Ristek Headline |
Friday, August 29, 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014

ASTW 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Thursday, December 5, 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Friday, August 22, 2014
Menristek Buka Pertemuan Komite Iptek ASEAN ke-68

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Thursday, June 5, 2003
Sidang Kabinet
Print PDF Facebook Twitter Email
Sid-kabinet A. PENYAKIT SARS

Latar Belakang :

  1. SARS ditrmukan pertama kali pada bulan November 2002 di Guang Dong, Cina Selatan, disusul laporan penderita dari Vietnam, Canada, Hongkong, dan Singpura.
  2. Pada akhir Februari 2003, dinyatakan sebagai Sindroma Pernapasan Akut ( Severe Acute Respiratory Syndrome= SARS )
  3. Tanggal 13 Maret 2003, WHO memaklumatkan Global alert tentang pandemi SARS.
    Penyebab :

Penyebab :

  1. Pada awalnya, ada beberapa virus yang diduga sebagai penyebab SARS, berdasarkan virus yang diisolasi dari materi penderita, terutama human metapneumovirus dan coronavirus yang baru, sehingga sempat ada dugaan bahwa SARS disebabkan oleh koinfeksi kedua virus, atau dengan patogen lain.
  2. Tanggal 16 April 2003, WHO mengumumkan virus baru anggota famili coronavirus yang resmi dinamakan SARS virus.
Pengenalan / Diagnosis :
  1. Penderita SARS sekarang ini diidentifikasi berdasarkan criteria WHO (April 2003 ), yang intinya adalah sebagai berikut:
    a. Suspect case, demam > 380C disertai batuk dan kesulitan bernafas, dan dalam 10 hari sebelumnya pernah berhubungan dengan kasus atau pernah berada didaerah endemic/transmisi.

    b. Probable case, seperti diatas tapi ditambah bukti radiografi parum, bukti laboratorium coronavirus SARS, dan/atau bukti hasil pemeriksaan otopsi.
  2. Kriteria laboratorium penegakan diagnosis yang diajukan oleh Communicable Disease Control di Amerika Serikat ( 30 April 2003 ) adalah berdasarkan pada hasil pemeriksaan (a) imunologi dengan antibody “ anti-SARS “ pada kasus akut atau > 21 hari, (b) biologi molekul berdasarkan RT PCR dan (c) isolasi virus.

Penyebaran Penyakit

  1. WHO beberapa hari yang lalu mengumumkan bahwa virus penyebab SARS dapat hidup diluar tubuh manusia jauh lebih lama dari coronavirus pada umumnya. Diatas permukaan plastik virus ini dapat hidup selama 24 jam, sedangkan pada sampah yang berasal dari manusia sampai empat hari.
  2. Kenyataan diatas sesuai dengan kenyataan penyebaran luas penyakit ini yang pada awalnya berasal pada satu hotel di Hongkong dan kemudian melalui transmisi dari tempat-tempat umum lain termasuk rumah sakit sehingga menyebar ke seluruh dunia.
  3. Informasi diatas juga menekankan pentingnya tindakan kesehatan masyarakat untuk menekan penyebaran penyakit.Kebijakan karantina juga dibuat berdasarkan hal diatas, seperti pada individu yang (a) melakukan perjalanan termasuk transit dibandara ke negara atau daerah transmisi dan encemic, serta (b) kontrak erat dengan kasus dalam kurun waktu 10 hari sebelumnya.

Aspek Riptek Masalah SARS :

