Ristek Headline |
Minggu 02 Agustus 2015
 
 

hakteknas

open bidding es1
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Jumat 03 Juli 2015
DWP Menyambut Bulan Suci Ramadhan

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum

surat

Ristek TV

RUP
INFO IPTEK
Rabu 16 Juni 2010
Apa yang Dimaksud dengan Elemen Langka?
Print PDF Facebook Twitter Email

Deposito mineral yang ditemukan di Afghanistan menjadi headline karena mungkin bernilai US$ 1 triliun. Deposit itu dilaporkan mengandung unsur-unsur yang sangat jarang ditemui.

Elemen langka mencakup unsur seperti dysprosium, cerium dan Iterbium dan sebenarnya masih banyak logam asing lainnya, namun cenderung terkonsentrasi pada deposit bijih yang kurang dimanfaatkan, menurut US Geological Survey.

Akibatnya, sebagian besar pasokan elemen-elemen ini hanya berasal dari beberapa sumber.

Konsumen mungkin tidak tahu bahwa hard drive komputer, layar TV, dan smartphone mengandung unsur langka itu.

Logam yang kadang tak tergantikan itu juga terdapat di segala sesuatu, mulai dari teknologi hijau hingga perangkat keras militer.

Sebagai contoh, europium digunakan untuk membuat warna merah monitor televisi dan lampu LED hemat energi. Sedangkan neodymium untuk membuat magnet paling kuat yang ditemukan dalam elektronik sehari-hari, turbin angin dan mobil hibrida.

Unsur langka merupakan logam mulai dari lantanum hingga gadolinium pada tabel periodik unsur, sedangkan elemen berat yang langka mulai dari logam Terbium hingga Lutesium.

Teknologi hijau juga sering bergantung pada unsur-unsur langka. Misalnya, Toyota menggunakan 7.500 ton lantanum dan 1.000 ton neodymium per tahun untuk membangun mobil Prius perusahaan itu, menurut Jack Lifton, konsultan independen yang bekerja di US Rare Earth, sebuah perusahaan yang memiliki hak atas sumber daya langka di Amerika Serikat.

Mineral langka juga penting untuk aplikasi militer, seperti laser, radar, rudal berbimbingan sistem satelit, dan elektronik pesawat.

China dan Amerika Serikat memiliki beberapa deposit mineral langka terbesar. Tapi deposit lainnya ada di negara-negara seperti Australia, Brazil, India, Malaysia, Afrika Selatan, Sri Lanka dan Thailand, menurut USGS.

Untuk mendapat logam langka, penambangan hanyalah langkah pertama. Mengekstrak logam langka membutuhkan ribuan tank baja stainless yang memegang banyak larutan kimia, menurut Jim Hedrick, mantan spesialis logam langka USGS.

Hanya China saat ini yang memiliki peralatan untuk memperbaiki logam langka dari awal sampai akhir, dan pemasok 97 persen oksida langka di dunia.

Untuk membuka satu tambang dan membangun pabrik pemisahan mungkin memerlukan biaya dari US$ 500 juta hingga US$ 1 miliar kata Hedrick. (inilah.com/ humasristek)



Rabu 01 Juli 2015
Mahasiswa UI Manfaatkan Gelombang Laut untuk Awetkan Ikan
Selasa 30 Juni 2015
MAHASISWA UNDIP MENEMUKAN TEKNOLOGI STERILISASI SUSU KAMBING PE
Rabu 24 Juni 2015
Uniknya Mobile Masjid, Solusi Ibadah Ditengah Keramaian
 Senin 22 Juni 2015
Omitor Solusi Mengatasi Krisis Air Ala Mahasiswa Undip
Senin 22 Juni 2015
Deteksi Gas H2S dan CO2, Mahasiswa UNDIP ciptakan “Aquacopter”
Kamis 18 Juni 2015
Isi Daya Baterai Gratis, Why Not?
Kamis 18 Juni 2015
Heat Exchanger, Kurangi Biaya Listrik Kapal
Rabu 17 Juni 2015
Cangkang Telur Jadi Pupuk Kaya Kalsium
Rabu 17 Juni 2015
Turbin Helical, Efisienkan PLTA Indonesia
Selasa 09 Juni 2015
UI Raih 18 Penghargaan di ON MIPA-PT 2015
[ Berita lainnya ]