Ristek Headline |
Selasa 29 Juli 2014
 
 

ASTW 2014

RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Rabu 16 Juli 2014
Buka Puasa Bersama Keluarga Besar Asdep Jaringan Penyedia Dengan Pengguna dan Menristek

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


INFO IPTEK
Jumat 15 November 2002
Hacker Australia Menyerang Indonesia ?
Print PDF Facebook Twitter Email
Hacker-hacker Australia akan menyerang Indonesia! Berita "mengerikan" yang akhir-akhir ini muncul di beberapa media tak urung membuat beberapa kalangan, terutama yang pekerjaan atau bisnisnya berkaitan dengan Internet, menjadi khawatir. Kebanyakan dari mereka bertanya-tanya seberapa besar akibatnya bila serangan itu jadi dilakukan, bagaimana bentuk serangannya, bagaimana menangkalnya, dan apa yang sebaiknya dilakukan. Namun sebelum kekhawatiran itu berlanjut dan berubah menjadi permusuhan sebaiknya kita mengetahui beberapa hal yang melatarbelakangi peristiwa ini. Serangan hacker Australia terhadap situs-situs di Indonesia saat ini jumlahnya masih sedikit, artinya dibawah 10 situs, dan dilakukan oleh perorangan bukan kelompok. Serangan itupun dilakukan sebagai reaksi atas serangan serupa yang dilancarkan hacker-hacker Indonesia terlebih dahulu. Seperti diketahui, sejak adanya sweeping pihak keamanan Australia terhadap warga Indonesia yang diduga terkait dengan gerakan terorisme di negara kangguru itu beberapa waktu lalu, hacker-hacker Indonesia melakukan serangan ke sejumlah situs Australia sebagai bentuk protes mereka terhadap tindakan tersebut. Serangan-serangan ke situs-situs Australia itu tadinya dilakukan perseorangan, namun kemudian diikuti hacker-hacker lain, dan jadilah serangan kelompok. Sebutlah kelompok "Medan Hacking" dan "Hidden Line" yang terkait dan mendukung serangan itu. Salah Sasaran Serangan tersebut makin banyak dan sampai saat ini telah mencapai sekitar 120 situs Australia yang di-hack, meski sepertinya akan terus bertambah. Dari pengamatan KCM, kebanyakan situs yang diserang adalah situs-situs yang justru tidak ada hubungannya dengan pemerintah Australia, seperti situs rental mobil, situs resort dan lainnya. Serangan ke situs-situs ini, menurut pengamat telekomunikasi Roy Suryo adalah serangan yang salah sasaran. "Saya tidak setuju kalau yang diserang situs-situs kecil. Itu kan menyusahkan orang yang tidak tahu apa-apa," ujar Roy ketika dihubungi KCM, Jumat (8/11). "Ini kerjaan teman-teman yang emosional dan ingin unjuk gigi," ujar Roy lebih lanjut. Sementara Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Heru Nugroho mengatakan, "Apa yang dilakukan oleh para hacker tersebut adalah ber-itikad "membela" kepentingan republik ini, hanya sayangnya dilakukan dengan cara yang "tidak populer" ditinjau dari kacamata: etika," Sebagai contoh, situs-situs yang diserang hacker Indonesia yang dikenal dengan nama TarJO misalnya adalah situs carmels.com.au, cinemaparadiso.com.au, homestay.com.au, familyboats.com.au, theabbey.com.au, rype.com.au, webexpress.com.au, dan masih banyak lagi. TarJO memberi pesan pada situs yang di-hack dengan tulisan ": Hacked !!!!! ::..whose the real terrorist ? we or you ? go to hell AUSTRALIA !! ..:: TarJO ::.. Greetz : Marshallz, Pungky, syzwz & all #cafeblue." Sementara kelompok Medan Hacking menuliskan "Australia Real Terrorist !!!! Fucking Country !!!! Indonesia my Loving Country #MedanHacking is The Best," pada situs safetx.com yang di-deface-nya. Tidak Perlu Ahli Baik Roy Suryo maupun Eko Sulistiono, Editor di majalah MIKRODATA, sepakat bahwa serangan yang dikenal dengan sebutan deface di atas bukanlah jenis serangan yang harus dilakukan seorang ahli. Artinya orang awam pun bisa melakukan serangan semacam karena saat ini banyak program bantu atau