Ristek Headline |
Rabu 22 Oktober 2014
 
 

IQE

Seleksi Calon Kepala LIPI
CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Kamis 16 Oktober 2014
Seminar Nasional Teknologi Sistem Pemantauan dan Pengawasan Batubara di Indonesia

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 18 April 2012
Perijinan Peneliti Asing: Menilik Penelitian Asing di Sulawesi Tengah
Print PDF Facebook Twitter Email


Berbagai peneliti asing mempelajari hubungan antara kesehatan tanaman kakao dengan ekologi hama semut, burung dan kelelawar dalam kaitannya dengan lanskap hutan alam di perkebunan tanaman kakao di desa Wuasa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Bermacam macam sampel daun dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda akibat serangan hama, dianalisa dan dikorelasikan dengan analisa kandungan nutrisi sampel semut di lokasi.


 “Ada kontrol alamiah secara biologis yang dilakukan oleh kutu putih di sarang-sarang semut di pohon-pohon kakao, sehingga populasi semut tidak sampai berlebihan dan mengganggu tanaman kakao”, papar Pierre Gras, peneliti dari Albrech von Haller Institute of Plant Sciences, Jerman pada kesempatan kunjungan lapangan, sebagai rangkaian monitoring kegiatan perijinan litbang asing pada 15 April 2012 yang dilakukan oleh Tim Koordinasi Pemberian Izin Penelitian Asing (TKPIPA) dan Sekretariat TKPIPA Kemenristek.


Dalam penelitian lapangannya di Desa Wuasa, Lore Utara Kab. Poso, Pierre mendalami interaksi beberapa satwa malam (nocturna) seperti kelelawar, laba-laba dengan binatang predator dan serangga arthopoda dan herbivora di malam hari. Sedangkan di siang hari interaksi yang diteliti adalah antara burung, semut dan kutu putih pada tanaman kakao. Pierre berhasil mengungkap beberapa factor yang mempengaruhi kegiatan predator antara lain adalah: 1) jarak perkebunan kakao dengan hutan primer; 2) ketersediaan naungan pohon lainnya; 3) suhu udara; 4) kelembaban; 5) kelimpahan kelopak/ polong kakao; dan 6) komunitas semut”, lanjut Pierre.


Disisi lain, Yasmin Abou Rajab dari Dept. of Botany, University of Hohenheim meneliti kompetisi terhadap sumber air dan biomasa akar terhadap tingkat produktifitas tanaman kakao. “Penelitian tersebut bertujuan menetapkan kandungan biomassa yang ideal bagi tanaman kakao, distribusi mineral oleh akar-akar tanaman secara vertical, dan produktifitas akar bawah tanah dan bagian atas tanaman”, ujar Yasmin.


Isaline Mercerat, seorang mahasiswi S2 dari Institute for Systematic Botany, Zurich University, Swiss di kawasan yang sama, meneliti domestikasi berbagai tanaman sehingga menjadi tanaman kebun di halaman rumah penduduk. Ia juga mengidentifikasi berbagai keanekaragaman tanaman yang telah dibudidayakan oleh pendudukan asli Sulteng dan penduduk transmigran dari pulau Jawa. Keanekaragaman tanaman budidaya yang diteliti meliputi tanaman di pekarangan rumah dan di persawahan dan lading”,jelas Isaline.


Peneliti yang bermitra kerja dengan Purwanto, profesor riset yg juga Peneliti Senior, Puslit Biologi LIPI ini, menemukan bahwa keragaman tanaman yang ditanam oleh penduduk transmigran asal P. Jawa ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk asli Sulteng”,ujarnya.


Disamping ketiga peneliti di atas, masih ada empat peneliti asing  lainnya dengan topik terkait agroforestry dan ekologi. Aiyen Tjoa, Henry Barus, dan Hafsah dari Fakultas Pertanian Universitas Tadulako selaku mitra kerja penelit asing tersebut dan telah memfasilitasi serta senantiasa memandu acara kunjungan monitoring ke lapangan”, papar wakil Untad.


Sebagai ujung rangkaian kunjungan dilakukan Sosialisasi Perizinan Penelitian Asing pada tanggal 16 April 2012 di Ruang Sidang Rektorat, Kampus Universitas Tadulako, Palu yang dihadiri oleh para peneliti asing yang sedang melakukan penelitian di lokasi sekitar Sulawesi Tengah, para stakeholder  di daerah terkait perijinan  peneliti asing juga para peneliti dan pihak2 mitra terkait lainnya. Sosialisasi  dibuka oleh Rektor Untad, Mohammad Basir.


Dalam laporannya, Wardah, Ketua Center for Tropical Forest Margin – UNTAD menyatakan pentingnya izin penelitian bagi orang asing guna mengontrol kegiatan litbang dan melindungi keanekaragaman hayati dan kekayaan alam lainnya. Sedangkan Rektor UNTAD Mohammad Basir menekankan pentingnya meningkatkan koordinasi antar instansi dalam pemberian izin penelitian asing.


Pengantar dari Kementerian Riset dan Teknologi disampaikan oleh Lukman Shalahuddin, Kabag Administrasi Perizinan Penelitian, yang sekaligus sebagai paparan latar belakang dilakukannya sosialisasi dan monev kegiatan peneliti Asing .


