
Industri baja adalah salah satu industri utama yang mempunyai peranan sangat strategis untuk mendorong proses industrialisasi bagi pembangunan ekonomi bangsa. Tingkat konsumsi baja perkapita merupakan indikator yang menunjukkan tingkat kemajuan ekonomi suatu negara karena pertumbuhan ekonomi didorong oleh kegiatan investasi dan pembangunan infrastruktur, dimana baja berperan sebagai penghelanya. Untuk lebih jelasnya siaran IPTEK VOICE, Jum'at 30 Juli 2010, pukul 08.30 – 09.00WIB mengulas Pemanfaatan Biji Besi untuk Industri Baja, oleh narasumber Ir. Arie Hendarto,M.Sc Kabid Industri Teknologi Indutri Logam Pusat Teknologi Industri Proses BPPT.
Arie menjelaskan kalau dalam kehidupan sehari-hari memegang sendok garpu, bersandar ditembok beton, atau melihat menara transmeter sebenarnya kita berhadapan dengan baja, secara ilmiah dinotasikan dalam unsur besi (Fe) dalam tabel unsur kimia tetapi secara umum ada pengertian yang salah antara besi dan baja. Besi secara ilmiah adalah unsur besi (Fe) dengan kandungan karbon lebih dari 2%-4%, baja adalah besi yang berpadu dengan unsur lain yang dimana unsur karbonnya lebih kecil kurang dari 2%.
Besi Konsumsi baja nasional per kapita masih sangat rendah bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga. Sebagai contoh, pada tahun 2008 konsumsi baja di Indonesia masih sangat rendah yaitu hanya sebesar 31 kg/kapita/tahun, dibandingkan dengan negara-negara Asia lain seperti; Vietnam yang sudah mencapai 115 kg/kapita/tahun, Thailand 199 kg/kapita/tahun, Malaysia 290 kg/kapita/tahun dan China 508 kg/kapita/tahun. Mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, maka potensi kebutuhan besi baja nasional di masa depan akan sangat tinggi. Pada tahun 2020 diprediksikan akan mencapai 80 kg/kapita/tahun. Kebutuhan besi-baja nasional akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan sektor industri dan semakin intensnya pembangunan infrastruktur di Indonesia. Pada saat ini konsumsi baja di Indonesia telah mencapai ~ 7,5 juta juta ton, sementara produksinya hanya ~ 5 juta ton. Kekurangan penyediaan baja sebesar 2.5 juta ton dipasok dari impor.
Sementara itu dari sisi kebutuhan bahan baku industri besi-baja tersebut, sebagian besar masih diimpor, termasuk PT Krakatau Steel yang mengimpor seluruh kebutuhan bahan bakunya berupa pellet bijih besi sebesar 2,5 juta ton per tahun. Industri-industri baja lainnya juga masih tergantung pada bahan baku impor berupa skrap baja sebesar 1,4 juta ton per tahun. Pengembangan industri besi baja nasional dirasakan sangat lambat karena salah satu kendala utamanya adalah ketergantungan terhadap luar negeri yang sangat kuat, baik dalam hal bahan baku, bahan penunjang, maupun teknologinya sendiri. Ketergantungan pada bahan baku impor yang harganya sangat fluktuatif menyebabkan biaya produksi yang sangat tinggi Akibatnya, industri baja nasional tidak bisa bersaing dengan produk baja dari negara lain, serta mengurangi ketahanan nasional terhadap gejolak politik internasional yang mungkin bisa berujung pada embargo ekonomi.
Oleh karena itu, mengingat kebutuhan besi baja di masa depan akan sangat tinggi seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional, maka upaya pengembangan industri besi baja dalam negeri mutlak diperlukan dan harus menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Pengembangan industri besi baja nasional itu tentunya harus didukung oleh ketersediaan bahan baku dalam negeri yang cukup sehingga tidak tergantung kepada bahan baku impor sebagaimana yang terjadi saat ini. Untuk meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan tersebut, perlu dilakukan upaya-upaya pemanfatan bahan baku lokal semaksimal mungkin, diantaranya bijih besi dan batu bara karena pada industri baja, biaya bahan baku merupakan komponen terbesar dari struktur biaya produksi, ujar Arie menutup percakapan .
Sahabat Iptek...simak terus IPTEK VOICE Senin s/d Jumat pukul 08.30-09.00 WIB di RRI Pro 4 ,92.8 FM. IPTEK VOICE "The Sound of Science". (rgp,dw/AD-PKIPT)
|