Ristek Headline |
Kamis 23 Oktober 2014
 
 

IQE

Seleksi Calon Kepala LIPI
CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Kamis 16 Oktober 2014
Seminar Nasional Teknologi Sistem Pemantauan dan Pengawasan Batubara di Indonesia

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 06 April 2011
Biodiversity Indonesia: Potensi Luar Biasa Untuk Mengatasi Masalah Energi dan Kesehatan
Print PDF Facebook Twitter Email

Lagi-lagi beberapa temuan di bidang keanekaragaman hayati Indonesia, terungkap dalam seminar International Cooperative Biodiversity Group (ICBG), yang berlangsung kemarin Senin 4 April 2011 di Puslit Biologi LIPI, Cibinong. Kerjasama antara Indonesia-Amerika, dalam hal ini antara LIPI dan University of California at Davis ini merupakan proyek yang cukup besar dan terbagi menjadi beberapa sub-program yang mencakup survey keanekaragaman serangga, tanaman, burung, mamalia, reptil, mikroba, penggunaan untuk energi dan kesehatan, serta konservasi dan pembinaan masyarakat setempat.

Proyek ini sudah dimulai sejak tahun 2009, dan telah menghasilkan 2500 spesimen, 30% diantaranya belum teridentifikasi. Delapanratus lebih diantaranya telah teridentifikasi dari 127 family. Diantara spesies baru itu adalah bambu dan begona jenis baru, dan serangga yang hanya ada di Sulawesi, misalnya Dalara Wasp.

Acara dibuka oleh Rochadi Abdulhadi, selaku Koordinator Projek yang menekankan potensi luar biasa dari projek ini. Disisi lain,  hal ini merupakan contoh kolaborasi riset Internasional yang sangat signifikan artinya antara Indonesia dan Amerika", sambut Rochadi.

Kepala Balitbang Kehutanan, Kemhut, Tachrir Fathoni, dalam sambutannya mensitir ungkapan mantan Menteri Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim, bahwa masa depan bangsa Indonesia ada pada biodiversity. “Oleh karena itu kita harapkan ICBG juga merupakan masa depan kita, dengan jalan memanfaatkan hasil-hasil penelitiannya untuk negeri kita”, sambung Tachrir. Lebih lanjut beliau mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini juga tergantung pada dukungan Pemda dan masyarakat setempat." Apabila mereka menyadari pentingnya dan menyentuh kebutuhan langsung. Oleh karena itu mereka perlu terlibat sejak awal kegiatan, memliki self-belonging agar sepenuhnya mendukung",lanjutnya.

Deputi Kepala Bidang IPH, LIPI, Bambang Prasetya, dalam sambutannya mengingatkan agar National Interest perlu diperjuangkan dengan memanfaatkan kebesaran Negara mitra dalam kerjasama ini. Scientific output mutlak dicapai seperti paper. Paten juga harus segera diperjuangkan. Bussiness Development juga harus diperhitungkan untuk menindaklanjuti hasil-hasil riset. Potensi gen dalam biodiversity sangat besar dan di masa yang akan depan akan ada kecenderungan perdagangan gen.

Dalam sesi Presentasi yang pertama, Rosichon Ubaidillah, pakar Biodiversity menjelaskan hasil-hasil yang telah dicapai oleh AP 1, yaitu survey biodiversitas serangga, tanaman, reptil, dan burung, di kawasan Tinukari Watershed Pegunungan Mekongga, sepanjang aliran Sungai Mekongga.

Associate Program 2 tentang Microbial surveys and discovery of  energy solution dipresentasikan oleh Atit Kanti, peneliti LIPI, dimana dijelaskan bahwa koleksi mikroba dalam bentuk ragi, jamur, dan bakteri. Dari analisa GCMS, kandungan utamanya adalah asam oleic yang dapat digunakan untuk produksi biofuel maupun antibiotik. Selanjutnya Associate Program 3 tentang Discovery of Human Health Solutions disampaikan oleh Heddi, mengungkap bahwa mikroba yang ditemukan dapat digunakan untuk obat anti kanker payudara dan prostrat, obat anti bengkak, dan penghilang nyeri.

Associate Program 4 dalam paparannya, mengangkat tentang "Peran Serta Masyarakat dalam kaitannya dengan konservasi" disampaikan oleh Hendra dari Kementerian Kehutanan, menjelaskan tentang kegiatan training, edukasi, seminar, diseminasi, dan promosi agar kawasan Mekongga dapat dijadikan Taman Nasional.

Dalam sesi tanya jawab dan diskusi, Subaridi Sumirta, dari Puslitbang Perubahan Iklim, Balitbang Kehutanan, mempersoalkan belum ada penilaian ekonomi untuk konservasi biodiversity. “Sulit mengajak masyarakat bila nilai ekonominya belum diketahui masyarakat.  Prof. Rosichon menanggapi bahwa AP 4 difokuskan agar masyarakat sekitar dapat memanfaatkan potensi lahan seperti coklat dan kopi dan kelapa dengan memberdayakan potensi SDM dan alam yang ada untuk mengurangi pencurian kayu. Duapuluh persen dana USAID akan dialokasikan ke sana”, ujar Subaridi.