Dalam sambutannya, Lukman menjelaskan keterkaitan antar Kedaulatan Indonesia, pembangunan Nasional, dengan kebijakan Iptek nasional. “Potensi kekayaan alam termasuk keanekaragaman hayati menjadi daya tarik yang besar di mata peneliti asing. Maka perlu sinkronisasi antara Isu-isu global dan kerjasama internasional serta perlindungan terhadap SDA. Oleh karena itu, sesuai dengan amanat pasal 17 UU no. 18/ 2002, Pemerintah bertanggung jawab untuk memfasilitasi dan mengatur kerjasama iptek internasional yang di dalamnya termasuk juga kerjasama penelitian antarnegara,” papar Lukman.


Topik peneliti asing di Sulteng saat ini  banyak terkait dengan agroforestry, ekologi, dan perkebunan kakao. Hal ini sudah sesuai dengan MP3EI, dan terdapat peluang untuk pengembangan kerjasama riset Internasional di bidang perikanan dan kelautan”, ucap Lukman diakhir sambutannya.


Paparan Mekanisme Perizinan disampaikan oleh Sri Wahyono, Kasubag Administrasi Perizinan Penelitian Asing yang berlandaskan pada PP 41 tahun 2006 yang di jabarkan dalam buku panduan.


Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, peserta dari Karantina Pertanian menanyakan hal hal terkait Material Transfer Agreement (MTA) dan persyaratan bahwa sampel dapat dibawa keluar Indonesia. Sedangkan Kepala Kantor Imigrasi Palu yang juga hadir pada acara tersebut, menghimbau agar seluruh peneliti asing yang akan melakukan penelitian di Sulteng agar melapor dan mengurus izin Tinggalnya di Kanim Palu.


Balitbangda Provinsi Sulteng dengan tegas menyatakan tidak mengetahui tentang kegiatan penelitian asing, padahal tupoksinya adalah koordinasi di bidang penelitian”,tandasnya. Menjawab  hal itu,  Wahyono menjelaskan bahwa dari 32 provinsi baru 18 provinsi yang memiliki Balitbangda termasuk Sulteng. Salah satu tupoksi Ristek adalah melakukan koordinasi dan pembinaan terhadap lembaga litbang seperti Balitbangda yang masih memiliki banyak keterbatasan infrastruktur maupun SDM.


Lukman juga menjelaskan bahwa “mengikuti peraturan yang ada saat ini, perizinan penelitian asing tidak mengatur pelaporan kepada Balitbangda. Namun jika Pemda berinisiatif untuk mengkoordinir hal itu dengan Balitbangda, dipersilahkan bersepakat dan menyusun SOP nya seperti yang telah dilakukan oleh Pemda Prov. Sumsel dimana Balitbangnov telah diberi tugas untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan litbang di provinsi itu”, jelasnya.


Masih dalam sesi diskusi, Norman dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) mengingatkan kewajiban para peneliti asing untuk memberikan presentasi dan menyerahkan laporan hasil penelitiannya di kawasan konservasi yang menjadi wewenangnya tersebut. Ia juga menyinggung manfaat kehadiran penelitia asing di kawasan tersebut, mengingat tidak ada kegiatan pendampingan yang melibatkan staf Taman Nasional.


“Jika hal tersebut memang telah menjadi aturan resmi Taman Nasional, Ristek sangat mendukung. Hal ini sesuai ketentuan tentang kewajiban peneliti asing”, Wahyono menjelaskan.


Aiyen yang bertindak selaku mitra kerja juga mengklarifikasi bahwa pihaknya telah beberapa kali memberikan laporan hasil penelitian ke pihak BBTNLL namun pelibatan staf BBTNLL sebagai pendamping agak sulit diakomodasikan mengingat keterbatasan dana riset”, kilah Aiyen.


Kegiatan monev selanjutnya diteruskan dengan mengunjungi Lab CTFM UNTAD yang merupakan warisan kerjasama antar UNTAD – IPB dan Gotingen Universitet. Seluruh lab dan isinya beserta 9 kendaraan telah dihibahkan dan menjadi milik UNTAD (ls/bhh/ humasristek).



Senin 20 Oktober 2014
Seminar Nasional Teknologi Sistem Pemantauan dan Pengawasan Batubara di Indonesia
Kamis 16 Oktober 2014
Rapat Kerja PP-IPTEK 2014: Peran Strategis PP-IPTEK Dalam Mewujudkan SDM Iptek yang Berdaya Saing
Kamis 16 Oktober 2014
RISET-PRO Targetkan Cetak Doktor Handal
Kamis 16 Oktober 2014
Workshop Inkubasi Bisnis Teknologi
Rabu 15 Oktober 2014
Peluncuran Rencana Pitalebar Indonesia 2014-2019
Selasa 14 Oktober 2014
Kotabaru Dicanangkan sebagai Kawasan PKN
Senin 13 Oktober 2014
Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pengembangan Sel Punca dan Jaringan
Senin 13 Oktober 2014
PP-IPTEK Adakan Kontes Robot 2014
Senin 13 Oktober 2014
Soft Launching SIDa di Kabupaten Karanganyar
Jumat 10 Oktober 2014
Menristek Hadiri Rapat Pembina Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara (YPBSU)
[ Berita lainnya ]