Ristek Headline |
Selasa 28 April 2015
 
 

hakteknas

open bidding es1

Panggilan CPNS 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Rabu 22 April 2015
Menristekdikti Menghadiri KAA 2015

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum

Ristek TV

RUP
BERITA KEGIATAN RISTEK
Senin 08 November 2010
Pembahasan Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Print PDF Facebook Twitter Email

Dalam rangka menyamakan persepsi atau konsep perubahan dan isu-isu krusial dalam Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengundang kementerian terkait dalam acara “Pembahasan Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah”. Acara yang diselenggarakan pada hari Jum'at, 5 November 2010 di Hotel Mercure Convention Centre menghadirkan 3 pembicara yang juga sebagai  tim perumus Draft Revisi UU , yakni  Staf Ahli Menteri Bidang Pemerintahan, I Made Suandi; Direktur Pejabat Negara, Dodi Riatmaji; serta Direktur Badan Nasional Pengelola Perbatasan, Hasiholan.

“Pada prinsipnya,  Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah bertujuan untuk  memperbaiki berbagai kelemahan dari undang-undang ini terkait dengan konsep kebijakan desentralisasi dalam negara kesatuan, ketidakjelasan pengaturan dalam berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah, dan hubungan antara pemerintah dengan warga dan kelompok madani”, tegas Marjuki Santoso, Irjen Kemendagri saat membuka acara.

Lebih lanjut, Marjuki megatakan bahwa praktek penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilaksanakan berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, belum sepenuhnya mampu menjamin terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang desentralistis dan hubungan yang harmonis dan sinergis antar susunan pemerintahan. “Disamping memperjelas konsep desentralisasi dalam kerangka NKRI, revisi juga dilakukan untuk memperjelas berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah yang selama ini belum diatur secara tegas dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah”, tambahnya.

Mengawali pembahasan, I Made Suandi, mengatakan bahwa ada 22 isu strategis yang menjadi pertimbangan untuk melakukan revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yaitu masalah pembentukan daerah otonom, pembagian urusan pemerintahan, daerah berciri kepulauan, pemilihan kepala daerah, peran gubernur sebagai wakil pusat, masalah Muspida, perangkat daerah, kecamatan, aparatur daerah, Perda, pembangunan daerah dan manajemen data, masalah keuangan daerah, pelayanan publik, partisipasi masyarakat, kawasan perkotaan, kawasan khusus, kerjasama antardaerah, permasalahan desa, pembinaan dan pengawasan, tindakan hukum terhadap aparatur Pemda, inovasi daerah dan DPOD”.

Setelah berupaya secara intensif mempersiapkan Draft Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, tim perumus melakukan penyempurnaan dengan menghimpun berbagai masukan dari banyak kalangan, baik itu akademisi maupun kementerian terkait.

Menurut Dodi Riatmaji, Kemendagri tetap membuka ruang bagi pemikiran-pemikiran konstruktif dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan. “Dengan acara ini, diharapkan peran aktif para peserta untuk penyempurnaan Draft, sehingga target penyelesaian Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dapat terpenuhi”, ujarnya.

Hasiholan kembali menegaskan penyelesaiannya ditargetkan Tahun 2010, mengingat Revisi UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ini, masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2010 sebagai hak inisiatif Pemerintah yang juga merupakan salah satu Rencana Aksi 9 (Sembilan) Direktif Bogor, dengan kriteria keberhasilan termuatnya substansi sinergi pusat-daerah sebagai paradigma pembangunan Indonesia.

Dalam diskusi, Amirudin dari Kemenpolhukam menyampaikan perlunya peninjauan kembali terkait otonomi khusus. Hal yang sama juga disampaikan Heru Husein dari Kemendag, menurutnya, “belum dapat dilihat hasil dari sebuah kebijakan otonomi khusus untuk sebuah daerah, karena sebagian besar daerah melaksanakan kebijakan otonomi khusus baru dalam jangka waktu yang pendek dan belum semua substansi kebijakan otonomi khusus dilaksanakan atau diturunkan menjadi peraturan daerah” ujar Heru.

Turut hadir dalam pembahasan, perwakilan Sekjen Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Riset dan Teknologi, serta kementerian terkait lainnya.(bhh/ri/ humasristek)



Rabu 22 April 2015
Menristekdikti Hadiri Peringatan KAA ke-60
Kamis 16 April 2015
Kemenristekdikti Ikuti Pekan Inovasi Sumatera dan Batam Trade Expo ke-4
Kamis 16 April 2015
Plagiat di Dunia Pendidikan Tinggi Perlu Diberantas
Kamis 16 April 2015
Panen Kedelai Kemenristekdikti bersama Polres dan Pemkot Banjarbaru
Selasa 14 April 2015
Tantangan Para Rektor untuk Tingkatkan Publikasi dan Riset
Senin 13 April 2015
Presiden RI Hadiri NIF 2015
Minggu 12 April 2015
Menristekdikti Jalan Sehat bersama BSN
Rabu 08 April 2015
DWP Kemenristekdikti Selenggarakan Seminar Kanker Serviks
Selasa 07 April 2015
Wisuda Pascasarjana Univeristas Pertahanan
Sabtu 04 April 2015
Kompetisi Roket Air Regional Cilacap 2015
[ Berita lainnya ]