Ristek Headline |
Rabu 08 Juli 2015
 
 

hakteknas

open bidding es1
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 30 Juni 2015
Pelantikan Dirjen Kemenristekdikti

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum

surat

Ristek TV

RUP
BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 24 November 2010
Inovator: Inovasi-inovasi Cerdas
Print PDF Facebook Twitter Email

Tidak dapat dipungkiri jika pembangunan nasional tidak terlepas dari kontribusi IPTEK, sebab jika hanya bergantung pada keunggulan komparatif tidak akan menghasilkan pembangunan yang baik. “Nilai utama yang diberikan oleh IPTEK terutama dalam inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh para peneliti mampu memberikan nilai pertumbuhan perekonomian yang tinggi.  Atas dasar itulah Kementerian Riset dan Teknologi mendukung terciptanya inovasi-inovasi dalam bidang IPTEK”, ujar Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata.

Berbagai inovasi hebat dan bermanfaat sudah tercipta dari tangan peneliti tanah air, namun sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahuinya. Untuk itu Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Metrotv menghadirkan program “Inovator” di edisi perdananya dengan judul “Inovasi-inovasi cerdas” pada 24 November 2010.

Dalam program ini dihadirkan inovasi dari Budi Indra Setiawan yakni Irigasi Kendi (Pitcher Irrigation). Irigasi kendi adalah teknik untuk menciptakan slow release air bawah tanah dengan meminimalkan kerugian dan resiko penguapan salinasi. Dengan sistem ini pemberian air pada tanaman tidak perlu diberikan setiap hari tetapi cukup dengan memperhatikan ketersediaan jumlah air di dalam kendi yang dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Uniknya kendi yang digunakan dalam irigasi ini tidak terbuat dari tanah liat tapi dengan memanfaatkan lumpur panas di Sidoarjo.

“Dengan adanya musibah Lapindo itu dari lumpur-lumpur disana terbersit ide bagaimana bisa lumpur Lapindo dibuat kendi”, ujar Budi Setiawan. Ia mengaku penelitiannya menggunakan lumpur panas sebagai bahan baku pembuatan kendi membutuhkan waktu setahun lebih.

“Jadi kalau kita lihat permukaan tanah tetap kering tetapi di bawahnya basah, otomatis irigasi kendi ini betul-betul memberikan air tepat ke daerah sasaran dimana tadi banyak akar tanaman” ujar pria yang masih aktif mengajar di IPB ini.
Budi menjelaskan prinsip kerja irigasi ini dengan menanam kendi di tanah lalu diisi air melalui selang yang dihubungkan dengan gentong air. Air di dalamnya akan merembes ke tanah di sekelilingnya melalui dinding kendi. Kemampuan dinding kendi untuk merembeskan air dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi kebutuhan evapotranspirasi tanaman setiap waktu.

Prinsip pembasahan tanah seperti inilah yang menurut Budi sangat berguna untuk meningkatkan efisiensi pemberian air bagi tanaman, khususnya di lahan-lahan kering. Selain itu larutan pupuk dapat pula dimasukkan ke dalam kendi. Dengan demikian pemberian pupuk menjadi lebih efisien dan efektif serta banyak menghemat tenaga kerja. “Inilah salah satu jawabannya, dan kita sudah buktikan terutama di Lombok Timur yang memang kering sekali” lanjutnya.

Budi menjelaskan, sistem irigasi kendi dirancang dengan berbagai pertimbangan. Yang utama adalah mengusahakan agar air yang diberikan benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman, serta menghindari kehilangan air melalui evaporasi. Pertimbangan berikutnya yaitu mengupayakan agar teknologi ini 100 persen menggunakan komponen dalam negeri, mudah dibuat, dipasang, dioperasikan, dan dipelihara dengan biaya rendah.

Dengan irigasi kendi ini, para petani tidak perlu risau lagi dengan kekeringan air di musim kemarau, karena akar tanaman tetap mendapatkan air dari siraman air kendi itu.

Selain Irigasi Kendi, tayangan ini turut menampilkan inovasi dari Andhika Sutedjo. Pria yang saat ini memimpin  pabrik meteran elektronik ini menciptakan saklar hemat yang diberi nama “Green Switch”. Green Switch ini merupakan saklar yang dapat memutuskan aliran listrik di perangkat elektronik secara otomatis jika perangkat elektronik tersebut dalam keadaan standby. “Green Swicth saya desain senyaman mungkin, si pemakai tidak akan merasa dibebani dengan alat penghemat energi, sehingga dapat menyalakan dan mematikan dengan remote tetap normal” jelas Andhika.

Inovasi dari nominator di ajang Indo Pasific yang diselenggarakan di negeri kanguru ini hanya membandrol sekitar Rp 30 ribu untuk sebuah saklar hemat kreasinya. Andhika ingin agar semua masyarakat dari berbagai lapisan dapat menikmati dan menggunakan inovasinya agar mereka terbiasa dengan penghematan energi, sehingga dengan demikian krisis listrik dapat ditanggulangi. Harga yang murah untuk sebuah inovasi hebat.

Budi dan Andhika merupakan contoh anak negeri yang berprestasi. Selain mereka masih banyak inovator lainnya yang menciptakan inovasi-inovasi hebat. Sebagai penghargaan bagi insan peneliti, pada 12 Oktober 2010 Kementerian Riset dan Teknologi memberikan penghargaan kepada 102 inovator. Hingga saat ini tercatat delapan ribu peneliti yang berpotensi besar menciptakan berbagai inovasi bermanfaat. (wwj/humasristek)



Selasa 28 Juli 2015
Menristekdikti Kunjungi UNTAD
Rabu 01 Juli 2015
Pelantikan Dirjen di Kemenristekdikti
Rabu 17 Juni 2015
Sosialisasi Inkubasi Bisnis Teknologi di Yogyakarta
Selasa 16 Juni 2015
Kesepahaman antara Kemenristekdikti, KemenLHK, dan Kemendikbud
Selasa 16 Juni 2015
Sosialisasi Inkubasi Teknologi di Politeknik Negeri Jember
Senin 15 Juni 2015
Integrasi Sistem Pendidikan dan Sertifikasi Berbasis KKNI
Senin 15 Juni 2015
Menristekdikti Resmikan IHRI
Senin 15 Juni 2015
Menristekdikti Lantik Pejabat Eselon I Kemenristekdikti
Minggu 14 Juni 2015
Menristekdikti Hadiri Diskusi Interaktif di Undana
Sabtu 13 Juni 2015
UMP Akan Menjadi Pusat Unggul Kelapa Kopyor
[ Berita lainnya ]