Ristek Headline |
Tuesday, September 30, 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI
CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Thursday, December 5, 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Tuesday, September 9, 2014
Menristek Kunjungi Fasilitas Riset Lembaga Eijkman

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


INFO IPTEK
Monday, February 4, 2002
Memacu Kinerja Jaringan Serat Optik
Print PDF Facebook Twitter Email
Maraknya transfer data dalam jumlah besar, seperti aplikasi multimedia, turut mendorong penggunaan teknologi serat optik sampai ke pengguna (end user). Aplikasi ini tentunya sangat membutuhkan media transmisi yang dapat diandalkan dari segi kualitas sinyal, waktu akses (no delay), keamanan data, daerah cakupan penerima yang luas, maupun harga jual yang kompetitif. Kesemuanya itu sudah menjadi karakter suatu jaringan yang menggunakan serat optik sebagai media transmisinya. "Kelebihan yang dimiliki media serat optik itu pula yang sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang yang bertugas di bidang pemasaran suatu jaringan untuk menarik para pelanggan, terutama kepada jaringan tv kabel dan penyedia jasa telekomunikasi international, untuk berpaling dari penggunaan satelit sebagai media transmisinya," ujar Neneng SH Simatupang, Marketing Manager Terrestrial Network Division, Wireless Transmission Division, Alcatel Indonesia, dalam suatu perbincangan dengan Media pekan lalu di Jakarta. Sistem komunikasi serat optik ini memanfaatkan cahaya sebagai gelombang pembawa informasi yang akan dikirimkan. Pada bagian pengirim, isyarat informasi diubah menjadi isyarat optik. Lalu, diteruskan ke kanal informasi yang juga terbuat dari serat optik yang bertugas sebagai pemandu gelombang. Sesampainya di penerima berkas cahaya ditangkap oleh detektor cahaya, yang berfungsi mengubah besaran optik menjadi besaran elektrik. Menurut Robby Santoso, Senior Tendering Engineer Terrestrial Networks Division Alcatel, ada beberapa keunggulan serat optik ini bila dibandingkan dengan media transmisi lainnya. Keunggulannya itu adalah: lebar bidang yang luas (sehingga sanggup menampung informasi yang besar), tidak terpengaruh oleh medan elektris dan medan magnetis, isyarat dalam kabel terjamin keamanannya. Selain itu, karena di dalam serat tidak terdapat tenaga listrik, maka tidak akan terjadi ledakan maupun percikan api. Di samping itu, serat juga tahan terhadap gas beracun, bahan kimia dan air, sehingga cocok ditanam dalam tanah. Namun, katanya, serat optik juga mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya sulit membuat terminal pada kabel serat, penyambungan serat harus menggunakan teknik dan ketelitian yang tinggi. Teknologi transmisi melalui serat optik ini berkembang pesat. Kalau sebelumnya dengan mengadopsi teknologi Plesiochronous Digital Hierarchy (PDH), data yang ditransmisikan melalui serat optik ini bisa dipacu mencapai 140 Mbs. Lalu, dengan teknologi Synchronous Digital Hierarchy (SDH), kecepatan akses melalui serat optik bisa mencapai 155 Mbs hingga 10 Gbs. "Teknologi transmisi yang terakhir adalah teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), yang saat ini kecepatan aksesnya bisa dipacu hingga satu Tbs atau 1.000 Gbs," ujar Robby seraya menambahkan, khusus untuk kecepatan akses di atas satu Tbs belum dijual secara komersial, karena baru pada taraf uji coba di laboratorium Alcatel. Teknologi DWDM Sebenarnya untuk menambah kecepatan transmisi, bisa dilakukan dengan menambah serat optik. Cara ini selain agak rumit juga relatif mahal. Cara lain yang jauh lebih ekonomis dan berorientasi ke masa depan adalah dengan menerapkan teknologi DWDM dengan memanfaatkan sistem SDH yang sudah ada (solusi terintegrasi) dengan memultiplekskan sumber-sumber sinyal yang ada. "Dengan memperhatikan faktor ekonomis, fleksibilitas dan kebutuhan pemenuhan kapasitas jaringan jangka panjang, maka solusi untuk mengimplementasikan DWDM merupakan yang paling cocok," ujar Neneng. Menurut definisi, teknologi DWDM dinyatakan sebagai suatu teknologi jaringan transpor yang memiliki kemampuan untuk membawa sejumlah panjang gelombang (4, 8, 16, 32, dan seterusnya) dalam satu fiber tunggal. Artinya, apabila dalam satu fiber itu dipakai empat gelombang, maka kecepatan transmisinya menjadi 4x10 Gbs (kecepatan awal dengan menggunakan teknologi SDH). "Kecepatan transmisinya tergantung keinginan pemakai," ujar Robby. Teknologi DWDM beroperasi dalam sinyal dan domain optik dan memberikan fleksibilitas yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan akan kapasitas transmisi yang besar dalam jaringan. Kemampuannya dalam hal ini diyakini banyak orang akan terus berkembang yang ditandai dengan semakin banyaknya jumlah panjang gelombang yang mampu untuk ditramsmisikan dalam satu fiber. Pada perkembangan selanjutnya, teknologi DWDM ini tidak saja dipergunakan pada jaringan utama (backbone), melainkan juga pada jaringan akses di kota-kota metropolitan di seluruh dunia, seperti halnya New York yang memiliki distrik bisnis yang terpusat. Menurut Robby, alasan utama yang mendorong penggunaan DWDM pada jaringan akses ini tentu saja kemampuan sehelai serat optik yang sudah mampu mengakomodasikan puluhan bahkan ratusan panjang-gelombang. Sehingga, setiap perusahaan penyewa dapat memiliki `jaringan` masing-masing. Kemunculan teknologi DWDM tersebut dengan segera menjadi daya tarik sendiri bagi perusahaan-perusahaan penyedia jasa telekomunikasi (carriers). Hal ini dikarenakan teknologi DWDM memungkinkan carriers untuk memiliki sebuah jaringan tanpa perlu susah payah membangun sendiri infrastruktur jaringannya. Mereka cukup menyewa beberapa panjang-gelombang sesuai kebutuhan dengan daerah tujuan yang sama ataupun berbeda. Metode penyewaan panjang-gelombang ini pula yang saat ini banyak dilakukan oleh carriers, khususnya yang tergolong baru, di kawasan Eropa, di mana traffick telepon dan internet di kota-kota besar di kawasan tersebut menunjukkan pertumbuhan yang sangat tinggi. Bila diperhatikan, secara umum memang ada beberapa faktor yang menjadi landasan pemilihan teknologi DWDM ini, yaitu: menurunkan biaya instalasi awal, karena implementasi DWDM berarti kemungkinan besar tidak perlu menggelar fiber baru. Selain itu, dapat pula mengakomodasikan layanan baru (memungkinkan proses rekonfigurasi dan transparency). Hal ini dimungkinkan karena sifat dari operasi teknologi DWDM yang terbuka terhadap protokol dan format sinyal, karena mengakomodasi format frame SDH. (Media Indonesia)


