Ristek Headline |
Sunday, September 21, 2014
 
 

Seleksi Calon Kepala LIPI

CPNS 2014
RUP TA 2014
Iptek Voice
Thursday, December 5, 2013
IPTEK VOICE DIALOG DAERAH (BALI) : Sistem Monitoring Pajak Daerah - Meningkatkan Pendapatan Pajak Daerah
http://www.ristek.go.id/file/voice/2014/02/iptek-voice-dialog-daerah-(bali)-sistem-monitoring-pajak-daerah-meningkatkan-pendapatan-pajak-daerah.mp3
kategori : Inovasi
Didi Setiadi
Galeri Foto

Tuesday, September 9, 2014
Menristek Kunjungi Fasilitas Riset Lembaga Eijkman

FacebookTwitter

Anggaran Dan Keuangan
MUSRENAS
SAKIP
Info Pengadaan Barang Dan Jasa
Produk Hukum


BERITA KEGIATAN RISTEK
Thursday, June 29, 2006
TINJAUAN IPTEK TERHADAP BENCANA ALAM BANJIR DAN LONGSOR DI KABUPATEN SINJAI, SULAWESI SELATAN
Print PDF Facebook Twitter Email
Banjir besar telah melanda 7 kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan. Ratusan korban manusia meninggal dunia, puluhan orang hilang  dan ratusan rumah serta fasilitas umum dan sarana transportasi rusak.  
Hasil survei yang dilakukan RISTEK, LAPAN, BAKOSURTANAL,UNHAS dan komunitas Iptek lainnya memberikan kontribusi dalam menyusun rencana tindak selanjutnya. Adapun materi yang disampaikan adalah sebagai berikut :

1.RISTEK : melakukan tinjauan banjir dan longsor
2.BMG :  melakukan tinjauan klimatologi
3.LAPAN : Informasi data satelit resolusi tinggi
4.BAKOSURTANAL  : melakukan informasi dan telaahan geospasial
5.UNHAS : melakukan tinjauan aspek geologi

Dari hasil pemantauan kondisi curah hujan melalui beberapa citra satelit yang dilakukan oleh LAPAN seperti Citra MTSAT, Citra AVHRR/NOAA dan data Qmorph, Citra Landsat-7 ETM dan DEM-SRTM menunjukkan bahwa daerah Sinjai, Bulukumba, Bantaeng dan Jeneponto mengalami hujan lebat  sebagai akibat pergerakan awan dari Laut Banda yang mengarah ke barat-baratlaut sehingga pada tanggal 20 Juni 2006 tutupan awan sangat tebal dan terjadilah hujan deras.

