Ristek Headline |
Rabu 03 September 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Senin 25 Agustus 2014
Menteri Iptek ASEAN Bahas Kebijakan Iptek Tingkat Regional

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


ARTIKEL IPTEK
Rabu 16 Juni 2010
Penerapan Padi Sawah yang Ramah Lingkungan
Print PDF Facebook Twitter Email

Lukito Hasta Pratopo
Pekerja di Kementerian Ristek dan Penikmat Teknologi

Berdasarkan data kejadian bencana yang dicatat dalam International Disaster Database (2007), sepuluh kejadian bencana terbesar di Indonesia dari tahun 1907-2007 terjadi setelah tahun 1990-an.

Sebagian besar kejadian bencana tersebut terkait dengan iklim, khususnya banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan ledakan penyakit. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian bencana terkait dengan iklim mengalami peningkatan baik secara intensitas ataupun frekuensinya. Buku Rencana Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim menyebutkan bahwa kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh 10 bencana terbesar tersebut mencapai hampir US$26 miliar dan sekitar 70% merupakan kerugian akibat bencana yang terkait dengan iklim.

Sebagai salah satu negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia sangat berkepentingan dalam usaha penanggulangan pemanasan global dan perubahan iklim yang menyertainya. Indonesia bertekad untuk meningkatkan absorpsi karbon atau menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor energi dan kehutanan.

Perhatian terhadap pemanasan global terus meningkat sejalan kenaikan emisi gas rumah kaca utama seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan oksida nitrogen (N2O). Menurut Inubushi dan kawan-kawan (2001), kontribusi gas CO2, CH4, dan N2O secara berturut-turut sekitar 60%, 20%, dan 6% terhadap total gas rumah kaca.

Padi sawah merupakan andalan utama dalam memproduksi padi di negara-negara penghasil beras, termasuk Indonesia. Total emisi CH4 dari berbagai ekosistem diperkirakan sekitar 600 tg/tahun dan dari ekosistem padi sawah sekitar 25–50 tg/tahun. Potensi emisi metana dari lahan sawah di Indonesia relatif besar. Luas sawah berbasis ekosistem tergenang diperkirakan sekitar 6juta–7 juta ha. Hasil penelitian Adachi dan kawan-kawan (2001) menyatakan bahwa metana dihasilkan dari hasil perombakan bahan organik secara anaerobik oleh peranan bakteri metanogen. Emisi gas rumah kaca dari ekosistem padi sawah sekitar 7 % CH4, 16% CO2, dan 6% N2O.

Metana dikenal sebagai gas rawa yang memiliki waktu tinggal di atmosfer selama 12 tahun. Selain waktu tinggalnya yang lama, CH4 memiliki kemampuan mamancarkan panas 21 kali lebih tinggi daripada CO2 sehingga mempunyai andil dalam meningkatkan efek gas rumah kaca. Upaya untuk mengurangi atau mengendalikan emisi gas metana atau gas rumah kaca lainnya dapat dilakukan dengan mengubah ekosistem padi sawah dari sistem tergenang (anaerob) menjadi tidak tergenang (aerob). Dalam suasana aerob, proses reduksi CO2 menjadi metana dapat dihindari. Reduksi CO2 menjadi metana hanya terjadi dalam kondisi anaerob.

Sejak awal tahun 2007, tim peneliti dari Fakultas Pertanian Unpad kerja bareng mengembangkan dan mempercepat difusi metode intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik ini dengan Kementerian Ristek. Pendekatan holistik yang dilakukan metode ini tampaknya dengan memaduserasikan manajemen kekuatan biologis tanah dan tanaman secara terpadu. Sistem produksi yang diterapkan ternyata hemat air, bibit, dan pupuk anorganik dengan menitikberatkan pemanfaatan kekuatan biologis tanah (pupuk dan agen hayati, sistem perakaran), manajemen tanaman (seleksi benih, jarak tanam, teknik penanaman dan pemeliharaan), pemupukan (pupuk organik, pupuk bio, anorganik, dan teknik pemupukan) dan tata air secara terpadu dan terencana (by design). Semuanya itu dilakukan untuk mendukung dan memaksimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi secara optimal dalam kondisi aerob.

