Sambutan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Stadium Generale Institut Teknologi Bandung, Bandung, 21 April 2012
Sabtu 21 April 2012

 

 

SAMBUTAN
MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI


DALAM
"STADIUM GENERALE INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG"


Bandung, 21 April 2012


Yang kami hormati,

  • Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Ahmad Loka;
  • Deputi Bidang Sumber Daya Iptek, Prof. Freddy Permana Zen, yang juga guru besar ITB;
  • Para Guru Besar dan Dosen Institut Teknologi Bandung;
  • Para Mahasiswa dan Sivitas Akademika Institut Teknologi Bandung;
  • Para undangan dan hadirin yang saya muliakan.


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita Semua.

Civitas Akademika ITB dan kredibilitas ilmuwan
Syukur Alhamdullilah saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas kehendakNya pada pagi ini saya dapat bersama para sivitas akademika ITB dan utamanya di hadapan para mahasiswa, pemuda yang akan menulis perjalanan sejarah bangsa kita di masa depan, berdiri di kampus yang telah melahirkan putra-putra terbaik bangsa. Salah satu proklamator kita, Bung Karno, yang berasal dari ITB ini, dalam Buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia mengatakan, "Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia." Presiden RI Pertama kita ini juga mengungkapkan kata-kata pengobar semangat "Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia pasti berubah." Insya Allah, di depan para pemuda dengan kualitas seperti inilah saya sekarang  berdiri.

Pada kesempatan yang baik ini saya ingin mengajak semua sivitas akademika ITB untuk membangun dan menjaga kredibilitasnya selaku ilmuwan. Dengan kredibilitas yang terjaga itulah maka para sivitas akademika ITB dapat membangun karakternya sebagai agen perubahan atau agent of change. Pemuda adalah aset besar bangsa yang harus memiliki kredibilitas sehingga karakternya sebagai agen perubahan benar-benar mewarnai pembangunan bangsa. Untuk membangun kredibilitas itu, kaum muda harus punya moralitas yang kuat, kepedulian kepada sesama yang besar dan jiwa nasionalisme yang tinggi sebagai anak bangsa sehingga memahami berbagai persoalan bangsa dan jalan keluarnya. Moralitas atau nilai-nilai spiritual akan memunculkan visi, nilai dan komitmen yang kuat bagi pencapaian prestasi tinggi. Hal itu akan menghasilkan kualitas kesabaran, daya tahan, ketekunan, konsisten, dan mampu menghadapi godaan jangka pendek serta sikap pantang menyerah. Moralitas juga mendorong sifat keterbukaan, kejujuran, anti-plagiat, dialogis, fleksibilitas, penghargaan atas prestasi dan pendapat orang lain. Sementara itu, humanitas merujuk kepada kepedulian akan sesama atas dasar nilai-nilai kemanusiaan yang kuat. Sifat kedermawanan maupun empati terhadap orang lain, mendorong mereka untuk memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat secara luas. Di sinilah lahir hubungan yang kuat antara pemuda selaku ilmuwan muda dengan masyarakat yang akan menjadi tempatnya berkiprah kelak. Sedangkan, nasionalitas merujuk kepada pemahaman yang mendalam terhadap empat pilar utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat pilar utama tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan memahami keempat pilar tersebut, semangat nasionalisme akan selalu mengiringi setiap aktivitas mahasiswa sebagai anak bangsa Indonesia.

Kredibilitas juga didukung oleh kapasitas dan kapabilitas mahasiswa sehingga tak hanya pandai dalam berorganisasi, namun juga memiliki kemampuan ilmiah yang baik pula. Tunjukkan bahwa kita bukan mereka yang menjadi mahasiswa abadi, namun mereka yang melahirkan prestasi-prestasi akademis luar biasa. Saya menyakini kaum muda ITB sudah memiliki daya penerimaan dari publik atau akseptabilitas atas berbagai kemampuan dan prestasi yang dimiliki. Di sinilah mahasiswa mulai didengar suaranya sehingga secara bertahap ia mampu menunjukkan kualitas diri sebagai agen perubahan.

