Ristek Headline |
Friday, April 25, 2014
 
 
Iptek Voice
Thursday, December 5, 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Tuesday, April 22, 2014
HUT ke-23 PP-IPTEK

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum



RUP TA 2012
PRESS RELEASE
Thursday, June 27, 2002
Mitigasi Bencana Tsunami di Indonesia
Print PDF Facebook Twitter Email
Karakteristik Tsunami Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh terjadinya gempa bumi/letusan gunung api/longsoran di dasar laut. Sebagian terbesar (90%) tsunami disebabkan oleh gempa bumi. Tsunami menjalar dengan kecepatan mencapai sekitar 700 - 1000 km/jam di laut dalam, dan melemah menjadi sekitar 50 km/jam saat mendekati garis pantai. Tinggi gelombang tsunami maksimum sekitar 1 – 2 meter di laut dalam, dan membesar sampai puluhan meter saat mendekati garis pantai. Tinggi gelombang tsunami yang mencapai garis pantai (sering disebut sebagai run up), ditentukan oleh (1) besar-kecilnya magnitudo gempa, (2) morfologi dasar pantai, dan (3) bentuk garis pantai. Pada pantai landai dan berlekuk seperti teluk dan muara sungai, run up mencapai harga maksimum. Contohnya pada kasus tsunami Banyuwangi 1994 tinggi run up di Teluk Pancer mencapai 14 meter (korban sekitar 200 orang), sedangkan pada kasus tsunami Biak 1996 run up di Teluk Korim mencapai 12 meter (korban sekitar 100 orang). Potensi Tsunami di Indonesia Kepulauan Indonesia merupakan daerah rawan bencana gempa karena merupakan daerah tektonik aktif tempat berinteraksinya Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Carolina/Pasifik, dan Lempeng Laut Filipina. Oleh karena itu, dengan sendirinya kepulauan Indonesia juga merupakan daerah rawan bencana tsunami. Tidak kurang dari 75 tsunami terjadi di Indonesia dalam 100 tahun terakhir pada periode 1901 – 2000. Sebagian terbesar (64 tsunami; 85%) diantaranya terjadi di wilayah timur Indonesia. Bencana tsunami tersebut menyebabkan ribuan korban manusia, diantaranya adalah tsunami Flores 1992 (korban 2100 orang), Banyuwangi 1994 (korban 238 orang), dan Biak 1996 (korban 160 orang). Tabel 1 menunjukan daftar bencana tsunami dari tahun 1965 sampai 2000, Gambar 1 menunjukan lokasi pusat gempa pembangkit tsunami, sedangkan Gambar 2 menunjukan histogram jumlah kejadian tsunami tiap lima tahun pada periode tahun 1901 – 2000. Mitigasi Bencana Tsunami Program mitigasi yang baik setidaknya didukung oleh hal-hal sebagai berikut: 1. Riset komprehensif tentang tsunami 2. Sistem pemantau gempa 3. Sistem peringatan dini tsunami 4. Pengembangan peta zonasi tsunami 5. Pengembangan teknologi proteksi pantai 6. Sosialisasi pada masyarakat Kelima hal di atas dalam batas-batas tertentu sudah dilakukan di Indonesia. Dibawah ini dituliskan secara ringkas state of the art dari mitigasi bencana tsunami di Indonesia. Riset Riset tsunami merupakan riset antar-disiplin ilmu yang melibatkan bidang ilmu geofisika, oseanografi, geologi, kelautan, dan teknik sipil. Kegiatan riset tsunami di Indonesia secara serius baru dilakukan sejak terjadinya bencana tsunami di Flores tahun 1992. Sedangkan institusi yang aktif melakukan riset antara lain adalah BMG, BPPT, LIPI, PPPG, PPGL, PU, ITS, dan ITB. Sebagian terbesar riset dilakukan bekerjasama dengan ilmuwan asing, terutama Jepang. Riset yang dilakukan meliputi dua bidang utama, yaitu (a) riset tentang mekanisme pembangkit tsunami, dan (b) riset tentang penjalaran gelombang tsunami. Dari perspektif keilmuan tingkat riset tsunami di Indonesia sebenarnya sudah setara dengan yang dilakukan di negara-negara maju. Sistem Pemantau Gempa Kegiatan pemantauan gempa di Indonesia dilakukan oleh BMG. Pemantauan gempa dilakukan dengan memanfaatkan jaringan pemantau gempa yang terdiri dari 59 stasiun yang tersebar di seluruh Indonesia. Untuk wilayah seluas Indonesia jumlah tersebut belum memadai untuk dapat merekam data gempa secara baik. Bandingkan dengan di Jepang misalnya yang dilengkapi dengan sekitar 1000 stasiun pemantau gempa. Oleh karena itu salah satu hal yang perlu dilakukan adalah memperbanyak jumlah stasiun pemantau gempa. Sistem Peringatan Dini Sistem peringatan dini yang dioperasikan di Indonesia oleh BMG sejak tahun 1996 adalah TREMORS (Tsunami Risk Evaluation through seismic Moment from a Real-time System). Sistem tersebut