Ristek Headline |
Minggu 23 November 2014
 
 

IQE

CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Kamis 05 Desember 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Selasa 18 November 2014
Kongres ke-2 AFEBI di Universitas Malikulsalleh, Leuksmauwe Aceh

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


ARTIKEL IPTEK
Kamis 12 Maret 2009
SAINS DAN KONFLIK SOSIAL
Print PDF Facebook Twitter Email
Y Subagyo
Peminat Sains dan Teknologi

Konflik dan amuk masa di Sumatra Utara yang mengakibatkan wafatnya Ketua DPRD Sumatra Utara Abdul Azis Angkat bermula dari keinginan sebagian masyarakat dan janji yang tidak terpenuhi untuk memekarkan wilayah.

Ketidakpuasan masyarakat boleh jadi dimuati harapan yang sedikit berlebihan. Mereka berpendapat bahwa dengan pemekaran itu, nasib mereka akan berubah menjadi lebih nyaman. Begitu harapan itu pupus, kekecewaan menumpuk menjadi sumber kekuatan masa.

Secara umum, apabila kita lihat anatomi sebuah konflik, terutama pada konflik-konflik sosial, akan diperoleh empat faktor utama yang menyebabkan timbulnya konflik, yaitu pertama, faktor yang memungkinkan terjadinya konflik (facilitating conflict), kedua, faktor penyebab utama (core of the problem), ketiga faktor.yang berfungsi sebagai penyulut konflik (fuse factor), dan keempat faktor yang membuat penumpukan kejengkelan (grudges factor) dapat meledak.

Penumpukan berbagai kekesalan, kekecewaan, dan kemarahan yang tertahan ibarat bara  api yang siap membakar apa saja apabila disulut. Penyulutnya dapat berupa kejadian yang sangat sederhana, misalnya, ketidakpuasan pendemo yang dilontarkan kepada penjaga keamanan setempat. Namun, apabila dikaji lebih mendalam, penyebabnya barangkali adalah tersumbatnya economic resources sekelompok orang oleh kelompok yang lain ditambah dengan berbagai penyebab tambahan yang telah menumpuk lama.

Sains dan konflik sosial

Perihal hubungan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan dinamika sosial (baca: konflik sosial) kemasyarakatan sebenarnya cukup banyak referensi dan dapat diperoleh di mana-mana.

Secara garis besar, pemahaman terhadap konflik dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok pandangan. Kelompok pertama, yang menggunakan pendekatan mikro (reduksionis) yang banyak dianut para psikolog. Kelompok ini menunjuk sumber konflik ada pada sifat dasar manusia (the nature of human beings). Karena, konflik merupakan cermin dari keadaan jiwa (psyche) yang diproyeksikan ke masyarakat. Kelompok kedua, yang dianut para sosiolog, menggunakan pendekatan makro (holistic) yang cenderung menjelaskan sumber konflik pada struktur dan institusi-institusi tempat warga masyarakat beraktivitas.

Dalam perkembangan selanjutnya kelompok pertama mengakui pentingnya institusi, kelompok, dan keseluruhan lingkungan budaya dalam membentuk kondisi psikologis seorang individu. Sebaliknya, kelompok kedua pun juga mulai menggeluti peran faktor psikologis dalam kajian-kajian mereka. Dalam suatu konflik selalu terdapat tiga unsur utama, yaitu aktor (parties), ketidaksepahaman (incompatibilities) dan tindakan (action).

Sains dan teknologi adalah ibarat pedang bermata dua yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia, tapi dapat juga untuk membunuh bahkan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Dalam hal konflik sosial, sains, dan teknologi juga dapat menjadi pemicu timbulnya atau bahkan memperbesar konflik yang ada. Namun di lain pihak, dengan sains dan teknologi, dapat juga diidentifikasi, didiagnosa, diselesaikan, dan dicegah timbulnya konflik-konflik yang akan dapat terjadi di masa datang.

