Ristek Headline |
Kamis 24 April 2014
 
 
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 22 April 2014
HUT ke-23 PP-IPTEK

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum



RUP TA 2012
BERITA KEGIATAN RISTEK
Jumat 22 Oktober 2010
Arah Pengembangan Kota Masa Depan
Print PDF Facebook Twitter Email

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat kaya, dengan luas wilayah sekitar 7,5 juta kilometer persegi terbentang dari barat sampai ke timur yang meliputi 17.550 pulau dan lebih dari 300 etnis budaya. Dari wilayah tersebut, hanya 38% wilayah daratan (800 ribu km persegi) yang dapat dihuni, dan hanya sekitar 6.000 pulau yang berpenghuni.

Secara fisik Indonesia terletak pada pertemuan 2 lempeng dunia, yaitu lempeng indo-australia dan euroasia sehingga secara alami negara kita terletak pada kawasan rawan bencana baik gempa bumi, gunung berapi maupun tsunami, terutama di sepanjang garis ring of fire yang merupakan rangkaian gunung berapi aktif. Selain itu Indonesia juga terletak dalam persimpangan antara lautan Hindia dan Pasifik, yang sangat padat dilalui kapal-kapal internasional. Dengan demikian Indonesia memiliki geo-ekonomi dan geo-politik yang sangat penting secara regional dan global. Tentu potensi tersebut harus kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Di kawasan perkotaan, terdapat peningkatan kawasan-kawasan yang rawan terhadap bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan serta berkurangnya daerah resapan, serta meningkatnya suhu udara dan polusi lingkungan di perkotaan. Hal tersebut makin diperburuk dengan terjadinya fenomena perubahan iklim yang kita rasakan akhir-akhir ini. Di samping terjadinya perubahan siklus hidrologis yang ekstrim, muka air laut diperkirakan akan meningkat sekitar 30 sentimeter pada tahnn 2030. Hal tersebut tentu akan mengancam sebagian besar kota-kota kita. Sebagaimana diketahui, kota-kota kita umumnya berada di kawasan pesisir, pada elevasi kurang dari 100 meter di atas muka air dan berjarak kurang dari 100 km dan garis pantai.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya kawasan perkotaan memiliki peran penting dalam pembangunan nasional dan daerah. Pada umumnya kawasan perkotaan menjadi pusat kegiatan perekonomian yang diharapkan dapat menciptakan kesejahteraan masyarakatnya. Saat ini, perkembangan kawasan perkotaan menjadi sangat cepat  yang diindikasikan dengan pesatnya pertumbuhan penduduk. Pesatnya pertambahan penduduk di perkotaan semakin menambah berat beban perkotaan serta memperluas perkembangan kawasan terutama di daerah penggiran kota besar dan metropolitan.

Forum Komunikasi Kehumasan (Bakohumas), pada Kamis, 21 Oktober 2010 di Kementerian Pekerjaan Umum, Jl. Patimura, Jakarta Selatan,  mengadakan pertemuan Anggota Bakohumas Pusat dan Daerah yang membahas topik  tentang 'Arah Pengembangan Kota Masa Depan Melalui Pendekatan Smart Green City Planning'

Perkembangan kota yang tidak terkelola dengan baik akan cenderung tidak terkendali dan mengakibatkan berbagai persoalan turunan seperti kemacetan lalulintas, tumbuhnya kawasan-kawasan kumuh perkotaan, dan kualitas kesejahteraan masyarakat yang rendah. Sehingga muncul apa yang disebut sebagai urban paradox, dimana kota yang  diharapkan menciptakan kesejahteraan sebagai engine-of-growth justru melahirkan kantong-kantong kemiskinan baru. Selain itu, desakan terhadap pemenuhan kebutuhan ruang hunian dan aktivitas perekonomian perkotaan tersebut telah menyebabkan terjadinya alih fungsi terutama dari lahan-lahan pertanian dan ruang terbuka hijau perkotaan menjadi kawasan perumahan, industri atau perdagangan/jasa. Hal ini akan memperburuk kulitas lingkungan perkotaan kita. Ruang-ruang terbuka di kawasan perkotaan kita berkurang dari rata-rata 35 persen pada tahun 1970-an, menjadi hanya sekitar 10 persen pada saat ini.