  1. Dari segi teknologi dengan adanya informasi mengenai sekuens (urutan) RNA virus SARS, teknologi untuk mendiagnosa virus ini sebenarnya tidak sukar dan seharusnya dapat dilakukan di Indonesia. Diagnosa molekuler virus SARS dilakukan berdasarkan reserve transcription (RT) dari virus RNA dan penetapan berdasarkan polymerase chain reaction (PCR).
  2. Kendala utama adalah tidak tersedianya sarana biosafety yang memadai untuk pemeriksaan virus baru yang sangat ganas dan menular, dengan sifat lain yang masih misterius. WHO mengisyaratkan tingkat biosafety P3 untuk keperluan virus SARS, sedangkan di Indonesia tidak ada fasilitas setingkat ini. Fasilitas biosafety tingkat P2 pun hanya terbatas dan tidak dapat digunakan untuk keperluan di atas. Di BioFarma misalnya ada fasilitas P2, akan tetapi tidak dapat dipakai untuk pemeriksaan virus SARS mengingat bahwa BioFarma adalah produsen vaksin yang harus mengamankan produknya dan prasarana yang dimiliki.
  3. Ketiadaan fasilitas biosafety yang cukup memadai menciptakan situasi dimana laboratorium yang mapan dari segi teknologi, dan oleh karena itu sangat menyadari resiko bekerja di fasilitas yang tidak memadai dari segi biosafety, tidak berani melakukan pemeriksaan. Resiko ini termasuk kemungkinan tertularnya ilmuwan/teknisi yang bekerja, dan sekaligus menjadi fokus penyebaran SARS selanjutnya ke masyarakat.
  4. Beberapa laboratorium yang menyatakan bahwa mereka mampu dari segi teknologi untuk mendiagnosa SARS hendaknya bertindak dengan sangat hati-hati, karena kalau ada kecelakaan di laboratorium dampak terhadap citra pemerintah dan negara di dunia internasional akan sangat buruk. Dalam kaitan ini perlu ditekankan bahwa kunci penanganan SARS bukanlah pada demonstrasi kemampuan teknologi mendiagnosa virus SARS secara mandiri dengan segera, akan tetapi pada kebijakan kesehatan yang tepat. Persyaratan biosafety tingkat P3 mungkin dapat diturunkan di kemudian hari ketika kita sudah lebih mengerti sifat-sifat virus SARS ini dan oleh karena itu tahu cara mengawasinya.
  5. Pertanyaan lain yang sering muncul dalam kaitannya dengan Iptek dan SARS adalah belum adanya obat atau vaksin terhadap penyakit ini. Pada umumnya hampir semua penyakit yang disebabkan oleh virus belum ada obat yang betul-betul efektif. Oleh karena itu kita tidak dapat mengharapkan munculnya obat SARS dalam waktu dekat. Pengembangan vaksin lebih dimungkinkan, tapi juga akan memakan waktu cukup panjang. Harus diingat bahwa proses perkembangan penyakit SARS (patogenesis) belum diketahui banyak dan pengetahuan mendasar seperti ini diperlukan untuk pengembangan vaksin.
  6. Pada dasarnya permasalahan SARS merupakan rangkaian kejadian munculnya berbagai emerging disease pada akhir-akhir ini. Emerging disease merupakan penyakit-penyakit baru yang disebabkan oleh mikro-organisme baru (sebelumnya tidak dikenal) pada manusia, atau mikro-organisme lain yang sebelumnya tidak menimbulkan suatu penyakit pada manusia.
    Salah satu faktor utama munculnya penyakit baru diatas adalah kejadian loncat inang (host jumping), dimana suatu mikroorganisme yang tadinya menjangkit hewan (virus zoonosis) kemudian menyebabkan penyakit pada manusia. Kemungkinan besar melalui proses mutasi atau perubahan genetic lain. Seperti pada wabah virus Nipah yang berasal dari Malaysia beberapa tahun yang lalu terjadi loncatan dari kalong yang merupakan inang alami ke babi sebelum akhirnya menjangkit manusia. SARS juga diduga pada saat sebagai suatu kejadian loncat inang, mungkin dari unggas.
    Masalah loncat inang dan emerging disease penting untuk diawasi karena merupakan dampak kehidupan modern dengan cirri perubahan ekologi besar-besaran (yang berakibat pada mengecilnya habitat untuk binatang ) dan perpindahan manusia secara global. Disini sektor iptek dapat memberikan konstribusi yang bermakna
B. HARGA OBAT
  • Salah satu pilar utama dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan adalah masalah obat. Ketersediaan, keamanan dan mutu obat yang terjamin serta harga yang terjangkau oleh masyarakat luas merupakan sasaran utama dalam pengadaan obat nasional. Industri farmasi nasional merupakan institusi yang bertanggung jawab dalam industri obat-obatan. Saat ini masalah utama yang dihadapi oleh industri farmasi nasional adalah pengadaan bahan baku obat dimana sekitar 90 % kebutuhan bahan baku obat tergantung pada impor.
    Wilayah Indonesia, baik daratan maupun lautan merupakan salah satu kawasan yang mempunyai keanekaragaman hayati tropika terbesar di dunia. Kekayaan daratan Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan hutan tropika dengan 940 spesies diantaranya telah diketahui berkhasiat sebagai obat. Kekayaan ini merupakan aset potensial yang dapat didayagunakan menjadi produk untuk diaplikasikan di bidang farmasi. Untuk mendukung upaya tersebut, lembaga litbang di Indonesia seperti BPPT melakukan berbagai kajian yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi kekayaan alam Indonesia khususnya tanaman obat untuk dikembangkan dan dipergunakan sebagai obat alami. Dengan demikian diharapkan ketergantungan tehadap bahan baku obat impor dapat dikurangi sehingga dapat menekan harga obat di dalam negeri.

