangun jejaring antar berbagai stakeholder untuk memanfaatkan berbagai limbah pertanian sebagai bahan baku pakan ternak dan ikan di Sumatera Barat.  Instansi seperti pemprov, BPPT, LIPI, BATAN, Universitas  Andalas bersama-sama mensinergikan seluruh kemampuan baik dalam bidang SDM maupun peralatan untuk mengolah bahan baku pertanian seperti kulit cokelat, tongkol jagung, ikan rucah sebagai bahan baku pakan yang diformulasikan sebagai pakan murah bagi yang dimanfaatkan  oleh masyarakat.  Saat ini masing masing stakeholder bekerja secara sinergis baik dengan anggaran rutin dari masing masing stakeholder  maupun dari program insentif Ristek.  Dengan program ini diharapkan akan menjadi model yang dapat dikembangkan di berbagai wilayah yang berbasis pertanian untuk memanfaatkan limbahnya sebagai sesuatu yang ekonomis untuk mengatasi masalah ketergantungan bahan baku pakan yang selama ini didatangkan dari luar negeri.

Selain itu, Asdep Jaringan IPTEK Pusat dan Daerah Kementerian Riset dan Teknologi juga membangun jejaring antar berbagai stakeholder untuk mengembangkan potensicokelat dan  gambir yang melimpah di Sumbar.  Khusus untuk gambir, 90% produksi gambir dunia berasal dari wilayah ini.  Jejaring iptek yang melibatkan pemda 50 kota, prov sumbar, KRT, Univ Andalas dan Politani Payahkumbu yang dibentuk untuk saling bersinergi, dalam implementasinya jejaring tersebut telah mampu mendisain alat pengolah gambir dengan menggunakan prinsip Nano teknologi sehingga dapat dihasilkan kemurnian hingga diatas 95% dengan jangka waktu produksi yang singkat dan massal.  Demikian juga, sudah dilakukan berbagai alih teknologi tentang fermentasi dan pengolahan kakao.  Dalam tahun ini ditargetkan akan dihasilkan sat pewarna yang akan digunakan sebagai tinta pemilu dan ditargetkan akan digunakan diseluruh Sumatera Barat sebelum mendapatkan izin dari pihak yang berwewenang untuk digunakan secara nasional. Inilah peran dan kontribusi Kementerian Riset dan Teknologi untuk membangun ketahanan pangan dikontekstualisasikan dengan MP3EI.

Pada saat ini kita masih harus mengandalkan pemanfaatan kekayaan alam yang kita miliki untuk membiayai pembangunan negara kita. Kita juga masih memiliki sumber daya alam, seperti sumber daya kelautan, yang belum kita dayagunakan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara nyata. Namun kita perlu ingat bahwa ketersediaan sumber daya alam tersebut bukan tanpa batas, sementara kebutuhan pembiayaan bagi pelaksanaan pembangunan akan terus meningkat. Pemanfaatan kekayaan alam secara besar-besaran untuk memenuhi pembiayaan pembangunan yang terus meningkat itu dapat menimbulkan berbagai permasalahan, yang akan membebani generasi mendatang. Dengan demikian, yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kemampuan SDM dan Iptek untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dari kekayaan alam yang kita miliki, agar di satu pihak kita dapat mencukupi pembiayaan pembangunan yang kita perlukan dan di lain pihak kita dapat membatasi pemanfaatan kekayaan alam itu pada tingkat yang dapat kita pertanggungjawabkan pada generasi mendatang.

Kita juga harus ingat bahwa nilai ekonomi dari berbagai komoditi sumber daya alam cenderung mengalami penurunan relatif terhadap nilai ekonomi produk-produk teknologi yang kita butuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan serta meningkatkan taraf hidup masyarakat. Apabila keadaan ini terus berlangsung, maka dalam jangka panjang kita tidak akan mampu mengimbangi pembiayaan impor dengan pendapatan ekspor. Dengan demikian, kita juga harus mengakumulasikan kapasitas Iptek agar anak-cucu kita di masa mendatang dapat menghasilkan produk-produk teknologi yang mampu bersaing di pasar global untuk membiayai perkembangan dirinya.