Saudara-saudara sekalian,
Daya saing Indonesia
Perlu kita syukuri, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini di atas 6% dengan income per kapita kita berkisar $3000 dan GDP 7000T. Laporan World Economic Forum (WEF) 2011/2012 menyebutkan bahwa Indonesia sekarang termasuk kategori Negara yang berada pada tahapan transisi dari Negara yang factor-driven (Negara yang perekonomiannya digerakkan oleh faktor alami seperti sumber daya alam dan buruh) menuju efficiency-driven (Negara yang perekonomiannya sudah berbasis kepada proses produksi yang efisien). Tentunya kita berharap bahwa kita akan terus maju sehingga betul-betul bisa masuk ke kategori Negara efficiency-driven dan bahkan seterusnya sampai ke kategori Negara yang innovation driven.

Dalam laporan WEF 2011/2012 disebutkan juga bahwa indeks daya saing global (Global Competitiveness Index) Indonesia menduduki peringkat ke-46 menurun 2 peringkat dibanding tahun 2010/2011 setelah meningkat cukup drastik dibandingkan tahun 2009/2010 di peringkat ke-54. Indeks daya saing global diukur berdasarkan 12 pilar. Untuk Indonesia, beberapa pilar menunjukkan ranking yang menggembirakan seperti kondisi ekonomi makro, aspek kesehatan dan pendidikan dasar yang semakin membaik. Dua hal inilah yang menjadi penyebab utama naiknya ranking indeks daya saing global kita. Amandemen UUD 1945 yang mengamanahkan 20% dari APBN untuk keperluan pendidikan, telah menjadi kebijakan yang mampu menjadi tonggak fundamental dalam peningkatan kualitas pendidikan kita untuk menjadi dasar dalam pembangunan knowledge base society di Indonesia.

Meskipun demikian, masih banyak pilar-pilar lain yang masih perlu ditingkatkan, terutama pilar infrastruktur dan kesiapan teknologi (technology readiness). Dari laporan WEF itu terlihat dengan jelas bahwa ranking Indonesia untuk aspek kesiapan teknologi ini masih sangat rendah. Posisi Indonesia untuk sebagian besar indikator-indikator  masih pada peringkat yang rendah. Dari data tersebut dapat disimpulkan meskipun dari sisi kemampuan iptek sudah mulai meningkat akan tetapi dari sisi pemanfaatan iptek masih lemah.

Saudara-saudara sekalian,
Kemenristek dan Sistem Inovasi Nasional
Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) sebagai salah satu kementerian yang bertugas membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan koordinasi di bidang riset, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam menjalankan tugas ini ditetapkan Visi pembangunan Iptek 2009 – 2014 yakni Iptek untuk kesejahteraan dan kemajuan peradaban. Dimana kemajuan iptek nasional diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing produk industri, membuka lapangan pekerjaan baru, meningkatkan profesionalisme individu, menyelesaikan permasalahan lingkungan dan akhirnya memajukan perekonomian bangsa. Untuk mencapai amanat itu, program utama Ristek adalah Penguatan Sistem Inovasi Nasional (SINas) yang diturunkan dari strategi tiga pilar (triple track strategy) KIB II, yakni pro growth, pro poor, pro job, yang kemudian disempurnakan dengan satu pilar baru: green development.

Saudara-saudara sekalian,
Bagaimana untuk mencapainya? Kebersamaan. Tidak ada cara selain menguatkan kebersamaan atau dalam kata lain sinergi. Karena beban meningkatkan pembangunan bangsa bukan hanya terletak di tangan Presiden ataupun pemerintahannya termasuk kementerian. Setidaknya sinergi yang kuat harus tercipta di tiga stakeholder, yakni pada "ABG" atau akademisi, dunia bisnis dan pemerintahan (government), kemudian ditambah dengan komunitas atau masyarakat. Akademisi mewakili komunitas pengembang teknologi, bisnis mewakili komunitas pengguna teknologi, pemerintah mewakili lembaga yang berfungsi untuk memberikan regulasi, intermediasi dan fasilitasi. Peran Ristek dalam upaya penguatan sinergi tersebut difokuskan sebagai penghubung atau intermediasi antara pengembang dan pengguna teknologi tersebut. Terutama dengan universitas maupun industri yang menjadi sumber-sumber inovasi.

Komunikasi yang baik juga harus dibangun dengan kementerian dan lembaga lain yang memiliki litbang. Kita harus duduk bersama dalam merumuskan apa yang menjadi arah kebijakan iptek mendatang. Kemenristek ke depan berupaya membangun armada terdepan untuk mengidentifikasi kebutuhan iptek di "pasar", yang anggota utamanya adalah para kementerian dan lembaga lainnya.

