Ristek Headline |
Kamis 21 Agustus 2014
 
 

ASTW 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 12 Agustus 2014
Penutupan RITECH EXPO 2014

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Jumat 29 April 2011
Eksistensi PerPPU dalam Sistem Perundang-undangan
Print PDF Facebook Twitter Email

Dalam rangka peningkatan pengetahuan tenaga Perancang Peraturan Perundang-undangan, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM RI, Rabu, 27 April 2011 lalu, menyelenggarakan ceramah dengan tema “Eksistensi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) dalam Sistem Perundang-undangan di Indonesia”.

Pada kesempatan  tersebut hadir Hakim Mahkamah Konstitusi, Maria Farida, sebagai pembicara; Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas, Saldi Isra, sebagai narasumber; dan Direktur Perancangan Peraturan Perundang-undangan, Zafrullah Salim, sebagai moderator.

“Ceramah ini diselenggarakan secara rutin untuk meningkatkan pengetahuan perancang dan diikuti oleh perancang peraturan perundang-undangan di Dirjen Peraturan Perundang-Undangan Kementerian Hukum dan HAM serta kementerian lainnya,” ujar Zafrullah di awal acara.

Pada kesempatan tersebut, Saldi Isra menyampaikan makalahnya dengan tema ”Eksistensi PERPPU dalam Sistem Perundang-undangan” dengan pokok bahasan perdebatan hierarki Perppu, makna kegentingan yang memaksa, makna masa sidang DPR berikutnya, makna persetujuan DPR, bentuk hukum bila Perppu ditolak, dan Perpu setelah putusan Mahkamah Konstitusi.

“Berdasarkan ketentuan Pasal 22 Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945 dinyatakan bahwa 'dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang'. Ketentuan tersebut disebut sebagai “hak konstitusional subjektif Presiden”, ujar Saldi Isra.

Berkaitan dengan perdebatan mengenai hierarki PERPPU, menurut Saldi Isra hal tersebut disebabkan karena adanya kekeliruan meletakkan Perppu di bawah UU. Secara substansi, Perppu sama dengan UU.

“Oleh karena itu, salah satu koreksi untuk revisi UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah mengembalikan PERPPU pada kedudukan semula (setara dengan UU),” jelas Saldi Isra.

Lebih lanjut Saldi Isra juga menyampaikan bahwa sampai sejauh ini, tidak ada kriteria yang jelas mengenai makna “kegentingan yang memaksa”. Berkaitan dengan kegentingan memaksa, dapat digunakan teori dari AALF van Dulleman dalam bukunya Staatsnoodrecht en Democratie (1947) mengenai 4 (empat) syarat Hukum Tata Negara Darurat, yaitu eksistensi Negara tergantung tindakan darurat yang dilakukan; tindakan itu diperlukan karena tidak bisa digantikan dengan tindakan lain; tindakan tersebut bersifat sementara; dan ketika tindakan diambil, parlemen tidak bisa secara nyata dan sungguh-sungguh.  

“Pemerintah harus lebih berhati-hati dalam mengeluarkan PERPPU, karena PERPPU mempunyai karakter sebagai produk hukum yang dikeluarkan dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. Hal ikhwal kegentingan yang memaksa harus benar-benar diperhatikan sebelum mengeluarkan sebuah PERPPU. PERPPU harus ditempatkan sebagai pintu terakhir, bukan digunakan sebagai proses mem-bypass proses pembentukan UU secara normal,” lanjut Saldi Isra.

Sedangkan Maria Farida Indrati di dalam ceramahnya menyampaikan beberapa hal antara lain Penjelasan Pasal 22 UUD NRI Tahun 1945, syarat kegentingan memaksa, kewenangan Mahkamah Konstitusi menurut Pasal 24 C UUD NRI Tahun 1945, kewenangan dan kewajiban Mahkamah Konstitusi menurut Pasal 10 UU No. 24 Tahun 2003 serta perkembangan wewenang Mahkamah Konstitusi.