Kabupaten Sinjay yang yang terletak pada lereng kaki gunungapi Lampobatang memiliki luas wilayah 819,96 km 2. Secara geografi Kabupaten Sinjai terletak pada koordinat antara 50o 19’ 50” sampai 5o 36’ 47” Lintang Selatan dan 119o 48’ 30” sampai 120o 10’ 00” Bujur Timurmemiliki pola aliran sungai yang cenderung mengikuti arah kemiringan lereng menyebar sampai bermuara di laut (pola radial sentripetal). Pola geologi di utara Sinjai berupa perbukitan dan pegunungan dibentuk oleh batuan yang telah mengalami pengikisan (denudasional) berupa batuan sedimen berumur lebih tua dari batuan gunungapi Lampobatang dan telah mengalami pelapukan dengan ditutupi lebih dari 60% wilayah dengan morfologi tingkat kemiringan lereng  lebih dari 45O. Secara morfologi daerah tersebut sangat rentan terhadap terjadinya tanah longsor dan bencana banjir.
Kota Sinjay yang berada di daerah muara sungai yang berbatasan dengan muara laut secara morfologi terletak pada dataran aluvial memiliki kondisi hidrologi air sungai  yang sangat dipengaruhi oleh kondisi aliran sungai daerah hulu yang tentunya terkait erat dengan kondisi penutup lahannya. Kondisi penutup/penggunaan  lahan di lereng-lereng  pegunungan sampai di Kawasan gunungapi  Lampobatang dari  pengamatan citra menunjukkan indikasi lahan di beberapa tempat telah terbuka/gundul. Terdapat pula lahan budidaya (tegalan) yang memiliki vegetasi dengan tingkat serapan air yang sangat rendah.
Curah hujan yang sangat tinggi yang jatuh di daerah hulu menyebabkan kondisi tanah dan batuan yang sebelumnya kering dan pecah-pecah langsung  berubah menjadi tanah dengan kandungan air yang sangat tinggi dan tidak mampu lagi diserap masuk ke bawah permukaan akibat kondisi  vegetasi yang umumnya terbuka. Dengan kemiringan lereng yang terjal sampai sangat terjal, tanah yang basah dan padat air tidak mampu menjaga kestabilan lerengnya dan terjadilah longsoran tanah yang begitu rapat di banyak lokasi seperti terjadinya 74 lokasi longsoran  di jalan raya arah Malino pada jarak sekitar 25 kilometer.
Banyaknya longsoran tanah dan batuan yang terjadi pada lereng-lereng jalan dan sungai banyak terbawa arus air permukaan menuju badan sungai. Volume tanah longsoran yang banyak dan intens di beberapa sungai mengakibatkan arus dan volume aliran sungai yang sangat besar tersumbat di beberapa titik lokasi.
Penyumbatan debris tanah di beberapa titik aliran sungai, pada suatu kondisi tidak mampu terbendung lagi dan akhirnya ambrol dan pecahnya bentuk sumbatan yang terdorong oleh aliran air. Volume air dengan tekanan dan kecepatan arus air tinggi lalu menyebabkan banjir bandang dan menyapu seluruh  fasilitas, budidaya, vegetasi  di sekitar aliran sungai dan akhirnya menimbulkan korban yang sangat besar baik jiwa, harta maupun fasilitas umum lainnya.
Dari telaahan diatas, dapat disimpulkan bahwa kejadian banjir di Kabupaten Sinjay disebabkan oleh faktor : 1. Curah hujan yang  relatif tinggi, 2. Kondisi topografi dan morfologi (kemiringan lereng) yang rawan bencana longsor, 3.  Longsoran yang masuk ke badan sungai yang menyebabkan penampang basah sungai berkurang  dan 4. Tutupan dan penggunaan lahan yang banyak menjadi lahan terbuka terutama terjadi di hulu sungai.
Rekomendasi
Sebagai salah satu upaya memperkecil dan menghindari dampak terjadinya kembali bencana tanah longsor dan bencana banjir adalah :
Perlunya dilengkapi peta dan informasi  geologi untuk seluruh wilayah tanah air, termasuk peta yang menggambarkan daerah berpotensi bahaya geologi dan daerah mana yang aman terhadap bahaya geologi.
Perlunya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya memperhatikan aspek geologi dalam penataan ruang.
Perlunya  dilakukan revisi RTRW atas wilayah yang pada dokumen rencana diperuntukkan bagi kawasan yang banyak dihuni (padat penduduk) tetapi memiliki bahaya geologi yang tinggi atau memiliki daya dorong ekonomi tinggi.
Penataan Ruang yang baik akan berkontribusi  pada seluruh kehidupan masyarakat baik dalam pembangunan ekonomi  wilayah maupun sebagai alat melestarikan lingkungan hidup agar tetap dapat mendukung seluruh kehidupan didalamnya.
Penataan ruang yang baik yang didasarkan pada informasi spatial  maupun tabular yang handal hanya akan memberikan dampak positif apabila diikuti dengan pemanfaatan  ruang yang sesuai dengan rencana terintegrasi, didukung kelembagaan yang kuat dalam mengendalikan pemanfaatan wilayah.
 
Dengan hal-hal yang dapat disumbangkan oleh komunitas IPTEK diatas, diharapkan dapat membantu Pemerintah Daerah dalam merencanakan Rencana Tata Ruang dan rekonstruksi  sesuai dengan kaidah IPTEK dan pada akhirnya kerugian jiwa dan harta benda dapat semakin diperkecil. (dep.PPiptek/ humasristek)
 


Tuesday, September 9, 2014
Menristek Kunjungi Fasilitas Riset Lembaga Eijkman
Friday, September 5, 2014
Menristek Hadiri Acara MP3EI
Wednesday, September 3, 2014
Soft Launching Belitung Timur Taman Pintar
Monday, September 1, 2014
Pengembangan dan Peningkatan Sistem Informasi Iptek Nasioal (SIIN) dan SDM
Friday, August 29, 2014
Kemenristek Dorong Pembentukan Sub Forum Bidang Fokus Energi dan Air di Jawa Barat
Friday, August 29, 2014
Kunjungan Bupati Purbalingga dalam Rangka Perintisan Pengembangan Science Center di Purbalingga
Thursday, August 28, 2014
Membangun Kolaborasi Riset Industri, Universitas dan Pemerintah yang Tepat
Wednesday, August 27, 2014
8 Fraksi DPR RI Setujui RUU Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian
Monday, August 25, 2014
Intermediary Expert Training Untuk Mendukung Sistem Inovasi Nasional (SINas)
Monday, August 25, 2014
ASEAN Berikan Penghargaan pada Pegiat Iptek
[ Berita lainnya ]