Isu-isu tersebut memperlihatkan bahwa kualitas penataan ruang, terutama dalam hal pengendalian, yang kita upayakan selama ini masih sangat terbatas. Untuk itulah ke depan kita harus lebih memberikan perhatian terhadap aspek pengendalian pemanfaatan ruang ini untuk menjamin keberlanjutan kawasan perkotaan kita sebagai kawasan permukiman yang fungsional dan layak huni.

Direktur Jenderal Penataan Ruang, Imam Santoso Ernawi, selaku nara sumber pada acara tersebut memaparkan mengenai Pengembangan Kota Masa Depan melalui pendekatan 'Smart Green City Planning'. Dalam mewujudkan perkotaan yang berkelanjutan sebagai arah pengembangan kota masa depan dapat dilakukan melalui pendekatan smart green city planning.  Adapun smart green city planning menghasilkan sebuah rencana kota yang secara cerdas memenuhi kebutuhan dan memberikan solusi terhadap masalah  di kota tersebut, dengan memperhatikan aspek adaptasi terhadap bencana dan  mitigasi terhadap permasalahan lingkungan. Strategi pendekatan smart green city planning selanjutnya dijabarkan dalam konsep yang terdiri atas : ecological balance complex, eco village, win corridor housing  complex, water-circulating complex, rain garden, ujarnya.

Selanjutnya di sampaikan pula bahwa upaya dalam mewujudkan  kota hijau yang  berkelanjutan harus terus ditingkatkan, selanjutnya peran strategis dan dukungan sektor-sektor harus diselenggarakan secara terpadu dan berkelanjutan berbasis pengembangan wilayah dengan instrumen penataan ruang. Melalui penerapan prinsip keterpaduan tersebut, diharapkan akan tercipta pola dan struktur ruang wilayah yang efisien dan efektif yang dicapai secara bertahap, sistimatis, dan berkelanjutan. Untuk itu diperlukan komitmen dan konsistensi yang kuat dan sunguh-sunguh dalam menyelenggarakan penataan ruang, baik pada tingkat Nasional, Propinsi, Kabupaten maupun Kota sehingga dapat terwujud ruang kota yang nyaman produktif dan berkelanjutan ke depan.

Hadir pada acara Forum Komunikasi Kehumasan (Bakohumas) ini, Kepala Pusat Komunikasi Publik, Waskito Pandu, Karo Humas Kementerian PAN-Reformasi Birokrasi, Pengurus Bakohumas selaku Kepala Bidang SDM, Gatot Sugiharto, Agus Wijanarko, Sekjen Kementerian PU, Imam Santoso Ernawi, Dirjen Penataan Ruang Kementrerian PU selaku nara sumber, Etty Winarni, Kabid. Pelayanan Informasi Publik, Puskompu Kementerian PU, serta anggota Bakohumas Pusat dan Daerah. (iwr/rch/humasristek)



Selasa 22 April 2014
PP-IPTEK Rayakan Ke-23 Tahun Eksistensinya Dalam Pembudayaan Iptek
Selasa 22 April 2014
HUT ke-23 PP-IPTEK
Selasa 22 April 2014
Sosialisasi Kode Etik Penelitian di Universitas Jember
Selasa 22 April 2014
Free Access Jurnal Ilmiah Internasional bagi LPNK-RISTEK
Senin 21 April 2014
Peningkatan Kapasitas SDM Iptek Melalui Program Jenesys 2.0
Rabu 16 April 2014
DWP Kemenristek Kunjungi Taman Pintar Yogyakarta
Rabu 16 April 2014
Menumbuhkembangkan Daerah Berinovasi dan Bisnis Inovatif Usia Muda
Senin 14 April 2014
DWP Kemenristek Dukung Program Tanam dan Pelihara Sejuta Pohon
Selasa 08 April 2014
Sosialisasi dan Pengukuran Technology Readiness Level di Jawa Tengah
Selasa 08 April 2014
Kerjasama Iptek RI-Jerman: Implementasi Iptek untuk Mendukung Pembangunan Nasional
[ Berita lainnya ]