Ristek Headline |
Kamis 21 Agustus 2014
 
 

ASTW 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 12 Agustus 2014
Penutupan RITECH EXPO 2014

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


INFO IPTEK
Selasa 08 Februari 2011
Ampas Tahu yang Lebih Kriuk
Print PDF Facebook Twitter Email

Limbah pemrosesan tahu jangan dipandang sebelah mata. Bahan itu bisa menjadi kerupuk, bisa juga sebagai bahan baku biogas.

SEJUMLAH pekerja sibuk memeras air kedelai yang telah dipanaskan. Lainnya memotong-motong, membungkus dengan selembar kain, lantas mulai memadatkan tahu dengan perkakas sederhana.

Di sentra tahu Desa Kalisari, Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sekitar 1.200 keluarga hidup menggerakkan 312 industri kecil pengolahan tahu.

Sudah puluhan tahun lamanya industri tersebut menjadi tulang punggung perekonomian warga.

Sri Utami, 37, menuturkan bahwa aktivitas pembuatan tahu di desanya akan dimulai pada pukul 21.00 WIB, saat butir-butir kedelai mulai direndam.

Dini hari, rendaman kedelai mulai diisi ke air mendidih untuk direbus. Barulah kemudian, pekerja mulai memisahkan antara limbah padat dan air kedelai.

Air itu nantinya menjadi tahu, setelah ditambah dengan laru. Sementara itu, ampas pemrosesan tahu digolongkan sebagai limbah dan hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak. Harganya murah, hanya Rp200 per kg.

Namun, belakang hari, ampas itu lebih berharga. Bebe rapa pelatihan dan pendampingan telah menularkan keahlian baru bagi warga di sentra tahu Banyumas tersebut. Keahlian itu adalah mengolah kerupuk dari limbah padat pembuatan tahu.

“Caranya mudah, cukup menambah tepung tapioka dan bumbu saja,” kata Utami.

Biasanya, lanjut Utami, saat ia memproses tahu dengan bahan baku kedelai sebanyak 12 kg, ampas yang tersisa seberat 15 kg. Ampas itu belakang hari ia campur dengan 15 kg tepung tapioka dan bumbu agar dapat menghasilkan kerupuk seberat 18 kg.

Per kg, kerupuk bisa dijual seharga Rp15 ribu. “Lebih menghasilkan jika dibandingkan dengan menjual ampas tahu yang harganya hanya Rp200 per kg,” kata Utami yang kini aktif berkarya bersama kelompok usahanya yang diberi nama Central Kelompok (CK) IV Desa Kalisari tersebut.

Taktik mengolah ampas sangat membantu perajin tahu yang saat ini terombang-ambing oleh harga kedelai yang naik turun.

Harga kedelai semula Rp5.600 per kg, tapi kemudian naik menjadi Rp6.000 per kg, dan melonjak menjadi Rp7.000 per kg. Terakhir, harga bahan baku itu justru turun menjadi Rp6.700 per kg.

Sebulan terakhir, pemasaran kerupuk berbahan baku limbah tahu sudah menembus pasar makanan ringan di luar Jawa, seperti Kalimantan dan Riau.

Sementara itu, di Jawa sendiri, pemasaran sudah masuk kota besar semacam Jakarta dan Jawa Timur.
nya. Sebab warga juga memaksimalkan limbah cair tahu yang berbau untuk biogas.

Purwanto, 42, warga Kalisari, adalah orang yang telah memanfaatkan biogas dari limbah tahu dan mengaku langkah itu efektif menghemat pengeluaran untuk membeli gas.

"Biasanya, untuk merebus kerupuk dari limbah tahu membutuhkan waktu 7 jam. Awalnya, kami memakai gas 3 kg. Cukup boros, karena setiap tiga hari habis,” kisah dia.

Jika harga satu tabung gas 3 kg Rp17 ribu, setiap bulan ia membutuhkan dana Rp170 ribu, hanya untuk membeli gas. Akan tetapi, dengan adanya biogas, kini ia sudah tidak membeli elpiji. Cukup menyetor iuran pemeliharaan biogas Rp20 ribu per bulan.
Di desa setempat, sejumlah instalasi biogas berbahan limbah tahu telah terpasang. Sampai sekarang, ada lebih dari 30 keluarga yang memanfaatkan biogas tersebut.

"Instalasi biogas yang saya manfaatkan merupakan proyek kedua dari Kementerian Riset dan Teknologi. Selain saya, ada 10 keluarga lain yang menggantungkan pasokan gas dari instalasi itu," ujar Purwanto.

Di sisi lain, Kepala Desa Kalisari Wibowo mengatakan bahwa sebelum instalasi biogas yang kedua ini, sudah ada instalasi pertama yang diresmikan pada Mei 2010.

Instalasi biogas dengan bahan baku limbah cair industri tahu tersebut mampu memasok gas untuk 21 keluarga.
Api yang dihasilkan dari biogas tersebut pun tidak kalah dengan elpiji.

Menurut kalkulasi Wibowo, dari 314 industri tahu di Kalisari, memang belum semuanya memanfaatkan limbah cair dari pemrosesan tahu mereka. Untuk mengolah seluruh limbah cair menjadi biogas, sedikitnya dibutuhkan 22 instalasi. Kalau satu instalasi rata-rata dapat dimanfaatkan 20 keluarga, akan ada 440 rumah yang dapat memanfaatkan biogas tersebut.

Itulah cita-cita Wibowo dan warga setempat. Meski masih terkendala dana untuk membuat instalasi biogas, Desa Kalisari yakin di masa mendatang mereka bisa betul-betul mandiri energi dengan memanfaatkan ampas tahu. (Media Indonesia, 8 Februari 2011/ humasristek)



Jumat 04 Juli 2014
Waterman: Alat Semprot Pestisida Semi Otomatis
Kamis 03 Juli 2014
Tim Aplikasi Quick Disaster UGM Raih Global Winner di London
Rabu 02 Juli 2014
Mahasiswa FT-UB Ciptakan Prototipe Mobil Berbahan Bakar Batu Kapur
Selasa 01 Juli 2014
Ciptakan Aplikasi untuk Smart Watch, Mahasiswa UI Raih Prestasi di Ajang Hackathon
Senin 30 Juni 2014
Dosen FK UI Rancang Alat Deteksi Stroke Termurah
Jumat 27 Juni 2014
SIPAGI Sikat Gigi Praktis Untuk Perjalanan
Kamis 26 Juni 2014
Remaja 15 Tahun Buat Aplikasi Stetoskop Digital
Rabu 25 Juni 2014
Dentalion Permudah Pemeriksaan Gigi
Jumat 20 Juni 2014
Studi Doktor di Jepang, Alumni Unnes Ciptakan Aplikasi HalalMinds
Kamis 19 Juni 2014
Ternyata, Ampas Kopi Bisa Jadi Biodiesel
[ Berita lainnya ]