Ristek Headline |
Jumat 04 September 2015
 
 

hakteknas

open bidding es1
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Rabu 19 Agustus 2015
The 5th Steering Committee Meeting in The Field of Geothermal Energy

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
Info Pengadaan Barang Dan Jasa

surat

Ristek TV

RUP
BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 16 Maret 2011
Sosialisasi UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Print PDF Facebook Twitter Email

Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Hidup (UU PLH) di Indonesia telah mengalami dua kali perubahan sejak lahirnya UU No 4 Tahun 1984. Perubahan pertama diwujudkan dengan lahirnya UU No 23 Tahun 1997 dan dirubah kembali dengan UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Alasan mendasar mengapa UU PLH perlu dirubah adalah ketidakmampuan UU PLH dalam menjawab berbagai permasalahan Lingkungan Hidup di Indonesia.

Mulai dari kerusakan lingkungan yang masih dominan sampai dengan kasus-kasus lingkungan yang tidak pernah terselesaikan dengan baik. Dalam rangka penyamaan persepsi terhadap pelaksanaan Undang-Undang PPLH, Kementerian Lingkungan Hidup menyelengggarakan sosialisasi UU PPLH pada Selasa, 15 Maret 2011 di Hotel Sahid, Jakarta.

Inar Leksana Ishak, Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Lingkungan Hidup, menuturkan bahwa UU PLH masih banyak kelemahannya, baik dari sisi pengaturan maupun pelaksanaannya. “Lahirnya UU PPLH adalah sesuatu yang memang mutlak dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan Lingkungan Hidup yang semakin mencemaskan”, tambahnya.

Lebih lanjut Inar mengatakan bahwa UU PPLH telah digodok sedemikian rupa untuk mengatur segala hal yang dianggap kurang terutama dalam UU PLH. Perubahan mendasar sangat jelas pada perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.

Dalam tahap perencanaan, telah dipersiapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) yang bertujuan memadukan dan mensinergikan hasil kompromi atas cita-cita, tujuan, keinginan, dan kepentingan yang berkaitan dengan pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup. “RPPLH merupakan suatu pedoman, arahan, dan ketentuan tentang pemanfaatan, pencadangan, pendayagunaan dan pelestarian SDA, perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan adaptasi serta mitigasi perubahan iklim”, papar  Wahyu Indriningsih, Asdep Perencanaan dan Pemanfaatan SDA dan Lingkungan Hidup. “RPPLH mempunyai fungsi Stategis, Taktis, dan Operasional”, tegasnya.

Tidak kalah pentingnya lagi adalah tahapan melakukan serangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh, dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan integrasi dalam pembangungan suatu wilayah dan/atau kebijakan, rencana, dan/atau program yang disebut Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

Inge Retnowati, yang mewakili Asdep Kajian Kebijakan Wilayah dan Sektor menegaskan, bahwa KLHS selain dapat menelaah secara efektif dampak yang bersifat strategik, juga dapat memperkuat dan mengefisienkan proses penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) suatu rencana kegiatan. Menurutnya, “AMDAL memang perlu, tetapi aspek lingkungan hidup perlu dipertimbangkan sejak pengambilan keputusan tentang Kebijakan (K), Rencana (R), atau Program (P)”, ujar Inge.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. “Untuk apa AMDAL?”, Ary Sudijanto, Plt. Asdep Kajian Dampak Lingkungan, menuturkan bahwa dari aspek teknis, adalah untuk menghindari dan meminimalisasi dampak lingkungan sehingga terwujud pembangunan yang berkelanjutan serta untuk survey, prakiraan, dan evaluasi dampak berupa polusi, gangguan keanekaragaman ekosistem, hubungan manusia-alam dan lingkungan glogal (nir emisi, efek rumah kaca, dll). Selain itu juga untuk mendapatkan konsensus dengan masyarakat (terkena dampak), akuntabilitas pemrakarsa dan pemerintah, dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan”, tutur Ary.

Pada akhir sosialisasi, Inar menegaskan bahwa sosialisasi diharapkan mampu memberikan pemahaman dan penguatan kapasitas pihak-pihak terkait untuk mengatasi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup.

Turut hadir dalam sosialisasi, perwakilan dari Kejaksaan Agung, Kementerian Pertahanan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Riset dan Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan dan Kementerian terkait serta undangan lainnya .(bhh/ri/humaristek)



Sabtu 29 Agustus 2015
Indonesia Meraih Medali Emas dalam Asean Plus Three Junior Science Odyssey 2015
Sabtu 29 Agustus 2015
Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Lahirkan Para Intelektual Muda
Jumat 28 Agustus 2015
PP IPTEK ikut meramaikan Pameran Iptek di Kab. Belitung Timur
Jumat 28 Agustus 2015
Menristekdikti: Saatnya Hilirisasi dan Komersialisasi Hasil Penelitian
Jumat 28 Agustus 2015
Pelantikan Eselon 2 Kemenristekdikti: Energi Baru di Lingkungan Kemenristekdikti
Kamis 27 Agustus 2015
Menristekdikti: Perbaikan yang Tepat Sasaran
Selasa 25 Agustus 2015
Science Camp Nasional 2015
Selasa 25 Agustus 2015
ISTIC Certified Training Programme on Science, Technology and Innovation di Malaysia
Senin 24 Agustus 2015
Sekjen Kemenristekdikti : Mahasiswa UNSOED Harus Jadi Pemimpin Berkarakter Kebangsaan
Senin 24 Agustus 2015
Workshop and Exhibition SATREPS 2015
[ Berita lainnya ]