Ristek Headline |
Tuesday, September 2, 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Thursday, December 5, 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Friday, August 22, 2014
Menristek Buka Pertemuan Komite Iptek ASEAN ke-68

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Wednesday, March 16, 2011
Sosialisasi UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Print PDF Facebook Twitter Email

Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Hidup (UU PLH) di Indonesia telah mengalami dua kali perubahan sejak lahirnya UU No 4 Tahun 1984. Perubahan pertama diwujudkan dengan lahirnya UU No 23 Tahun 1997 dan dirubah kembali dengan UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Alasan mendasar mengapa UU PLH perlu dirubah adalah ketidakmampuan UU PLH dalam menjawab berbagai permasalahan Lingkungan Hidup di Indonesia.

Mulai dari kerusakan lingkungan yang masih dominan sampai dengan kasus-kasus lingkungan yang tidak pernah terselesaikan dengan baik. Dalam rangka penyamaan persepsi terhadap pelaksanaan Undang-Undang PPLH, Kementerian Lingkungan Hidup menyelengggarakan sosialisasi UU PPLH pada Selasa, 15 Maret 2011 di Hotel Sahid, Jakarta.

Inar Leksana Ishak, Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Lingkungan Hidup, menuturkan bahwa UU PLH masih banyak kelemahannya, baik dari sisi pengaturan maupun pelaksanaannya. “Lahirnya UU PPLH adalah sesuatu yang memang mutlak dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan Lingkungan Hidup yang semakin mencemaskan”, tambahnya.

Lebih lanjut Inar mengatakan bahwa UU PPLH telah digodok sedemikian rupa untuk mengatur segala hal yang dianggap kurang terutama dalam UU PLH. Perubahan mendasar sangat jelas pada perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.

Dalam tahap perencanaan, telah dipersiapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) yang bertujuan memadukan dan mensinergikan hasil kompromi atas cita-cita, tujuan, keinginan, dan kepentingan yang berkaitan dengan pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup. “RPPLH merupakan suatu pedoman, arahan, dan ketentuan tentang pemanfaatan, pencadangan, pendayagunaan dan pelestarian SDA, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan adaptasi serta mitigasi perubahan iklim”, papar  Wahyu Indriningsih, Asdep Perencanaan dan Pemanfaatan SDA dan Lingkungan Hidup. “RPPLH mempunyai fungsi Stategis, Taktis, dan Operasional”, tegasnya.

Tidak kalah pentingnya lagi adalah tahapan melakukan serangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan integrasi dalam pembangungan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program yang disebut Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

Inge Retnowati, yang mewakili Asdep Kajian Kebijakan Wilayah dan Sektor menegaskan, bahwa KLHS selain dapat menelaah secara efektif dampak yang bersifat strategik, juga dapat memperkuat dan mengefisienkan proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) suatu rencana kegiatan. Menurutnya, “AMDAL memang perlu, tetapi aspek lingkungan hidup perlu dipertimbangkan sejak pengambilan keputusan tentang Kebijakan (K), Rencana (R), atau Program (P)”, ujar Inge.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. “Untuk apa AMDAL?”, Ary Sudijanto, Plt. Asdep Kajian Dampak Lingkungan, menuturkan bahwa dari aspek teknis, adalah untuk menghindari dan meminimalisasi dampak lingkungan sehingga terwujud pembangunan yang berkelanjutan serta untuk survey, prakiraan, dan evaluasi dampak berupa polusi, gangguan keanekaragaman ekosistem, hubungan manusia-alam dan lingkungan glogal (nir emisi, efek rumah kaca, dll). Selain itu juga untuk mendapatkan konsensus dengan masyarakat (terkena dampak), akuntabilitas pemrakarsa dan pemerintah, dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan”, tutur Ary.

Pada akhir sosialisasi, Inar menegaskan bahwa sosialisasi diharapkan mampu memberikan pemahaman dan penguatan kapasitas pihak-pihak terkait untuk mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup.

Turut hadir dalam sosialisasi, perwakilan dari Kejaksaan Agung, Kementerian Pertahanan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan dan Kementerian terkait serta undangan lainnya .(bhh/ri/humaristek)



Thursday, September 25, 2014
Intermediary Expert Training Untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional (SINas)
Monday, August 25, 2014
ASEAN Berikan Penghargaan pada Pegiat Iptek
Monday, August 25, 2014
Menteri Iptek ASEAN Bahas Kebijakan Iptek Tingkat Regional
Friday, August 22, 2014
Kementerian Riset dan Teknologi Hadir di Kalsel Expo 2014
Friday, August 22, 2014
Menristek Buka Pertemuan Komite Iptek ASEAN ke-68
Thursday, August 21, 2014
Penaganugerahan Gelar Perekaya Utama Kehormatan
Tuesday, August 19, 2014
Simposium Nasional Implementasi Hasil Riset Vaksin
Monday, August 18, 2014
Inovasi untuk Komunitas ASEAN yang Lebih Baik
Sunday, August 17, 2014
Iptek Bagi Pembangunan Nasional
Wednesday, August 13, 2014
Seminar Sejarah dan Peradaban Medang–Aspek Perkembangan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Nusantara
[ Berita lainnya ]