Menyadari hal tersebut, Indonesia memerlukan suatu transformasi ekonomi berupa percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Melalui visi “Mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan”, pemerintah telah mengeluarkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang didasari oleh semangat not business as usual, dan melibatkan seluruh stakeholder.

Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu: (1) mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 (enam) Koridor Ekonomi; (2) memperkuat konektivitas nasional; (3) memperkuat kemampuan SDM dan Iptek nasional, dengan fokus utamanya peningkatan nilai tambah, mengintegrasikan pendekatan sektoral dan Regional; memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya dan mendorong Inovasi.

Kementerian Riset dan Teknologi bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mempunyai tugas utama mengawal strategi ke 3 dari MP3EI tersebut yaitu peningkatan kemampuan SDM dan iptek nasional. Dalam upaya mendukung pilar ke 3 ini, Kemenristek telah menetapkan Program Utamanya yaitu Penguatan Sistem Inovasi Nasional.

Hadirin yang saya muliakan,

Menyadari adanya keterbatasan sumberdaya, penguatan kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi harus dilaksanakan secara terpadu sehingga secara keseluruhan akan membentuk kemampuan nasional dan daerah yang optimal. Semua unsur lembaga perlu menyadari bahwa kapasitas dan kemampuan yang dimiliki tidak banyak berarti apabila tidak dikaitkan dengan kapasitas dan kemampuan unsur-unsur kelembagaan yang lain dalam hubungan yang saling memperkuat, saling mengisi, dan saling mengendalikan. Dengan demikian, secara keseluruhan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki tersebut dapat menumbuhkan rantai penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan Iptek secara utuh untuk mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan.

Pada tanggal 25 April 2012 telah ditandatangani Peraturan Bersama Menristek dan Mendagri yang tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) yang bertujuan untuk mengatur kebijakan penguatan, penataan unsur dan pengembangan SIDa secara terkoordinasi, agar dapat menjadi sebuah instrumen untuk memperkuat peran iptek dalam sistem inovasi di daerah, yang merupakan pilar penting untuk membangun Sistem Inovasi Nasional (SINas) yang tangguh.

Peraturan bersama tersebut mencerminkan bahwa, di masa mendatang perkembangan Iptek harus dilandaskan pada suatu sistem yang melibatkan masyarakat luas dan mendorong partisipasi dunia usaha secara aktif, memenuhi persyaratan-persyaratan pasar, dan dapat memfasilitasi perkembangan kepentingan sektor produksi serta dinamika persaingan dunia usaha yang sehat.

Pengembangan kapasitas Iptek juga harus sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah. Penyebaran Iptek ke seluruh wilayah nusantara akan terjadi secara efektif melalui pemberdayaan dan pembentukan serta penataan sumberdaya Iptek daerah, baik yang menyangkut kelembagaan, program, sumberdaya manusia, keuangan, maupun sarana dan prasarananya. Terlebih lagi Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (saat ini lagi dalam proses amandeman) memberikan wewenang yang lebih luas kepada daerah, untuk menggali potensi daerah bagi keperluan pembentukan keunggulan daerah dan pemberdayaan masyarakat.

Penguatan sistem inovasi daerah diharapkan dapat memfasilitasi dan menstimulasi pemerintah daerah agar mampu menumbuhkan sumber daya iptek secara efektif dan efisien, serta mengembangkan sinerginya dengan faktor pasar, perkembangan sektor produksi, serta perkembangan iklim usaha yang kompetitif di daerahnya masing-masing, sehingga kemampuannya untuk melaksanakan proses pertambahan nilai dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan, sesuai dengan potensi dan karakteristiknya masing-masing. Melalui kebijakan penguatan sistem inovasi nasional, pemerintah pusat perlu menjamin agar setiap daerah memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses elemen-elemen kemampuan Iptek nasional bagi keperluan membangun daerahnya, meningkatkan taraf hidup masyarakat, serta membentuk keunggulan untuk meningkatkan perdagangan dengan daerah-daerah lain, dan mempenetrasi pasar internasional.