Thursday, September 4, 2014
Dukung Konversi BBM ke BBG, UGM Kembangkan Tabung BBG Cartridge Bertekanan Rendah
Wednesday, August 27, 2014
Mahasiswa ITS ciptakan "Smart Solar Panel"
Monday, August 25, 2014
Helm Anti-Kantuk Mahasiswa Ubaya Raih Emas International Invention, Innovation, and Design di Malaysia
Friday, August 22, 2014
Rangka Sepeda Buatan Dosen ITS Raih Piagam Paten
Wednesday, August 20, 2014
Ukur Tinggi dan Berat Badan Lebih Praktis Dengan Nutrisomatic
Friday, August 15, 2014
Mahasiswa UGM Kembangkan Teknik Pembibitan Tebu Berkualitas
Friday, July 4, 2014
Waterman: Alat Semprot Pestisida Semi Otomatis
Thursday, July 3, 2014
Tim Aplikasi Quick Disaster UGM Raih Global Winner di London
Wednesday, July 2, 2014
Mahasiswa FT-UB Ciptakan Prototipe Mobil Berbahan Bakar Batu Kapur
Tuesday, July 1, 2014
Ciptakan Aplikasi untuk Smart Watch, Mahasiswa UI Raih Prestasi di Ajang Hackathon
[ Berita lainnya ]