Selain itu, Ristek berupaya membangun "panggung" yang baik bagi keberlanjutan ekosistem tiga stakeholder tersebut. Panggung yang dimaksud adalah basis pengetahuan (knowledge base) yang menjadi wadah interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Pemerintah dalam hal ini berfungsi menciptakan ekosistem yang nyaman bagi industri, pasar dan universitas maupun litbang untuk saling bekerja sama. Ekosistem pendukung yang dimaksud yakni kondisi lingkungan, budaya, tradisi, karakter bangsa, politik, ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Salah satunya adalah pemberian insentif teknis dan atau finansial bagi badan usaha yang menggunakan teknologi nasional dalam kegiatan usahanya. Selain itu ada pula pemberian kompensasi yang sebanding bagi badan usaha yang berkontribusi dalam pembiayaan kegiatan pengembangan teknologi nasional, pemberian prioritas dukungan pembiayaan bagi lembaga dan atau individu peneliti atau perekayasa yang fokus pada upaya untuk menghasilkan teknologi yang sesuai kebutuhan dan dapat menjadi solusi bagi permasalahan nasional. Ada pula pemberian insentif bagi lembaga intermediasi yang berhasil meningkatkan intensitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Dengan adanya panggung yang didukung ekosistem yang baik ini, maka "aktor-aktor" berpotensi yang dimiliki Indonesia tidak lagi perlu mencari panggung lain. Sekaligus bisa menarik perhatian dunia industri lokal maupun internasional untuk ikut mendukung dan bermain di panggung yang sama. Saya yakin bahwa dengan menguatkan SINas, maka berbagai inovasi terobosan yang bisa bermanfaat bagi kehidupan masyarakat bisa didukung dan diterapkan. Dan pada saatnya, SINas yang kuat mampu meningkatkan produktivitas nasional sekaligus daya saing kita di hadapan negara-negara maju saat ini.

Saudara-saudara sekalian,
Kebijakan terkait pengembangan Sistem Inovasi Nasional Indonesia lebih lanjut dapat diuraikan sebagai berikut. Pertama, memaksimalkan dukungan kelembagaan pendidikan untuk membentuk sumberdaya manusia yang cerdas secara akademik (academically-intelligence) dan sensitif terhadap permasalahan nyata (emotsionally-intelligence) sebagai personel pengembang teknologi di lembaga riset maupun di perguruan tinggi sebagaimana telah saya jelaskan pada awal pembicaraan. Kedua, mengubah perilaku periset dari kecenderungan untuk lebih tertarik pada riset untuk pemuas hasrat keingintahuan (curiousity-driven research) menjadi riset untuk menjawab permasalahan nyata (goal-oriented research).  Tujuan kegiatan riset ini difokuskan pada upaya untuk menyejahterakan rakyat dan memelihara keamanan nasional. Ketiga, menempatkan pelaku bisnis/industri pada peran sentral dalam Sistem Inovasi Nasional agar mampu menjembatani aliran teknologi dan aliran informasi antara pengembang teknologi dan konsumen produk akhir. Dan akhirnya, meningkatkan peran pemerintahan melalui regulasinya untuk mengawal agar Sistem Inovasi Nasional tetap fokus pada tujuannya menyejahterakan rakyat dan memelihara keamanan nasional, tetapi tetap memberi ruang yang cukup untuk aktor utama Sistem Inovasi Nasional dalam merespon dinamika lingkungan strategis.

Sejumlah paket kebijakan juga telah disusun Kemenristek guna mendukung amanah tersebut. Antara lain kebijakan Strategis Nasional (Jakstranas) Iptek 2010-2014 yang berisi arah, prioritas utama dan kerangka kebijakan pembangunan Iptek; Agenda Riset Nasional (ARN) tahun 2010-2014 yang berisi agenda riset Iptek nasional dalam 7 bidang fokus iptek , yakni pangan, energi, ICT, transportasi, pertahanan, obat dan kesehatan serta material maju, Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi 2010-2014, dan revisi Buku Putih Iptek 2005-2025 dalam 7 Bidang Fokusyang berisi state of the art litbang iptek dan arah pengembangannya ke depan.