Intensifikasi padi sawah dengan sistem tergenang (anaerob) selain meningkatkan emisi gas rumah kaca, juga menyebabkan tidak berfungsinya kekuatan biologis tanah (soil biological power) dan menghambat perkembangan sistem perakaran tanaman padi. Dalam kondisi anaerob, keanekaragaman hayati (biodiversity) tanah sangat terbatas. Biota tanah yang aerob tidak dapat berkembang dan diperkirakan hanya sekitar 25% perakaran tanaman padi yang berkembang dengan baik. Konsekuensinya, potensi hasil dari berbagai varietas tanaman padi yang diperoleh saat ini (4-5 ton/ha) diperkirakan hasil dari 25% sistem perakaran saja. Pertanaman dengan sistem aerob (lembab) menghasilkan sistem perakaran paling tidak sekitar 3-4 kali lebih besar bila dibandingkan dengan sistem tergenang. Perkembangan sistem perakaran yang optimal dan didukung oleh keanekaragaman hayati dalam tanah dapat meningkatkan potensi hasil padi menjadi 3-4 kali lipat (15-20 ton/ha). Besarnya tingkat produktivitas yang mampu dicapai sangat ditentukan kondisi agroekosistem dan tingkat penerapan teknologinya.

Hasil kaji terap intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik dengan padi varitas ciherang dan IR 64 pada beberapa lokasi Jawa Barat dan Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Bali pada periode 2007-2008 ternyata mampu menghasilkan padi 8-12 ton/ha (peningkatan hasil rata-rata berkisar 100%-150% jika dibandingkan dengan sistem anaerob). Kenaikan hasil tersebut berkaitan langsung dengan meningkatnya zona perakaran hingga 4–10 kali, jumlah anakan bermalai hingga 60-80 malai/rumpun, panjang malai 30-35 cm dan jumlah gabah 200-300 butir/malai serta meningkatnya keanekaragaman biota tanah yang menguntungkan (beneficial organism in soils) dalam kondisi aerob. Metode ini rupanya lebih hemat air 25% dari sawah konvensional, hemat bibit 20-25%, hemat pupuk anorganik dan pestisida serta panen lebih awal sekitar 7-10 hari. Selain itu, metode ini sebagai sistem produksi yang holistik dapat mengadopsi berbagai teknik penanaman padi seperti tanam benih langsung. Penggunaan pupuk organik dan pengendalian tata udara tanah agar berada dalam kondisi aerob ternyata mampu meningkatkan keanekaragaman hayati biota tanah dan memacu pertumbuhan sistem perakaran. Peningkatan aktivitas biota tanah secara visual terlihat pada banyaknya kotoran cacing dan lubang-lubang udara (pori) pada permukaan lahan yang diberi pupuk organik dan lahan tidak tergenang.

Paparan tersebut menggambarkan bahwa intensifikasi padi aerob terkendali mampu meningkatkan produksi padi dan diperkirakan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca khususnya CH4. Namun, kajian tentang emisi gas rumah kaca dari lahan sawah yang menerapkan teknologi aerob terkendali belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian emisi gas rumah kaca khususnya metana dari lahan sawah dengan menerapkan teknologi aerob terkendali. Kajian dan kuantifikasi emisi gas rumah kaca dari lahan sawah dengan teknologi ini sangat diperlukan dalam difusi teknologi kepada masyarakat dan daerah sekaligus dalam percepatan penerapan usaha padi sawah yang ramah lingkungan. (Media Indonesia, 16 Juni 2010/ humasristek)



Selasa 19 Agustus 2014
Dampak Pencabutan Subsidi Listrik
Jumat 18 Juli 2014
Masyarakat Ekonomi ASEAN : Sedikit-sedikit Disulitin
Rabu 02 Juli 2014
Iptek, Politik, dan Capres
Jumat 11 April 2014
Revisi atas Garis Kemiskinan
Kamis 10 April 2014
Investasi untuk Riset
Senin 17 Februari 2014
Pacu Kemandirian Energi, Membangun Pembangkit Skala Besar
Kamis 13 Februari 2014
Birokrasi Hambat Kemajuan Ekonomi dan Peneliti
Sabtu 01 Februari 2014
Manajemen Bencana dalam Pembangunan
Jumat 13 Desember 2013
Menuju Era Mobil Listrik
Sabtu 30 November 2013
Politik Nuklir Damai
[ Berita lainnya ]