merupakan bantuan pemerintah Perancis dan dioperasikan di stasiun geofisika Tretes Jawa Timur. Pada prinsipnya sistem tersebut "meramalkan" terjadinya tsunami berdasarkan pada analisis karakteristik data gempa yang terekam secara real-time. Sistem tersebut pernah "berhasil" mendeteksi terjadinya tsunami Biak 1996. Namun sayang sekali sejak tahun 2000 sistem tersebut tidak berfungsi karena terputusnya hubungan komunikasi data antara stasiun tersebut dengan BMG pusat bersamaan dengan kepindahan BMG ke tempat baru di Kemayoran. Peta Zonasi Tsunami Peta zonasi rawan tsunami mempunyai arti penting, misalnya untuk tujuan planning pengembangan wilayah. Beberapa peta zonasi yang sudah dipublikasikan dibangun semata-mata berdasarkan pada hubungan empiris antara besarnya run up dengan besarnya magnitudo gempa. Peta tersebut kurang dapat mewakili zonasi tsunami yang sebenarnya. Karena tinggi run up tidak hanya bergantung pada magnitudo gempa, tetapi juga sangat ditentukan oleh morfologi dasar laut dan bentuk garis pantai. Untuk itulah pembuatan peta zonasi tsunami perlu disempurnakan dengan mempertimbangkan factor morfologi dasar laut dan bentuk garis pantai. Teknologi Proteksi Pantai Salah satu teknologi sederhana dan murah untuk perlindungan pantai terhadap kemungkinan datangnya gelombang tsunami adalah konsep green belt, yaitu dengan cara menanam tanaman disepanjang pantai. Hasil kerjasama penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Tohoku University Jepang dan ITB menunjukan bahwa tanaman mangrove dapat meredam energi gelombang tsunami secara signifikan. Oleh karena itu penanaman mangrove direkomendasikan sebagai salah satu teknologi proteksi pantai. Sosialisasi Dibandingkan dengan gempa bumi, sosialisasi tentang bencana tsunami masih sangat jarang dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu bisa dipahami bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap fenomena tsunami masih relatif rendah. Untuk itu program sosialisasi perlu menjadi salah satu prioritas utama dalam upaya mitigasi bencana tsunami di Indonesia. Salah satu program Pokja Mitigasi Bencana Tsunami saat ini adalah mengembangkan leaflet/poster sebagai bahan sosialisasi mitigasi bencana tsunami ke masyarakat umum. Beberapa Usulan 1. Mengacu pada kemampuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia/sarana/institusi di Indonesia, program mitigasi bencana tsunami sebaiknya diarahkan pada tiga hal utama yaitu: (a) pembuatan peta zonasi tsunami yang lebih representatif, (b) membangun sistem peringatan dini yang lebih baik, dan (c) meningkatkan tingkat kesiapan masyarakat dengan melakukan program-program pelatihan dan sosialisasi. 2. Perlunya mensinergikan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh beberapa institusi untuk dapat lebih mengoptimalkan dan mendayagunakan sumber daya manusia/sarana/ institusi secara lebih integratif agar diperoleh hasil yang maksimal. Tabel 1: Daftar Bencana Tsunami di Indonesia (1965 – 2000) No. Tahun Daerah Bencana Magnitudo Gempa Tinggi Tsunami Maksimum Korban Jiwa 1 1965 Seram, Maluku 7.5 4 meter 71 2 1967 Tinambung, Sulawesi 5.8 --- 58 3 1968 Tambu, Sulawesi 7.4 8-10 meter 200 4 1969 Majene, Sulawesi 6.9 10 meter 64 5 1977 Sumba 8.0 15 meter 189 6 1982 Larantuka 5.9 --- 13 7 1992 Flores 7.5 26 meter 2,100 8 1994 Banyuwangi 6.8 14 meter 238 9 1996 Palu 7.7 6 meter 8 10 1996 Biak 8.0 12 meter 160 11 1998 Taliabu, Maluku 7.7 3 meter 34 12 2000 Banggai 7.6 3 meter ?


 Friday, August 21, 2009
test_press_release
Wednesday, July 22, 2009
Seminar Nasional POSS & IGOS Center
 Thursday, October 11, 2007
HARI LEBARAN
 Friday, November 28, 2003
Lomba Karya Tulis Ilmiah Pelajar HAKTEKNAS ke-8 Tahun 2003
 Tuesday, December 17, 2002
Penyerahan Komputer dan CD Teknologi Tepat Guna di Lapas Wanita Dewasa & Anak
 Monday, November 18, 2002
Pelaksanaan Seminar & Meeting of the UNESCO Observatory of the Information Society in Asia
 Thursday, November 14, 2002
Hasil SIMNAS HKI ke III tahun 2002
 Saturday, November 9, 2002
Peluncuran Perpustakaan Digital APTIK di Universitas Parahyangan Bandung
 Friday, November 8, 2002
Daerah Antusias Berpartisipasi Dalam Program PRIDA
 Monday, October 14, 2002
Peningkatan Daya Saing Produk Nasional dalam rangka Bulan Mutu Nasional 2002
[ Berita lainnya ]