Dalam aspek koordinasi dan sinkronisasi telah dibentuk Konsorsium Riset pada 7 bidang fokus dengan produk-produk target tertentu. Misalnya, dalam teknologi kesehatan berkerjasama dengan Lembaga Eijkman dan Polri telah berhasil mengembangkan teknik DNA Forensik, yang diaplikasikan dalam menuntaskan kasus rumit kurang dari dua minggu seperti: identifikasi pelaku bom bunuh diri hotel Marriot dan Ritz Carlton; identifikasi pembunuhan berantai di Bali; identifikas, penculikan dan perdagangan illegal Balita di Palembang dan Riau, dll. Dalam bidang hankam, telah berhasil dikembangkan Teknologi Kedirgantaraan militer Roket Dirgantara 20-30 km yang dinamakan roket D-230.

Guna meminimalisir korban yang besar akibat tsunami, serta secara bertahap menuju masyarakat pantai Indonesia yang lebih aman terhadap bahaya tsunami, Indonesia bertekad membangun sistem Peringatan Dini Tsunami (Indonesian Tsunami Early Warning System, InaTEWS) yang handal dan terpercaya. Dalam membangun InaTEWS, sebanyak 18 lembaga di Indonesia telah bersinergi sesuai dengan tugas pokoknya masing-masing.

Ristek juga telah dan akan mengembangkan sistem insentif dalam rangka penguatan SINas baik untuk sisi penyedia maupun sisi permintaan. Misalnya, pengembangan Model SINas melalui Revitalisasi Puspiptek menjadi Science & Technopark (STP); Program beasiswa untuk jenjang pendidikan S2 dan S3 bagi para peneliti; pembentukan dan penguatan Sentra HAKI, serta pendaftaran invensi; digital library yang mudah diakses oleh para peneliti; program Insentif Riset dalam rangka meningkatkan kapasitas, produktivitas dan kualitas peneliti dan lembaga penelitian serta peningkatan kapasitas industri dan difusi teknologi.

Saat ini 91 peneliti dari 7 LPNK Ristek, Kemenristek sendiri, TNI AU dan Kementerian Pertahanan sedang mengikuti program beasiswa S2 dan S3 Kemenristek di kampus ITB ini. Pada Program Beasiswa Pascasarjana Kementerian Riset dan Teknologi diharuskan setiap karyasiswa memiliki ko-promotor yang berasal dari institusi di mana karyasiswa berada. Hal ini dimaksudkan agar terjadi kolaborasi riset antara LPNK dengan perguruan tinggi selama karyasiswa menyelesaikan studinya dan kerjasama ini tetap dapat dilanjutkan setelah karyasiswa kembali ke institusinya masing-masing.

Kementerian Riset dan Teknologi telah membangun Pusat Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) di Taman Mini Indonesia Indah untuk memasyarakatkan dan menumbuh kembangkan budaya iptek. PP-Iptek adalah salah satu wahana pameran di kawasan Taman Mini Indonesia Indah yang merupakan sarana pembelajaran luar sekolah untuk menumbuh-kembangkan budaya ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di masyarakat untuk segala generasi secara mudah, menghibur, berkesan dan kreatif melalui berbagai program dan peragaan interaktif yang dapat disentuh dan mainkan. Departemen Fisika ITB juga telah memberikan kontribusinya dalam pembuatan alat peraga Binokuler. Saya berharap PP-IPTEK dapat menjadi contoh dan dapat memfasilitasi perintisan dan perkembangan Science Center di setiap daerah.

Saudara-saudara sekalian,
Inovasi anak bangsa
Berbagai teknologi telah dikembangkan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia. Dalam bidang pangan, Batan telah menguji coba varietas unggul galur mutan harapan padi OBS/1692/PsJ yang diberi nama Bestari (Beras super mutasi radiasi). Varietas ini mempunyai potensi hasil tinggi, tahan terhadap hama wereng coklat dan penyakit hawar daun dan rasanya pulen. Galur kedelai unggul juga dikembangkan oleh Batan dan LIPI. Dalam bidang energy, BATAN melakukan persiapan pembangunan PLTN dan memanfaatkan reaktor nuklir untuk keperluan testing material dan pembuatan radiofarmaka untuk kedokteran nuklir. Begitu pula penelitian panel surya dan penelitian energi terbarukan lainnya yang dikembangkan oleh LIPI dan BPPT. BPPT telah membuat Perisalah, aplikasi yang dapat merubah percakapan dalam bahasa indonesia menjadi teks secara otomatis. Saat ini LAPAN juga sedang mengembangkan teknologi roket berdaya jangkau 300 kilometer. Pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan difokuskan pada pengembangan alat utama sistem pertahanan (alutsista) untuk menunjang peran dan fungsi Tentara Nasional Indonesia sebagai salah satu elemen pertahanan dan keamanan Negara, seperti kendaraan benam nirawak, transponder sasaran torpedo, panser beroda ban 6x6, radip manpack dan lainnya. Begitu pula untuk POLRI, seperti  teropong bidik siang senapan, mobile shooting range, kapal patrol cepat 14 meter, robot penjinak bom. Begitu pula LIPI juga telah mengembangkan mobil listrik hybrid. Menjadi satu keniscayaan bahwa dengan membangun sinergi berbagai elemen pengembang dan pengguna iptek maka kita akan menjadi bangsa yang mandiri dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan karya-karya inovasi yang dapat dinikmati oleh masyarakat.