Di pihak lain, perlu pula dipahami bahwa perkembangan Iptek pada hakekatnya tidak dibatasi oleh batas-batas regional. Keunggulan yang terbentuk di suatu daerah seharusnya dapat bermanfaat bagi daerah-daerah lainnya. Rantai kemampuan yang mengkaitkan spesifisitas keunggulan Iptek di sejumlah daerah harus dapat membentuk keunggulan nasional untuk mengatasi tantangan persaingan dari negara-negara lain. Oleh karena itu pengembangan sistem inovasi di daerah dan di tingkat nasional harus diupayakan secara serasi dan saling menunjang, sehingga perkembangan sistem inovasi di daerah merupakan bagian yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sistem inovasi nasional.

Hadirin yang saya muliakan,

Untuk mewujudkan hal tersebut Kementerian Riset dan Teknologi mengembangkan program dan wahana-wahana yang memungkinkan terjadinya komunikasi, interaksi dan sinergi antar aktor inovasi. Program/wahana tersebut antara lain Revitalisasi Puspiptek menjadi S&T Park; Pengembangan Pusat Unggulan Iptek; Konsorsium Riset; Perlindungan HKI; Intermediasi Teknologi; Insentif Sistim Inovasi Nasional (SINas) dan Pengembangan Kapasitas Peneliti dan Perekayasa (PKPP) yang diarahkan untuk mendukung implementasi MP3EI.

Dalam mengembangkan program ekonomi daerah diperlukan koordinasi dan sinergi kegiatan pengembangan inovasi antara pusat dan daerah serta antar daerah baik di dalam propinsi Sumatera Barat maupun antar propinsi dalam koridor Sumatera, karena dalam Masterplan Percepatan Perluasan Pembanguan Ekonomi Indonesia (MP3EI), pengembangan wilayah Sumatera meliputi enam kegiatan ekonomi utama, yaitu kelapa sawit, karet, batubara, perkapalan, bijih besi, dan kawasan strategis Selat Sunda. Khusus untuk Provinsi Sumatera Barat, kelapa sawit, karet, dan batubara rencananya akan dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan beberapa regulasi dan kebijakan, baik untuk kelapa sawit, karet, dan batubara.

Untuk kelapa sawit, diperlukan regulasi dan kebijakan tata ruang hulu dan hilir kelapa sawit, sehingga dapat diketahui di mana pusat penanamannya. Sementara untuk karet, perlu adanya tinjauan regulasi pemerintah yang mendukung atau apa yang menghambat percepatan ekspor produk karet. Tinjauan regulasi untuk batubara pun diperlukan, sehingga diharapkan tidak hanya dijual ke luar Sumatera Barat, tapi juga bisa dijadikan sebagai sumber tenaga listrik di Pulau Sumatera.
Hadirin yang saya muliakan,

Sistem Inovasi Nasional (SINAS) merupakan pengejawantahan UU No. 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. SINAS merupakan suatu sistem terintegrasi antara agen pengembang Iptek dan sistem ekonomi yang secara langsung mendorong pemunculan dan penggunaan inovasi dalam ekonomi nasional.

Rumusan konseptual dari sistem inovasi memberikan penekanan pada kapabilitas inovasi sebagai kekuatan sebuah masyarakat-bangsa. Terbangunnya kapabilitas inovasi merupakan interaksi diantara seluruh elemen sebuah sistem sosial sehingga perkembangan iptek dan pemanfaatannya baik di sektor publik maupun di sektor swasta, merupakan hasil dari terbangunnya kapabilitas inovasi tersebut.

Interaksi antara Perguruan Tinggi, Pemerintah dan Industri dapat digambarkan dengan istilah “triple heliks atau ABG” yang mana Akademisi tentu saja menjadi aktor dalam pengembangan iptek atau motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan, Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator dalam pengembangan dan penguasaan Iptek serta penciptaan pasar, sedangkan Industri berperan ujung tombak inovasi dan pembangunan ekonomi nasional.