Bahkan, introduksi suatu kegiatan baru berbasis sains dan teknologi ke dalam suatu masyarakat dapat menimbulkan konflik pada masyarakat tersebut, khususnya antara yang menerima dan menolak, antara yang setuju dengan suatu program dan yang tidak setuju dengan program kegiatan tersebut sehingga dapat menimbulkan masyarakat yang 'terbelah' (segregated society) antara yang mendukung dan yang menentang suatu program.

Berbasis sains dan teknologi secara teoritis anatomi konflik dapat dipelajari dan dapat digunakan untuk mencegah timbulnya konflik sosial. Suatu analisis berbasis parameter-parameter tertentu dapat menghasilkan hipotesa-hipotesa yang mungkin mampu memberikan peringatan dini sehingga suatu konflik dapat dihindari atau setidaknya diantisipasi lebih baik.

Pola-pola permukiman dan pola persebaran penduduk, struktur dan komposisi bidang usaha yang ditekuni warga menurut kelompok-kelompok atau golongan masyarakat tertentu, struktur dan komposisi birokrasi pemerintahan, terutama posisi-posisi strategis, komposisi dan konstelasi pendidikan (dasar, menengah, tinggi, menurut strata sosial ekonomi masyarakat), dan keberadaan organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dapat dijadikan parameter-parameter.

Hasil-hasil kajian yang berbasiskan parameter-parameter tersebut dapat menjadi indikator untuk menyusun kebijakan pencegahan terjadinya konflik. Dengan menggunakan kajian sains dan teknologi dengan demikian dapat disusun langkah-langkah pencegahan pecahnya konflik di suatu wilayah. Kajian itu juga dapat dimanfaatkan untuk menyusun peta-peta wilayah rawan konflik. Dengan adanya peta wilayah rawan konflik tersebut, pemantauan terhadap berbagai penyebab konflik dapat dilaksanakan.

Butuh dukungan dan kerja sama

Bagaimana pun canggihnya kemampuan dukungan sains dan teknologi dalam mencegah timbulnya konflik sosial, tetap ia hanyalah sebuah sarana. Dalam implementasinya, hal tersebut tetaplah membutuhkan dukungan dan kerja sama semua pihak terkait.

Setiap pimpinan suatu wilayah perlu memiliki peta-peta wilayah yang lengkap. Tidak hanya peta-peta potensi ekonomi kewilayahan saja, akan tetapi juga peta-peta daerah yang memiliki ciri-ciri yang dapat menjadi penyebab munculnya konflik-konflik sosial (peta rawan konflik) yang dapat merugikan wilayahnya. Pimpinan suatu wilayah juga perlu mengenali hal-hal yang dapat menjadi pemicu konflik sosial di wilayahnya.

Melalui unit-unitnya, suatu wilayah perlu mengimplementasikan sains dan teknologi untuk mereduksi kemungkinan-kemungkinan konflik di wilayahnya. Pemanfaatan sains dan teknologi dalam hal ini akan dapat mendorong peningkatan peradaban, sebagaimana tercantum dalam salah satu amanat UUD 1945 Amendemen ke-4, khususnya Pasal 31 Ayat 5 yang berbunyi, "Bahwa pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia". Semoga. (MEDIA INDONESIA, 12 Maret 2009/ humasristek)
 


Jumat 17 Oktober 2014
Garis Kemiskinan Perlu Dinaikkan
Kamis 25 September 2014
PLTN, Kenapa Tidak?
Kamis 11 September 2014
Kaji Ulang Pengendalian BBM Bersubsidi
Kamis 11 September 2014
Pikir Matang Penggabungan Kementerian Perdagangan
Selasa 19 Agustus 2014
Dampak Pencabutan Subsidi Listrik
Jumat 15 Agustus 2014
Urgensi Pengaturan Institusi Litbang
Jumat 18 Juli 2014
Masyarakat Ekonomi ASEAN : Sedikit-sedikit Disulitin
Rabu 02 Juli 2014
Iptek, Politik, dan Capres
Jumat 11 April 2014
Revisi atas Garis Kemiskinan
Kamis 10 April 2014
Investasi untuk Riset
[ Berita lainnya ]