Saudara-saudara sekalian,
Hasil Teknologi orang Indonesia yang Mendunia
Selain apa yang telah disebutkan di atas, ternyata ada juga penemu dari Indonesia yang hasil temuannya banyak digunakan diseluruh dunia? Berdasarkan dari beberapa informasi yang pernah dirilis, berikut ini adalah 9 hasil penemuan orang Indonesia dibidang teknologi yang diantaranya ternyata berasal dari ITB:

1961 – Pondasi Cakar Ayam
Teknologi ini ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo ketika menjadi pejabat di PLN yang diminta untuk mendirikan tujuh menara listrik tegangan tinggi di daerah rawa-rawa Ancol, Jakarta. Pondasi yang dibuatnya ternyata mampu mengurangi hingga 75% tekanan pada permukaan tanah di bawahnya dibandingkan dengan pondasi biasa. Pondasi cakar ayam ini kemudian digunakan di Bandara Juanda, Surabaya yang memungkinkan landasan menahan beban hingga 2.000 ton atau seberat pesawat super jumbo jet. Selain di Indonesia teknologi yang sudah dipatenkan ini juga digunakan di 9 negara lain, seperti Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Belgia, Kanada, AS, Belanda.

1983 – Pesawat CN-235
Adalah pesawat dengan mesin turbo propeller hasil kerjasama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dengan CASA asal Spanyol. Pesawat ini mampu mengangkut 2 pilot hingga 45 orang penumpang dengan kecepatan maksimal 509 km per jam dan jarak tempuh 796 km. Pesawat ini kemudian digunakan oleh berbagai maskapai penerbangan sipil dan militer di sejumlah negara di dunia.

2006 – Pemindai 4 Dimensi
Electrical Capacitance Volume Tomography ditemukan oleh Dr. Warsito Purwo Taruno dan dipatenkan secara internasional. ECVT merupakan teknologi yang menggunakan sensor medan listrik statis yang bisa menampilkan gambar 4 dimensi dari tingkah laku gas dan partikel di dalam reaktor tertutup. Teknologi ECVT ini diperkirakan dapat mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang, mulai dari energi, proses kimia, kedokteran, hingga nano-teknologi.

2010 – Sistem Telekomunikasi 4G berbasis OFDM
Bersama koleganya, Khoirul Anwar, alumni ITB kelahiran Kediri ini merombak pakem efisiensi alat komunikasi. Ia mematenkan temuannya seputar sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing). Atas karyanya, Khoirul Anwar mendapat penghargaan pada 2010, dari Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC), Taiwan.

Melihat pada historis diatas, dalam hal ini sebenarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan mempunyai potensi dan kemampuan yang besar dalam membangun peradaban bangsa Indonesia ini kearah yang lebih baik lagi. Karena itu kepercayaan diri kita sebagai bangsa Indonesia harus terus dibangun dengan disertai oleh kerja keras dan semangat belajar yang tinggi.

Saudara-saudara sekalian,
Kemenristek dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangungan Ekonomi Indonesia
Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia saat ini tengah memiliki agenda besar dalam melakukan transformasi serta akselerasi proses pembangunan nasional dalam instrumen MP3EI (Master Plan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Nasional), dimana MP3EI merupakan bagian integral dalam sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pada prinsipinya dokumen MP3EI merupakan dokumen kerja yang komplementer terhadap RPJPN 2005-2009 (UU No. 17 Tahun 2007) dan RPJMN 2010-2014 (Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 ). MP3EI dirumuskan dengan semangat “Business as Not Usual”. Semangat ini tercermin dalam 3 hal. Pertama, MP3EI mengedepankan terobosan Strategi dan kebijakan dimana titik berat pendekatannya lebih menekankan pada aspek solusi, bukan pada pendekatan masalah yang dihadapi. Kedua, MP3EI menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi dengan pendekatan peningkatan value added, mendorong investasi, mengintegrasikan sektoral dan regional, serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. Ketiga, MP3EI mendengarkan masukan dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha dan pemerintah daerah.

