Ristek Headline |
Rabu 16 April 2014
 
 
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Jumat 11 April 2014
DWP Kemenristek Dukung Program Tanam dan Pelihara Sejuta Pohon

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum



RUP TA 2012
BERITA KEGIATAN RISTEK
Rabu 24 November 2010
Inovator: Inovasi-inovasi Cerdas
Print PDF Facebook Twitter Email

Tidak dapat dipungkiri jika pembangunan nasional tidak terlepas dari kontribusi IPTEK, sebab jika hanya bergantung pada keunggulan komparatif tidak akan menghasilkan pembangunan yang baik. “Nilai utama yang diberikan oleh IPTEK terutama dalam inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh para peneliti mampu memberikan nilai pertumbuhan perekonomian yang tinggi.  Atas dasar itulah Kementerian Riset dan Teknologi mendukung terciptanya inovasi-inovasi dalam bidang IPTEK”, ujar Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata.

Berbagai inovasi hebat dan bermanfaat sudah tercipta dari tangan peneliti tanah air, namun sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahuinya. Untuk itu Kementerian Riset dan Teknologi bekerjasama dengan Metrotv menghadirkan program “Inovator” di edisi perdananya dengan judul “Inovasi-inovasi cerdas” pada 24 November 2010.

Dalam program ini dihadirkan inovasi dari Budi Indra Setiawan yakni Irigasi Kendi (Pitcher Irrigation). Irigasi kendi adalah teknik untuk menciptakan slow release air bawah tanah dengan meminimalkan kerugian dan resiko penguapan salinasi. Dengan sistem ini pemberian air pada tanaman tidak perlu diberikan setiap hari tetapi cukup dengan memperhatikan ketersediaan jumlah air di dalam kendi yang dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Uniknya kendi yang digunakan dalam irigasi ini tidak terbuat dari tanah liat tapi dengan memanfaatkan lumpur panas di Sidoarjo.

“Dengan adanya musibah Lapindo itu dari lumpur-lumpur disana terbersit ide bagaimana bisa lumpur Lapindo dibuat kendi”, ujar Budi Setiawan. Ia mengaku penelitiannya menggunakan lumpur panas sebagai bahan baku pembuatan kendi membutuhkan waktu setahun lebih.

“Jadi kalau kita lihat permukaan tanah tetap kering tetapi di bawahnya basah, otomatis irigasi kendi ini betul-betul memberikan air tepat ke daerah sasaran dimana tadi banyak akar tanaman” ujar pria yang masih aktif mengajar di IPB ini.
Budi menjelaskan prinsip kerja irigasi ini dengan menanam kendi di tanah lalu diisi air melalui selang yang dihubungkan dengan gentong air. Air di dalamnya akan merembes ke tanah di sekelilingnya melalui dinding kendi. Kemampuan dinding kendi untuk merembeskan air dirancang sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi kebutuhan evapotranspirasi tanaman setiap waktu.

Prinsip pembasahan tanah seperti inilah yang menurut Budi sangat berguna untuk meningkatkan efisiensi pemberian air bagi tanaman, khususnya di lahan-lahan kering. Selain itu larutan pupuk dapat pula dimasukkan ke dalam kendi. Dengan demikian pemberian pupuk menjadi lebih efisien dan efektif serta banyak menghemat tenaga kerja. “Inilah salah satu jawabannya, dan kita sudah buktikan terutama di Lombok Timur yang memang kering sekali” lanjutnya.

Budi menjelaskan, sistem irigasi kendi dirancang dengan berbagai pertimbangan. Yang utama adalah mengusahakan agar air yang diberikan benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman, serta menghindari kehilangan air melalui evaporasi. Pertimbangan berikutnya yaitu mengupayakan agar teknologi ini 100 persen menggunakan komponen dalam negeri, mudah dibuat, dipasang, dioperasikan, dan dipelihara dengan biaya rendah.

Dengan irigasi kendi ini, para petani tidak perlu risau lagi dengan kekeringan air di musim kemarau, karena akar tanaman tetap mendapatkan air dari siraman air kendi itu.

Selain Irigasi Kendi, tayangan ini turut menampilkan inovasi dari Andhika Sutedjo. Pria yang saat ini memimpin  pabrik meteran elektronik ini menciptakan saklar hemat yang diberi nama “Green Switch”. Green Switch ini merupakan saklar yang dapat memutuskan aliran listrik di perangkat elektronik secara otomatis jika perangkat elektronik tersebut dalam keadaan standby. “Green Swicth saya desain senyaman mungkin, si pemakai tidak akan merasa dibebani dengan alat penghemat energi, sehingga dapat menyalakan dan mematikan dengan remote tetap normal” jelas Andhika.

Inovasi dari nominator di ajang Indo Pasific yang diselenggarakan di negeri kanguru ini hanya membandrol sekitar Rp 30 ribu untuk sebuah saklar hemat kreasinya. Andhika ingin agar semua masyarakat dari berbagai lapisan dapat menikmati dan menggunakan inovasinya agar mereka terbiasa dengan penghematan energi, sehingga dengan demikian krisis listrik dapat ditanggulangi. Harga yang murah untuk sebuah inovasi hebat.

Budi dan Andhika merupakan contoh anak negeri yang berprestasi. Selain mereka masih banyak inovator lainnya yang menciptakan inovasi-inovasi hebat. Sebagai penghargaan bagi insan peneliti, pada 12 Oktober 2010 Kementerian Riset dan Teknologi memberikan penghargaan kepada 102 inovator. Hingga saat ini tercatat delapan ribu peneliti yang berpotensi besar menciptakan berbagai inovasi bermanfaat. (wwj/humasristek)



Rabu 16 April 2014
Menumbuhkembangkan Daerah Berinovasi dan Bisnis Inovatif Usia Muda
Senin 14 April 2014
DWP Kemenristek Dukung Program Tanam dan Pelihara Sejuta Pohon
Selasa 08 April 2014
Sosialisasi dan Pengukuran Technology Readiness Level di Jawa Tengah
Selasa 08 April 2014
Kerjasama Iptek RI-Jerman: Implementasi Iptek untuk Mendukung Pembangunan Nasional
Senin 07 April 2014
Pengukuran TRL di Pusat Unggulan Iptek Kakao
Senin 07 April 2014
ASEAN Persiapkan Diri untuk Mobilitas SDM Iptek
Senin 07 April 2014
Kemenristek Hadiri Rakor BPPD Provinsi Jatim
Kamis 03 April 2014
Kemenristek Dorong Konsorsium Pembangunan Satelit Penginderaan Jauh
Kamis 03 April 2014
Rapat Koordinasi Undang-Undang Perindustrian Nomor 3 Tahun 2014 Dalam Rangka Penguatan Teknologi Industri
Rabu 02 April 2014
Kunjungan Mahasiswa UNLAM ke Pusat Studi Biofarmaka IPB
[ Berita lainnya ]