Berikut adalah beberapa hasil kajian yang dilaksanakan oleh BPPT :

  1. Pengembangan teknologi produksi bahan baku farmasi pati terpragelatinasi, KCL dan barium sulfat untuk medis.
    Dalam upaya mendukung pertumbuhan industri bahan baku farmasi di Indonesia, secara bertahap, Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Farmasi dan Medika ((P3TFM), BPPT, mencoba mengembangkan bahan baku produk farmasi pati terpragelatinasi (pregalatinized starch), KCl dan BaSO4
    Pati-patian ( singkong, sagu, garut, iles-iles, dll) merupakan bahan pembantu formulasi yang paling banyak digunakan dalam pembuatan tablet. Umumnya pati-patian tidak memiliki dua sifat penting yang diperlukan untuk membuat sediaan kompak yang baik yaitu fluiditas (sifat aliran) dan kompresibilitas. Oleh karena itu pati-patian (native starch) sebagai bahan penolong dalam formula tablet cetak langsung tidak banyak digunakan. Teknik modifikasi pati-patian adalah salah satu cara untuk memperoleh suatu bahan dengan sifat fungsional yang diinginkan.
    Pati dalam bentuk alami umumnya dipakai sebagai bahan pembantu pembuatan tablet. Salah satu teknik pembuatan tablet adalah metode cetak langsung yang menggunakan pati terpragelatinasi. Pati termodifikasi ini mempunyai sifat fluiditas (free flowing) dan kompresibilitas (compresibility) yang baik.
    KCl dan BaSO4 adalah produk sampingan dalam memproduksi NaCL farmasetis, semua produk ini banyak terdapat dari bahan baku bittern atau mother liquor dari ladang garam rakyat yang banyak tersebar di Indonesia. Dengan menggunakan teknologi yang tepat diharapkan penelitian dalam proses produksi KCl dan BaSO4 bisa memberikan masukan untuk dunia industri bahan baku farmasi, sehingga kebutuhan dunia farmasi yang tergolong cukup besar untuk kedua jenis garam ini bisa dipenuhi secara bertahap.
    Penelitian skala lab yang baru dilakukan untuk produksi KCl dan BaSO4 ini merupakan tahap awal menuju proses produksi dalam skala yang lebih besar lagi.
    Dari hasil uji terhadap pencetakan tablet pati menunjukkan bahwa pati hasil terpragelatinasi telah memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi IV dan United States Pharmacopeia edisi 23.
    Selain itu telah dikembangkan produksi pembuatan bubuk dari ekstrak tanaman mengkudu, jahe dan temulawak. Keunggulan dari ekstrak tanaman obat dalam bentuk bubuk adalah lebih praktis dan senyawa yang terkandung dalam ekstrak tidak mudah rusak dibandingkan ekstrak dalam bentuk cair.
  2. Penerapan teknologi pengembangan obat anti kolesterol dan anti asam urat.
    Kegiatan ini meliputi pengembangan obat alami dengan indikasi anti kolesterol dan anti asam urat. Kedua obat dengan indikasi tersebut dipilih berdasarkan tingginya prevalensi penyakit tinggi kadar kolesterol darah dan kadar asam urat darah. Kegiatan pengembangan dimulai dengan skrining bahan alami berdasarkan studi literaratur dan dari observasi kebiasaan pengobatan tradisional yang turun temurun, proses ekstraksi dengan cara standar, uji khasiat dan keamanan terhadap hewan coba dengan disertai analisa kimia, fisika, dan mikro biologi pada setiap tahapannya.