Secara praktis, MP3EI mempunyai 3 (tiga) strategi utama yang dioperasionalisasikan dalam inisiatif strategis. Strategi pertama adalah pengembangan potensi ekonomi melalui 6 koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi BUMN, Swasta Nasional dan FDI dalam skala besar di 22 kegiatan ekonomi utama. Penyelesaian berbagai hambatan akan diarahkan pada kegiatan ekonomi utama sehingga diharapkan akan terjadi peningkatan realisasi investasi untuk memacu pertumbuhan ekonomi di 6 koridor ekonomi. Strategi kedua adalah memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional untuk merevitalisasi kinerja sektor riil. Untuk itu akan ditetapkan jadwal penyelesaian masalah peraturan nasional dan infrastruktur utama nasional. Menurut laporan Menko Perekonomian, berdasarkan hasil diskusi dengan para pemangku kepentingan, khususnya dunia usaha, teridentifikasi sejumlah regulasi dan perijinan yang memerlukan debottlenecking. Sementara itu strategi ketiga adalah penguatan kemampuan SDM dan Iptek iptek nasional melalui pengembangan Center of Excellence di setiap koridor ekonomi.

Intinya MP3EI diharapkan dapat menjadi sebuah jalan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi kekuatan utama dunia. Melalui 4 strategi utama yang kemudian dijabarkan dalam inisiatif strategic tersebut, kita berupaya untuk menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia dengan pendapatan per kapita US$ 13.000 – 16.100 di tahun 2025. serta menjadi delapan besar dunia dengan pendapatan per kapita US$ 46.900 pada tahun 2045. Republik Indonesia adalah negara yang dikaruniai dengan hampir semua prasyarat untuk mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan besar perekonomian dunia. Dengan kekayaan sumber daya alam yang beragam dan melimpah, jumlah penduduk yang besar dan produktif, serta akses yang strategis ke jaringan mobilitas global, Indonesia mempunyai asset dan akses yang mendukung terwujudnya bangsa ini sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam tata pergaulan antar bangsa.

Saudara-saudara sekalian,
Secara praktis manifestasi tersebut akan sangat mensyaratkan kerjasama dan dukungan dari seluruh pihak, baik yang bersifat sinergi antar lembaga maupun pengembagan kerjasama dengan lembaga non pemerintah. Merujuk pada survey terakhir tahun 2009 yang dilakukan LIPI, jumlah peneliti dibawah lembaga penelitian pemerintah yang berada di Indonesia seluruhnya adalah 7886 orang, sementara jumlah dosen seluruh Indonesia berdasarkan survey yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi adalah  257.449 orang. Sementara itu berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh PII, antara supply yang dapat dihasilkan oleh Kementerian Dikbud dan demand dari sektor Industri, maka Indonesia tengah mengalami defisit tenaga engineer hingga 15.000 orang hingga tahun 2025. Fenomena ini menunjukan bahwa potensi masuknya tenga ahli asing ke Indonesia akan semakin besar. Karenanya dalam hal ini pemerintah sangat mengharapkan peran serta dan kontribusi yang dapat diberikan semua stakeholder dalam mendukung kebutuhan-kebutuhan tenaga ahli bagi pembangunan dan kemajuan Indonesia secara utuh.

Saudara-saudara sekalian,
Konteks PT dan Pemberdayaan Sistem Inovasi Nasional
Yang menjadi pembahasan kita sekarang adalah bagaimana posisi perguruan tinggi dalam menjawab isu-isu nasional yeng berkaitan dengan Iptek, dan reformasi kebijakan-kebijakan terkait yang menjadi konsekuensi posisi ini. Ketika otonomi perguruan tinggi diarahkan untuk perbaikan manajemen pengelolaan perguruan tinggi, fungsi sosial apa yang digariskan bagi perguruan tinggi. Reformasi perguruan tinggi bukanlah hal yang baru di manca negara. Konsepsi tentang fungsi IPTEKS dan pelembagaan litbang IPTEKS  secara kontinu dikembangkan dan dievaluasi. Di awal abad ke-20 sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa beralih bentuk dari teaching university menuju research university, sebagai respons terhadap, antara lain, kepentingan pertahahan nasional. Di era pasca Perang Dunia II, ketika perang dan damai bukan lagi menjadi isu internasional, sejumlah perguruan tinggi di AS, UK menjajagi bentuk entrepreneurial university.   