Menurut Maria Farida, penjelasan UUD NRI Tahun 1945 masih mempunyai daya laku karena dalam amandemen UUD NRI Tahun 1945 penjelasan tidak pernah dicabut.

“Selama pasal dalam UUD NRI Tahun 1945 tidak diubah, maka penjelasan pasal tersebut tetap mempunyai daya laku, sebagai contohnya Pasal 22 UUD NRI Tahun 1945 yang mengatur tentang Perppu,” ujar Maria Farida.

Oleh karena itu, dalam mempelajari PERPPU harus melihat penjelasan Pasal 22 UUD NRI Tahun 1945. Pasal ini mengenai noodverordeningsrecht Presiden. Aturan ini memang perlu diadakan agar keselamatan negara dapat dijamin oleh Pemerintah dalam keadaan genting, yang memaksa Pemerintah untuk bertindak lekas dan tepat. Meskipun demikian, Pemerintah tidak akan terlepas dari pengawasan DPR.

Selanjutnya, berkaitan dengan kekuatan mengikatnya Perppu, Maria menjelaskan bahwa PERPPU mempunyai kekuatan hukum mengikat sebelum adanya penolakan/persetujuan DPR. Jika Perppu tersebut disetujui oleh DPR, maka Perppu akan menjadi UU.

“Namun, bila Perppu tidak mendapat persetujuan DPR (ditolak),  maka Perppu tersebut akan kehilangan kekuatan berlaku, ujar Maria Farida.

Hal ini diperkuat oleh Putusan Mahkamah Konstitusi No. 138/PUU-VII/2009 yang mengukuhkan bahwa secara substansif, sebelum adanya pendapat di DPR, Perppu tersebut sah dan berlaku seperti UU.

“Karena itu, Mahkamah Konstitusi dapat menguji apakah secara materiil Perppu bertentangan atau tidak dengan UUD NRI Tahun 1945 sebelum adanya persetujuan dan penolakan DPR,” tambah Saldi Isra.

"PERPPU dinyatakan tidak berlaku dengan UU Pencabutan PERPPU. UU Pencabutan Perppu ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan dan dinyatakan berlaku surut sejak tanggal penolakan Perppu oleh DPR", jelas Maria Farida.

Mengakhiri kegiatan ceramah peningkatan pengetahuan perancang peraturan perundang-undangan, Maria Farida dan Saldi Isra mengharapkan Pemerintah lebih berhati-hati dalam penyusunan Perppu dengan memperhatikan syarat kegentingan yang memaksa. Di samping itu, diharapkan ke depan perancang peraturan perundang-undangan dapat berperan aktif dalam penyusunan peraturan perundang-undangan. (bhh/wac/humasristek)



Selasa 19 Agustus 2014
Simposium Nasional Implementasi Hasil Riset Vaksin
Senin 18 Agustus 2014
Inovasi untuk Komunitas ASEAN yang Lebih Baik
Minggu 17 Agustus 2014
Iptek Bagi Pembangunan Nasional
Rabu 13 Agustus 2014
Seminar Sejarah dan Peradaban Medang–Aspek Perkembangan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Nusantara
Rabu 13 Agustus 2014
Menristek Dapat Pengahargaan Bintang Mahaputra Adipradana
Rabu 13 Agustus 2014
Penutupan RITECH EXPO 2014
Rabu 13 Agustus 2014
Wujud Penghargaan Kemenristek Bagi Pegiat Iptek Tanah Air
Selasa 12 Agustus 2014
Puncak Peringatan Hakteknas ke-19
Selasa 12 Agustus 2014
Seminar Nasional Iptek 2014 : Membangun Ide untuk Kemandirian Pangan, Energi dan Air
Senin 11 Agustus 2014
Musrennas Iptek 2014 : Iptek untuk Daya Saing Bangsa
[ Berita lainnya ]