Dilain pihak, Lukman Shalahuddin Kepala Bagian Administrasi Perijinan Penelitian, Kementerian Ristek, menanyakan “Bagaimana koordinasi research project di bidang biodiversity yang dilakukan peneliti asing di Indonesia? dan melibatkan siapa saja serta dilakukan dimana saja? “, tanya Lukman. Atas pertanyaan ini Rosichon menanggapi bahwa koordinasi tidak mudah. Banyak peneliti asing tanda izin yang bekerjasama dengan Perguruan Tinggi di daerah melakukan riset biodiversity tanpa izin. Sudah ada upaya-upaya melegalkan species-species yang diambil secara illegal dan dimasukkan ke dalam ICBG Project tapi ditolak LIPI. Seharusnya Ristek yang melakukan koordinasi. Biopiracy sudah banyak diprotes oleh country of origin seperti Brasil, tapi Indonesia belum memprotes kejadian seperti ini”, ujarnya.

Disusul oleh Subroto dari Pusat Kimia LIPI yang  menanyakan “apakah species-species baru yang hit  ditemukan akan didomestifikasi?, Tanya Subroto.  Rosichon menanggapi bahwa species baru pasti akan dipublikasikan di publikasi ilmiah. Tanaman hidup belum pernah diambil. Untuk domestifikasi akan menghubungi para pecinta tanaman langka yang disponsori Djarum”,jawab Rosichon.

Selanjutnya, “Apakah bakteri atau mikroba juga dikirim ke AS, untuk dijadikan bioetanol/biofuel? tanya Kairul Kardono, dan di jawab Atit  dengan pengakuan, bahwa hal itu sudah merupakan concern dan kehati-hatian tim. Semua mikroba species baru akan disimpan dalam museum di Indonesia. Sudah dibentengi dengan MTA yang legally binding”, aku Atit.

Sangat menarik untuk mengeksplorasi klaim project ini terhadap persoalan energi dan kesehatan. Mencuat pertanyaan dari Lukman, Ristek, mengenai seberapa besar potensi Mikroba dapat diproses untuk bahan bakar biofuel? Seberapa besar skalanya, laju reproduksinya, kandungan energinya, sehingga feasible untuk dikomersialkan sebagai sumber energi. Belum sepenuhnya penelitian mengkaji hal ini, sehingga perlu kolaborasi dengan lembaga-lembaga riset yang lain.

Pada sesi penutup,  Endang Sukara, Wakil Kepala LIPI justru memberikan cukup banyak point yang penting, padat dan mengena, terkait dengan ratifikasi CBD menjadi UU No 21/2004 dan Cartagena Protokol untuk akses dan benefit sharing  untuk biodiversity. Kita wajib meningkatkan kemampuan kita untuk melindungi biodiversity yang masih sangat sektoral kewenangannya. Memahami value of Biodiversity suatu keniscayaan dan menimbulkan kesadaran baru. International Connectivity sangat diperlukan untuk membangkitkan kesadaran arti pentingnya biodiversity, dan untuk menggabungkan antara kompetensi keilmuan dan kewenangan pemberian izin.

MTA harus disusun berdasarkan kebutuhan apakah untuk scientific murni atau untuk komersial. Harus dibedakan antara kegiatan riset dengan beneficial activities. Kendala yang dihadapi, di Indonesia, Iptek belum menjadi main stream. Dana riset sangat rendah dan insentif serta tunjangan peneliti sangat rendah. RUU PSDG bila sudah disyahkan menjadi UU diharapkan juga mampu memacu kegiatan riset di bidang biodiversity dan tidak menghambatnya. Kita belum punya museum untuk koleksi mikroba bahkan pernah ditolak ketika akan publikasi ilmiah karena specimen mikroba belum disimpan di museum yang telah terakreditasi secara international.

Cukup banyak hal baru yang di-share, dalam Seminar yang dihadiri oleh pegiat ilmu dari  LIPI, Kementerian Kehutanan, ITB, dan Ristek ini. Semoga Seminar Tahunan Nasional yang dijadwalkan bulan Juli tahun ini akan lebih menggema gaungnya, agar potensi-potensi tersebut dapat ditangkap dan dikembangkan untuk kemanfaatan bangsa Indonesia.(bhh/ls/humasristek)



Senin 20 Oktober 2014
Seminar Nasional Teknologi Sistem Pemantauan dan Pengawasan Batubara di Indonesia
Kamis 16 Oktober 2014
Rapat Kerja PP-IPTEK 2014: Peran Strategis PP-IPTEK Dalam Mewujudkan SDM Iptek yang Berdaya Saing
Kamis 16 Oktober 2014
RISET-PRO Targetkan Cetak Doktor Handal
Kamis 16 Oktober 2014
Workshop Inkubasi Bisnis Teknologi
Rabu 15 Oktober 2014
Peluncuran Rencana Pitalebar Indonesia 2014-2019
Selasa 14 Oktober 2014
Kotabaru Dicanangkan sebagai Kawasan PKN
Senin 13 Oktober 2014
Penandatanganan Kesepakatan Bersama Pengembangan Sel Punca dan Jaringan
Senin 13 Oktober 2014
PP-IPTEK Adakan Kontes Robot 2014
Senin 13 Oktober 2014
Soft Launching SIDa di Kabupaten Karanganyar
Jumat 10 Oktober 2014
Menristek Hadiri Rapat Pembina Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara (YPBSU)
[ Berita lainnya ]