Misalnya, berbagai upaya dilakukan untuk melakukan integrasi—dalam objektif dan organisasi—antara research groups dan perusahaan-perusahaan industrial, dengan tujuan  menumbuhkan sektor industrial baru berbasis riset akademik. Hubungan-hubungan segitiga perguruan tinggi, pemerintah dan industri/usaha dijajagi dan dibentuk:

  • Bentuk-bentuk majemuk venture capital publik-swasta menjadi bagian dari pengembangan jejaring universitas-industri-pemerintah.
  • Di Stanford, inkubasi bisnis berlangsung beriringan dengan pengembangan kluster perusahaan-perusahaan, dengan bantuan venture capital publik maupun swasta.


Gelombang perubahan perguruan tinggi di era pasca PD II ini tidak lagi bermisikan kepentingan pertahan, melainkan lebih menitikberatkan sistem inovasi guna menopang daya saing industri nasional. Sebuah sistem inovasi mencakup jejaring aktor/pelaku, beserta dengan kebijakan-kebijakan dan lembaga-lembaga yang mempengaruhi pemfungsian Iptek dalam kehidupan ekonomi suatu masyarakat bangsa. Ini mencakup, antara lain, kebijakan-kebijakan yang menyangkut alih-teknologi, perlindungan hak atas karya intelektual, penanaman modal asing, import barang-barang kapital. Membangun sistem inovasi nasional (SINas) merupakan proses kompleks yang melibatkan  agen-agen yang heterogen dengan beragam kepentingan-kepentingan. Untuk mewujudkan sistem inovasi nasional yang kokoh, kapasitas litbang Iptek di lembaga-lembaga terkait—baik di sektor publik maupun swasta, merupakan persyaratan penting. Selain ini, diperlukan pula kemampuan untuk menjalin relasi-relasi di antara berbagai unsur sosial yang terlibat, untuk munimbuhkan proses inovasi antarlembaga/antar-stakeholders, sehingga membentuk jalinan inovasi Iptek.

Saudara-saudara sekalian,
Iptek untuk Masa Depan
Kementerian Riset dan Teknologi beserta tujuh lembaga penelitian non-kementerian (LPNK) sesuai dengan Kebijakan Strategis Nasional Iptek (Jakstranas) telah merumuskan 7 fokus program penelitian dan pengembangan Iptek. Ketujuh fokus dimaksud yakni terdiri dari penelitian dan pengembangan Iptek bidang ketahanan pangan, bidang energi baru dan terbarukan, bidang teknologi dan manajemen transportasi, bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Pertahanan dan Keamaman, Material maju dan bidang kesehatan dan obat.

Ketujuh bidang fokus Iptek ini tentu penting untuk diteruskan saat ini dan mendatang paling tidak karena tiga  pertimbangan berikut. Pertama, keenam fokus bidang Iptek dimaksud merupakan kebutuhan dasar manusia (butsarman) sehingga selalu relevan untuk terus diperhatikan. Kedua, keenam fokus bidang Iptek tersebut merupakan sektor penting dalam menggerakkan roda perekonomian. Ketiga, isu, permasalahan dan tantangan penelitian dan pengembangan dari ketujuh bidang focus di atas bukan saja belum sepenuhnya tuntas dilakukan hingga kini, namun bahkan semakin kompleks dan dinamis perkembangannya mengikuti berbagai perubahan internal dan eksternal yang terjadi pada level lokal, nasional, maupun global. Oleh karena itu, focus riset Iptek pada masa mendatang nampaknya perlu ditambahkan selain ke enam fokus bidang riset tersebut.   

Menurut Battelle (suatu insitut internasional terkemuka) terdapat 10 bidang riset yang setidaknya dalam 20 tahun kedepan yang memiliki kontribusi signifikan dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu riset dalam bidang kedokteran dan kesehatan berbasis genetika,  riset dalam bidang sumber daya energi (seperti baterai, fuel-cell, dan generator listrik mikro), riset berkaitan dengan GreenTech (Green Integrated Technology) untuk mengatasi terhadap perubahan iklim global, dan sampah yang menggunung akan terus mengancam lingkungan, Omnipresent Computing (komputer yang tertanam dalam pakaian dan mungkin tertanam di bawah kulit), Nano-machines, transportasi, riset berkaitan dengan bidang pangan dan tanaman yang didesain khusus, riset yang berkaitan dengan barang dan peralatan cerdas (termasuk telepon, oven, kulkas, dsb), riset berkaitan dengan air yang aman dan murah, dan riset yang berkaitan dengan super senses yang memungkinkan kita untuk mendengar lebih baik dibandingkan sebelumnya atau melihat lebih jauh atau dalam kegelapan.