    Hasil penelitian adalah satu buah formula anti urat yang telah teruji khasiat dan keamanannya pada hewan coba dan dua buah formula anti kolesterol yang telah teruji khasiatnya.
    Uji klinis ini dilakukan sebagai kelanjutan kerjasama kemitraan antara Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Farmasi dan Medika, BPPT dengan PT Nyonya Meneer.
  3. Senyawa bioaktif dengan spons dan mikroba laut untuk anti kanker dan anti biotik.
    Di negara maju biota laut ini merupakan salah satu bahan alam yang digarap secara intensif. Negara-negara seperti Jepang, Jerman dan Amerika Serikat merupakan pelaku-pelaku utama dalam eksplorasi senyawa bioaktif dari biota laut. Salah satu lembaga di Amerika Serikat yang aktif dalam hal itu adalah NCI (National Cancer Institute) yang tiap tahunnya mengerjakan beratur-ratus sampel dari berbagai laut di belahan bumi ini untuk di skrining untuk mengetahui potensinya sebagai obat, teruatam sebagai anti kanker.
    Teknologi tentang isolasi senyawa aktif sebenarnya telah lama dikenal di Indonesia dan kebanyakan dengan obyek tanaman tropis. Sangat disayangkan potensi biota laut Indonesia yang melimpah itu belum terjamah dan dalam lima tahun belakangan ini baru mendapat perhatian.
    Pada tahun 2002 BPPT melakukan kegiatan eksplorasi senyawa yang mempunyai aktivitas biologi terutama sebagai anti kanker dan anti biotik. Isolat senyawa aktif dapat digunakan sebagai penyawa penuntun (model) dalam pengembangan/pembuatan bahan obat secara sintesa. Sedangkan dari jamur laut dapat di isolasi senyawa aktif dalam skala besar secara fermentasi. Sampai saat ini telah diperoleh tiga senyawa murni yang mempunyai sifat sitotoksis. Satu senyawa telah diketahui struktur kimianya sedang dua senyawa lain masih dalam proses elusidasi. Selain itu juga berhasil di isolasi 35 strain murni jamur laut dari berbagai perairan di Indonesia.
    Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini diharapkan dapt menghasilkan publikasi internasional, nasional serta kemungkinan memperoleh paten. Selain itu diharapkan pula dihasilkan metode produksi senyawa aktif secara fermentasi.



Monday, August 25, 2014
ASEAN Berikan Penghargaan pada Pegiat Iptek
Monday, August 25, 2014
Menteri Iptek ASEAN Bahas Kebijakan Iptek Tingkat Regional
Friday, August 22, 2014
Kementerian Riset dan Teknologi Hadir di Kalsel Expo 2014
Friday, August 22, 2014
Menristek Buka Pertemuan Komite Iptek ASEAN ke-68
Thursday, August 21, 2014
Penaganugerahan Gelar Perekaya Utama Kehormatan
Tuesday, August 19, 2014
Simposium Nasional Implementasi Hasil Riset Vaksin
Monday, August 18, 2014
Inovasi untuk Komunitas ASEAN yang Lebih Baik
Sunday, August 17, 2014
Iptek Bagi Pembangunan Nasional
Wednesday, August 13, 2014
Seminar Sejarah dan Peradaban Medang–Aspek Perkembangan Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Nusantara
Wednesday, August 13, 2014
Menristek Dapat Pengahargaan Bintang Mahaputra Adipradana
[ Berita lainnya ]