tools yang bisa digunakan untuk mencari hole atau lubang di suatu situs, yang kemudian dapat digunakan untuk melancarkan serangan. Karena serangan tersebut mudah dilancarkan, maka kemungkinan adanya serangan-serangan baru pun amat besar. Lalu apa tindakan Australia terhadap serangan-serangan itu? Yang jelas sejauh ini baru ada segelintir hacker Australia melancarkan serangan balasan. Meski demikian beberapa kalangan dunia maya di negara tersebut mengancam akan melancarkan balasan yang lebih hebat bila hacker Indonesia tidak menghentikan serangan mereka. Balasan dari Australia yang sempat diluncurkan antara lain menimpa situs satuatap.com misalnya di-deface dengan tulisan ""..:: Hacked Too!!!!! ::.. Say hello to ..:: TarJO ::.. from Sydney with Love too :() booom.. Selamat tinggal..." Serangan seperti ini sepertinya memang tidak terlalu dikhawatirkan --meski tetap saja merugikan-- karena dengan mudah situs dapat dikembalikan ke kondisi semula. Yang dikhawatirkan berbagai pihak adalah bila Australia melancarkan serangan Distributed denial of Service (DdoS). Serangan DdoS dilakukan dengan memenuhi trafik internet server yang menjadi sasaran penyerangan dengan berbagai data. Akibat serangan Ddos akses internet bisa menjadi sangat lambat, dan akhirnya bisa melumpuhkan server yang diserangnya. Serangan lain yang dikhawatirkan adalah serangan pintar dimana seorang hacker mencuri data-data penting dalam suatu situs, seperti nomor-nomor rekening atau lainnya. Kerugian serangan seperti ini akan lebih besar dibanding jika hacker hanya menyampaikan pesan-pesan mereka. Apa yang Harus Dilakukan? Berkaitan dengan serangan tersebut, banyak pihak di Indonesia menghimbau pada para hacker untuk segera menghentikan serangan mereka karena dikhawatirkan akan menimbulkan efek yang emosional dan akan mengganggu situs-situs di Indonesia. "Lebih buruk lagi kalau (serangan balasan) terjadi pada situs-situs yang ber-operasional diatas dunia maya seperti situs e-commerce dan lainnya," ujar Heru dari APJII. APJII sendiri telah memperingatkan anggotanya agar melakukan antisipasti bila serangan balasan benar-benar terjadi, yakni dengan menjaga sistem keamanan situs-situs yang ada. "Saya sarankan juga, rekan-rekan PJI untuk mengumumkan hal ini kepada client yang berada di lingkungan masing-masing, agar mereka hati-hati," tulis Heru dalam pernyataannya. Sementara Eko Sulistiono, yang yakin di Indonesia banyak situs yang bisa disusupi karena banyak port yang terbuka, menyarankan agar pemilik situs meng-up date server mereka. Ia juga menyarankan penggunaan firewall dan menghimbau para administrasi jaringan agar tidak memakai konfigurasi standar, melainkan menggunakan rule yang dibuat sendiri. "Administrasi juga harus rajin memantau apakah situsnya sedang diincar atau tidak," tandas Eko. Hal yang sama diungkapkan Roy Suryo dengan himbauan agar situs-situs di Indonesia, terutama situs lembaga kenegaraan, mencermati tiap keanehan atau anomali pada situsnya. (Kompas)


Jumat 04 Juli 2014
Waterman: Alat Semprot Pestisida Semi Otomatis
Kamis 03 Juli 2014
Tim Aplikasi Quick Disaster UGM Raih Global Winner di London
Rabu 02 Juli 2014
Mahasiswa FT-UB Ciptakan Prototipe Mobil Berbahan Bakar Batu Kapur
Selasa 01 Juli 2014
Ciptakan Aplikasi untuk Smart Watch, Mahasiswa UI Raih Prestasi di Ajang Hackathon
Senin 30 Juni 2014
Dosen FK UI Rancang Alat Deteksi Stroke Termurah
Jumat 27 Juni 2014
SIPAGI Sikat Gigi Praktis Untuk Perjalanan
Kamis 26 Juni 2014
Remaja 15 Tahun Buat Aplikasi Stetoskop Digital
Rabu 25 Juni 2014
Dentalion Permudah Pemeriksaan Gigi
Jumat 20 Juni 2014
Studi Doktor di Jepang, Alumni Unnes Ciptakan Aplikasi HalalMinds
Kamis 19 Juni 2014
Ternyata, Ampas Kopi Bisa Jadi Biodiesel
[ Berita lainnya ]