Mempertimbangkan usulan bidang riset tersebut di atas, agaknya fokus bidang riset  yang perlu mendapat perhatian dalam menjungkit pembangunan ekonomi nasional dalam lima tahun (2010-2014) perlu ditambahkan fokus bidang riset yang menyangkut teknologi penghematan air dengan segala permasalahannya dan fokus riset di bidang Industri biokimia. Khusus untuk yang terakhir ini diperlukan karena selama ini industri kimia yang menghasilkan plastik, lem, cat, dan banyak sekali bahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari mengandalkan minyak bumi sebagai sumber bakunya, dan karena itu sering disebut industri petro-kimia.

Namun karena alasan menipisnya persediaan serta masalah lingkungan dan kesehatan, belakangan timbul gagasan untuk memanfaatkan bahan hayati, yang akan cenderung mengubah industri petro-kimia menjadi industri bio-kimia. Menurut pengamatan dan kajian ahli (dari Eropa), terdapat peluang raksasa Indonesia untuk mengembangkan bidang ini. Ibaratnya mau produk apa saja, bahannya bisa dicari dari diversitas hayati Indonesia. Sebuah contoh sederhana adalah chitin yang (saat ini sudah berhasil) diperoleh dari kulit udang dan “cangkang” kepiting untuk dipakai sebagai perekat makanan dan perekat/penggumpal sabun. Bahkan tema penelitian dan pengembangan iptek bidang ini dipercaya mempunyai daya saing yang tinggi dan mampu memberikan peluang besar untuk menghasilkan keunggulan nasional dalam kurun 10 tahun.

Oleh karena itu, upaya untuk memposisikan pendidikan dalam pengembangan sumberdaya manusia dan riset untuk bidang Iptek dalam menjungkit pertumbuhan ekonomi berkelanjutan masih membutuhkan waktu yang panjang. Panjangnya waktu tersebut hanya akan dapat diperpendek jika komitmen semua pihak khususnya pemerintah, industri dan akademisi bahu membahu mewujudkan hal tersebut. Peran masyarakat sebagai konsumen untuk memanfaatkan  teknologi lokal yang dihasilkan  juga sangat diperlukan agar investasi yang ditanamkan dalam pendidikan dan riset tersebut dapat segera kembali dan bahkan memberikan keuntungan. Inilah barangkali salah satu kunci dan tantangan bagaimana pendidikan dan riset serta hasil-hasilnya dapat berperan dalam menjungkit pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Saudara-saudara sekalian,
Bandung dan Hakteknas ke-17
Pada tahun 2012 ini, insan Iptek akan merayakan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang ke-17 dengan tema Inovasi untuk Kemandirian Bangsa. Angka ’17’ ini biasanya dipersepsikan sebagai masa peralihan menuju kedewasaan yang menunjukkan tingkat kematangan psikologis tertentu. Bandung telah dipilih menjadi tempat penyelenggaraan Hakteknas tahun ini, karena dari Bandung jugalah 17 tahun lalu, masyarakat Indonesia dibuat kagum dengan karya anak bangsa melalui Penerbangan Perdana Pesawat N-250 Gatotkaca. Kita ingin mejadikan ‘Bandung Lautan Iptek’ dengan berbagai acara yang menggambarkan sinergi inovasi antar pelaku Iptek akademisi, bisnis dan pemerintah. Kami berharap ITB bisa menjadi pemain utama dalam rangkaian acara ini.

Pada akhirnya, kami menghaturkan ucapan terima kasih kepada Rektor dan seluruh unsur pimpinan ITB, serta seluruh jajaran panitia pelaksana yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk menyampaikan paparan terkait pengembangan iptek di Indonesia, dan terima kasih juga kepada seluruh sivitas akademika ITB yang telah mengikuti penyampaian ini.  Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat.

Terima kasih atas perhatiannya.

Billahi Taufiq wal Hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Menteri Negara Riset dan Teknologi
Gusti Muhammad Hatta