Ristek Headline |
Sabtu 25 Oktober 2014
 
 

thanks

IQE

Seleksi Calon Kepala LIPI
CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 21 Oktober 2014
Perpisahan Menristek : Kita Harus Bertransformasi Melakukan Perubahan

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


INFO IPTEK
Selasa 08 Februari 2011
Ampas Tahu yang Lebih Kriuk
Print PDF Facebook Twitter Email

Limbah pemrosesan tahu jangan dipandang sebelah mata. Bahan itu bisa menjadi kerupuk, bisa juga sebagai bahan baku biogas.

SEJUMLAH pekerja sibuk memeras air kedelai yang telah dipanaskan. Lainnya memotong-motong, membungkus dengan selembar kain, lantas mulai memadatkan tahu dengan perkakas sederhana.

Di sentra tahu Desa Kalisari, Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 1.200 keluarga hidup menggerakkan 312 industri kecil pengolahan tahu.

Sudah puluhan tahun lamanya industri tersebut menjadi tulang punggung perekonomian warga.

Sri Utami, 37, menuturkan bahwa aktivitas pembuatan tahu di desanya akan dimulai pada pukul 21.00 WIB, saat butir-butir kedelai mulai direndam.

Dini hari, rendaman kedelai mulai diisi ke air mendidih untuk direbus. Barulah kemudian, pekerja mulai memisahkan antara limbah padat dan air kedelai.

Air itu nantinya menjadi tahu, setelah ditambah dengan laru. Sementara itu, ampas pemrosesan tahu digolongkan sebagai limbah dan hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak. Harganya murah, hanya Rp200 per kg.

Namun, belakang hari, ampas itu lebih berharga. Bebe rapa pelatihan dan pendampingan telah menularkan keahlian baru bagi warga di sentra tahu Banyumas tersebut. Keahlian itu adalah mengolah kerupuk dari limbah padat pembuatan tahu.

“Caranya mudah, cukup menambah tepung tapioka dan bumbu saja,” kata Utami.

Biasanya, lanjut Utami, saat ia memproses tahu dengan bahan baku kedelai sebanyak 12 kg, ampas yang tersisa seberat 15 kg. Ampas itu belakang hari ia campur dengan 15 kg tepung tapioka dan bumbu agar dapat menghasilkan kerupuk seberat 18 kg.

Per kg, kerupuk bisa dijual seharga Rp15 ribu. “Lebih menghasilkan jika dibandingkan dengan menjual ampas tahu yang harganya hanya Rp200 per kg,” kata Utami yang kini aktif berkarya bersama kelompok usahanya yang diberi nama Central Kelompok (CK) IV Desa Kalisari tersebut.

Taktik mengolah ampas sangat membantu perajin tahu yang saat ini terombang-ambing oleh harga kedelai yang naik turun.

Harga kedelai semula Rp5.600 per kg, tapi kemudian naik menjadi Rp6.000 per kg, dan melonjak menjadi Rp7.000 per kg. Terakhir, harga bahan baku itu justru turun menjadi Rp6.700 per kg.

Sebulan terakhir, pemasaran kerupuk berbahan baku limbah tahu sudah menembus pasar makanan ringan di luar Jawa, seperti Kalimantan dan Riau.

Sementara itu, di Jawa sendiri, pemasaran sudah masuk kota besar semacam Jakarta dan Jawa Timur.
nya. Sebab warga juga memaksimalkan limbah cair tahu yang berbau untuk biogas.

Purwanto, 42, warga Kalisari, adalah orang yang telah memanfaatkan biogas dari limbah tahu dan mengaku langkah itu efektif menghemat pengeluaran untuk membeli gas.

"Biasanya, untuk merebus kerupuk dari limbah tahu membutuhkan waktu 7 jam. Awalnya, kami memakai gas 3 kg. Cukup boros, karena setiap tiga hari habis,” kisah dia.

Jika harga satu tabung gas 3 kg Rp17 ribu, setiap bulan ia membutuhkan dana Rp170 ribu, hanya untuk membeli gas. Akan tetapi, dengan adanya biogas, kini ia sudah tidak membeli elpiji. Cukup menyetor iuran pemeliharaan biogas Rp20 ribu per bulan.
Di desa setempat, sejumlah instalasi biogas berbahan limbah tahu telah terpasang. Sampai sekarang, ada lebih dari 30 keluarga yang memanfaatkan biogas tersebut.

"Instalasi biogas yang saya manfaatkan merupakan proyek kedua dari Kementerian Riset dan Teknologi. Selain saya, ada 10 keluarga lain yang menggantungkan pasokan gas dari instalasi itu," ujar Purwanto.

Di sisi lain, Kepala Desa Kalisari Wibowo mengatakan bahwa sebelum instalasi biogas yang kedua ini, sudah ada instalasi pertama yang diresmikan pada Mei 2010.

Instalasi biogas dengan bahan baku limbah cair industri tahu tersebut mampu memasok gas untuk 21 keluarga.
Api yang dihasilkan dari biogas tersebut pun tidak kalah dengan elpiji.

Menurut kalkulasi Wibowo, dari 314 industri tahu di Kalisari, memang belum semuanya memanfaatkan limbah cair dari pemrosesan tahu mereka. Untuk mengolah seluruh limbah cair menjadi biogas, sedikitnya dibutuhkan 22 instalasi. Kalau satu instalasi rata-rata dapat dimanfaatkan 20 keluarga, akan ada 440 rumah yang dapat memanfaatkan biogas tersebut.

Itulah cita-cita Wibowo dan warga setempat. Meski masih terkendala dana untuk membuat instalasi biogas, Desa Kalisari yakin di masa mendatang mereka bisa betul-betul mandiri energi dengan memanfaatkan ampas tahu. (Media Indonesia, 8 Februari 2011/ humasristek)



Kamis 23 Oktober 2014
Rupa-Rupa Modifikasi Pangan Kreasi Mahasiswa
Kamis 16 Oktober 2014
Indonesia Kuasai Teknologi Baterai Lithium
Kamis 16 Oktober 2014
SMPN Surabaya sabet dua juara Robotika Nasional
Kamis 16 Oktober 2014
Mahasiswi Darmajaya Ciptakan Software Pendeteksi Flu Burung
Senin 29 September 2014
2 Pelajar Banjarnegara Ubah Biji Salak Jadi Energi
Jumat 19 September 2014
Siswa SMK Gresik Ubah Air Urin Menjadi Air Bersih
Jumat 19 September 2014
Software dari ITS Bantu Negara Hemat Rp52 M
Rabu 17 September 2014
Ilmuwan Buat Baterai Nuklir Berbahan Dasar Air
Kamis 04 September 2014
Dukung Konversi BBM ke BBG, UGM Kembangkan Tabung BBG Cartridge Bertekanan Rendah
Rabu 27 Agustus 2014
Mahasiswa ITS ciptakan "Smart Solar Panel"
[ Berita lainnya ]