Akademisi dan atau lembaga litbang didorong untuk menjadi pusat-pusat unggulan riset yang akan menjadi magnit terbangunnya sistim inovasi nasional. Universitas Andalas diharapkan dapat menjadi pusat unggulan riset terutama bidang-bidang yang menjadi unggulan utama di Sumatera Barat yang diharapkan dapat mendorong peningkatan jumlah publikasi, invensi, lisensi, dan tumbuhnya perusahaan-perusahaan baru.

Hadirin yang saya muliakan,

Pada akhir kuliah umum ini saya ingin sekali lagi menekankan bahwa kontribusi Iptek pada pertumbuhan ekonomi berarti kita sudah mulai menghargai jam kerja atau keringat pakar-pakar kita dalam menghasilkan nilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja dan kesejahteraan melalui tumbuh berkembangnya industri-industri hilir yang memanfaatkan hasil-hasil litbang nasional. Mari kita berdayakan kekayaan sumberdaya hayati kita untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Sumber daya manusia yang produktif merupakan penggerak pertumbuhan ekonomi. Untuk menghasilkan tenaga kerja yang produktif, maka diperlukan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan. Pengembangan program pendidikan akademik diarahkan pada penyelarasan bidang dan program studi dengan potensi pengembangan ekonomi di setiap koridor ekonomi. Program akademik harus menjadi jejaring yang mengisi dan mengembangkan rantai nilai tambah dari setiap komoditas atau sektor yang dikembangkan di setiap koridor ekonomi. Universitas sebagai pusat riset dikembangkan secara nasional sebagai bagian penting dari pusat inovasi nasional.

Pusat-pusat unggulan riset ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas seluruh kegiatan iptek ikut menentukan keberhasilan pembangunan iptek. Kerja sama antarlembaga yang melakukan kegiatan iptek dalam melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan melalui penciptaan hubungan yang saling mengisi antarlembaga merupakan aspek penting yang perlu dikembangkan dalam rangka peningkatan produktivitas, efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumberdaya, dan sarpras iptek.

Saya mengajak semua komponen pelaku inovasi nasional agar bekerjasama mensukseskan upaya Pemerintah untuk menghasilkan SDM-SDM yang berkualitas dan profesional, serta mencapai kemandirian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Mari kita bersinergi untuk mendorong tumbuh berkembangnya pusat-pusat unggulan riset nasional dalam mendukung pusat-pusat pertumbuhan ekonomi regional maupun nasional.

Semoga segala upaya kita mendapat ridho dari Allah SWT, Amin ya robbal alamin.

Billahi Taufik Wal Hidayah,
Wassalamu’alaikum Warrahamtullahi Wabarrakatuh.

Menteri Negara Riset dan Teknologi,
Gusti Muhammad Hatta



 Rabu 20 Agustus 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Pengukuhan Gelar Perekayasa Utama Kehormatan 2014, 20 Agustus 2014
 Senin 11 Agustus 2014
Laporan Menteri Riset dan Teknologi, Acara Puncak Hakteknas ke-19
 Senin 11 Agustus 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Acara Penyerahan Apresiasi Iptek Dalam Rangka Hakteknas ke-19
 Senin 11 Agustus 2014
Keynote Speech Menteri Riset dan Teknologi, Pembukaan Seminar Inovasi Iptek Bidang Food, Energy & Water (FEW) Dalam Rangka HAKTEKNAS kE-19, 11 Agustus 2014
 Kamis 19 Juni 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Senten 2014, 19 Juni 2014
 Selasa 17 Juni 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Opening Remark IOPC, 17 Juni 2014
 Jumat 13 Juni 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Workshop PUI, 13 Juni 2014
 Rabu 11 Juni 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Launching Hari Nusantara, 11 Juni 2014
 Rabu 11 Juni 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Launching Hakteknas ke-19, 11 Juni 2014
 Selasa 10 Juni 2014
Sambutan Menteri Riset dan Teknologi, Rakornas BIG, 10 Juni 2014
[ Berita lainnya ]